Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 139


__ADS_3

Namun Resa juga kembali berpikir, apakah perkataan yang akan dilontarkan dapat membuat silvia merasa tenang ? Atau justru perkataan apapun yang dikatakan oleh Resa, malah akan membuat Silvia semakin down. Terlalu banyak pertanyaan dan keraguan, sehingga membuat Resa terdiam dalam kesadaran nya seorang diri.


...*...


...*...


...*...


...*...


...* ...


"Aku.. Aku keluar dulu, mau cari angin." Kata Resa dan langsung keluar tanpa melihat atau mendengar respon dari Raisa maupun adik nya Silvia.


"Kak Raisa, Kak Resa marah yah sama Silvia ? Hikss.. Kak Resa pati kecewa sama Silvia kan ? Ugghh, seharus nya Silvua tetap pendam masalah ini seorang diri, biar gak ada pihak yang tersakiti selain Silvia.. Hikss, tapi Silvia udah terlanjut cerita Kak Raisa.. Sekarang Silvi harus apa Kak ?? Hiksss..."


Resa yang langsung keluar dari dalam mobil pun, menimbulkan kesalahpahaman bagi Silvia. Raisa pun memberikan pelukan terbaik, rengkuhan  yang harus hangat, dan belaian tangan yang membuat Silvia dapat tenang.


"Silvia, jika Aku berkata bahwa kalian berdua itu tak dapat memarahi satu sama lain, dan tak akan merasa kecewa pada satu sama lain entah apapun yang kalian berdua lakukan, apakah Kamu akan percaya pada Ku ?" Kata Raiza akhir nya.


Dia juga bigung harus mulai di tata dari mana agsr kesalahpahaman dan pengertian yang bersemayam di dalam hubungan ke dua adik kaka ini ? Mengingat Riasa adalah anak tunggal, membuat Raisa tak memiliki pengalaman sama sekali untuk urusan yang seperti ini. Tapi, sebisa mungkin, Raisa akan mengusahakan hal yang terbaik, yang bisa dia lakukan menurut pemikiran nya.

__ADS_1


"Hikss, jika Kak Raisa ingin menghibur Ku, terimakasih sebelum nya. Walaupun perkataan itu seolah tak mungkin, tapi Silvia tetap senang kok, soal nya Kak Raisa beruaaha untuk menghibur Ku." Jawab silvia sambil menyeka wajah nya yang basah dengan tisu.


...*Tak* ...


"Aauuww.." Jerit sakit Silvia, karena Raisa menyentil kening nya cukup kuat.


"Kalian berdua itu yaah.. Haaah, kapan sih kalian sadar nya ?" Ujar Raisa sambil memijat kening nya, lalu balik menatap Silvia yang sedang menatap bigung ke arah Raisa sambil memiringkan kepala nya.


"Silvia, dengarkan Aku. Resa keluar, bukan karena benci pada Mu, atau merasa kecewa, dan apapun berbagai tanggapan yang Kamu pikir kan. Satu hal yang harus Kamu tau agar dapat memecahkan pemahaman di dalam otak Mu, yang menganggap sekali Kamu berbuat salah, maka akan di hakimi sejadi jadi nya.." Jelas Raisa yang belum juga menyelesaikan penjelasan nya.


Merasa penhelasan Raisa masih banyak yang belum terucap, memuat Silvia tak tahan lagi dan langsung bertanya." Hal apa yang harus Silvia pahami Kak ?" Desak Silvia karena sudah tak tahan lagi.


"...Karena Resa bingung apa yang harus dia katakan di situasi seperti ini Sil." Jawab Raisa menyelesaikan penjelasan nya tadi.


Memikirkan sesuatu yang tidak juga mendapat titik terang nya, membuat otak Silvia puyeng, dan tak mau capek capek berpikir lagi. Untuk apa berpikir jika penjelasan nya akan keluar dari mulut Raisa kan ?


"Silvia, Kamu tau ? Walau pun Resa adalah CEO yang sangat mendominasi, dan yang kehadiran nya tak dapat di abaikan, Resa juga tetap manusia biasa. Dalam tanda kutip, Resa itu tetap Kaka Kamu Sil. Kamu tau, kenapa Resa menerima semua hal dalam menempa diri nya menjadi CEO penerus perusahaan Ayah nya tanpa protes sedikit pun?" Tanya Raisa memegang ke dua bahu Silvia, sehingga tatapan mata ke dua nya bertumbukan.


"Ke.. Kenapa ?" Tanya Silvia yang merasa sedikit tak nyaman, dengan Raisa yang sedang dalam mode serius dan terlihat pusing meluruskan masalah antara Diri nya dan Resa.


"Ya masa masih di tanya lagi sih ? Karena Kamu Sil. Resa dapat menerima semua nya, karena dia tau bahwa dia bukan lagi anak tunggal dari pasangan suami istri Risa dan Selvi Adytia. Melainkan Kaka dari Silvia Adytia, yang harus menjaga adik nya agar tidak tergores sedikit pun. Silvia, sadarlah. Resa selama ini selalu memperlakukan Mu seperti seorang putri di dalam rumah kaca, yang tak masalah jika harus menjauh dari kehidupan luar, asalkan Kamu selalu terlindungi dan menjadi aman, Resa rasa itu setimpal." Jelas Raisa berapi api.

__ADS_1


"Be.. Benarkah seperti itu ? Atau Kak Raisa hanya mengada ngada ?" Tanya balik Silvia, yang ingin mengerjai Raisa. Cukup sudah suasana suram dan mencekam saat ini, Silvia ingin kembali normal seperti biasa nya.


"Mana mungkin Aku mengada ngada ? Dan satu lagi, Resa tak bisa berkata kata, karena jika di pikirkan, kamu dapat masuk ke dalam keadaan yang kata sulit saja belum dapat mendeskripsikan nya, karena Resa lah yang membawa masalah masuk ke dalam rumah. Yaah masalah dalam hal ini adalah Noa, jadi Kamu pasti ngerti kan ?" Tak menerima sinyal dari Silvia agar segera menyudahi percakapan ini, tapi semua nya di buat Raisa masuk ke dalam percakapan yang panjang.


"Sebentar.. Kalau seperti yang Kak Raisa katakan, Kak Resa saat ini sedang menyalahkan diri sendiri bukan ?" Kata Silvia memegang ke dua tangan Raisa. Seperti nya Silvia juga tak mau mengakhiri permasalahan setengah setengah. Karena itu sama saj dengan diri nya yang dulu, yang selalu berlindung di balik kat *Nanti baru di selesaikan.*


"Em.. Terlalu banyak yang pria itu pikirkan. Apakah jika dia berkata A, Kamu akan merasa tenang atau malah semakin panik. Apakah jika dia berkata B, Kamu akan merasa takut dan tak mau berbira dengan nya lagi. Dan jika dia hanya diam saja, akan kah Kamu merasa jauh lebih baik ? Aku yakin 100%, bahwa pemikiran nya saat ini hanya berputar di situ situ saja." Jawab Raisa dengan keyakinan penuh.


"Ka.. Kalau begitu, Aku akan menyusu Kak Resa dulu." Kata Silvia dan ingin membuka pintu mobil.


Sayang nya, pergerakan nya terhenti karena Raisa memagang tangan nya, lalu berkata " Kamu dan Resa memang butuh waktu dan ruang tersendiri. Jadi Aku akan memberi saran agar mempermudah Mu dalam mencari nya. Dalam keadaan seperti ini, Resa biasa nya berada di tempat yang sunyi." Kata Raisa dengan penuh keyakinan.


"Emm, terimakasih Kak Raisa. Dan emm, bisakah Kamu memberikan Aku beberapa kalimat lagi yang dapat meyakinkan Aku ? Karena jujur, saat ini Aku masih setengah yakin." Pinta Silvia, dan di buktikan oleh tangan nya yang sedang gemetar kecil.


Jika saja Raisa tidak memegang tangan nya, Raisa pasti tidak akan tau bahwa saat ini Silvia sedang gemetaran.


Mendengar permintaan Silvia yang semakin terbuka pada Raisa, membuat senyum pun merekah sempurna di wajah Raisa. Ada rasa senang yang menjalar ke seluruh tubuh nya, karena akhir nya Silvia terbuka pada diri nya yang hanys orang luar ( Untuk saat ini, kan belum nikah sama Resa 😁 )


"Baiklah, jika yang meminta adalah Kamu, maka akan Aku turuti Sil. Hanya satu kalimat saja yang akan Aku utarakan untuk Mu sayang, KEBOHONGAN TERBESAR DARI SEORANG KAKA ADALAH TIDAK MENYAYANGI ADIK NYA." Senyum yang terus melekat di wajah Raisa menambah satu poin penting untuk Silvia, dan kini Silvia pun semakin yakin.


"Terimakasih Kak Raisa, abis ini Silvia bakal kasih tau Ke Kak Raisa lebih dulu, tentang hasil percakapan Ku dengan Kak Raisa." Kata Silvia dan melaju pergi, menyisahkan Raisa seoarang diri di dalam mobil.

__ADS_1


"Maka Aku akan merasa sangat berterimakasih, karena kini adik ku sudah mengakui keberadana Ku." Monolog Raisa di dalam mobil.


Setelah itu Silvia sedang berlari ke tempat yang sepi di sekitatan lingkungan rumah sakit. Sedangkan Raisa berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke lantai di mana Bayi Brayen berada. Berhubung Raisa sudah menanyakan posisi tempat Brayen pada Silvia tadi, memudahkan Raisa untuk masuk tanpa harus menghampiri meja resepsionis dan menayakan nama pasien. Karena itu akan memakan waktu yang cukup lama.


__ADS_2