
"..... " Mendengar nada suara Resa yang tidak seperti biasa nya, membuat Raisa merasa bersalah sekaligus merasa senang karena ada seseorang yang menghawatirkan diri nya sampai seperti ini.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
".... Res... Aku mau minta tolong, bisa ? " Raisa tak menghiraukan perkataan Resa yang menyuruhnya beristirahat.
"...... " Resa masih diam dan langsung membelalakkan mata nya, karena ini adalah kali pertana Raisa meminta tolong seperti ini.
"Apapun itu akan Aku lakuin Sa ! Jadi saat ini, fokus sama kesembuhan kamu dulu ! " Kali ini Resa sudah menatap mata Raisa yang sedari tadi dia hindari, dan dia tertegun saat melihat netra hitam pekat yang masih menampakkan bahwa Raisa masih kuat dalam hal ini. Jangan meremehkan diri nya, karena Raisa juga saat ini mendapatkan kemauan untuk hidup lebih lama setelah melihat Resa.
__ADS_1
"... Dekatkan telinga mu Res.. Aku ingin berbisik.. " Pinta Raisa yang mata nya kini melirik ke arah langit langit ruangan.
Resa pun menuruti kemauan Raisa, dan menempelkan pipi nya di pipi Raisa. Raisa pun dengan segenap tenaga nya, mulai membisikan kata demi kata. Sedangkan Resa hanya mendengarkan dan sesekali membelalakkan mata nya, karena dia baru mengetahui sosok Raisa yang berbeda.
Namun tak ada penolakan, Resa masih setia mendengarkan. Bahkan sesekali Resa menggesek pipi nya dengan pipi Raisa, karena entah mengapa.. Resa sangat merindukan pipi tirus nan lembut milik Raisa, kelakuan Resa sesekali membuat Raisa menciptakan senyum geli di wajah nya. Tak dapat di sangka, Raisa masih merasa keadaan saat ini cukup romantis, sehingga sayang jika berlalu begitu saja.
* * *
...[ Lima menit kemudian ]...
"Udah itu aja Res.. Lakuin permintaan Aku yaah ! Aku benar benar menaruh harapan ku pada mu ! " Mohon Raisa sambil menampakkan senyum simpul sempurna di wajah pucat nya. Sampai Resa merasa bahwa apakah Raisa sedang pura pura tampil kuat di hadapan nya ?
Resa langsung menyerngitkan dahi nya, ada rasa sakit saat melihat Raisa yang masih menyempatkan diri untuk tersenyum.
"Gak usah sedih kaya gitu Res... Aku nya terbebani... " Dengan tangan nya yang masih sangat lemah, Raisa masih bisa mengelus pipi Resa yang saat ini sedang mendekatkan wajah nya.
"...... " Resa hanya diam menatap Raisa, ada rasa bersalah yang terasa saat melihat kondisi Raisa saat ini. Andai saja Resa mengurung Raisa di rumah nya, Andai saja Resa dapat melakukan semua nya dengan kekuasaan yang di miliki, pasti saat ini Raisa sehat sehat saja dan tidak mendapatkan KDRT dari Andre atau pun cacian dari keluarga besar Purnama.
".. Res... Kamu bakal tau semua yang terjadi kalau kamu baca Diary yang aku tulis. Ada di laci ke tiga di bawah TV. Di studio lukis aku yaah, bukan di rumah bedebah itu ! "
"Kamu udah nulis secara lengkap ? Berati kamu udah menduga hal ini bakal terjadi kan ? "
__ADS_1
"Em.. Begitulah... Maaf yaah Res, untuk jaga jaga Aku udah nulis semua nya. Kalau kalau aku gak ada kesempatan buat jelasin ke Kamu.. Res... Maaf yaah... " Mata Raisa mulai memerah.
"Udah Sa, jangan nangis oke ? Gak ada yang bakal salahin kamu kok ! Percaya deh, Aku gak bakal baca buku Diary kamu ! Aku mau kamu sendiri yang jelasin ke aku Sa ! Karena aku tau kamu pasti bakal sembuh ! Pasti ! " Mata Resa seakan mulai kehilangan kendali, sedikit saja terjadi hal di luar dugaan, Resa pasti akan menjatuhkan air mata.
"Uugghh... Res... Hiks... Apa semua nya tak akan berakhir seperti ini, kalau saja saat itu Aku menerima perasaan mu di hari pernikahan dengan Andre ? Apakah masa depan akan berubah saat aku tidak mengikuti kemauan ku yang masih labil dan bodoh ? Hem ? Hikss.. " Raisa sudah mulai menyesali semua nya, seakan ada yang mengganjal perasaan nya, jika tidak dia ungkapkan saat ini juga.
"Sa... Cukup... Nanti baru kita bahas itu yaah ! Udah aku bilang dari tadi kan ? Sekarang kita fokus dulu sama kesehatan kamu yang belum pulih ! Jangan terlalu memaksakan diri ! "
Aahh, nampaknya sedikit lagi Resa juga akan kehilangan kendali atas kontrol mata nya.
"Hiks.. Sampaikan maaf ku pada Ayah juga yaah. Pasti Ayah selama ini kerepotan karena diri ku, pasti selama ini Ayah ikut menderita karena kekangan dari perusahaan keluarga purnama. Sampaikan maaf ku sebesar besar nya yaah Res.. Hehe, jangan lupa Om Risa, Tante Selvi, Lisa, Erna, Dika, dan juga Silvia.. Aah, aku sungguh bodoh yaah.. Hiks... Andaikan aku tidak sebodoh waktu itu ! Aku titip kata maaf untuk mereka semua yaah Res.. Dan terlebih khusus nya kata maaf Aku untuk kamu ! Kamu yang paling berusaha dan tersiksa selama ini ! Maaf Res... Hiks.. Maaf... "
"Hei.. Sa... Raisa Putri ! Gak usah minta maaf kaya gini dong. Semua pasti ngerti kok.. Aku yakin banget Sa.. Yakin banget... " Bujuk Resa yang mulai merasa takut. Takut ini menjadi kata kata terakhir dari Raisa ! Takut bahwa Raisa sudah tak bisa bertahan lagi ! Takut akan kehilangan ! Takut akan semua nya ! Sampai sampai pundak Resa bergetar karena tak bisa mengontrol perasaan nya yang berubah menjadi tak tenang.
"Res... Apa jika Aku menyuruh mu untuk tidak menikah dengan wanita lain saat Aku sudah tak ada, Kamu akan melakukan nya ? "
"Tentu saja Sa ! Apakah kamu tak sadar bahwa kamu sudah menjadi candu bagi ku ? Apakah kamu tak sadar, bahwa Aku sudah tak bisa berkutik lagi di hadapan mu ? Apakah kamu tak tau, bahwa aku sudah bertekuk lutut di hadapan mu sejak dulu kala ? Apakah semua yang Aku lakukan untuk mu kurang nyata dan kurang menyadarkan Mu, bahwa kamu lah satu satu nya ? Apakah semua nya masih kurang ? Tell me.. Apa yang harus aku lakukan agar Kamu dapat percaya.. " Jawan Resa sambil meletakkan kepala nya di pinggir ranjang pasien.
"... Aku sadar kok Res.. Aku juga tau bahwa mau sampai kapan pun, kedudukan ku selalu yang paling tinggi di hati Mu. Kamu tak perlu melakukan apapun, karena Aku sudah sangat puas dengan semua hal yang terjadi dalam hidup ku bersama Mu. Sangat amat puas.. Apakah kamu percaya perkataan ku ? "
"Sa... Sungguh Kanu membuat ku Gila ! Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada mu ! Banyak sekali... Jadi Ku mohon, jangan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti kata kata terakhir.. "
__ADS_1
Resa pun membujuk Raisa sekuat tenaga, sebisa yang dia bisa, dan sebisa mulut nya yang berbicara saja susah di situasi saat ini.
".... RES... " Panggil Raisa dengan suara yang seakan semakin mengecil ! Ah, lebih tepat nya seperti mulai tenggelam dan tertelan sesuatu.