
Setelah itu, Resa dan Silvia melambaikan tangan nya pada Raisa, karena sudah tiba di rumah nya Andre.
Raisa yang masih senyam senyum pun langsung masuk ke dalam rumah dengan 10 tas belanja di tangan nya.
Saat memasuki rumah, Raisa di sambut dengan tatapan seperti biasa nya. Dan parah nya lagi, kali ini rasa kesal mereka seakan membeludak tak terkira.
Raisa pun masa bodoh dengan mereka, orang besok lukisan nya sudah di lelang. Apa lagi yang harus dia takut kan ? Saat raisa ingin melewati mereka, tertahan oleh perkataan yuli.
"Kamu manusia apa binatang sih ? Masuk rumah gak kasih salam, malah langsung masuk gitu aja. Gak pernah di ajarin sama Ayah kamu yaah ? " Kata Yuli kelewatan.
"Sebentar.Sejak kapan rumah ini jadi rumah manusia ? " Respon raisa.
"Apa maksud mu ? " Tanya yuli.
"Bukan kah sejak awal ini kandang binatang ? Setiap hari selalu nama nama dan jenis hewan yang keluar dari mulut mu, mulut anak mu, dan mulut menantu kesayangan mu ! Apakah ini kurang jelas ? " Jelas Raisa.
"Kalo kamu menganggap rumah ini adalah kandang binatang, terus kamu apa dong ? " Kata Yuli ingin mempermalukan Raisa.
"Tentu saja aku adalah majikan yang selalu memberi makan ternak ternak ku, masa ini aja pakai di tanya.. " Jawab raisa.
Yuli yang memang dari awal punya tekanan darah tinggi yang berlebihan, langsung memegang belakang leher nya yang kesakitan dan tegang.
"KAMU KELEWATAN.! " Teriak Andre.
"...... " Raisa menatap andre dengan datar.
__ADS_1
"Kak Raisa, jangan kaya gitu dong. Kalo mama kenapa kenapa, gimana ? Padahal mama cuma mau kasih tau ke kamu, selama kamu gak ada hampir satu minggu ini, mama dan kak andre menyewa pembantu harian. Dan itu memakan uang lima juta. Padahal hanya seminggu, jadi mama mau menegur kak Raisa baik baik kok. Kenapa kak Raisa menjadi semakin kurang ajar pada mama ? " Kata fitri dengan akting nya yang tak pernah gagal.
Andre merangkul pundak fitri seolah memberi kekuatan, dan hal itu semakin di pandang jijik oleh raisa.
"Kalian sudah menyewa pembantu harian ? Baguslah, sekarang kalian tau kan ? Bahwa bekerja seorang diri di rumah sebesar ini gak bisa di bandingin dengan gaji kalian yang hanya lima juta itu. " Respon raisa pada hal lain, bukan rasa bersalah atau sejenisnya.
"Tapi ini pemborosan kak, " kata fitri tak mau kalah.
"Pemborosan ? Apakah kamu yakin tidak salah bicara ? Jadi jika di simpulkan, maksud kamu keuangan keluarga purnama akan langsung merosot ke bawah hanya karena lima juta ini ? "
"...... " Fitri dan yang lain nya terdiam seketika.
"Jika aku perhatikan, kalian tak pernah bersedekah atau memberikan sumbangan pada orang orang yang lebih membutuh kan. Berhati hati lah, harta kalian saat ini bukan milik kalian seutuhnya. Harta itu Hanya di titipkan oleh Tuhan untuk di pegang sementara, jika kalian tak pernah tau cara bersyukur dan berbagi, aku sarankan untuk menyiapkan mental. Jika tiba tiba kalian kehilangan semua nya. " Kata raisa berjalan ke arah kamar nya.
"Jangan sok jadi peramal deh. " Sindir Yuli yang notabene nya masih dalam kondisi yang kurang fit.
"Kalo begitu, mari kita semua Amin kan. Agar dapat menjadi kenyataan, bukan hanya ramalan saja. "
"Brak." Pintu kamar raisa pun langsung tertutup, dan mengakhiri semua percakapan antara dia dan tiga orang lain nya.
Karena saat ini baru pukul empat sore, raisa merasa bosan dan lebih tidak nyaman lagi karena mood nya sudah hancur saat memasuki rumah.
Raisa langsung mengirim pesan di grup chat yang terdiri dari Lisa, Dika, dan Erna, untuk makan makan bersama melepas penat. Kata minum minum juga tersematkan di belakang pesan Raisa, sehingga ke tiga sahabat wanita nya langsung merespon chat raisa dengan lampu hijau.
Karena saat ini mereka bertiga sedang dalam masa suntuk dan menyebalkan, seperti yang di alami raisa juga.
__ADS_1
Satu jam kemudian, keempat sahabat ini sudah berkumpul di kedai minum langganan mereka. Di kedai ini, mereka sudah terbiasa melepas penat dengan meminum alkohol dan minuman sejenisnya.
Karena biarpun mereka minum sampai kehilangan kesadaran, tak akan ada suatu hal yang terjadi pada mereka. Karena kedai minum itu adalah milik bibi Erna, jadi tak akan ada sesuatu yang menimpah mereka.
Apanya yang makan makan ? Mereka berempat langsung meminum bir sebagai salam pembuka, dan tak menyentuh nasi sama sekali. Mereka hanya memakan ayam goreng, dan beberapa lauk yang enak dan yang cocok menjadi teman minuman keras.
Mereka berempat terus meminum bir dan beberapa minuman keras lain nya, sampai jam sembilan malam. Dan saat ini kesadaran mereka sudah menurun 50% banyak nya. Mereka berempat pun mulai dengan curahan hati yang sudah tertahan sedari tadi.
"Glek... Glek... Glek... Glek... Haaahhh... " Lisa meneguk miras yang dia minum dengan wajah puas.
"Hei... Kalian tau ? Karena pasien ku tadi adalah mantan pacar ku, dia melaporkan pada pihak rumah sakit bahwa kinerja ku sangat sangat buruk. Dan alhasil, agar tidak terlihat seperti pilih kasih atau semacam nya, pihak rumah sakit akan memotong gaji bulanan ku.! Dasar bajingan tengik.! Ingin rasa nya aku menyuntikan obat bius pada nya, agar dia dapat tidur selama lama nya.. HAHAHA HAHAHA.... " Umpat lisa sabil melanjutkan minum dan duduk kembali.
Selang beberapa detik, di susul lagi oleh curhatan Dika yang kini sudah berdiri.
"Kamu masih beruntung gaji mu hanya di potong ! Sedang kan aku ? Karena klien ku tak menggubris satu kesalahan yang aku buat dalam surat perceraian nya, dia menuntut ku sehingga saat ini aku berasa dalam masa *Diawasi*. Dengan kata lain, jika ada sedikit kesalahan saja, aku akan langsung di pecat. "
"Memang nya... Kesalahan... Apa yang kamu buat ? " Tanya Erna yang pandangan nya mulai memudar.
"Aku salah menulis nama nya. Kan nama dia itu Sindy pakai huruf y di akhir nama, sedangkan di surat yang aku ketik pakai huruf i semuaa... Hanya karena itu dia membuat ku berada dalam masa pengawasan.. Dasar klien gak tau di untung !! " Curhatan Dika pun selesai, dan kini dia duduk dan kembali meneguk bir nya.
Saat dia duduk, Erna langsung duduk berdiri sambil memukul meja dengan kuat. Dan membuat tiga sahabat nya kaget.
"Wow.. Woww.. Tenang lah Erna, jangan merusak meja nya. Kan kasian meja nya gak tau apa apa. Tenang oke.. " Bujuk Raisa yang kini juga kondisi nya sama dengan ke tiga sahabat nya.
"Aku gak bisa tenang. Kalian berdua masih mending, lah aku ? Uuurrggggghhh, punya bos yang ngasih kerjaan gak ngotak sama sekali.." Teriak erna sambil meneguk bir.
__ADS_1