
Suasana kembali hening.
Ternyata harapan Selvi saat memutuskan perpustakaan sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah kali ini tanpa masalah gagal total.
Jangan kan berbaikan, dari yang Selvi lihat saat ini, Silvia seperti nya masih membutuhkan banyak waktu, untuk mengobati luka hati nya.
“Aku rasa pembicaraan nya cukup sampai di sini. Semua nya sudah menjadi jelas, dan tak ada pihak yang tak bersalah. Aku juga salah, karena tidak mau menuntaskan masalah ini pada detik ini juga, karena mementingkan ego sendiri. Tetapi, Aku ingin mencoba rasa nya. Bagaimana rasa nya jika membangkang dan juga melawan sesuatu yang selama ini selalu menjadi ketakutan terbesar Ku.”
Silvia pun angkat bicara di tengah situasi yang selalu saja canggung dan juga hanya di liputi oleh keheningan.
Silvia yang selama ini selalu menjadi orang yang mencairkan suasana, akhir nya menunjukkan sisi yang selama ini seakan terasa mustahil jika di lakukan oleh Seorang Silvia.
Saat Silvia selesai berkata demikian, Dia pun bangun dari kursi nya, dan berjalan ke arah pintu.
Semua nya menyaksikan kepergian Silvia, karena jika Silvia ingin pulang saat ini, berarti Silvia sudah berada di puncak kemampuan nya untuk tampil kuat di hadapan Kedua orang ynag sudah membuat nya ada di dunia ini.
Melihat punggung Silvia yang akan segera menghilang jika Dia membuka pintu kayu itu, membuat dada Risa seolah di remas dan menimbulkan rasa sakit yang tak bisa di jelaskan dengan kata kata.
Tak tau kapan lagi Dia dapat bertemu dengan Silvia, membuat Risa merasa masalah kali ini harus benar benar di tuntas kan. Barulah setelah itu Silvia boleh pergi.
Karena jika tidak, Risa memiliki feeling yang sangat kuat bahwa Silvia akan menemui diri nya saat sudah terkubur di dalam tanah, dan hanya batu nisan yang bertuliskan nama nya lah yang menjadi objek ynag dapat di lihat oleh Silvia.
“Silvia...”
Tak mau kejadian itu menimpah diri nya, Risa pun membuka mulut lagi dan memanggil Silvia.
“.....’
Silvia tak menjawab namun diri nya berhenti tepat saat tangan nya memegang gagang daun pintu.
Silvia pun berbalik, dan menatap netra Papa nya yang sedari tadi Dia lihat tanpa rasa takut.
“Jangan membahas apakah Aku sudah memaafkan Kalian atau tidak. Karena untuk saat ini, sudah pasti tak mungkin kan ? Aku juga butuh banyak waktu untuk menata kembali pikiran Ku yang sudah sangat berantakan,
sehingga jika Kalian memaksa Ku untuk memaafkan Kalian saat ini, Ku rasa itu hanya tampak seperti suatu kebohongan besar...”
Silvia berhenti sejenak. Dia menghirup nafas dalam dalam, dan kembali menatap mata Risa setelah tertunduk untuk beberapa detik.
__ADS_1
“... Aku tak mau lagi memasang topeng baik baik saja di hadapan kalian, dan memerankan peranm Anak polos dari keluarga Aditya. Aku... Benar benar sudah lelah... Maka dari itu, ijinkan Aku untuk mengistirahatkan hati dan juga pikiran Ku. Kali ini saja, biarkan Aku melakukan sesuatu yang Aku putuskan seorang diri.”
Silvia pun menuntaskan perkataan nya dengan mata yang sudah memerah. Ya, hanya memerah. Tak ada air mata yang gugur sedikit pun.
Hebat nya lagi, Silvia masih bisa menyematkan senyum di wajah nya, seolah Dia sangat tulus dengan perkataan nya kali ini.
Melihat raut wajah Putri nya yang tampak sangat terluka, membuat Risa merasa bahwa seharusnya tadi Dia membiarkan Silvia keluar dari ruang perpustakaan ini. Sehingga Dia tidak perlu melukai putri nya untuk ke
sekian kali nya.
KLEK.
Pintu pun tertutup.
Suasana kembali menghening. Dan selang beberapa detik kemudian Noa langsung berlari untuk menyusul Silvia.
***
Diluar ruangan.
“Sil... Sil, keputusan Kamu kok kaya gitu sih ? Masa Kamu melampiaskan rasa kesal Kamu sama Om Risa dan juga tante Selvi sih ? Kamu yakin gak bakal menyesal ?”
“Loh ? Kok sekarang kamu juga ikut ikutan bela mereka berdua ? Kamu gak ingat, kalau mental Aku jadi serusak ini kareena siapa ? Dan Kamu juga lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi kemarin ? Kamu tuh lagi pura pura lupa atau lagi cosplay jadi orang yang paling suci sedunia sih ?”
Silvia pun menjawab perkataan Noa sambil menghapus kasar air mata nya. Tampak jelas bahwa saat ini Silvia sedang berusaha untuk tampil tegar, agar tidak membuat diri nya tampak lemah di hadapan beberapa pelayan wanita yang sedang membersihkan beberapa pot hias di sisi ruangan.
“Bu... Bukan kaya gitu Sil. Aku-“
“Udahlah. Penjelasan Kamu itu basi tau gak ?!Mending sekarang Kamu balik ke dalam perpustakaan, dan menjadi sekutu dari orang yang Kamu anggap sebagai orang tua Ku.”
Usai mengatakan hal itu, Silvia menepis tangan Noa dengan sangat kuat, dan berjalan cepat kearah pintu keluar, yang entah kenapa terasa sangat jauh dari posisi awal nya, padal Silvia sedang berjalan cepat.
“SIL!!” Teriak Noa yang terlihat sedang mengambil ancang ancang untuk mengejar Silvia.
“Gak usah di kejar Noa. Untuk saat ini biarkan Silvia tenang dulu yah ? Dia juga gak mau tampil sangat menyedihkan di hadapan Kita.” Kata Resa yang berhasil mengehentikan pergerakan Noa.
"Tapi di situasi saat ini, Silvia itu butuh sandaran. Dia itu cewek loh Res, masa iya Kita biarin aja kalau Dia pengen sendiri. Okelah Kamu hanya ingin menuruti perkataan Adik Kamu tadi. Tapi, masa iya Kita benar benar mengikuti kemauan Silvia yang pengen sendiri ? Gimana kalau Dia nekat dan melakukan sesuatu ?” Protes Noa panjang lebar.
__ADS_1
“Untuk saat ini biarin aja nao. Sekalipu Silvia membutuhkan seseorang saat ini, yang Dia butuhkan itu Raisa lah. Orang yang Silvia anggap paling mengerti diri nya saat ini Raisa, yang notabene nya sesama cewek.”
“Tapi saat ini, Raisa ada di dalam kan ? Raisa gak ngejar Silvia tuh.”
“Raisa lagi menenangkan Mama yang udah nangis dan gak bias berbuat apa apa di dalam Noa.”
“Tapi tadi Silvia juga nangis loh Res. Silvia juga pasti gak tau mau buat apa saat ini Res.”
Noa tetap kekeh pada perkataan nya. Namun Resa juga tetap kekeh pada pemikiran nya, yang menganggap saat ini pilihan Silvia untuk menyindiri memang paling benar.
Karena Resa dan Noa mengalami percekcokkan lantaran berbeda pendapat, membuat kedua orang ini
bubar dan mengambil jalan yang berbeda beda.
Resa yang kembali masuk ke dalam perpustakaan, dan Noa yang berlari ke arah pintu keluar, memasuki mobil dan mengendarainya dengan kecepatan penuh. Entah masih sempat mengejar atau membuntuti Silvia atau tidak.
Entah apa penyebab nya, hubungan mereka seakan merenggang, padahal sejak tadi mereka masih tetap satu pemikiran.
***
Saat Noa dan Resa sudah bubar, tentu saja meninggalkan beberapa pelayan wanita yang sudah mulai bergosip. Di sana, empat orang pelayan wanita sudah mulai berbisik bisk, dan satu pelayan wanita lain nya memilih untuk menyingsing ke tempat lain. Pergerakan nya tampak amat mencurigakan.
Drrtt… Drrtt….Drttt..
“Hei, apakah Kamu tidak takut menghubungi Ku saat masih jam bekerja ? Bagaimana jika Kamu ketahuan oleh seseorang ? Rencana Ku bias gagal, dan sudah pasti kecoa seperti Mu tinggal Aku musnakan dari muka bumi ini.”
Ucap seseorang dari seberang sana, yang nama kontak nya tertera ‘BOS BESAR’. Entah sebesar apa Bos nya itu.
“Maafkan Saya, tetapi kabar ini harus segera Saya sampaikan. Karena perkiraan Bos sangat tepat. Kini, Nona Silvia bertindak dengan sangat brutal dan liar. Tuan Resa dan juga Noa seakan berdiri di jalan yang berbeda. Dan Nona Silvia seakan tak akan pernah memaafkan perbuatan Papa dan Mama nya.”
Jelas pelayan wanita itu, sambil terus menoleh ke sana kemari, untuk menjaga pekerjaan double nya ini tetap tuntas dan terselesaikan tanpa masalah tambahan.
“Benarkah ? Kamu berguna jugsa ya. Hahaha… Baus sekali, kehancuran yang Aku dambakan sejak dulu akhir nya terealisasikan secara perlahan. Oiya, tadi Kamu berkata bahwa Noa dan Resa berada di jalan yang berbeda ? Berarti Kamu melihat tampang Noa kan ? Bagaimana ? Apakah malaikat Ku hari ini tetap tampan seperti biasa nya?”
“Akan… Akan saya kirimkan Foto Tuan Noa, yang sudah Saya ambil diam diam tadi.
“Bagus… Bagus sekali. Kinerja Mu akan Aku apresiasikan dengan uang. Nah, sudah Aku kirimkan uang nya ke rekening Mu. Jangan lupa untuk mempertahankan kinerja Mu kedepan nya.”
__ADS_1
TUTTT….
Panggilan pun berakhir. Dan sang pelayan itu masih melihat sekeliling nya, untuk memastikan bahwa Diri nya benar benar tidak ketahuan oleh siapa siapa. Benar benar pikiran yang lugu bukan ? Seharusnya jika Dia ingin menghubungi seseorang, jangan menghubungi orang itu di tempat yang mulai di tingkatkan pengawasan nya bukan ?