Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#Part 165.


__ADS_3

Saat Silvia sudah berada di dalam mobil bersama Noa, Silvia pun secara natural langsung menceritakan tentang diri nya yang sempat bercakap cakap dalam kurun waktu yang cukup lama, dengan wanita yang baru saja Dia temui. Dalam hal ini, Silvia menyampaikan bahwa diri nya sudah dapat berkomunikasih dengan orang baru yang tak sengaja Dia temui.


“Kamu bisa bersosialisasi dengan orang baru ? Apakah Kamu sudah bisa mengalahkan rasa risih Mu pada orang yang baru Kamu temui ?”Tanya Noa yang enggan menginjak gas mobil, dan melaju di jalan raya.


“Awal nya juga Aku gak bisa bersosialisasi dengan orang baru Noa. Tapi Aku rasa, makin ke sini Aku makin tak masalah dengan kehadiran orang baru. Dan lagi, orang yang Aku temui tadi memberikan rasa nyaman pada Ku. Dia seperti Kak Resa dan juga Kak Raisa.”


Orang baru... Hal ini menjadi satu dorongan bagi Noa untuk merasa kepo, karena jawaban Silvia barusan seperti mengatakan bahwa orang yang baru saja Dia temui merupakan orang yang baik.


“Apakah Kalian sempat berkenalan ?” Tanya Noa yang masuk dalam mode detektif.


“Iya dong. Nama nya Fatia, “ jawab Silvia jujur dan apa ada nya.


“Fatia ?!” Sambung Noa yang merasa tidak asing dengan nama ini.


“Iya... Nama nya Fatia, Noa. Emang kenapa sih ?”


“Tidak... Bukan apa apa. Aku Cuma merasa pernah memiliki kenalan bernama Fatia.” Jawab Noa yang secara bersamaan, otak nya langsung mengingatkan Noa pada kejadian yang tidak ingin Noa kenang.


Kejadian yang sejak saat itu menjadi satu tolak ukur bagi Noa, untuk tidak memiliki kekasih apalagi memiliki pemikiran untuk berumah tangga. Walaupun tanpa Noa sadari, Dia sudah jatuh hati pada Adik Resa sejak


dulu.


“Ouuww...” Sambung Silvia yang tidak merasa kepo maupun curiga pada jawaban Noa.


Mungkin Silvia merasa Noa pernah memiliki hubungan dengan orang yang bernama Fatia, tetapi itu pasti sudah berlalu. Sehingga Noa menjawab Dia merasa tidak asing dengan nama ini.


Sekalipun ada sesuatu, Silvia enggan untuk memaksa Noa menjelaskan hal itu pada Silvia. Karena jika pada dasar nya Noa tidak memiliki keinginan untuk menjelaskan sesuatu pada Silvia, maka Silvia harus menurunkan ego nya dan memilih untuk mengalah. Itu adalah jalan yang sangat di butuhkan dalam sebuah hubungan bukan ?


***


Lalu, saat Noa dan Silvia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Raisa, di sisi lain juga ada orang lain yang sudah tiba di kediaman nya beberapa jam kemudian. Orang yang tadi sempat di petemukan secara tak sengaja dengan Silvia di pantai.


“Selamat datang Nona. Apakah perjalanan Anda terasa nyaman di indonesia ?” Tanya sang pelayan yang menyambut Fatia dari pintu masuk.


“Emm.. Di mana Ayah dan Ibu ?” Tanya Fatia dengan ekspresi dingin.

__ADS_1


“Seperti biasa Nona... Mereka menghabiskan waktu mereka dengan merawat bunga bunga di kebun belakang.” Jawab sang pelayan.


“Lalu, apakah ada yang mereka katakan untuk Ku ?” Tanya Fatia berharap.


“.....” Sang pelayan itu terdiam.


Diam nya Si pelayan ini membuat Fatia mengerti dan menghilangkan ekspresi berharap nya tadi, dan raut wajah nya kembali menjadi dingin.


“Aku tau jawaban nya. Kalau begitu, apakah ada sesuatu yang mereka tanyakan ? Atau mereka butuh kan ?” Tanya Fatia sekedar formalitas saja. Karena Fatia adalah anak mereka.


“Seperti biasa juga Nona. Mereka bertanya, jika Anak mereka yang bernama Fitri sudah di temukan, maka segera pertemukan dengan mereka. Karena mereka sudah sangat merindukan nya,” jawab si pelayan yang wanti wanti,


karena jika percakapan nya sudah tentang Fitri, maka pasti ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.


“Grrtttt..” Bunyi gigi yang di gesekan menghiasi pendengaran pelayan itu, yang sedang  berjalan bersama dengan Majikan nya menuju ke kamar.


“Masih tentang Fitri ?” Tanya Fatia dengan suara yang melemah. Mata nya yang sedari tadi terlihat hidup, kini nampak redup. Lagi, mata itu kehilangan cahaya nya.


“Iya Nona.” Jawab sang pelayan dengan intonasi suara seperti tadi. Tak ada intonasi yang berubah, karena Dia tau betul bahwa Tuan nya tak suka jika di berikan jawaban dengan intonasi mengasihani atau sejenisnya.


“Apakah mau Saya panggilkan pelayan yang lain, untuk membantu Anda membersihgkan badan Nona ?” Tanya si pelayan itu dengan sopan.


“Tak perlu. Lagi pula Bathup nya sudah Kamu isi dengan air hangat kan ? Selebih nya bisa Aku tangani sendiri.” Jawab Fatia yang kini sudah masuk ke dalam kamar nya, dan mengunci pintu dari dalam.


Sang pelayan yang sudah tau dengan sifat tuan nya langsung pergi dari depan pintu itu, dan menghampiri kepala pelayan. Orang yang bertugas untuk masalah di dalam rumah, dan juga orang yang terpercaya. Seperti nya ada sesuatu yang ingin Dia beritahukan, dan semoga terlaksanakan.


***


Beberapa menit kemudian...


Fatia sudah keluar dari dalam kamar nya dengan wajah yang nampak lebih berenergi karena baru saja selesai mandi.


Pakaian nya terkesan sederhana, namun tidak dengan harga nya. Dari semua penampilan nya yang sederhana, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak ada sejak tadi, namun sekarang seakan  menjadi variabel penambah.


Variabel penambah ini adalah perban yang di lilitkan di tangan kiri nya.

__ADS_1


Saat Fatia keluar dari dalam kamar nya, sudah ada pelayan wanita yang menyambut nya tadi. Pelayan wanita itu seperti nya sudah bekerja lama bersama Fatia,, sehingga tau apa saja yang di inginkan Fatia di berbagai situasi.


“Apakah mereka masih di taman belakang ?” Tanya Fatia.


“Iya Nona. Mereka berdua sedang duduk di meja dan kursi berwarna putih, seperti kebiasaan mereka sehari hati.”


“Em...”


Usai berdehem, Fatia pun mengambil beberapa langkah menuju kebun belakang. Namun karena teringat sesuatu, kaki nya berhenti di langkahkan, dan Fatia kembali berbalik ke pelayan yang masih belum bergerak dari posisi berdiri.


“Oia, Aku lupa memberitahu Mu. Tolong bersihkan Kamar mandi Ku. Karena saat Aku berendam tadi, banyak air yang bercucuran kemana mana.” Perintah Fatia dan lanjut  melajukan kaki nya, tanpa mendengar jawaban dari si pelayan.


Karena sudah pasti apapun jawaban nya, Si pelayan itu akan mematuhi perkataan Fatia bukan ?


KLEK


Setelah pintu kamar mandi terbuka, Netra si pelayan di suguhkan dengan keadaan yang familiar di mat anya.


“Apa Nona Fatia menggila lagi ?” Monolong si pelayan, saat melihat cermin yang berada di kamar mandi sudah di pukul hingga retak dan beberapa pecahan nya jatuh ke lantai, dengan beberapa warna yang bukan berasal dari pecahan kaca itu.


Warna itu tak lain dan tak bukan adalah warna merah, yang sudah pasti berasal dari darah Fatia.


Si pelayan itu langsung mengambil hp nya, dan menelepon si kepala pelayan.


“Seperti yang Saya laporkan tadi, mood Nona Fatia sangat buruk, sehingga kamar mandi nya kembali berntakan. Kerusakan kali ini sama dengan kerusakan sebelum nya, sehingga yang saya butuhkan saat ini adalah pekerja yang bisa mengganti cermin ini, dan membuat kondisi kamar mandi Nona Fatia kembali seperti sedia kala.”


Lapor sang pelayan itu dengfan sangat terperinci.


Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan,Sang pelayan itu pun mematin telepon nya.


Selang beberapa menit kemudian, masuklah 5 orang pelayan wanita untuk membereskan kekacauan yang ada di dalam kamar mandi.


Dan saat kamar mandi nya sudah tidak berantakan lagi, tukang kebun pun masuk dengan cermin dan beberapa alat kerja yang di gunakan untuk mengganti cermin yang sudah tak bisa di pakai itu.


Waktu yang di butuhkan untuk membawa cermin itu, karena hal ini sudah sering terjadi, sehingga di gudang, stok cermin nya lebih banyak dari pada stok alat yang lain. Memang agak unik majikan mereka yang bernama Fatia ini.

__ADS_1


__ADS_2