Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#Part 158.


__ADS_3

Semua mata masih tertuju pada Silvia, namun hal itu tidak menjadi satu acuan untuk Silvia merasa kurang enak hati dan menghentikan pergerakan tangan nya, yang terus memasukan nasi yang sudah di campur dengan lauk pauk yang ada.


Karena Silvia duduk di samping Resa, membuat Silvia mengalihkan pandangan nya dari makanan ke arah mata Resa.


“Apa yang Kakak tunggu ? Apakah Kakak sedang diet ? Tapi jika Kakak tidak makan, tak akan jadi masalah sih. Soalnya bisa Silvia abisin seorang diri.”


“....” Resa terdiam.


Bukan karena apa apa, tetapi Dia hanya merasa syok pada Adik yang ingin Dia lindungi. Adik yang membuat Diri nya memikirkan segala cara ynag instan, yang membuat Adik nya mendapatkan kehidupan yang bahagia selama nya.


“Yah, sang pengcair suasana sudah datang. Jadi apa lagi yang Kita tunnggu ? Bukan kah sudah waktu nya untuk sarapan ?” Ucap Resa yang baru bisa memulai percakapan, setelah mendapatkan variabel pendukung dari


Adik nya.


Selvi yang tak mau melewatkan kesempatan ini pun, mulai menyendok nasi ke piring Suami dan diri nya, setelah itu di ikuti oleh Raisa yang menyendokkan nasi untuk Ayah nya dan juga Resa. Kalau Noa ? Tentu saja Dia menyendok nasi seorang Diri.


Memang Dia sempat memberikan kode pada Raisa untuk memberikan bagian nya juga, tetapi malah di jawab oleh Raisa Sekali kali mandirilah. Karena Kamu bukan Anak kecil lagi.


Tentu saja saat mendapat jawaban seperti itu membuat Noa tertohok dan rasa nya ingin sekali untuk protes, karena Raisa tidak mengatakan hal yang sama kepada Ayah dan juga calon suami nya itu.


Saat semua nya tengah di sibukkan dengan kewajiban mereka untuk menghabiskan makanan di piring masing masing, Risa selaku Ayah dan juga pemilik daroi Kediaman Aditya ini masih saja diam.


Dia belum memakan sesendok pun yang sudah di sendokkan Selvi untuk Diri nya. Sejak kedatangan Silvia, mulut nya terus terbuka dan tertutup.


Memang tak ada yang tau karena tak ada yang memperhatikan Risa semenjak kedatangan Silvia, tetapi Risa seolah sedang berusaha untuk mengeluarkan beberapa kata.


Misalnya kata *Maaf* mungkin ? Tetapi entah karena apa, Risa belum juga mengeluarkan senbuah kata yang terus saja berputar di dalam benak nya.


“Makan perkedel punya Kakak yah Sil. “ Ucap Raisa sambil meletakkan perkedelnya di atas piring Silvia.


“Loh ? Sejak kapan Kak Raisa gak doyan perkedel ? Apalagi perkedel buatan chef di rumah ini.” Jawab Silvia yang fokus menelan tumpukan nasi di mulut nya.


“Sejak tadi. Ini rahasia Kita yah, kalau Aku lagi diet untuk sesuatu yang semoga saja nantiterlaksanakan.” Jelas Raisa sambil


cengengesan.


“Oh, oke sip. “ Setelah menjawab pun, Silvia kembali fokus pada makanan nya.


“Kalau mau main rahasia rahasiaan, duduk nya berdekatan sama Silvia dong Sa. Masa iya Kamu bilng rahasia kalian berdua, padahal Aku ada di antara Kalian sih.”

__ADS_1


Tak terima, Resa pun memberikan protes kepada Raisa. Karena entah kenapa, Resa merasa bahwa Raisa sedang mengabaikan kehadiran diri nya saat memberikan perkedel pada Silvia tadi.


“Aku bukan nya mengabaikan Kamu loh Res. Kamu juga tau akan fakta ini ksn ? Kalau Aku sedang membuat tubuh Ku berbentuk sempurna, saat menggelar hal yang paling Aku nantikan seumur hidup Ku.” Bisik Raisa pad Resa, dan hal itu berhasil membuat Resa tersedak berkali kali.


Raisa yang selalu siap sedia langsung memberikan air minum kepada Suami masa depan nya itu, dan menyaksikan pemandangan langkah di situasi yang tidak tepat saat ini.


Pengalaman itui tak lain dan tak bukan adalah wajah Resa yang memerah. Saking merah nya, Noa yang duduk bersebelahan dengan Surya saja merasa terganggu, bahkan Noa secara spontan langsung memberikan umpatan umpatan indah untuk Resa.


Sungguh suasana makan ynag sangat unik bukan ? Di saat yang lain tengfah kesulitan berbicara, mengunyah, dan bahkan melakukan contact eye, Resa dan Raisa justru malah menunjukkan kebucinann mereka.


Memang tak maslah sih dengan kondisi bucin mereka yang sudah masuk tahap kronis, tetapi setidak nya di kondisikan agar situasi terlihat tegang sepenuh nya.


“...Sil.. Silvia... “


Akhir nya, setelah mangap mangap mulut yang entah ke berapa kali, Risa pun dapat memanggil nama Putri semata wayang nya itu.


Putri yang kemarini sudah Dia cap bukan lagi Putri nya, dan juga Putri ynag kemarin Dia  berikan umpatan umpatan pedas dan bahasa ynag sukses 100% menghancurkan pertahanan Silvia, sehingga Silvia pun dapat bersuara dan mengeluarkan setidak nya 50% rasa kesal yang Dia rasakan selama ini.


Mendengar Risa memanggil Silvia, membuat orang orang yang bukan bernama Silvia, merasa terpanggil, dan memusatkan netra mereka pada


Risa.


Sang empu nya nama malah tidak mengankat wajah nya sedikit pun. Tangan nya yang memegang sumpit justru di sibukkan dengan memisahkan biji lombok. Hal yang baru pertama kali di lakukan oleh Silvia.


“Mari Kita tuntaskan sarapan Kita terlebih dahulu. Karena jika suasana nya kembali canggung seperti beberapa saat yang lalu, Aku tak bisa jamin bisa mencairkan suasana lagi. Aku juga memilik keterbatasan, sehingga tidak selama nya dapat menetralkan segala situasi. Karena terkadang, bisa jadi Aku yang hilang kendali...”


Silvia menghentikan perkataan nya, Mata nya masih belum melakukan contact eye dengan Papa nya.


“... Maka dari itu, menyelesaikan sarapan terlebih dahulu adalah pilihan yang terbaik saat ini.”


Usai menuntaskan kalimat nya, Silvia kembali memasukkan makanan ke dalam mulut nya. Dan hal yang sama juga di lakukan oleh semua nya, kecuali Risa.


Selvi yang melihat Suami nya tak kunjung makan tentu merasa cemas. Dan akhir nya, Selvi pun berbisik....


“Makanlah sedikit saja Sayang... Kamu belum juga makan dari kemarin. Hal itu dapat membahayakan kesehatan Kamu.”


Mendengar istri nya ynag khawatir, membusat Risa menghargai kekhawatiran istri nya, dan mulai menyendokkan nasi ke dalam mulut nya.


Selvi yang melihat Risa makan pun langsung menyunggingkan senyum tipis di wajah nya. Setidak nya, Suami nya yang Tsundere itu makan juga. Walaupun setelah ini akan ada pembicaraan ynag cukup berat.

__ADS_1


Selvi tau betul akan hal ini. Karena mereka tak tau apapun tentang Silvia. Yang mereka tau, Silvia adalah anak mereka yang selalu polos.


Namun pada kenyataan nya, sisi yang selama ini di tunjukkan oleh Silvia adalah palsu. Semua nya hanya topeng semata.


Bahasa kasar nya, Silvia hanya melakukan sesuatu yang dapat membuat Papa dan Mama nya senang. Tak jauh berbeda dari peran badut yang harus tampil konyol, agar dapat memberikan hiburan bagi anak anak bukan ?


Usai membujuk Risa, sekarang malah Selvi yang tak bisa melanjutkan sarapan. Rasa nya, ingin sekali Dia menangis saat ini, karena diri nya sudah gagal dalam menjadi orang tau.


Apalagi di posisi Selvi saat ini yang adalah seorang Ibu. Yang seharusnya paling peka pada kondisi mental dan fisik sang anak.


Kondisi saat ini membuat Selvi teringat akan perkataan Nenek nya saat Dia masih kecil waktu itu. Bahwa Kamu memang dapat mengejar dan mempelajari banyak ilmu sampai di tahap S1, S2, S3 dan atau


mungkin pada posisi yang lebih tinggi.


Namun gelar gelar itu tak akan menjamin, bahwa Kamu akan menjadi Ibu yang berhasil. Semua wanita dapat menjadi seorang Ibu, tetapi tidak semua wanita dapat sukses menyandang nama Ibu.


*IBU*, kata yang sangat lumrah di mana saja, namun kata yang memiliki banyak sekali arti yang bermakna.


Maka untuk itulah, Selvi merasa masalah kali ini pasti dapat terselesaikan, jika saja Nenek nya masih hidup hingga saat ini.


Namun kembali lagi, dari semua kehilangan yang berkemungkinan untuk kembali, kematian adalah kehilangan yang memberikan satu kepastian mutlak. Bahwa apapun yang di lakukan, tak akan bisa membangunkan jenasah yang sudah tak bertuan (Berjiwa) lagi.


 ***


Setelah selesai sarapan...


“Jadi, Kita akan membahasnya di ruangan yang mana ? Ruangan yang tertutup ? Ruangan yang kedap suara ? Atau ruangan yang terdapat banyak hiasan, sehingga dapat di jadikan sebagai sebuah senjata.”


Setelah selesai makan, orang yang membuka percakapan terlebih dahulu adalah Silvia.


Perkataan nya barusan hanya masukkan dan pertanyaan biasa saja, yang tak ada unsur menyinggung (?) sedikit pun.


“Kita akan membahasnya di perpustakaan Sil. Karena sudah Mama pikirkan bahwa di situlah tempat paling aman dan nyaman yang dapat di gunakan.” Jawab Selvi sambil menggandeng lengan suami nya, untuk memberikan kekuatan.


“Oh.” Jawab Silvia singkat dan langsung berdiri di samping Noa.


Tangan nya langsung Dia tautkan pada lengan Noa, dan Noa merasakan dengan jelas bahwa tangan Silvia sedang gemetaran. Sat ini Silvia benar benar hanya pura pura tampil kuat.


“Tak apa sayang. Kamu memiliki Aku dan juga yang lain nya.” Bisik Noa sambil mengelus lembut punggung tangan Silvia, dan Netra nya menatap pundak Om Surya, Resa, dan juga Raisa yang saat ini ada di hadapan mereka.

__ADS_1


Mengerti dengan yang di katakan oleh Noa, membuat Silvia semakin percaya dengan perkataan Surya di teras lantai Dua.


[Kamu itu tidak sendirian. Kamu itu tidak lemah. Kamu itu sama seperti manusia lain nya yang perlu melakukan berbagai hal yang tidak sempurna, agar tergolong manusiawi.]


__ADS_2