Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 64.


__ADS_3

Lalu bagaimana dengan orang yang selama ini menjadi kambing hitam atas semua kesalahan yang sengaja maupun tidak di sengaja, yang di lakukan oleh fitri ?


Tangan Andre mulai bergetar saking emosinya, ada sesuatu yang bergejolak di perasaan nya saat ini. Yaah, saat ini Andre hanya memikirkan tentang Raisa, semua hal tentang Raisa pun terputar secara otomatis di benak nya.


"Dan kalo kamu tak percaya dengan hasil penyelidikan saya, kamu bisa cari detektif lain kok. Dan ini laporan saya yang terakhir, setiap hari sabtu dan minggu, Fitri dan Riski selalu bertemu di *LOVE HOTEL* yang ada di tengah ibu kota. Kamu pasti mengetahui hotel itu kan ? Hotel yang keamanan nya sangat ketat, sampai sampai CCTV nya tak bisa di bobol dan di lihat siapa saja. Namun berbeda dengan ku, karena aku detektif yang punya koneksi dengan hotel ini. Aiss, entah apa yang bermasalah dengan otak mu, tapi bisa bisa nya kamu tetap memberi fitri ijin untuk keluar setiap hari sabtu dan minggu dengan berbagai alasan ? Hah... Terserah, laporan saya sudah selesai ! Besok kamu akan mendapatkan hasil yang lebih terperinci, dan akan saya kirim kan juga beberapa video kemesraan Riski dan Fitri yang tertangkap kamera CCTV di love hotel. Sekian, selamat malam ! "


Rekaman suara pun terhenti, tak ada lagi suara di ruangan itu. Seakan langsung hening seketika, langkah kaki semut saja tak terdengar !


Kebenaran tentang pendonoran ginjal beberapa tahun yang lalu telah terbukti ! Fakta telah terungkap, kebenaran yang memuaskan dan menyakitkan meraja lela di saat ini.


"Aaaarrrhhhhhh "


*PRAAAKK ! * Handphone yang di benturkan ke dinding.


Teriak andre dan langsung menghantamkan hp nya ke dinding sampai benar benar hancur, setelah melihat 5 video yang terkirim dari detektif seperti yang sudah di sampai kan di rekaman tadi.


Perasaan andre campur aduk, tak bisa di utarakan dengan baik. Ingin rasa nya dia mencekik leher Riski dan Fitri saat ini juga.


Karena emosi yang tak terkontrol sesaat, Andre telah menghancurkan hp nya, yang padahal masih berguna karena dia ingin menghubungi detektif itu lagi. Untungnya terdapat handphone cadangan di laci meja nya, sehingga emosi andre tak berkoar koar bagai api.


Setelah mengetahui kebenaran nya, hal pertama yang ingin andre hubungi bukanlah meminta Fitri untuk memberikan penjelasan, tetapi tentang Raisa.


*Drrttt... Drrttt... Drrrt.... Drrtttt.... Drrrrtt.. *


Andre menghubungi si detektif yang tadi, setelah meminta nomor nya pada asisten nya. Namun setelah deringan ke lima, si detektif belum juga mengangkatnya.

__ADS_1


"FU*CKKKK ! ANGKAT TELEPON NYA DONG ! " Dengan emosi yang tak mau di kontrol lagi, Andre mulau berkata kasar sampai sampai sang sekretaris yang di luar ruangan pun mendengar nya !


"Halo.. Siapa ? " Tanya si detektif dari seberang telepon, dengan nada masa bodoh nya.


"INI AKU, JANGAN PURA PURA TAK MENGENAL KU ! " Teriak Andre emosian.


"Maaf, tapi anda siapa ? " Dengan nada yang sama, sang detektif bertanya lagi.


"AKU ANDRE ! ANDRE PURNAMA ! AKU YANG MENYURUHMU MENYELIDIKI TINDAKAN FITRI SELAMA INI ! " Dengan suara yang semakin tinggi dan menusuk telinga, Andre menjelaskan secara singkat pada si detektif.


"Ah, jadi ini kamu yaah. Sudah ku duga, ternyata kamu memang orang yang tak tau sopan santun. " Dengan nada mencomo'oh, si detektif berkata terang terangan di sambungan telepon.


"AKU TAK PEDULI ! CARI KEBERADAAN RAISA SAAT INI, AKU HANYA MEMBERI MU WAKTU 10 MENIT ! "


Dengan nada mencibir, detektif itu mengatakan hal yang sebenarnya pada Andre. Karena tak peduli di mana kedudukan mu, etika dalam berbicara itu bukan kah sangat penting ?!


"DASAR BI*ADAB !!! KALAU DI SURUH NYARI YA TINGGAL DI CARI ! RIBET BANGET ! MAU DUIT GAK SIH ? "


"Cih... Tak peduli seberapa banyak uang yang anda berikan pada saya, tak akan saya gunakan sepersen pun. Akan lebih baik kalau saya sumbangkan pada panti asuhan, itupun setelah di pikirkan sebanyak 200 kali ! Karena tak lucu jika satu panti asuhan sakit perut, setelah berbelanja kebutuhan harian menggunakan uang anda ! "


*Tuuuuttt.... * Sambungan telepon pun di putuskan.


"ANNNNNNJJJJJIIIIINNNNNNGGGG ! "


Andre mengumpat lagi dengan kata kasar, setelah itu memukul meja nya sekuat tenaga, sampai buku buku tangan nya memar dan bahkan ada beberapa yang warna nya biru keunguan.

__ADS_1


* * *


...(Di tempat sang detektif)...


"Astaga... Telinga ku sakit sekali, dasar binatang ! Dia kira dunia ini milik bapak nya apa ? Jadi semua kemauan nya harus di turuti, cuihh.. Kalo bukan karena bos yang nyuruh, aku gak bakal mau bicara sama ni orang ! Ah, dia tergolong manusia gak yaah ? " Sang detektif pun menggosok telinga berkali kali, lalu menelfon seseorang.


*Drrrtt... Drrrttt... *


"Ada apa ? " Tanya seseorang di seberang sana.


"Saya sudah memberitahu pada Andre semua informasi tentang Fitri seperti yang anda perintahkan. ! " Lapor sang detektif.


"Bagus."


"Tapi.... " Detektif itu ragu untuk menyampaikan sesuatu yang ada di benak nya.


"Katakan saja ! Untuk saat ini, sudah tak ada lagi kabar yang dapat membuat ku kaget dan lain sebagai nya ! Dan satu satu nya kabar yang dapat membuat ku kembali sadar adalah, Raisa bangun untuk saat ini dan untuk ke depan nya ! " Seseorang yang ada di seberang telepon pun seakan sudah tak peduli lagi dengan berita apapun, karena prioritas nya saat ini hanya tentang Raisa.. Raisa... Dan Raisa..


Yaah, yang sedang di hubungi oleh detektif itu adalah Resa. Karena semenjak Raisa masuk rumah sakit, dan semenjak Resa mencari tahu semua nya, Resa mulai menggerakkan orang orang nya yang sudah lama di tanam di sekitar Andre. Salah satu nya adalah detektif yang menyelidiki tentang fitri.


"Ah baiklah. Andre, dia menghubungi saya dan menyuruh saya untuk mencari tahu dimana keberadaan Raisa saat ini. Apakah saya perlu memberitahu nya tentang Raisa yang berada di Rumah sakit saat ini ? Atau, biarkan saja sampai dia menemukan Raisa dengan usaha nya sendiri ? "


Sang detektif pun memberikan pertanyaan dan persetujuan pada Resa ! Karena tak peduli keputusan nya seperti apa, inti nya semua berjalan atas perintah dan sepengetahuan Resa.


"............ " Resa terpaku sesaat. Bukan kaget atau terkejut, tetapi lebih ke arah semakin drop. Karena hal ini merupakan hal yang tak bisa Resa putuskan mengikuti kemauan nya, ada beberapa pertimbangan yang membuat Resa harus memaksa otak nya yang dari kemarin terus berpikir dan harus berpikir lagi.

__ADS_1


__ADS_2