
Sambungan telepon berakhir, dan Resa yang saat ini sedang panik dan gelisah langsung meluapkan kekesalan nya pada perusahaan yang membatalkan kerja sama.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
"Oh Tuhan.. " Gumam Selvi yang saat ini sedang di rangkul suami nya.
Silvia bersama Erna dan Dika seperti sudah menjadi tiga serangkai, karena saat ini mereka bertiga berusaha sama sama kuat dan tidak ikut panik. Padahal rasa panik yang mereka rasakan nampak jelas dan tidak bisa di sembunyikan.
"Raisaa.. Tolong jangan kaya gini... " Batin Resa yang sama sekali tidak memalingkan pandangan nya sedikit pun ke arah lain.
...*BRAAAAKK !!! *...
Lisa membuka pintu dengan tergesa gesa, wajah nya nampak sangat panik.
"Sel kanker yang ada di otak Raisa mulai bereaksi. Kemo terapi yang selama ini kita jalan kan seperti tidak membuahkan hasil.. Uuhgghh " Lisa menggigit bibir bawah nya dengan sangat kuat, dia seakan ragu untuk melanjutkan penjelasan.
"Jelaskan secara rinci.. Apa yang akan terjadi ! " Sambung Resa yang tak suka situasi seperti ini.
"Dalam waktu 24 jam, jika kita tidak menemukan cara untuk mengangkat sel kanker yang ada di otak nya, mau tidak mau.. Suka tidak suka, kita semua akan kehilangan Raisa untuk selama lama nya.
Silvia bersama Erna dan Dika langsung terduduk lemas di lantai. Mereka bertiga sama sama berpelukan, menangis tanpa suara. Selvi susah terisak di dalam rengkuhan sang suami, sedangkan Surya sudah tak tau harus berbuat apa. Mau di cabut semua rambut nya pun, pikiran nya tetap buntu.
Resa memandang Lisa dengan tatapan ketakutan dan berharap Lisa dapat melakukan sesuatu. Pandangan mata nya sangat tersirat dengan jelas.
__ADS_1
"Resa.. Aku juga ingin melakukan sesuatu yang aku bisa.. Tetapi aku tak tau ! Aku memang tidak terlalu ahli dalam spesialis ini, jangan kan aku. Kakek aku saja sedang kewalahan di dalam sana ! " Jelas Lisa sambil menunjuk Dokter Doni.
"...... " Resa tertegun mendengar perkataan Lisa yang masuk akal.
Semua nya benar benar kembali menemui jalan buntu.
"Yooo Resa... Kamu tidak melupakan aku bukan ? "
Di tengah suasana yang sedang mencekam, terdengar suara dari ujung lorong yang sedang berjalan mendekat. Semakin lama wujud orang itu semakin jelas bagi penglihatan, bahkan Resa sudah tau siapa orang itu karena dari suara nya saja sudah familiar.
".. Noa.... " Panggil Resa dengan pandangan mata yang seakan terpaku.
"Yaah ini aku ! Gimana ? Kangen ? "
"APAKAH KAMU SUDAH MENEMUKAN CARA UNTUK MENYEMBUHKAN RAISA ? HEM ? KALAU KAMU SAMPAI SUDAH DATANG SEPERTI INI, SEPERTI NYA SUDAH KAN ? "
"Hei, sopan lah sedikit pada ku bocah ! Padahal umur kita sama, tapi kenapa kelakuan kamu bikin malu malu aja sih ? "
"....... " Resa hanya diam dan menatap Noa, dia tak mau bercanda di situasi yang tidak bagus sama sekali ini.
"Baiklah... Mari bicara di dalam mobil ku.. " Resa pun memimpin jalan menuju garasi rumah sakit dan di ikuti oleh Noa. Pandangan mata hanya tertuju pada mereka berdua, apalagi kedua orang tua Resa. Mereka tak tau bahwa Resa memiliki teman yang berprofesi sebagai seorang dokter.
Namun tidak bagi Silvia, dia tau betul bahwa Noa adalah sahabat Kaka nya. Karena tak ada satu pun laki laki yang tidak di ketahui oleh Silvia, yang notabene nya menyukai Raisa dan bersaing bersama Resa.
* * *
...[ Di dalam mobil ]...
"Berbicaralah.. Mobil ku kedap suara, tak akan ada yang mendengar percakapan kita, sehingga ide kedokteran mu tidak di ambil orang lain. " Kata Resa memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Hem.. Karena aku sudah melihat sendiri struktur sel kanker yang ada di kepala Raisa, membuat aku sedikit kesulitan saat dalam penelitian. " Jelas Noa menatap Resa.
"Lanjutkan.. "
"Sel kanker Raisa berbentuk seperti jaring laba laba. Dia sudah membungkus bagian luar otak Raisa, jika tak ada pengalaman dan langsung mengoperasi nya saja, maka nyawa Raisa taruhan nya. Dan lagi, jika kamu bersedia, Kirim Raisa ke negara Belanda. Di sana, lebih tepatnya di Rumah Sakit tempat aku bekerja, semua alat medis keluaran terbaru dan dengan lengkap ada semua. Dan lagi, aku sudah meminta bantuan pada tiga profesor untuk membantu ku, kalau kalau kamu bersedia mengirim Raisa ke sana. "
__ADS_1
"Presentase keberhasilan nya ? " Tanya Resa.
"Tak banyak, hanya 50 %. Tapi aku rasa itu sudah cukup ! "
"Apakah ada dampak lain setelah operasi ? "
"Ada ! "
"Apa itu ? "
"Bisa jadi Raisa kehilangan seluruh ingatan nya. "
"Lalu, dampak lain nya ? " Tanya Resa yang mulai takut akan di lupakan sepenuh nya oleh Raisa.
"Aku rasa tak ada ! Karena dengan Raisa yang bertahan selama tiga bulan penuh, padahal keadaan kritis selalu menghampiri nya, aku rasa Raisa juga punya semangat hidup yang tinggi.. "
"Baiklah.. Aku akan menyuruh Andro menyiapkan Jet pribadi untuk Raisa.. " Ujar Resa tanpa sedikit pun keraguan, dan langsung memegang Ponsel nya.
"Tunggu... " Nia pun menahan tangan Resa yang ingin menelepon Andro.
"Ada apa lagi ? "
"Apakah kamu tidak takut, saat Raisa sadar nanti, aku memberikan ingatan palsu dan mengatakan kalau Aku Noa adalah pacar nya, dan akan menikah satu bulan lagi ? Bagaimana kalau Raisa percaya dan menikah dengan ku ? Apa yan akan Kamu lakukan ? "
"...... " Resa diam dan menampakkan senyum simpul sempurna di wajah nya yang bersedih.
"Tak apa apa.. Aku akan merelakan dia bersama mu ! Asalkan Raisa tetap hidup.. "
"Apa kamu tidak mencintai Raisa lagi ? "
"Tidak.. Bahkan aku tak bisa di buat berpaling sedikit pun ! Tapi cinta tidak selama nya memiliki bukan ? Asalkan Raisa bahagia bersama mu, dan kamu dapat membuat dia sehat dan selalu melindungi dia, aku rasa sudah cukup ! " Jawab Resa dengan penuh keyakinan, padahal mata nya sudah memerah dan seperti nya akan berair.
"Aku akan keluar untuk menghirup udara ! Aku juga akan menghubungi Andro untuk mengurus Jet pribadi yang akan di gunakan. Kamu juga hubungi pihak rumah saki tempat kamu bekerja agar menyiapkan seluruh perlengkapan operasi. Dalam waktu dua jam, Raisa dan seluruh keluarga ku sudah tiba di Belanda. " Resa pun langsung keluar dari dalam mobil dan meninggalkan Noa sendirian.
"Dasar penipu ! Padahal dia sesayang itu sama Raisa, tapi kok bisa dia sok kuat bilang bisa melepaskan Raisa... Dasar bodoh, Aku yakin dia pasti langsung menangis saat keluar dari dalam mobil.. Haisss, benar benar yaah.. Aku kalah telak dari Mu Res... Aku janji, akan memperjuangkan mu, agar bisa bersama dengan Raisa.! " Monolog Noa di dalam mobil. Dia masih melihat punggung Resa dari kaca mobil.
__ADS_1
"Dasar... Sekarang dia gampang nangis yah ! Cengeng banget deh... " Kata Noa sambil menggelengkan kepala nya. Dia juga menyunggingkan senyum di ujung bibir, karena merasa lega menyerahkan Raisa pada orang yang tepat.