
[Hai Guys ๐ค. Maaf, hiatus nya lama lagi ๐ซ. Kemarin emang sibuk, tapi kalian tau ? Sial malah menghampiri Otor kalian ini ๐คง. Otor kecelakaan loh we, motor otor di serempet orang ๐ซ. Mana gak bertanggung jawab lagi, abis serempet langsung lari aja gitu. Pikir lagi lomba lari apa ?๐. So, dari kecelakaan itu, mendatangkan luka di ke dua tangan otor. Yang sudah jelas, buat Otor megang hp aja susah nya minta ampun ๐ญ. Maap banget ya Guys, mau marah ya marah aja, ini emang otor yang salah. So, semoga bulan ini bisa tamat yaah๐ฅฐ. Happy Reading โค๐ฆ ]
***
Beberapa menit kemudian, Resa dan Silvia sudah duduk bersebelahan di bangku panjang berwarna putih, di bawah sebuah pohon rindang.
Angin sepoi sepoi sesekali bermain dengan untaian rambut milik Resa maupun Silvia. Sungguh suasana yang sangat tentram dan dapat di gunakan untuk menenangkan diri. Sayang nya, saat ini bukan tentang masalah menenangkan diri nya, tapi tentang masalah yang harus di selesaikan, agar healing dapat terjadi.
"MAAF." Ujar Resa dan Silvia secara bersamaan.
Alhasil, suasana yang tadi nya sangat mendukung mereka, berubah menjadi suasana yang canggung.
"Kamu duluan." Kata Resa mempersilahkan Adik nya yang berbicara terlebih dahulu.
Terlihat Silvia mentautkan jemari nya satu dengan yang lain, untuk melepaskan kegugupan. Dan itu membuat Resa overthinking, apakah diri nya salah berbicara ?
"Ehem.." Silvia pun berdehem untuk memulai percakapan. Walaupun sedikit canggung, Silvia sudah memantapkan hati untuk berbicara.
"Aku pikir.. kak Resa marah pada Ku, karena Aku sudah mengecewakan Kakak terlalu jauh. Bahkan sampai di tahap yang sudah tak bisah di perbaiki lagi.." Ujar Silvia menunduk dan menatap rumput hijau yang dia pijak, Seolah tidak sanggup jika arus menatap kakak nya. Bukan karena takut melihat respon Resa, tetapi Silvia lebih takut jika air matanya sudah gugur terlebih dahulu.
Mendengar perkataan Silvia, membuat Resa seolah tertohok oleh kenyataan yang sangat tidak masuk akal menurut pemikiran nya.
__ADS_1
"KATA SIAPA KAMU MENYECEWAKAN KU ? SEHARUS NYA KAKA YANG MENYECEWAKAN MU, KARENA KESALAHAN KAKA.. KAMU MALAH..."
Perkataan Resa yang ber intonasi tinggi akhir nya redup saat membayangkan, kejadian yang telah menimpa adik nya. Kejadian yang jika dipikirkan, belum dilakukan oleh Resa dan Raisa.
Mendengar jawaban Resa, membuat Silvia mengembangkan senyum di wajah nya. Ternyata yang dikatakan oleh Raisa adalah benar ada nya, bahwa Resa bukan nya marah dan kecewa pada Silvia, melainkan kecewa pada diri nya sendiri yang notabene nya gagal menjadi seorang kakak yang sempurna di mata adik nya.
"Ternyata yang Kak Raisa katakan bukan bohongan yaah." Ujar Silvia refleks, karena ada rasa lega yang saat ini menyebar hampir ke seluruh tubuh.
Resa mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya, tapi dia tidak berniat sedikitpun untuk memotong perkataan silvia lagi, karena sudah diputuskan bahwa Dia akan mendengarkan Silvia terlebih dahulu.
"Kak Resa tahu ? Dulu Aku sangat membenci Papa dan Mama. Mereka yang terlalu fokus pada pekerjaan, mereka mereka yang selalu sibuk, mereka yang memaksa meluangkan waktu setiap hari sabtu ataupun minggu, dan berakhir bukan menghabiskan waktu bersama Aku dan Kakak, tetapi mereka malah tidur di tempat-tempat yang kita jadikan sebagai tempat liburan...."
"Hingga akhir nya, Kak Resa membawakan seorang pria, yang seperti pangeran pada penglihatan Silvia." Silvi pun mengulas senyum lagi, lalu lanjut berkata "Yah, pria itu adalah Noa. Raut wajah nya dan semuanya tentang Noa benar-benar seperti penggambaran dari seorang pangeran, di dunia mimpi yang pernah Silvia bayangkan di kala bosan. Walaupun ini sedikit terdengar konyol, tapi Silvia langsung jatuh hati pada Noa setelah beberapa kali bertemu dengan nya."
Silvia berhenti berkata, antara mengambil nafas sejenak atau memang Silvia yang ingin menatap mata kakak nya. Dua kemungkinan itu dapat terjadi.
"Dan cerita setelah itu sudah diketahui oleh kak Resa. Jadi, Silvia rasa tak perlu di jelaskan lagi."
Resa sudah bertatapan secara langsung dengan Adik nya, yang sedari tadi hanya sanggup menatap rerumputan, kini sudah menatap Resa dengan pandangan mata yang sedikit tenang, walaupun masih tersirat beberapa ketakutan dan keraguan dari dalam Netra nya.
Entah dialog apa yang harus Resa sampaikan, inti nya saat ini adalah giliran diri nya yang berbicara. Kata kata yang sedari tadi sudah di rangkai di otak, seolah buyar seketika saat tiba giliran nya berbicara. Seakan demam panggung, itulah yang di rasakan oleh Resa saat ini.
__ADS_1
Alhasil, tubuh Resa bergerak dengan sendiri nya. Ke dua tangan nya yang cukup berotot dan bertenaga, membawah tubuh kecil milik adik nya ke dalam rengkuhan nya. Perlahan, Resa membuka mata yang sedari tadi dia tutup rapat rapat.
"MAAF.. SUNGGUH MAAFKAN KAKAK SIL. SEHARUS NYA KAKAK LEBIH MEMPERHATIKAN MU, DAN MEMBUAT DUNIA YANG KAMU BANGUN TIDAK HANCUR KARENA HAL ITU. SEHARUS NYA, KAKAK MEMPERHATIKAN DIRI MU, KETIMBANG LEBIH MENGEJAR KEPENTINGAN DUNIA KAKAK. MAAF...."
Entah dari mana kata kata itu datang, inti nya hal itulah yang sungguh sungguh di rasakan oleh Resa. Dia tak bisa berkata lebih lanjut lagi, karena jika di terus kan maka dia akan menangi. Dan Resa tak mau terlihat lemah di hadapan Adik nya yang sudah berusaha tampil tegar, padahal teramat sangat rapuh.
Silvia yang di peluk pun mengerjapkan mata nya berkali kali, guna memastikan bahwa yang Dia lihat saat ini bukan lah suatu ilusi. Bahwa punggung Resa sedang bergetar.
Walaupun getaran nya tidak terlalu di rasakan oleh Silvia, tapi mata nya tak bisa di bohongi. Perlahan, ke dua tangan Silvia balas memeluk Resa. Jemari jemari nya yang kecil mengelus halus punggung Kakak nya. Ada secarik senyum yang Silvia tampilkan, lalu Silvia pun bersuara.
"Jangan terlalu menyalahkan diri Mu kak. Kamu sudah berusaha sangat keras untuk Silvia, untuk Papa Mama, untuk Kak Raisa, dan untuk perusahaan Kaka. Kakak adalah Kaka terbaik tau. Jadi, berhentilah merasa bersalah. Karena sudah Silvia maaf kan."
Perkataan Silvia berhasil membuat Resa tersenyum. Rasa bersalah, takut berhadapan dengan Silvia, merasa menjadi pihak yang merupakan muara masalah yang berkecamuk sedari tadi, seolah langsung tenang begitu saja.
Mereka berdua pun lanjut berbincang tentang perasaan mereka satu sama lain. Di mana hingga tahap apapun, Resa tak bisa memarahi Silvia. Dan Silvia juga mengatakan, bahwa Resa yang sering memberikan nasehat baik pada nya, sering di sambut oleh wajah yang cemberut, hentakan kaki, dan pintu yang di banting hanya kepura puraan yang Silvia lakukan.
Pada dasar nya, sesungguh nya Silvia tau betul maksud dari perkataan Resa. Hanya entah kenapa, Silvia ingin saja membuat Resa merasa bersalah karena telah membuat adik nya marah dan cemberut.
Dan alhasil, tanpa sadar Resa dan Silvia sudah bercanda ria satu sama lain, dan sama sama membuka kenyataan yang terjadi selama ini. Memberikan alasan karena melakukan tindakan yang pernah terjadi di masa lalu yang menimbulkan pertengkaran.
Suasana antara mereka berdua pun menjadi serasi dengan suasana yang terjadi di sekeliling mereka. Goyangan ranting pohon karena di tiup angin, beberapa daun yang jatuh, dan tiupan angin yang membawa kesejukan di tubuh Resa dan Silvia. Sungguh momen yang cocok untuk mereka, yang baru selesai menyelesaikan kesalapahaman yang terjadi.
__ADS_1