Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 69.


__ADS_3

Tanpa menunggu lama lagi, Resa langsung masuk ke dalam dan meninggalkan Andre yang saat ini saking tercengangnya tak bisa berkata kata, bahkan sampai lupa cara menarik nafas. Resa masuk ke dalam ruang yang di tempati oleh Raisa sambil menyunggingkan senyum di wajah nya, entah kenapa... Resa merasa bahwa akhirnya dialah pemenang nya. Semangat Resa pun telah naik 100% !


"Inikah yang nama nya perasaan bahagia, setelah mendapatkan suntikan dana seperti perusahan yang selama ini aku bantu ? " Batin Resa Bahagia.


...❀...


...❀...


...❀...



...❀...


...❀...


...❀...


Lalu saat Resa ingin menutup pintu, pandangan mata nya bertumbukan dengan tatapan mata Andre yang seakan tak terima. Resa pun menampakkan smirk dan membuat gerak bibir yang berarti "Aku - Yang - Menang ! " Sontak gerak bibir Resa itu membuat Andre geram dan ingin mencengkram kerah baju Resa, namun saat Andre baru berjalan mendekat, Resa sudah menutup pintu lalu wajah Andre tertabrak cukup keras dengan pintu.


"Aaaakkkkkkk" Teriak Andre menahan sakit dan semakin frustasi.


"Apa anda baik baik saja Nak ? " Tanya Dokter Doni yang semakin bingung dengan situasi saat ini.


"BUKAN URUSAN MU ! " Dengan nada bicara yang tidak sopan, Andre menjawab Dokter Doni seperti kebiasaan nya. Sungguh tak bisa belajar dari pengalaman saat di usir dari RS saat Fitri keguguran waktu itu.

__ADS_1


"Aku memang tak tau ada masalah apa antara kalian bertiga, tapi menurut ku... Nak Raisa lebih cocok dan lebih pantas jika bersama dengan Nak Resa. Bukan dengan bocah tengil seperti diri Mu, yang bahkan tak tau cara membedakan antara berbicara dengan teman sebaya dan orang yang umur nya di atas mu ! "


"....... " Andre dengan sangat geram balik menatap Dokter Doni seperti ingin mencekik nya. Namun Doker Doni tidak masalah dengan hal itu, Dokter Doni hanya sedikit membungkuk pada Surya, Risa, dan Selvi. Setelah itu dia langsung menuju ke ruangan yang menjadi tempat peristirahatan Lisa. Karena takut nya karena tidak mengatur pola makan dan istirahat, ada masalah lain pada organ Lisa.


* * *


"KAU TUNGGU SAJA PAK TUA ! SETELAH DARI SINI, AKU AKAN MEMBUAT MU TAK BISA BEKERJA LAGI ! DAN KAU AKAN MENJADI GELANDANGAN YANG KERJAAN NYA HANYA MEMUNGUT SAMPAH DI EMPERAN TOKOH. BERANI BERANI NYA PAK TUA SEPERTI MU MENCERAMAHI KU ? BERANI BERANINYA... " Sambil menggertak kan gigi nya kuat kuat, Andre membatin dengan terus meluapkan kekesalan nya pada Dokter Doni ! Seakan semua ini adalah salah Dokter Doni.


"Apa yang kau pikirkan bocah ?! " Tanya Risa do tengah rasa kekesalan Andre yang belum meluap.


"....... " Andre masih diam, karena dia tau jika dia berbicara sedikit saja.. Dia pasti tidak akan bisa mengontrol emosinya.


"Bukan kah yang di katakan Dokter Doni benar ? Kak Raisa itu bagaikan seorang peri, yang tak akan pernah cocok dengan mu yang lebih rendah dari binatang ! Apakah masih belum paham juga ? Kasihan.. " Ledek Silvia dengan wajah yang benar benar menampakkan belas kasihan yang tidak seberapa, dan senyum yang di tunjukkan Silvia benar benar membuat dara naik.


Melihat Andre langsung menggenggam tangan nya dengan sekuat tenaga, Erna dan Dika jadi tau bahwa dia sedang menahan emosi. Mereka jadi ingin memiliki niat untuk menyiram minyak tanah di atas api yang gelagatnya baru akan muncul.


"Apa ? Kau ingin memukul Silvia ? " Sambung Dika.


"JADI KENAPA KALO AKU INGIN MEMUKUL NYA ? APAKAH KAU INGIN MENJADI PAHLAWAN KESIANGAN ? " Jawab Andre dengan penuh kekesalan.


"Hahaha... Hahaha... " Tawa Dika, Erna, dan Silvia secara bersamaan.


"APA YANG LUCU ????? "


"Tentu saja yang lucu itu kamu ! " Sambil memegang perut nya, Silvia menjawab perkataan Andre.

__ADS_1


"Bisa bisa nya kamu memiliki pemikiran seperti itu ? " Sambung Erna.


"Bukan.. Bukan aku yang akan menjadi pahlawan kesiangan nya ! Tapi... Om Risa dan Om Surya yang akan menjadi perisai kami.. " Jawab Dika sambil melirik ke arah Risa dan Surya, selaku dua orang yang sangat menyayangi Silvia .


Andre pun baru sadar bahwa ada Risa dan Surya yang berada juga di sana. Andre langsung melirik ke arah Surya dan Risa yang sedang melemas kan jari jari mereka.


"PERGI DARI SINI !! " Perintah Surya.


"RAISA SAAT INI MEMBUTUHKAN RESA, BUKAN KAMU. JADI, UNTUK YANG KEDUA KALI NYA AKU KATAKAN... KEHADIRAN MU TIDAK DI BUTUHKAN DI SINI ! " Sambung Risa.


"TIDAK... TIDAK... AKU TIDAK AKAN PERGI KE MANA MANA.. SIAPA TAU RAISA MEMANGGIL RESA UNTUK MEMINTA IZIN AGAR DAPAT BERTEMU DENGAN KU ! BUKAN KAH ADA KEMUNGKINAN SEPERTI ITU ?? " Seakan belum menyerah dengan keadaan, Andre memutar otak nya dan akhir nya mendapat alasan yang cukup bagus.


"Hah. Kalau kau ingin tetap berada di sini, sadarilah posisi Mu ! Jangan menyinggung Dokter Doni maupun Dokter lain. Karena kami tidak akan peduli jika dari pihak rumah sakit yang ingin menyeret mu keluar dari tempat ini ! " Sebagai seorang yang cinta damai, Selvi pun menjadi penegah dan pelerai. Dia tak mau ada masalah baru, memang tadi dia dempat tak suka dengan kehadiran Andre. Tapi karena anak nya yang di pilih oleh Raisa sendiri, Selvi pun tak mau menyimpan dendam pada Andre ! Toh tidak ada untung nya sama sekali.


Mereka semua kembali ke posisi duduk masing masing, merilekskan pundak, leher, dan organ lain nya yang ikut tegang saat mendengar kabar terbaru tentang Raisa. Namun karena Raisa sudah sadar, rasa kekhawatiran mereka sirna sepernuh nya.


* * *


...[ Di dalam Ruangan ]...


Resa sudah masuk dan duduk di kursi yang berada di dekat ranjang pasien. Memang tadi raut wajah Resa sudah membaik, tapi setelah melihat kondisu tubuh Raisa yang melemah dan hanya bisa terbaring di atas ranjang, membuat perasaan Resa kembali tidak bersemangat dan seakan ikut merasakan sakit yang Raisa rasakan. Walaupun Resa tau, bahwa sakit yang dirasakan oleh Raisa tidak sebanding dengan rasa sakit nya.


".... Res.... " Panggil Raisa dengan Nada yang sangat lemah. Bahkan suara nya seperti sedang berbisik.Namun karena ruangan itu sangat hening, Resa dapat mendengar perkataan Raisa. Dan Resa semakin memajukan kursi yang dia duduki, karena tak mau jika ada perkataan Raisa yang tidak terdengar karena terlalu kecil.


Raisa hanya terbaring lemah, dan mata hanya mata nya yang dapat melirik kekanan. Tempat Resa duduk dan saat ini sedang menggenggam tangan Raisa yang tidak terdapat selang infus itu.

__ADS_1


"Jangan paksa keadana kamu Sa. Kalau tenaga kamu belum banyak, jangan banyak bicara dulu yaah. Biar semua nya aman ! Kamu tidur aja yaah, Aku bakal ada di samping kamu terus.. "


"..... " Mendengar nada suara Resa yang tidak seperti biasa nya, membuat Raisa merasa bersalah sekaligus merasa senang karena ada seseorang yang menghawatirkan diri nya sampai seperti ini.


__ADS_2