
"Jangan membuat dan jangan menempatkan diri Mu adalah orang yang paling sibuk, orang yang paling terluka, orang yang paling sakit hati di sini ! "
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
__ADS_1
"Noa, Jika mau dibilang aku sangat ingin membunuh Mu ! Sungguh keinginan Ku untuk membunuh Mu itu semakin meningkat, saat Aku melihat Mu dengan- " Perkataan Silvia terhenti, hampir saja Silvia salah bicara yang dapat menimbulkan Noa semakin tau. "Sudahlah, Aku tak mau membahas ini. logika Ku masih nempel pada otakku, jadi mari kita hentikan pembicara nya sampai di sini. Cukup sampai di sini saja, tidak usah dilebarkan lagi Noa.! "
"Silvia, apa Kamu sungguh ingin menghentikan pembicaraan nya di sini? Jika pembicaraan nya berhenti di sini, jangan salahkan Aku, jika Aku melakukan sesuatu yang tidak pernah Kamu pikirkan sebelumnya ! " Ujar Noa dengan wajah yang benar benar sedang dalam mode serius. Tak kalah serius dari Silvia saat mengatakan ingin menghentikan pembicaraan di sini.
"Tidak pernah Ku pikir kan sebelum nya ? Memang nya apa yang ingin Kamu lakukan pada Ku Noa ? Kita berada di rumah sakit, Kamu tidak bisa melakukan hal yang berbahaya pada Ku, dan Aku tidak takut pada Mu sana sekali, sekalipun Kamu ingin memukul Ku di rumah sakit ini ! " Tanpa tatapan takut sedikit pun, Silvia menyampaikan pada Noa, bahwa sekalipun Noa memukul nya, Silvia tak akan membuka mulut nya sedikit pun, dan tak akan mengubah apapun.
"Memukul Mu ? Aku tak pernah mengatakan akan memukul Mu Silvia ! Atau sekarang sesuatu pada pendengaran Mu sudah terganggu ? "
" Lalu apa yang Kamu maksud dengan jangan menyalahkan Mu atas apa yang akan Kamu lakukan, yang bahkan tidak pernah Aku bayangkan sebelum nya ? "
Mendengar perkataan Noa membuat rasa takut yang sedari tadi tak ada ada diri Silvia, tiba tiba muncul begitu saja. Mungkin rasa takut nya mengikuti naluri nya, yang cepat tanggap mengetahui sedang dalam situasi yang membahayakan.
"Jika seperti itu, entah satu hari, 2 hari, satu minggu, 1 bulan, 1 tahun, maupun satu abad, Kita berdua akan terus bersama-sama. Bila perlu hingga maut yang memisahkan kita dalam apartemen Ku. Kamu pasti suka dengan masukkan yang kuberikan ini kan ? Iya kan silvia ? Jangan meragukan perkataan Ku Silvia, karena jika Aku mau, Aku akan mencium Mu sekarang juga di sini. Sebagai tanda bahwa aku sangat serius. "
"Dan kali ini Aku berkata dengan sangat sungguh-sungguh, tak ada candaan saat ini. Aku benar-benar sudah masuk dalam mode serius, dan aku tak akan menyuruh Mu untuk menyalahkan Aku. Karena Aku melakukan ini dengan kesadaran penuh ku, kesadaran jiwa Ku, kesadaran otakku yang saat ini mengetahui semua hal yang Kamu dan Aku katakan. Dan Aku akan selalu mengingat yang terjadi mulai detik ini, akan selalu teringat dalam benak Ku. Siapa tahu jika aku semakin mengingat banyak hal, ingatan masa lalu Ku akan tiba-tiba muncul di baris paling depan. ! "
__ADS_1
"Noa, Aku bukan anak kecil lagi. Tak ada ancaman yang dapat membuat Aku takut lagi, Kamu ingin mencium Ku ? Lakukan lah apa pun yang Kamu mau, karena aku tidak akan takut sama sekali. Aku tau Noa, bahwa Kamu tidak akan berbuat hal aneh pada diri Ku. "
"Oh ~ Kamu sungguh membuat kesabaran Ku habis ya Silvia ? Kamu benar-benar tidak takut pada diri Ku, maka Aku akan mengabulkan apa yang kamu katakan sebelum nya ! "
Belum sempat Silvia menjawab perkataan Noa, bibir Noa sudah ******* bibir milik Silvia. Karena hal itu juga, Silvia tak bisa berkata lagi. Silvia hanya bisa membelalakkan mata nya, namun Noa tidak merespon tatapan mata Silvia yang sedang tajam mengarah pada Nya. Noa justru memejamkan mata nya dan menikmati ciuman yang sedang berlangsung ini. Ciuman yang awalnya sangat pelan, sangat halus, semakin detiknya semakin menuntut dan kian membuat nafas memburu.
Selama dua menit berlangsung, kedua insan ini masih tetap berciuman, entah alam yang merestui atau memang timing ini yang tepat, karena tak ada seorangpun yang lewat di lorong rumah sakit, yang ditempati oleh Noa dan Silvia. Silvia yang awalnya terus memberikan penolakan, akhirnya tiba di ujung pertahanan nya. Tangan nya yang berusaha untuk menolak dengan berusaha mendorong dada Noa menjauh, pada akhirnya melemah. Tanya Noa yang merangkul pinggang dan tengku milik Silvia, berhasil melemahkan Silvia. Silvia tak bisa melakukan apapun lagi, selain mengikuti ritme ciuman yang Noa berikan pada diri nya.
Melihat wajah Silvia yang bersemu merah, Noa memutuskan untuk melepaskan tautan bibir nya dan membiarkan Silvia menarik nafas sebanyak-banyaknya. Selang 30 detik, Silvia benar benar menarik nafas sebanyak banyak nya. Silvia ingin marah pada noah, Dia ingin memaki Noa, tapi sayangnya sebelum Silvia mengatakan sepatah kata pun, Noa sudah kembali ******* bibir Silvia.
Tak ada lagi ciuman sebagai pemanasan atau ciuman halus sebagai pembukaan, ciuman kali ini benar-benar ciuman yang sangat menuntut, sangat amat menuntut malah dan benar-benar membuat jantung silvia bergemuruh karena hampir kehabisan nafas. Jika ini dikatakan sebagai hasrat, maka biarkan hasrat ini terus berlanjut. karena ciuman ini tak akan tercipta jika tak ada sesuatu yang menjadi pemicu.
Sepuluh menit berlalu, dan tiga kali Noa berhenti untuk memberikan nafas kepada Silvia. Ini bukan penyiksaan, ini hanya tindakan yang Noa pilih untuk mengabulkan perkataan di Silvia yang meragukan nya tadi. Bukankah tadi Silvia yang menantang sendiri ? Jadi biarkan saja Silvia merasakan apa yang telah Dia tantang. Bukankah dia bukan anak kecil lagi ? Jadi biarkan lah cara orang dewasa mengatasi hal ini.
"Jadi bagaimana ? Apakah mau aku lanjutkan lagi? " Tanya Noa yang masih melihat Silvia kesusahan mengatur nafasnya, wajah Silvia sangat memerah, kuping nya apalagi ! Dan bibir nya sudah tidak tampak seperti semula lagi.
__ADS_1
"Kamu ingin membunuh Ku Noa ? Ah, aku tahu sekarang.. Kamu tak mau memukul Ku, karena kamu ingin membunuhku dengan caramu tersendiri kan ? Kamu mencium Ku hingga Aku hampir saja kehabisan nafas, jadi kamu ingin membunuh Ku dengan cara yang sangat amat menggerogoti hasrat ? "