
Mendengar Surya yang sudah membuat keputusan, membuat tiga anak muda yang ada di hadapan nya menurut dan menyetujui keinginan nya.
“Ya, Kami paham Ayah.”
“Ya, Kami paham Om Surya.”
***
Selang beberapa menit kemudian, Mereka berempat sudah kembali pada suasana yang terkendali. Dimana kembali pada situasi terpimpin, yang sudah di katakan di atas, bahwa di pimpin oleh Surya, Ayah dari Raisa.
Mereka berempat mulai berdiskusi, Resa menyampaikan apa saja yang berhubungan dengan Silvia adik nya. Apapun itu, entah yang penting maupun yang tidak penting, Resa mengatakan semua nya. Karena situasi saat ini terlalu ambigu untuk di pahami.
Noa juga sudah di beri pemahaman lewat penyampaian yang pelan dan berwibawa, oleh Surya. Karena Resa dan Raisa enggan untuk menjelakan lagi kepada Noa. Resa berkata, jika Raisa yang tidak paham, maka Resa dengan senang hati akan menjelaskan nya pada Raisa. Sedangkan pada konteks ini, yang tak paham adalah Noa. Itupun bukan karena otak nya yang tidak encer, melainkan pemahaman nya pada bahasa indonesia yang mengendur.
Sedangkan Raisa ? Dia sudah mencoba untuk menjelaskan kembali pada Noa, namun hasil nya sama saja. Karena kecepatan Raisa dalam menyampaikan penjelasan pada Noa sama seperti tadi. Yaitu kecepatan turbo. Hal inilah yang membuat Raisa engan untuk memberikan pemahaman kepada Noa.
Bahkan di saat kesabaran Raisa sudah berada di ujung tanduk, Raisa masih menyempatkan untuk menjelaskan dalam bahasa inggris. Namun, untuk yang tiga kali nya, Noa tetap tidak mengerti.
***
“Untuk saat ini kesimpulan sementara nya seperti ini, Om rasa, Kalian paham akan situasi nya bukan ? Maka dari itu, Om sudah menyiapkan 3 agenda yang semoga saja berguna nanti.”
“Pasti ini akan sangat berguna. Karena setidak nya kita sudah memiliki tiga antisipasi.” Jawab Resa kala mendengar perkataan Ayah Raisa.
Di saat merasa otak mereka butuh peregangan, Raisa pun bersama Resa maupun Noa membuat suasana kembali hidup. Bukan suasana seperti sedang rapat para *******, yang di baluti oleh suasana tegang.
Lalu, saat berada di dalam keadaan yang membuat kepala pusing namun setidak nya suasana nya sudah berubah. Datang lah sesuatu yang entah akan membuat suasana semakin membaik atau memburuk.
“Om Surya... Kak Res.. Kak Raisa.. Kak Noa...” Panggil seseorang yang belum turun dari atas tanga.
Mendengar nama mereka di panggil, apalagi dengan suara yang sudah sangat mereka kenal, membuat mereka berempat langsung menoleh dengan ekspresi penasaran sekaligus tegang, karena takut jika diagnosis kemungkinan buruk nya yang terjadi.
Merasa suasana sangat hening, membuat Resa yang angkat suara terlebih dahulu.
“Sil... Kamu kenapa ? Udah enakan ? Ada yang sakit ? Atau apa Kamu membutuhkan sesuatu ?” Tanya Resa yang memberikan rentetan pertanyaan.
*BUK* “AUW”
Bunyi kepala yang di jitak dan suara jeritan
__ADS_1
kesakitan pun terdengar. Dan tentu saja Resa langsung menoleh pada pelaku yang
membuat diri nnya kesakitan di atas kepala.
“Pertanyaan Mu terlalu banyak bodoh. Jika itu Aku yang berada di posisi Silvia, Aku akan kembali masuk ke dalam kamar dan memilih untuk titdur.” Marah Raisa yang mengecilkan suara nya, agar tidak membuat suasana kembali ribut seperti barusan.
“Ya maaf.. Nama nya juga Kakak nya ini khawatir...” Jawab Resa balas berbisik.
“Apa suara Kami terlalu besar, sehingga mengganggu istirahat Mu sayang ?” Alhasil, Raisa pun yang mengambil alih mengenai pertanyaan yang akan di lontarkan pada Silvia.
Silvia masih diam dan memandangi ke empat orang itu dari atas tangga. Tindakan nya itu membuat empat orang yang khawatir pada diri nya semakin merasa khawatir.
Sehingga Surya dan Noa juga ikut menanyakan pertanyaan yang menunjukkan perhatian mereka pada Silvia.
“.....”
Masih hening. Tak ada yang bersuara lagi, kala tak ada jawaban sedikit pun dari Silvia. Benar benar canggung situasi saat ini, bahkan untuk bergerak saja, seakan di himpit oleh situasi yang tidak mendukun.
“Sil... Silvia...”
Akhir nya,orang yang sedang dikhawatirkan dari tadi bersuara juga. Dan hal itu membuat keempat orang yang berada di bawah lantai degdegan bukan main, karena mereka sedang memfokuskan pikiran mereka, agar
“Ugghh... Silvia lapar...”
Perkataan yang sedari tadi di tunggu tunggu pun terdengar. Dan itu membuat mereka semua, yah termasuk Surya tercegang bukan main.
Ekspresi mereka yang sejak tadi mengeras, seketika langsung luntur dan semua nya memasang ekspresi datar. Mereka benar benar merasa konyol dengan tindakan yang mereka lakukan. Lantaran, yang mereka khawatirkan tak terjadi sama sekali, justru pikiran mereka yang terlalu menghiperbolakan sesuatu lah yang membuat mereka panik sendiri.
“Kamu lapar ? Baiklah, tungu sebentar. Aku akan membuat telur mata sapi untuk Mu.” Ucap Noa akhir nya, kala suasana di sekitar seolah tak mau hidup kembali.
“Ah benar sekali. Untuk apa berdiri seperti ini ? Kita kan gak lagi cosplay jadi patung. Em, biar Ku carikan pisang dan buah buah
yang lain untuk menahan lapar Mu untuk sementara.” Ujar Raisa yang ikutan
kalang kabut.
Raisa dan Noa langsung sibuk sendiri di dapur. Bahkan Raisa yang lahir dan besar di rumah itu malah membuka lemari yang tidak sesuai dengan hal yang Dia perlukan saat ini.
Raisa saja sudah seperti itu. Apalagi Noa yang masih mencari semua alat yang di butuhkan untuk menggoreng telur.
__ADS_1
“Tak bisah seperti ini. Lebih baik memesan makaanan saja. Aku tau tempat yang buka selama 24 jam, dengan pengiriman yang cepat.”
Tak mau kalah dari Noa, Resa juga sudah mengambil tindakan dengan menggeser layar ponsel nya.
Situasi kacau ? Jangan di tanya lagi. Sang empunya rumah yang sesungguhnya pun turun tangan dalam menghentikan situasi ini. Dimana hanya di penuhi dengan suara yang panik, dan barang barang yang jatuh dan masih banyak lagi.
“SEMUA NYA.. HENTIKAN PERGERAKAN KALIAN YANG LEBIH MIRIP DI MEDAN PERANG.” Tegur Surya dengan suara yang sengaja di tinggikan.
“.....”
Dan benar saja, situasi langsung diam. Dan terjadilah situasi hening, dengan pergerakan konyol dari Resa, Noa, dan Juga Resa.
“Kalian tak perlu sibuk seperti itu. Karena Aku sudah memasak makanan yang cukup banyak hari ini.”
“Eh ? Ayah sudah memasak ? lalu, dimana Ayah meletakkan makanan nya ?” Tanya Raisa sambil mendekati tubuh Ayah nya.
“Dilemari makanan. Karena masakan nya terlalu banyak, sehingga Ayah tak bisa memasukkan nya ke dalam mikrofon penghangat makanan.” Jawab Surya sambil menatap heran ke arah Putri nya itu.
“Benarkah ? Jika seperti itu, akan Raisa panaskan sekarang juga.” Raisa pun seketika menjadi tenang dan melakukan pekerjaan seperti biasa nya.
“Resa, simpanlah Hp Mu. Karena sejak tadi Kamu malah membuka aplikasi untuk memesan tiket. Tak mungkin kan, sekarang kamu mengirim adik Mu ke luar negeri, hanya untuk makan malam. Itupun dengan situasi saat ini, Om rasa Silvia akan mati kelaparan sebelum pesawat nya melakukan penerbangan.”
Resa pun yang sadar akhir nya dengan wajah yang tampak sedikit malu langsung meletakkan ponsel nya di atas meja.
“Hahh, dan Noa... Biasa nya Om menggoreng telur dengan teflon, bukan dulang.” Tegur Surya akhir nya, dan membuat Noa dengan malu malu meletakkan kembali dulang yang sudah Dia letakan di atas kompor gas kembali ke tempat nya. Dan secara perlahan bergabung bersama Resa dan Raisa yang tengah sibuk memanaskan makanan yang sudah di buat oleh Surya.
Surya hanya memfokuskan penglihatan nya pada tiga punggungg anak muda di dapur. Dan dengan pikiran nya, Surya berbatin...
“Apakah kalian takut ? Kalian takut jika Kalian kalah dalam masalah kali ini ? Saking takut nya, Kalian sampai salah tingkah seperti itu. Tenang saja, karena sekalipun sudah tua, Aku masih dapat
melindungi Kalian.”
Begitulah batin Surya yang langsung berjalan ke arah Silvia, dan membantu Silvia agar bisa sampai di meja makan. Karena dengan Silvia yang tak kunjung turun dari lantai atas, membuat Surya berkesimpulan bahwa Dia takut jika kepala nya yang masih pusing membuat nya jatuh, dan malah semakin merepot kan banyak orang.
“Oia, kok Ayah bisa masak sebanyak ini sih ? Padahal kan kedatangan Kami tiba tiba. Jadi tak mungkin jika Ayah dapat meramal situasi saat ini bukan ?” Tanya Raisa yang mulai menyajikan hidangan di atas meja.
“Dasar ceroboh. Bukankah Kamu sudah mengirim pesan singkat bahwa hari ini kamu akan datang ke sini dengan tiga orang teman ?” Jawab Surya yang sudah membantu Silvia hingga duduk.
“Astaga.. Ahahaha.. Benar juga yah. Dasar, ni otak tak bisa di ajak kerja sama, Ayah.” Jawab Raisa yang berusaha meyakinkan diri bahwa Dia tidak lupa, Cuma salah ingat saja. Bukan kah begitu ? Surya saja
__ADS_1
dapat memaklumi hal ini.