Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#151.


__ADS_3

Mendengar perkataan Silvia yang terdengar jelas sangat jujur dan frustasi, berhasil membuat ke dua orang tua nya terdiam seribu bahasa.


Mereka tak tau lagi harus berkata seperti apa, jika di hadapkan pada watak anak yang sebenar nya, yang berbanding terbalik dengan yang selama ini di nampakkan oleh Silvia.


"YAH! DIAM SEPERTI INI LEBIH BAIK, KARENA DENGAN BEGITU KALIAN DAPAT MENDENGAR APA YANG AKAN SILVIA SAMPAIKAN.” Ucap Silvia setelah tak mendapat respon apapun dari ke dua orang tua nya.


Kedua tangan nya di genggam dengan amat keras, agar emosi nya dapat terkontrol, walaupun hal itu percuma saja, karena saat ini Silvia sudah tak ada niatan untuk berpura pura lagi.


“APA KALIAN TAU DENGAN APA YANG TERJADI PADA KU SELAMA INI ? DARI PADA BERPIKIR DENGAN KERAS, LEBIH BAIK BIARKAN AKU MEMAPARKAN NYA DARI SUDUT PANDANG KU.”


Usai mengatakan hal itu, badan Silvia mulai bergetar secara pelan.


“SEJAK KECIL, APAKAH KALIAN PERNAH MELUANGKAN WAKTU UNTUK MENGENAL DAN MEMAHAMI ANAK KALIAN ? SEJAK AKU MEMILIKI PIKIRAN UNTUK MEMIKIRKAN SITUASI YANG TERJADI DI SEKELILING KU, KATA ORANG TUA ADALAH SESUATU YANG ASING BAGI KU. KARENA KALIAN TERLALU SIBUK DENGAN URUSAN PEKERJAAN KALIAN.”


 “MEMANG PARA PENGASUH KU MENGATAKAN BAHWA AYAH DAN IBU BEKERJA SEPERTI INI UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN KU DAN KAK RESA, TAPI KALIAN TERLALU SIBUK. PADAHAL SETIAP MALAM SAAT


KALIAN PULANG, KALIAN MASIH BISA MEMBACAKAN BUKU DOGENG UNTUK KU. ATAU SETIDAKNYA BERIKAN AKU KECUPAN SELAMAT MALAM, AGAR SETIDAK NYA AKU DAPAT BERMIMPI INDAH WALAUPUN ITU HANYA OMONG KOSONG SAJA, AGAR SETIAP ANAK MEMPERCAYAINYA. TAPI.. TAPI SILVIA JUGA MENGINGINKAN HAL ITU DULU. DULU SEKALI, SBELUM AKU MEMUTUSKAN UNTUK BERPURA PURA MENJADI ANAK YANG POLOS DI HADAPAN KALIAN.”


Air mata sudah pasti menghiasi wajah Silvia yang biasa nya penuh akan kegembiraan. Badan nya sudah terlihat jelas bahwa sedang bergetar. Selvi hanya bisa melihat Silvia, tanpa ada keinginan untuk memalingkan antensi  nya ke tempat lain.


Hal yang sama juga di lakukan oleh Risa,  karena Silvia yang saat ini ada di hadapan mereka adalah Silvia yang setiap perkataan nya terasa sangat jujur.


“SEBAB ITULAH, SEJAK KECIL PANDANGAN SILVIA DI TUTUPI OLEH DINDING RUMAH YANG MEGAH DAN LUAS NYA TAK TERBATAS. SIFAT PEMALIU YANG SEBENARNYA ALAMI, JUSTRU DI JADIKAN TOPENG OLEH KU SEIRING BERJALAN NYA WAKTU. DAN ENTAH SEJAK KAPAN, AKU MERASA BAHWA JIKA AKU BERSOSIALISASI, MAKA ITU AKAN SEMAKIN MEREPOT KAN KALIAN YANG SUDAH SIBUK, KARENA HARUS MEMBERESKAN MASALAH KU. “


“AKU LEBIH TAK MAU LAGI, SAAT AKU MENCIPTAKAN MASALAH, JUSTRU PARA PELAYAN YANG DATANG

__ADS_1


MENYELESAIKAN NYA. ATAU MALAH KAK RESA YANG SEDANG BERTEMPUR DENGAN KEADAAN UNTUK MENJADI YANG TERBAIK, AGAR DAPAT MENERUSKAN PERUSAHAN YANG DATANG. YANG ADA, AKU MALAH MEREPOTKAN ORANG LAIN YANG SEHARUSNYA SIBUK DENGAN URUSAN MEREKA MASING MASING.”


“HIKS... HAL YANG MAKIN MENJENGKELKAN ADALAH, AKU MEERASA BAHWA AKU SATU SATU NYA ORANG YANG TAK BERGUNA DI NDALAM KELUARGA, KARENA HANYA AKU YANG DI PERLAKUKAN SEPERTI PUTRI


YANG BERADA DI NOVEL NOVEL. YANG SELALU MENDAPATKAN HAL YANG TERBAIK, WALAUPUN KEKURANGAN KASIH SAYANG DAN PERHATIAN DARI KELUARGA MEREKA. TAPI WALAUPUN AKU


SAMA DENGAN MEREKA, MASIH SAJA TERASA BAHWA SAAT INI AKULAH ANAK YANG TAK DIINGINKAN, KARENA AKU SERASA DI KELUARKAN DARI ZONA KELUARGA. KEHADIRAN KU SEAKAN ADA TAPI TIDAK. “


Silvia pun berhenti sejenak. Dia memerlukan waktu untuk menarik nafas dan menenangkan tangan nya yang sedari tadi meremas kuat helai helai rambut nya. Noa sudah berusaha agar tangan Silvia tidak melukai tubuh nya, tapi tak bisa.


Karena naluri Silvia menginginkan hal ini. Sehingga hanya beberapa kali berontak saja, Noa sudah


benar benar tak bisa masuk ke dalam akal sehat Silvia, dan menyadarkan diri nya bahwa saat ini dia sedang lepas kontrol.


Di saat yang sama, saat Silvia lanjut mengatakan hal yang dia rasakan, Raisa sudah menunduk dan ikutan menangis. Karena hal yang paling Raisa hindari adalah cerita hidup Silvia, padahal Raisa sudah berencana bahwa diri nya akan menjadi tempat Silvia berkeluh kesah.


Dan Resa, Dia hanya menunduk dan hanya bisa meremas tangan nya dengan urat tangan dan lkeher yang tercetak jelas. Sedangkan rahang nya sedang di kencangkan karena menahan emosi.


Walaupun Resa dan Silvia sudah menajlin kembali hubungan yang hampir merenggang, tetapi Resa membenci diri nya yang tidak juga mengetahui perasaan adik nya hingga beberapa hari yang lalu. Hal itu benar benar membuat Resa merasa bahwa diri nya tak pantas di panggil Kakak oleh Silvia.


Perlahan Resa merasa ada sesuatu yang sedang mengelus tangan nya, dan tangan yang mengelus nya adalah Raisa.


“Tak apa, Kamu sudah memperbaiki semua nya bukan ? Kau sudah berdamai dengan kesalahan Mu, dan berpelukan dengan Silvia kan ? Tenang saja, masalah kali ini memang berada di luar dari perencanaan Kita. Tapi semua nya akan teratasi bukan ?”


Ucapan penenang yang di sampaikan dengan wajah yang sudah sembab memang terlihat tidak dapat di percaya. Tapi dengan hal ini, berhasil membuat perasaan Resa yang sedari tadi tak menentu langsung menjadi tenang dan emosi nya seakan dapat teratasi.

__ADS_1


“Terimakasih. Tapi bisakah kamu jangan tersenyum dengan wajah yang sembab itu ? Karena wajah Mu terlihat jelek.” Ucap Resa yang bisa bisa nya masih dapat bercanda di situasi saat ini.


Tentu saja perkataan jahil Resa mengundang satu bogem mentah dari tangan Raisa yang menciptakan rasa sakit, tapi hal itu seakan langsung tertelan oleh waktu, karena saat ini mereka di hadapkan pada kondisi yang masih berantakan di mana mana.


Sedangkan Noa ? Jangan di tanya. Karena Noa hanya bisa berdiri tanpa bisa berbuat apa apa, karena masalah kali ini seakan berada di luar kemampuan nya.


Masalah yang sedang di permasalahkan oleh Silvia adalah masalah keluarga nya. Dan Noa tak punya kesempatan untuk masuk ke dalam perkacakapan. Maka dari itu, Noa hanya bisa menatap sang biang kerok dengan tatapan tajam nya, dan itu membuat Lisa bergidik ngeri.


Jelas, karena tatapan Noa saat ini benar benar seperti sedang menatap musuh bebuyutan nya, dengan ekspresi yang tak terbesit aura bersahabat sedikit pun.


Lisa hanya bisa menunduk, dan menautkan jemari nya satu sama lain. Dia seakan terjebak dalam hal yang tampak akan tuntas sebentar lagi, dan hal ini terasa membahayakan posisi nya.


“Maaf kan Aku. Setelah ini, jika Kalian ingin membenci Ku, maka bencilah. Karena...” Batin Lisa terhenti, karena saat ini otak nya seakan kembali meyakinkan diri nya bahwa perbuatan nya kali ini tidak salah. Yah, ini adalah keputusan yang tepat, karena ini adalah sesuatu yang sudah di putuskan oleh Lisa setelah bergelud dengan otak nya sepanjang malam.


***


Suasana hening pun tercipta di ruangan yang sedari tadi penuh akan teriakan, tangisan, ucapan yang tak di saring, dan sebagai nya.


Silvia yang seakan sudah mengeluarkan semua hal yang seakan menjadi kerikil kecil yang menjanggal nya selama ini, terdiam dengan nafas yang ngos ngosan. Dan saat inilah Noa pun masuk dan menyadarkan Silvia bahwa saat ini Dia tidak sendirian, dengan tangan yang sudah merangkul punggung Silvia yang tampak kecil di hadapan Noa.


“Cukup sampai di sini. Silvia butuh waktu untuk istirahat, maka Resa dan yang lain pamit undur diri.” Kata Resa kala sama sama memiliki pikiran yang sama, saat kedua iris mata Noa memberikan kode untuk Nya.


Raisa dan Resa berjalan duluan, dan di belakang mereka menyusulah Noa dan Silvia. Saat tengah berjalan, langkah kaki Silvia yang serasa lemah, terhenti untuk sesaat. Kemudian dengan mata yang sudah redup, Silvia menatap Ayah dan Ibu nya satu persatu dan berkata...


“Cuma mau mengingatkan, bahwa yang berada di dalam foto itu bukan lah diri Ku. Terserah mau percaya atau tidak, Silvia tak peduli sama sekali.” Usai mengatakan hal itu pada ke dua orang tua  nya, Silvia pun menatap Netra milik Noa.

__ADS_1


“Bisakah Kamu menggendong Ku ? Aku sudah tak punya kekuatan untuk berjalan lagi. “ Pinta Silvia dengan ekspresi kecapean, dan tampak sedikit pucat.


Tanpa jawaban dan aba aba, Noa langsung menggendong tubuh Silvia yang seberat kapas itu. Dengan langkah kaki yang pasti, Noa dan yang lain  nya meninggalkan kediaman milik Risa Aditya. Dengan Silvia yang langsung memejamkan mata nya, dan terjun ke dunia mimpi. Benar benar bersyukur jika mendapatkan mimpi indah, bukan reka adegan kejadian yang baru saja terjadi.


__ADS_2