Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#Part 159.


__ADS_3

Singkat cerita, Risa, Selvi, Surya, Resa, Raisa, bersama Noa dan juga Silvia sudah sampai di dalam perpusytakaan kediaman Aditya.


Dulu, tempat ini adalah tempat yang sering Resa gunakan untuk mendapatkan berbagai macam les, saat masa mempersiapkan Resa sebagai penerus dan juga pemimpin dari keluarga Aditia generasi kesekian.


Menurut Selvi, vibes perpustakaan dan juga buku buku yang sudah menjadi tua di ruangan ini akan memberikan aroma tersendiri, dan dapat menenangkan siapa saja, terlebih khusus nya Risa dan Silvia.


Selvi tau betul bahwa Risa dan juga Silvia memiliki satu dari banyak nya kesamaan, yaitu menyukai bau yang di hasilkan oleh buku.


Apalagi buku yang baru beli, dan yang lebih spesial adalah buku ynag semakin tua. Bau yang dapat terhirup ke dalam indra penciuman mereka, serasa sangat nikmat.


Selvi tau betul akan hal ini, karena sering melihat anak maupun suami nya menarik nafas dalam dalam, saat sudah meletakkan hidung di tengah tengah buku. Dan semoga saja, pemikiran Selvi terbenarkan oleh tindakan mereka berdua.


Selvi tak mau ada perdebatana atau pertengkatan yang tak kunjung menemui titik akhir nya.


***


“Papa tak mau bertele tele dan berputar putar pada pembicraan yang panjang. Silvia,Papa minta maaf untuk hal yang terjadi kemarin. Memang benar kemarin Papa lagi dlam keadaan capek, sehingga saat di brikan hal yang dapat menyulut emosi, Papa malah terjebak dalam IQ yang tiba tiba menjadi nol, dan melampiaskan segala rasa capek kepada Mu. Papa... Sungguh sunguh minta maaf.”


Suatu kejadian yang teramat langkah bagi Resa dan juga Raisa, karensa melihat orang yang selama ini sangat penuh akan kharisma, sedang meminta maaf sambil membungkuk.


Sesuatu yang bisa jadi dan tentu saja tak akan terjadi di masa depan. Dan entah kenapa, Resa dan Raisa justru merasa


terbebani, karena melihat sifat yang di tunjukkan Silvia sedari tadi, pasti Silvia tak akan langsung luluh dan memaafkan Papa nya begitu saja.


“.....”


Hening... Tak ada jawaban sedikit pun dari Silvia. Noa juga tidak ikut bersuara, karena ynag terjadi saat ini di luar campur tangan nya. Sekalipun Noa mau ikut campur, pasti Silvia tak akan mengijinkan nya bukan ?


Surya, Resa dan juga Raisa saja hanya diam dan mengawasi, lalu apa yang membuat Noa dapat bersuara, saat pihak yang terluka masih terdiam.


Tak mau terlarut larut dalam situasi yang amat hening, Selvi pun akhir nya angkat bicara.Padahal kata kata yang Dia susun


masih belum sempurna.


Ditambah dengan atmosfer saat ini, takut nya sebagian kata kata yang sudah tertanam dalam benak nya, langsung raib begitu saja.


“Sil... Mama juga minta maaf... Karena bukan nya menenangkan Papa Mu, Mama justru melampiaskan amarah Mama dengan manampar Resa dan juga Raisa berkali kali. Mama sungguh minta-“


“Jangan meminta maaf pada Ku. Yang di tampar oleh Mu adalah Kak Resa dan juga Kak Raisa. Aku tak ada hubungan dan sangkut paut sama sekali, dengan tindakan Mu yang menampar dua orang yang amat berarti di dalam hidup Ku.”

__ADS_1


Silvia langsung menyela perkataan Mama nya yang belum di tuntaskan sepenuh nya.


Dan ynag membuat Selvi bersama suami nya sangat Syok dengan panggilan yang di lontarkan oleh Silvia. *Mu* bukan *Mama*.


Sedangkan Reaksi Resa dan yang lain nya ? Tentu biasa saja. Karena hal ini sudah mereka prediksikan, semenjak Silvia masuk ke dalam kediaman ini dnegan sikap yang sangat berbeda, dan terksan menjadi Bad Girl untuk sesaat.


Karena bukan nya bderniat untuk mendukung Silvia yang seperti ini, tetapi jika Silvia nyaman saat menyekspresikan diri nya dengan sikapBad Girl, maka tak maslah bagi Surya, Resa, Rais dan juga Noa.


Toh apapun yang Silvia tunjukkan, itu adalah sisi nya yang terpendam bukan ? Itu adalah sifat asli dari Silvia, yang selama ini selalu bersembunyi dengan sangat rapi di balik topeng *Anak Polos* nya.


“Kenapa-“


“Jangan tanya kenapa Aku tidak memanggil Kalian seperti biasa nya. Aku hanya menjalan kan perintah ynag Kalian katakan kemarin pada Ku. Bahwa mulai kemarin, Aku bukan lagi anak kalian. Secara otomatis, tak mungkin Aku masih dengan tebal muka memangil kalian dengan senyum yang amat lebat bukan ?”


Lagi, Silviua menyela perkataan Selvi, yang


merupakan wanita yang membuat diri nya berada di dunia ini.


Sejauh ini, Surya masih diam. Bukan nya mendukung, tetapi hal ynag Silvia lakukan saat ini sangat manusiawi.


Lagian Surya yang mengatakan kepada Silvia untuk menyamakan diri nya dengan orang lain bukan ? Dengan kata lain, Silvia boleh melakukan perbuatan seperti ini, ynag jika ini adalah perbiuatan yang salah,


Lagian, Risa dan juga Selvi bisa meminta maaf kepada Silvia begiu saja, berartoi nanti Silvia dapat melakukan hal ynag sama bukan ?


Itulah ynag ada di dalam pikiran Silvia, sehingga mau tindakan nya salah dan juga sangat berdosa kepada orang tua, Silvia tak peduli. Silvia hanya tak ingin mengulang kejadian yang sama, yaitu membiarkan diri nya tenggelam dalam berbagai perbuatan yang tak sempat Dia lakukan selama ini, karena tak mau menyusahkan siapa pun.


Selvi tak kuasa menahan air mata yang sudah tergenang di dalam bola mata nya, alhasil dirinya langsung menangis di dalam pelukan sang suami. Hal itu hanya di saksikan oleh Surya dan ynag lain nya.


Sedangkan Risa ? Netra nya hnaya bertatapan dengan Netra yang sama dengan milik Silvia. Dari tatapan Risa, Dia seolah sedang bertanya tanya, apa yang membuat Silvia berkelakuan seperti saat ini.


Yang secara gamblang menyampaika hal yang Dia inginkan tanpa di saring terlebih dahulu. Yang tak terlihat rasa talut sedikit pun saat bertatapan dengan Risa, setelah melakukan hal yang berhasil membuat perasaan Mama nya hancur


Dan dari tatapan mata Silvia yang sangat datar saat ini, membuat Risa sadar betul , bahwa saat ini Silvia tak akan peduli padsa


apapun ynag terjadi di hadapoan nya, sekalipun Risa melemparkan barang tumpul ke arah nya.


“Jangan menatap Ku dengan tatapan yang penuh akan tanda tanya. Karena saat Aku memberikan reaksi tanda tanya selama ini, dan  jika Kalian lupa maka kembalilah pada kejadian kemarin. Tatapan Ku penuh akan tanda tanya. Aku bingung dengan yang terjadi saat memasuki rumah Ku. Tapi apa ? Tak ada yang memberikan penjelasan sedikit pun, hingga Aku mendengar sendiri masalah nya dari Lisa. Apakah masalah jika Akiu berperilaku seperti Kalian kemarin ?”


“.....” Risa terdiam.

__ADS_1


Ada gurat penyesalan, tapi Dia tak boleh menunjukkan nya di hadapan anak anak nyy saat ini. Karena Risa tak mau diri nya di cap sebagai orang tua yang berperan sebagai korban.


Secara logika, jka memang orang tua di nyatakan seagai korban, maka seblum itu orangtualah ynag menjadi pelaku utama atas semua yang terjadi pada anak nya.


Apapun itu. Perkataan yang sering orang tua katakan akan terulang lagi dari mulut anak nya. Yang membuat mentl anak hancur berkeping keping adalah sikap ego yang tinggi dari orang tua, yang merasa jika mereka sudah mencari nafka dan melakukan pekerjaan yang memusingkan kepala, maka anak anak harus menerima apapun yang mereka katakan.


“*Papa melakukan ini demi kebaikan Mu *”


“Mama berkata seperti ini karena Mama sangat setres dan di pusingkan dan kehidupan pekerjaan. Jadi, mengertilah sayang.”


Dan masih banyak lagi perkataan yang jika di teliti lebih dalam lagi terdapat banyak kesalahan di dalam nya.


Jika Orang tua melampiaskan rasa setres nya pada sang Anak, lalu sang Anak harus melampiaskan emosi yang dia rasakan pada siapa ?


Beruntung jika anak nya adalah anak yang tidak peka dan memilik otak yang sesuai dengan umur nya. Lalu bagaimana dengan anak yang sudah di dewasakanoleh keadaan dan sikap orang tua ?


Hal itu terlalu tidak adil untuk sang anak. Giliran sang anak bersuara sedikit saja, untuk menunjukkan bahwa mental nya sudah tak bisa bertahan lagi jika terus seperti ini, orang tua malah berperilaku sebagai korban atas tingkah laku sang anak yang terkesan kurang ajar dan tidak


memedulikan perasaan orang tua yang sudah membesarkan nya selama ini.


TIDAK TAU BERTERIMAKASIH, TIDAK BERPERASAAN,


BI4D4P, TIDAK SOPAN, KURANG AJAR, DAN SEBAGAINYA.


Dengan pemikiran yang di saring dari berbagai logika, seharusnya orang tua yang harus lebih peka dan pengertian kepada sang Anak.


Jika ada yang berkata, jangan marah kepada orang tua Mu. Karena mereka baru pertama kali jadi orang tua. Lalu bagaimana dengan sang anak ? Yang notabene nya baru pertama kali jadi seorang anak ? Bukan kah seharus nya orang tua ynag sudah pernah menjadi anak, yang lebih mengerti watak


dari seorang anak ?


Kenapa hal sesimpel ini selalu di lupakan , dan bahwa di abaikan ? Atau jangan jangan tak pernah terpikirkan sama sekali ? Ayolah... Jangan merusak mental anak yang tak atau apa apa, lalu berperan


sebagai korban setelah itu. Sebaiknya, mengertilah posisi satu sama lain, sekalipun anak itu umur nya jauh lebih mudah dari sang orang tua.


Jangan membuat semakin banyak anak muda yang bunuh diri, karena tak sanggup mengatasi kerusakan pada mental mereka.


Bersambung...


Note : Tak ada unsur singgungan atau sebagainya di part ini. Otor hanya memaparkan apa yang sudah Otor lihat dengan mata kepala sendiri. Mendengar berbagai keluhan dari berbagai pihak. Jadi, semoga pesan nya tersampaikan dengan baik, walaupun cara otor menyampaikan nya masih belum sempurna. Btw, maaf ya otor baru up lagi🙏.

__ADS_1


__ADS_2