Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 113.


__ADS_3

"Yaah.. Aku... A.. Aku juga tak tau alasan jelas nya. Tapi sejak Brayen lahir dia tidak mendapat ASI. Seperti nya ada yang bermasalah pada Lusi sehingga dia tak bisa memberikan ASI nya. " Jelas Silvia sebisa mungkin, karena Noa sedang melihat sangat tajam ke arah Silvia. Dan Noa pun mulai merasa ada yang aneh di sini.


...❀...


...❀...


...❀...



...❀...


...❀...


...❀...


"Lanjut kan penjelasan nya ! " Ujar Noa karena Silvia yang sedari tadi menatap nya, sedang menghindari mata Noa saat membicarakan tentang ASI.


"Lalu saat Aku mengganti popok nya, ada bercak darah pada pup nya. Lalu Brayen sering menggeliat seperti merasa tak nyaman pada tubuh nya sendiri. Lalu Dia sering demam di malam hari, lalu di siang hari dia dapat beristirahat dengan baik karena suhu tubuh nya kembali normal. Lalu pada malam hari, Brayen akan kembali rewel lagi. Aku, Lusi, maupun Nando berusaha menggendongnya dengan posisi ternyaman nya, namun tetap saja tak berhasil. " Jelas Silvia yang kembali memasang wajah sedih dan khawatir.


"Apakah pada siang hari tubuh Brayen kecil selalu tampak normal ? " Tanya Noa.

__ADS_1


"Tidak.. Kondisinya sungguh tak menentu, kadang panas, kadang dingin, kadang dia rewel, dan berbagai reaksi ini dapat terjadi bersamaan dengan mimisan. Oh God, perkembangan Anak ini sungguh membuat jantung Ku tak kuat. "


"Lalu apakah ada gejala lain ? "


"Aku rasa tak ada. Lalu setelah pemeriksaan yang sangat hati hari itu, setelah tiga hari Brayen di nyatakan mengidap Leukimia. Aku tak tau apa jenis leukimia nya, karena Aku sudah terlanjut shock dan pingsan duluan. Astaga, dari semua penyakit kenapa harus leukimia yang di derita Brayen ? Ini kanker darah loh.. Dia masih terlalu kecil untuk menanggung penyakit ini seorang diri ! " Kata Silvia dengan mata yang memerah, jika Silvia menjelaskan tetang Brayen sedikit lagi, sudah pasti Silvia akan menangis. Menangis terisak malah !


Noa ingin pergi dan memeluk Silvia, tapi dia takut jika reaksi Silvia langsung berubah secepat membalikkan telapak tangan.


"Haaah... Perkataan Ku Ini memang gila, tapi apakah Kamu adalah Ibu dari Brayen ? Kenapa diri Mu tampak lebih khawatir dari pada Lusi dan Nando ? Apakah ada yang Kamu sembunyikan dari Ku dan dari keluarga Mu ? " Tanya Noa yang saat ini hanya menatap Silvia dengan tatapan tajam dan curiga.


"K.. Kau gila ? Apakah kepala Mu terbentur akan sesuatu hah ? " Tanya Silvia dengan sangat gugup. Bahkan tanpa sadar Silvia mundur satu langkah ke belakang, karena merasa kurang yakin dengan kepekaan Noa yang tiba tiba sangat tajam ini. Tunggu apakah kepekaan Noa tiba tiba sangat tajam ? Atau memang kepekaan nya sudah sangat tajam sejak dulu, hanya Silvia saja yang tak sadar.


"SILVIA... BRAYEN SEDANG SEKARAT DI DALAM ! " Kata Noa tanpa berkedip sedikit pun.


Silvia langsung masuk dan mendekat ke arah ranjang Brayen. Tangan nya dengan sangat lembut memegang kening Brayen, dan wajah nya tampak sangat berkerut karena tubuh Brayen lebih panas dari suhu tubuh nya selama ini.


Silvia langsung menggendong Brayen, di dekap nya Brayen dalam pelukan nya. Brayen menangis dengan cukup besar karena merasa tidak nyaman dengan tubuh nya, sedangkan Silvia menangis karena tak tahan melihat Brayen seperti ini, dan juga tangis Silvia semakin menjadi karena kata *sekarat* yang di ujar kan oleh Noa tadi.


"Silvia.. Ini memang tak lucu.. Tapi maaf, perkataan Ku tadi tidak serius, Aku sedang berusaha meyakinkan diri ku bahwa kemungkinan yang Aku pikir kan adalah benar. Jadi kamu -"


...*PLLAAAKKKKK* Silvia yang sudah menaruh Brayen kembali ke ranjang, sudah melangkah dengan sangat cepat sehingga Noa tak tau bahwa Silvia sudah ada di hadapan nya, lewat tamparan yang dia dapat kan. ...

__ADS_1


"KAU TAU? DARI SEMU LELUCON YANG KAMU KATAKAN, AKU HARAP KAMU DAPAT MENJAGA PERKATAAN MU ITU ! KAMU KIRA HANYA BERKATA BEGITU SAJA AKAN BERLALU SEPERTI TAK PERNAH TERJADI ? INGAT NOA.. SETIAP PERKATAAN ADALAH DOA, APAKAH KAU SEDANG MENGUTUK ANAK KECIL YANG HANYA BISA MENANGIS SEBAGAI INFORMASI PADA KITA ORAG DEWASA, BAHWA TUBUH NYA SEKARANG SANGAT MEMBUAT NYA MENDERITA ??? " Teriak Silvia sambil memegang kerah baju Noa dengan sangat keras.


Silvia yang saat ini sedang berbicara adalah Silvia yang sedang tenggelam dalam emosi. Terlalu serius untuk di katakan sedang menguji Silvia.. Dari semua diagnosis, tolong jangan katakan *Tak ada harapan* Kami sudah melakukan yang terbaik* Atau bayi Brayen sudah tak bisa tertolong * Maupun Brayen sudah sekarat* ! Perkataan perkataan itu membuat Silvia merasa ngeri dan tak mau membayangkan apa yang akan tejadi setelah mendengar salah satu dari perkataan mengerikan di atas.


"Silvia.. Aku hanya -"


"KAU HANYA APA HAH ? " Sambung Silvia yang langsung menyela perkataan Noa. "APAKAH KAMU PERNAH BERADA DI DALAM SITUASI, DI MANA KAMU TIDAK TAU APAPUN DAN HANYA BISA MENDENGAR HASIL DIAGNOSIS DARI SESEORANG YANG SANGAT AHLI DI BIDANG ITU ? ATAU, APAKAH KAMU PERNAH SAAT SEDANG FRUSTASI DENGAN SITUASI MU SENDIRI, DAN HARUS MENDENGAR BAHWA AYAH DAN IBU MU, ATAU SAUDARA KENALAN MU MENINGGAL ? HAH ? JAWAB BRENGS*K ! !!! " Lanjut Silvia yang wajah nya sudah tampak sangat jelas bahwa Dia sedang marah, dan tanpa sadar wajah Silvia sudah di penuhi dengan air mata.


"MAKA NYA BERI AKU WAKTU UNTUK BERBICARA ! BAGAIMANA AKU BISA BERBICARA JIKA KAMU TIDAK MEMBERI AKU KESEMPATAN, DAN TERUS MENYELA PERKATAAN KU HAH ? " Bentak Noa sambil memegang ke dua tangan Silvia.


Badan Silvia yang tidak terlatih sebelum nya, membuat Noa sangat gampang menghentikan semua pergerakan Silvia, sekalipun sudah Dia coba untuk memberontak.


...*Klek* Pintu yang terbuka. ...


Tampak Nando dan seorang suster yang membawa nampan yang terdapat beberapa jarum dan satu infus baru.


"Apa yang Kamu lakukan pada Silvia Noa ? " Tanya Nando dengan suara yang di atur sedemikian rupa agar tidak berteriak. Dia tak mau suara teriakan nya membuat Brayen kaget dan semakin menangis.


"Ah.. Aku hanya sedang berbincang dengan nya. " Jawab Noa yang baru sadar bahwa dia sedang berteriak di dalam ruang pasien yang membutuhkan ketenangan.


Dan Noa pun seakan baru sadar bahwa ada Silvia yang sedang menangis dan menahan rasa sakit di pergelangan tangan, karena Noa meremas nya terlalu kuat.

__ADS_1


"Ah... Maaf kan Aku.. " Ujar Noa yang seakan baru saja sadar, dan melepaskan cengkraman tangan nya dari tangan Silvia.


"TAK AKAN.. SAMPAI KAPAN PUN.. AKU TAK AKAN MEMAAFKAN MU ! ENTAH ITU DENGAN KESALAHAN MU DI MASA LALU ATAU PUN SAAT INI. AKU BENAR BENAR TAK AKAN MEMAAFKAN MU BAJ*NGAN !! " Jawab Silvia dan langsung berlari keluar dari ruang rawat itu.


__ADS_2