
Resa, Raisa, Noa dan Silvia menuju ke rumah orang tua mereka menggunakan satu mobil yang sama. Karena itu memang lebih simple dan lebih cepat untuk saat ini, agar mereka terus bersama sama.
Di perjalanan...
Sayang nya, perjalanan yang seharus nya berjalan dengan lancar, tersendat karena ban mobil yang tiba-tiba kempes. Entah melindes paku secara tidak sengaja tadi atau beling, inti nya saat ini mobil milik Resa tengah berada di sebuah bengkel.
"Butuh berapa lama lagi Bang ?" Tanya Resa yang seakan tak sabaran.
"20 menit lagi dek. Sabaran dikit nape.." Jawab Kang tambal ban dengan nada yang kurang bersahabat.
"Lagi PMS kali ya ?" Celetuk Resa saat menghampiri Raisa dan yang lain, yang kini tengah duduk di bangku yang terbuat dari kayu.
Saat Resa dan yang lain nya tengah menunggu dengan perasaan tak sabaran, di sisi lain, dan lebih tepat nya di rumah Risa (Papa Resa dan Silvia), sedang menerima tamu yang tak biasa. Tamu yang tak pernah terbayangkan akan mampir ke Rumah mereka, dan tamu yang seakan membawakan mala petaka untuk hari ini.
"Res.. Aku kok gelisa yah ?" Ujar Raisa di tengah keheningan.
"Gelisa ?" Tanya balik Resa yang tengah duduk di sebelah kanan Raisa.
"Kaya.. Bakal ada bencana gitu Res.. Em, gimana kalau kita berangkat pake taxi aja ? Mobil kamu tinggal suru asisten atau anak buah Kamu. Gimana ?" Ujar Raisa memberikan masukan yang setidak nya patut untuk di pertimbangkan.
"Gak papa Sa. Dikit lagi udah jadi kok ban mobil nya. Lagian tadi juga Aku udah kontak Papa sama Mama, dan mereka gak ngapa ngapain hari ini. Jadi, tenang yaah."
Bukan nya mempertibangkan, Resa langsung berpikir jangan terlalu gegabah. Karena, walaupun mereka ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, mereka tetap harus mendahulukan logika.
"Res.. Gimana kalau kita terlambat lagi ? Kaya, kita itu ketinggalan Timing yang tepat ?"
__ADS_1
"Tenang aja Sa. Kan ada Aku, ada Kamu, dan ada Noa juga. Saat ini, banyak yang melindungi Silvia. Jadi, tenang yaah."
Alhasil, Raisa di tenangkan oleh Resa. Selang 20 menit kemudian, ban mobil nya sudah di tambal. Dan benar saja, ada beberapa paku yang terrancap di sana. Setelay membayar, Resa langsung melajukan mobil nya. Berhubung cukup jauh, mereka memerlukan waktu 20 menit. Jadi jika di hitung, mereka menghabiskan waktu sebanyak 40 menit sebelum tiba di rumah Risa Dan Selvi. Benar benar sebanyak 40 menit.
***
Resa dan tiga orang lain nya sudah tiba di kediaman Aditya. Mereka berempat langsung masuk, dan mendapatkan sambutan yanguar biasa di luar nalar. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelum nya.
"Papa.. Mama.. Eh ? Ada Lisa juga ?" Ujar Resa yang melihat Papa Mama nya sedang duduk di sofa ruang tamu, dengan Lisa sebagai tamu nya.
Resa, Raisa, Noa dan Silvia awal nya masih nampak biasa biasa saja. Mereka tidak berpikir terlalu negatif pada Lisa, karena mungkin saja Risa dan Selvi ada urusan tersendiri dengan Lisa, sampai...
"BERANI BERANI NYA KAU MASUK KE RUMAH INI, SETELAH MELAKUKAN HAL YANG TIDAK PANTAS ? KENAPA KAMU MELAKUKAN ITU, SILVIA ? KENAPA KAMU SEMURAH ITU ? APAKAH UANG YANG DI BERIKAN OLEH PAPA, MAMA, DAN KAKAK MU TIDAK CUKUP, SEHINGGA KAMU HARUS JUAL DIRI ?"
Perkataan Risa terlalu tidak masuk akal. Apa penyebab nya, sehingga Dia berkata seperti itu ? Silvia jual diri ? Mana mungkin ? Atas dasar apa, Risa mengatakan hal yang tidak rasional seperti itu, dengan wajah yang tidak bersahabat sama sekali ?
"Papa ? Apa yang Papa katakan ? Kenapa tidak masuk akal sama sekali ? Baru kali ini Papa berbicara dengan nada yang memecahkan gendang telinga." Kata Resa yang sudah mulai mengeritkan kening nya.
Raisa, Noa bersama Silvia juga nampak kebingungan. Apa yang membuat Risa berkata seperti itu ? Noa dan Raisa tampak bingung, dan mental Silvia seakan mulai tak seirama lagi. Kondisi nya seakan mulai nampak tak baik. Silvia mencoba menatap sang Mama, namun sayang nya, Selvi menatap Silvia dengan tatapan benci.
"Eh ? Apa yang Aku lakukan ? Kenapa secara tiba tiba, ada konteks yang mengatakan jika Aku jual diri ? Tidak.. Tunggu.. Apakah Papa dan Mama sudah mengetahui hal yang Aku sembunyikan ? Apakah masalah yang akan Aku katakan dengan mulut Ku sendiri, sudah di sampaikan oleh orang lain? Tapi.. Siapa ?"
Batin Silvia sambil menatap Lisa yang tengah duduk dengan manis di atas sofa. Saat tatapan mereka bertemu, Lisa menunjukkan smikr di wajah nya.
Bukan nya ingin berprasangka buruk pada Lisa , tapi saat ini yang paling mencurigakan adalah Dia. Pertama, Lisa yang duduk di sofa ruang tamu. Ke dua, Lisa yang memberikan senyuman yang tak dapat di jelaskan dengan logika.
__ADS_1
"Apakah sungguh Kak Lisa yang melakukan ini ? Tapi kenapa ?" Batin Silvia yang bertanya tanya dengan 1000 kemungkinan jawaban yang muncul.
"UNTUK APA KAMU MEMBELA NYA RES ? TAK USAH ! DIA BUKAN ADIK KAMU LAGI. DALAM SEJARAH KELUARGA ADITYA, TAK ADA YANG MENJUAL DIRI SEPERTI DIRI NYA." Cetus Risa, yang seakan enggan jika Resa yang speak up saat.
"Em.. Pa.. Papa.. Silvia-"
"JANGAN PANGGIL AKU PAPA. AKU TAK SUDIH MENJADI PAPA MU SAAT INI. KAMU SUNGGUH BAGAIKAN AIB YANG TAK AKAN MUNGKIN MENDAPAT MAAF DARI KU."
Risa pun langsung menyela perkataan Silvia. Silvia yang dalam memanggil Papanya saja gemetaran, langsung terdiam. dia mematung dengan segala rasa takut yang menyerang mental nya.
"Ma.. Maaf.. Tapi Silvia-"
"kamu kenapa ? Hah ? " Lagi, Risa menyela perkataan Silvia. Silvia langsung tertegun, dia menggigit bibir bawah nya. Ada rasa sesak di dada nya, saat Papa nya memperlakukan nya seperti ini.
"PAPA !"
Alhasil, Resa pun meneriaki Papa nya untuk pertama kali. Resa kesal. Jika Papa nya bertanya, setidak nya berikan waktu untul Silvia menjawab. Jangan memonopoli nya sendiri, karena Resa tau mental Silvia tidak sekuat diri nya.
Risa merasa semakin naik pitam saat Resa meneriaki nya dengan nada tinggi, dan alhasil Dia pun mengambil Vas bunga mini yang berada di atas meja, dan melempar nya ke arah Silvia.
Noa pun refleks memeluk Silvia, namun Raisa juga sudah berdiri di depan Noa, guna melindungi Silvia. Resa juga langsung berdiri di depan Raisa, untuk melindungi Raisa bersama Noa dan Silvia yang ada di belakang.
*PRAANGGG!!!*
Vas kaca itu pecah saat bertubrukan dengan dahi Resa, dan menciptakan darah yang mengalir deras bak air terjun.
__ADS_1
"Resa Tak tahu Papa kenapa, tetapi Resa akan selalu melindungi Silvia. Sudah cukup satu kali, Aku hanya menjadi pendengar saat masalah nya sudah terselesaikan. Kali ini, hal itu tak akan terulang lagi." Cetus Resa dengan tatapan serius nya, yang tidak mempedulikan cairan merah yang tengah mengalir saat ini.