
Perkataan itu sontak membuat Silvia kaget, dan membuat Silvia memalingkan pandangan ke arah ujung lorong. Silvia kaget bukan karena shock dikejutkan, tetapi kaget karena mendengar suara yang mirip kakak nya.. Apakah karena terlalu ber halusinasi, jadi Silvia mendengar suara kakak nya?
...♡...
...♡...
...♡...
...♡...
...♡...
...♡...
__ADS_1
Dengan jarak beberapa meter dari Silvia duduk, Silvia melihat Resa dan Raisa sedang berjalan ke arah nya sambil bergandengan tangan.
Silvia langsung membelalak kan mata nya yang bulat, dan tanpa sadar Silvia langsung berlari masuk ke dalam pelukan Raisa. Raisa telah melepaskan lengan Resa yang dia gandeng tadi, lalu merentang kan kedua tangan nya. Dia tahu betul bahwa Silvia juga pasti akan langsung memeluk nya.
Silvia langsung memeluk Raisa kuat-kuat dan tanpa sadar Ia langsung menangis. Jujur saja, Silvia sangat rapuh akhir-akhir ini, drama masalah yang panjang terjadi dalam kehidupan nya, hingga Silvia berpikir apakah pantas jika anak muda seperti diri nya memiliki masalah sebanyak ini? Padahal menyelesaikan masalah itu sangat gampang, hanya pengertian dari kedua belah pihak dan inti nya ada penjelasan yang rinci, pasti semuan nya terselesaikan.
Resa dan Raisa yang tadi tersenyum kini sudah tidak lagi, mereka langsung memasang muka serius, dan dari tatapan mata ke dua nya, nampak jelas bahwa mereka sudah mengerti maksud satu sama lain.
"Apa Kamu masih ingin menangis ? Jika Kamu ji
* * *
Beberapa saat kemudian, Resa, Raisa, dan Silvia sudah berada di dalam cafe yang berada di seberang rumah sakit. Namun mereka bertiga berpindah tempat dan masuk ke dalam mobil, karena Silvia merasa diri nya akan menangis saat menceritakan semua nya, sehingga menurut Silvia akan menjadi lebih bagus jika dia bercerita di dalam mobil. Silvia akan merasa terbebani jika semua pandangan mata para pelayan tertuju pada diri nya. Karena Silvia masih belum dapat menerima jika diri nya mendapat perhatian dari orang asing.
Reaa dan Raisa memahami hal itu dan mereka menuruti nya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Resa sudah memesan tiga minuman kafein, dan tiga aqua. Resa juga ingin membeli tisu, namun tidak perlu karena Raisa sudah memiliki itu di dalam tas. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, dan tanpa basa-basi Silvia langsung angkat suara dan benar benar tak ada rasa ingin berputar putar dalam beberapa hal yang selalu Dia lakukan.
__ADS_1
"Kejadian ini bermula saat Aku berumur tujuh belas tahun, Kak Res... kak Raisa.... Apakah kalian berdua masih mengingat saat Aku berumur 17 tahun? " Tanya Silvia yang mulai dengan topik pembahasan masalah yang terjadi, dan masalah yang dia pendam selama ini.
"Iyah, kami sangat tau, karena saat itu Kita mengadakan pesta di rumah. Walaupun pesta itu hanya dihadiri oleh Aku, Raiza, Papa, Mama, Noa dan seluruh pekerja rumah, acara itu sangat meriah karena banyak sekali makan nya. Itu karena Aku mempekerjakan chef luar maupun dalam negeri. Dan bahkan chef chef yang juga bekerja di Restoran , Aku datang kan dari berbagai restoran karena Kamu mengatakan suka dengan masakan nya dan beberapa komentar lain. Itupun tidak aku beritahukan pada diri Mu, Aku takut jiwa Kamu akan merasa takut saat melihat atau mendengar akan kedatangan orang baru Sil."
Jelas Resa yang duduk di kursi depan, sedang kan Raisa dan Silvia duduk di kursi belakang. Raisa masih terus menggenggam tangan Silvia yang sedang gemetaran, karena masih takut ingin menciptakan hal ini
"Silvia.. Kalau kamu masih merasa berat. lebih baik kita pending dulu penjrlasan nya, nanti jika Kamu merasa diri sudah siap, Aku sama Resa bakal ada untuk mendengarkan Kamu. Jadi kamu jangan memaksakan diri, Aku takut nya Kamu akan pingsan sebelum mengungkapkan hal yang kamu simpan sendirian." Ucap Raisa pada Silvia, yang kini badan nya tampak sangat gemetaran.
"Enggak! Apapun yang terjadi hari ini, Aku akan menceritakan semua nya pada Kak Raisa maupun pada kak Resa. Jika Aku tahan seorang diri lagi, Aku takut jika Aku akan hancur sebelum merata siap. Lebih baik aku tersiksa seperti ini saat mencurahkan masalah tentang yang terjadi pada diri Ku."
Jawab Silvia yang seperti nya sudah merasa tenang, karena dia tahu betul bahwa apa pun cerita nya, se jorok apapun itu, dan se Vulgar apapun itu, atau pun masalah nya kelewatan dan apapun itu, kedua kakak yang ada di hadapannya ini, yang ada di dalam mobil yang sama dengan diri nya ini, tak akan naik tangan atau marah pada diri nya. Malahan mereka berdua akan selalu siap untuk memberikan pelukan, akan bersama-sama mencari jalan keluar.
"Jika kamu sudah memutuskan nya, maka Aku dan Kaka Mu Raisa yang tisak peka itu, hanya bisa mendengarkan nya, karena Kami juga ikut tersiksa jika hanya menjadi penonton saat kamu dalam masalah. Jadi sekarang tenang lah dan katakan lah apapun itu... Mari kita sama sama mencari jalan keluar nya ." Jawab Resa yang kini mulai meneguk kopi yang dia beli tadi. Resa juga sempat menyinggung bahwa Raisa yang tidak peka itu, karena masih mengingat kejadian semalam, dan merasa kesal jika di ingat ingat.
"Haaahh...." Silvia menarik nafas panjang, dan melepaskan nya dengan cara yang sama. Dan tatapan mata Silvia kian berubah, dan menampilkan Silvia yang dewasa. Bukan Silvia yang polos lagi.
__ADS_1
"Aku dari kecil memang sangat takut bergaul. Hal itu karena Papa dan Mama yang jarang di rumah, mereka berdua lebih memfokuskan diri mereka pada pekerjaan, sampai melupakan Aku dan kamu Kak Res. Aku tahu bahwa mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memberikan kasih sayang yang lengkap pada diri Ku, Mereka selalu datang setiap hari sabtu atau minggu dan menghabiskan akhir pekan bersama-sama. Tapi mental yang sudah terbentuk pada diri Ku sejak saat itu sangat dan sangat lah penakut. Aku bahkan tak berani keluar karena Aku merasa jika bukan bersama keluarga Ku atau pengasuh yang sejak awal bersama Ku, Aku seakan merasa terancam atau memiliki pikiran over thinking yang membuat Aku hanya bisa keluar juga ditemani oleh kak Resa, Papa, Mama, ataupun sama Kak Raisa. " Jelas Silvia pada penjelasan awal nya.