Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 150.


__ADS_3

*PLAK!*


Usai mengatakan itu, terdengar dua suara tamparan di Ruang tamu. Seperti nya, akan terjadi drama yang panjang untuk kedepan nya.


***


"MAMA UDAH GAK PEDULI LAGI SIAPA YANG SALAH SAAT INI. MAMA CUMA GAK NYANGKA, KALAU MAMA BAKAL MENGETAHUI HAL SEBESAR INI DARI ORANG LAIN. DARI ORANG LAIN, DAN BUKAN DARI ANAK YANG UDAH MAMA LAHIRIN, DENGAN ANAK YANG UDAH MAMA ANGGAP SEBAGAI ANAK SENDIRI."


Selvi pun melampiaskan emosi yang terpendam di dalam benak nya, kala dua tamparan telah Dia lepaskan pada pipi Resa dan Raisa.


"KENAPA KALIAN MENYEMBUNYIKAN HAL INI ? PADAHAL JIKA KALIAN KATAKAN SAJA, MAKA KITA BISA SAMA SAMA MENCARI JALAN KELUAR. NAMUN, DENGAN KENYATAAN BAHWA MAMA MENGETAHUI HAL INI DARI ORANG LAIN, MAMA MERASA BAHWA KALIAN SUDAH TIDAK MENGANGGAP MAMA LAGI."


Selvi terus melanjutkan umpatan nya, sedangkan Resa dan Raisa yang sempat melirik satu sama lain, hanya memancarkan kepasraan saja.


Saat ini, jika Resa dan Raisa bersuara sedikit saja, pasti masalah nya tidak akan menemui titik ujung. Jadi Resa dan Raisa memilih untuk seperti ini terus, sampai amarah Selvi menghilang, dan percakapan pun akan di kuasai oleh Resa dan Raisa. ini lah satu satu nya cara yang sama sama mereka berdua pikirkan, tanpa berdiakusi.


***


Di saat Selvi sedang mengeluarkan isi hati nya, di sisi lain Risa juga sedang menunaikan hal yang Dia inginkan.


Yah, Risa mencoba untuk naik tangan pada Silvia, namun karena ada badan Noa yang amat kekar tengah melindung Silvia dengan sangat ekstra, sehingga satu benda yang di layangkan, dan satu pukulan pun tak dapat menyentuh sehelai rambut Silvia.


"Kenapa Kamu melindungi wanita itu ? Apakah Kau tau, apa yang telah Dia lakukan di Bar ? Saking menjijikan nya, Aku tak mau melihat banyak nya foto yang di bawakan oleh Lisa."

__ADS_1


Semakin jelas, Noa dan Silvia mengetahii bahwa Lisa pasti mengedit sebuah foto yang terlihat nyata.


Pasalnya, sekalipun Silvia memang jago dalam meminum alkohol, Silvia tak akan mungkin berani menunjukkan taringnya di sebuah tempat, yang terang terangan akan membuat Resa dapat mengetahui nya.


Di tengah situasi itu, saat Selvi tegah memarahi Resa dan Raisa, dan saat Risa memarahi Noa yang masih kekeh melindungi Silvia, Silvia di buat hampir pecah kepala nya karena situasi saat ini.


Netra Silvia yang dapat melihat dari cela lengan Noa, melihat Ke dua kaka nya yang tengah di marahi bahkan di pukul oleh sang Mama. Di tambah dengan punggung belakang Noa yang entah sudah terdapat memar atau luka lebam lain nya.


Situasi itu membuat otak Silvia seakan berhenti berfungsi, dan seketik itu juga, netra Silvia dan Lisa bertemu. Tampak di sana Lisa menunjukkan smirk kemenangan, yang di buat setipis mungkin di wajah nya agar tak di sadari orang orang di sana.


Gendang telinga Silvia berdenging. Dan Netra nya seakan enggan untuk tertutup.


"..Kenapa ?? Kenapa mereka lebih percaya dengan perkataan orang luar ? Sebuah foto ? Apakah mereka dapat mempercayai foto yang setidak masuk akal itu ? Tunggu dulu... Kenapa mereka malah bertingkah seperti korban, karena tidak mengetahui masalah anak mereka ? Hah ! Jangan melucu. Apakah kalian amnesia ? Apakah kalian tak sadar, mengapa Aku jadi seperti ini yang benar saja ?"


"RESA ! RAISA ! KENAPA KALIAN MALAH SEPERTI BATU DI HADAPAN MAMA SAAT INI ?"


"Hentikan..." Batin Silvia kala mendengar suara Mama nya uang melesat masuk ke dalam pendengaran nya.


"SIAPA KAMU ? KAMU BUKAN ANAK KU. SUNGGUH, AKU TIDAK PERNAH PUNYA ANAK YANG SEPERTI INI."


"Kumohon hentikan..." Batin Silvia lagi, kala perkataan Ayah nya juga ikut melesat masuk ke dalam pendengaran nya.


"Hancurlah.. Dengan begitu, barulah Aku berhenti." Mimik wajah Lisa seperti berkata demikian, kala Silvia melihat lagi ke arah Lisa.

__ADS_1


"Hehehe" Tawa Lisa seakan dapat terdengar oleh Silvia, padahal jarak mereka cukup jauh, dan Lisa hanya menggerakkan bibir nya saja.


Hal ini benar benar membuat Silvia tak tahan lagi. Silvia, benar benar sudah muak akan situasi tak masuk akal yang tengah terjadi saat ini.


"DIIIAAMMMMMM!!!!!" Teriak Silvia sambil mendorong tubuh Noa dengan sangat kencang.


Benar kata seseorang, bahwa jika berada dalam kondisi yang di kuasai amarah dan emosional, raga kita akan bergerak tidak seperti biasa nya. Dan bahkan seperti saat ini, dimana Silvia yang tidak pernah berolahraga dapat mendorong jauh tubuh Noa yang berotot.


Semua nya terdiam seperti terkena sihir menjadi patung. Bukan karena teriakan Silvia yang menggema di ruangan itu. Bukan pula karena Silvia yang menyuruh diam. Namun, inu adalah pertama kali nya Silvia berbicara dengan nada tinggi, sambil memasang wajah yang penuh akan tekanan depresi.


Semua wajah nya berkerut. Tak ada wajah yang berwarna seputih kapas, karena saat ini wajah Silvia benar benar hanya di penuhi dengan warna merah. Semerah tomat yang hampir tanum di tangkai nya.


"BISAKAH AYAH DAN IBU DIAM SEBENTAR SAJA ? AH, TIDAK. BISAKAH KALIAN DIAM SELAMA 1 JAM PENUH ?? BISAKAH KALIAN DIAM DAN MENDENGARKAN PENJELASAN DARI ANAK KANDUNG KALIAN INI ? ANAK YANG KALIAN CIPTAKAN, DARI HASIL CINTA KALIAN BERDUA YANG DI SATUKAN ? ANAK YANG LAHIR TANPA DI MINTA UNTUK DI JADIKAN SEPERTI APA, DAN DI BIARKAN MENETAP DI BUMI INI ? APAKAH HANYA MEMBERI WAKTU UNTUK ANAK NYA BERBICARA SAJA TAK BISA ? SESULIT ITU KAH ?"


Silvia sudah mulai mengeluarkan isi dalam hati dan benak nya. Sudah cukup selama ini Dia hanya memendam nya seorang diri.


Karena Terlalu memendam semua nya sendiri, hampir membuat Silvia menjadi gila. Dan dengan Silvia yang angkat suara untuk masalah kali ini, seseorang tengah meremas telapak tangan nya, karena akan merusak hal yang telah Dia ciptakan.


"SILVIA UDAH GAK PEDULI LAGI SAMA SEMUA NYA. BODOH AMAT DENGAN YANG KALIAN KATAKAN. BODOH AMAT DENGAN PANDANGAN KALIAN TENTANG SILVIA. SILVIA BENAR BENAR SUDAH TIDAK PEDULI. PARSETAN DENGAN HUKUM HARUS MENGHORMATI ORANG TUA. PARSETAN DENGAN SEMUA ITU. SILVIA HANYA MAU DIDENGARKAN. SETIDAK NYA, JIKA KALIAN TIDAK BISA MENGINGAT SEMUA HAL YANG TELAH KALIAN LAKUKAN PADA SILVIA SELAMA INI, MAKA BERHENTILAH MENJADIKAN ORANG LAIN SEBAGAI TEMPAT PELAMPIASAN. DAN SILVIA MOHON, BERHENTILAH BERPERAN SEBAGAI KORBAN DISINI. KARENA YANG MENJADI KORBAN SAAT INI ADALAH SILVIA. BUKAN ORANG LAIN, TAPI AKU YANG SUDAH TAK LAGI KALIAN ANGGAP SEBAGAI ANAK."


Sakit bukan kepalang, kala Silvia memaksakan untuk membesarkan intonasi suara nya di hadapan Ayah dan Ibu. Rasa nya seperti kerongkongan nya hampir robek, kala mencoba mengimbangi volume suara dengan rasa frustasi yang Dia rasakan.


Sefrustasi itu Silvia pada keadaan saat ini, sehingga membuat nya berbuat sesuai dengan yang Dia angan angan kan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2