Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#Part 167.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Fatia sudah sampai di tempat yang dapat di sebut Rumah sakit.


Namun Rumah sakit ini sangat berbeda, karena pemilik nya adalah Fatia sendiri. Alat alat canggih sudah berada di rumah sakit ini, sengaja di pesan langsung oleh Fatia untuk berjaga jaga, siapa tau ada yang terjadi pada Orang tua nya maupun orang orang terdekat nya.


Hanya ada beberapa pasien di rumah sakit itu. Mereka mendapatkan perawatan tanpa perlu membayar, asalkan orang itu benar benar kenalan yang sudah mendapat ijin dari Fatia.


Sebenarnya Fatia itu baik, bagian mines nya hanya terlalu menginginkan kasih sayang orang tua. Terlalu tidak mementingkan diri nya sendiri, sehingga apapun yang Dia lakukan sering berada di luar nalar.


“Aku saja tidak mengasihani diri Ku. Lantas, kenapa Aku harus mengasihani orang lain ?” Begitulah pikir nya. Yang entah sampai kapan baru berubah.


***


“Kau sudah sampai ? Kenapa cepat sekali ? Padahal tadi... Ya Tuhan ?! Ada apa dengan tangan Mu ? Apakah Kamu melakukan atraksi meremas pisau ?”


Belum sempat Dia memberikan sabutan nya kepada Fatia, kedua iris mata pria itu sudah tertuju pada tangan  Fatia yang masih memakai perban yang berwarna merah darah.


Sudah begitu, warna merah darah nya bukan warna segar, melainkan warna darah yang sudah hampir kering.


Pria yang mengenakan Jas putih itu tampak seperti dokter pada umum nya, dengan Name Tag yang tertulis kan nama nya. Nicole Zuri.


“Liat nya biasa saja dong. Ini bukan kali pertama Aku melukai diri sendiri kan ?”  Acuh tak acuh, Fatia berjalan melewati sahabat nya itu dengan tujuan ingin langsung menemui Fitri.


“Apa nya yang biasa saja ? Sekarang, Kamu ikut Aku.”


Tanpa menunggu jawaban dari Fatia, Nicole sudah menarik satu tangan Fatia yang tidak terluka, menuju ke ruang kerja nya.


***


Saat sudah tiba di ruang kerja nya, Nicole langsung mengambil P3K yang di siapkan khusus untuk Fatia.


Dengan gunting, Dia membuka perban Fatia dengan sangat pelan dan hati hati. Membersihkan darah yang kering dengan alkohol, dan mengambil obat merah beserta kapas.

__ADS_1


Selebihnya Nicole lakukan seperti biasa nya. Dan Fatia seperti menikmati hal itu.


Ditengah pengobatan, Nocole membuka percakapan.


“Sampai kapan Kamu ingin seperti ini ?”


“Sampai Aku mendapatkan Noa, yang bisa mencintai Aku lebih dan lebih dari orang tua Ku.”


“Come on Fatia.. Apakah Kamu yakin bahwa Noa adalah orang yang tepat untuk membuat Mu bahagia ?” Dengan guratan sedih yang di buat sebaik mungkin untuk menghilang, Nicole mempertanyakan hal yang Dia sendiri sudah tau jawaban nya.


“Memang nya selain Dia ada orang lain ?"


"....." Nicole memilih untuk diam. Dan hal itu membuat Fatia emosi.


"Jawab Aku Nic !”


“Ada ! Kamu gak sadar akan keberadaan nya selama ini Fat. Kamu... benar benar gak sadar akan keberadaan nya.” Dengan nada kekecewaan, Nicole langsung mengikat perban yang baru itu pada luka Fatia, membereskan P3K nya, lalu menuju ke pintu keluar.


“Jika Aku tidak menyadari keberadaan nya, maka sadar kan Aku Nic... Aku Cuma butuh di sadar kan..” Pinta Fatia yang ingin tau siapa orang yang di maksud Nicole.


Taak.


Usai berkata demikian, Nicole meninggalkan tempat nyang masih di gunakan oleh Fatia.


“Ugghh.. Sudah cukup.. Kenapa kamu menyamakan Aku dengan mereka ? Hikss...” Isak Fatia yang merasa kan sesuatu yang lain pada diri nya.


Entah itu rasa bersalah pada seseorang atau apa, tetapi Fatia sadar betul bahwa Dia sudah melakukan kesalahan.


.......


.......


.......

__ADS_1


Semua nya sudah di tetapkan sejak awal.


Bulan dan matahari, Langit dan daratan, Air dan Api, dan segala nya sudah menjadi hukum multak sejak awal.


Alam saja di tentukan oleh takdir, apalagi manusia yang hidup di dalam nya kan ? Seakan sudah harus demikian, mereka menjalan kan skenario hidup yang berlika liku.


Salah satu nya Silvia, Noa, Raisa, Resa, Fitri, Andre, Fatia, Nicole, dan juga yang lain nya.


Dan tentang Fatia ? Semua itu berawal saat Dia membentangkan karir di tanah asing bertahun tahun yang lalu. Negara yang baru pertama kali Dia pijaki, setelah mengumpulkan uang dan usaha untuk Negara Belanda.


Memulai karir di negara orang tidak lah gampang. Mempelajari semua hal yang baru, dan bertahan di tengah orang orang berbakat dan licik. Jika kalah mental, selamat tinggal dan gulung lah tikar.


Itulah yang di rasakan oleh Fatia. Persaingan kerja  membuat nya Frustasi berat. Di tambah dengan rasa frustasi yang selama ini selalu di tahan nya seorang diri, membuat Fatia merasakan bahwa otak nya akan meledak jika begini terus.


Dan untuk meredakan rasa frustasi nya, Fatia memilih untuk menggambar hingga menghasilkan tintah merah.


Kanvas adalah tubuh nya sendiri, dalam hal ini adalah tangan. Pisau atau belati menjadi kuas yang sangat cocok untuk Fatia gunakan.


Satu sayatan ? Terlalu sedikit. Lebih banyak, garis nya tidak beraturan. Saling membentuk sebuah coretan yang benar benar berantakan, dan di hadiahi oleh lautan tinta merah yang amat segar.


Melihat warna itu, membuat Fatia merasakan ketenangan, dan alhasil, kecerobohan nya itu membuat nya di larikan ke rumah sakit.


Orang yang membawa nya ke rumah sakit adalah tetangga yang tinggal di sebelah apartemen nya. Karena saat Dia ingin meminjam tangga, pintu apartemen Fatia tidak di kunci. Dan saat Dia masuk, yang di lihat nya adalah Fatia yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang hampir kering.


Alhasil, saat membuka mata, Fatia sudah berada di rumah sakit dengan Dokter tampan yang sedang mengatur ukuran cairan infus yang masuk ke tubuh nya.


“Kau sudah sadar ? Kamu tidak akan baikan dalam satu hari saja. Maka dari itu tidurlah lagi. Kamu orang indonesia kan ? Aku membaca nya saat melihat identitas dari dompet Mu.”


Dokter itu seperti nya baru memulai karir. Walaupun Genius di bidang kedokteran, Dokter pembimbing nya meletakkan  diri nya di posisi yang paling rendah di rumah sakit. Entah apa alasan nya, si Dokter yang genius itu menjalani nya tanpa protes dan menikmati setiap proses.


Ya, Dokter itu tak lain dan tak bukan adalah Noa Gazoya.


“Aku baik baik saja. Tidak usah rawat nginap lagi. Membayar biaya nya tak akan membuat Ku merasa lebih baik.” Kata Fatia yang mencoba bangun walaupun kepala nya sangat pusing.

__ADS_1


“Aku sudah membayar semua nya. Jadi, jika ingin berterimakasih, maka jangan melawan dan istirahat lah. Menjadi sehat adalah suatu imbalan yang Aku nantikan.”


Perkataan Noa yang terbilang lembut itu, berhasil meluluhkan sesuatu. Yah, sangat sangat berhasil meluluhkan sesuatu.


__ADS_2