
Sehingga Dokter Doni yang sudah lansia itu langsung menuju ke ruangan yang merawat Raisa, dan bersedia untuk merawat Raisa selagi Lisa berada dalam masa pemulihan kondisi tubuh agar kembali Fit. Karena Lisa adalah murid kesayangan Dokter Doni, sekaligus cucu dari anak perempuan yang dia sayang, jadi wajar saja kalau dokter doni tidak keberatan sama sekali menggantikan Lisa merawat Raisa.
...✾...
...✾...
...✾...
...✾...
...✾...
...✾...
...[Di depan ruang pasien]...
"Karena dokter Lisa dalam keadaan yang tidak fit, saya yang akan menggantikan dia untuk menjadi dokter yang bertanggung jawab akan keselamatan Raisa. Kalian bisa memanggil saya dengan Dokter Doni saja, tidak usah memanggil saya dengan sebutan prof atau sebagainya, saya kurang nyaman dengan hal itu ! " Sebagai awal yang baik, Dokter Doni memperkenalkan diri nya, agar urusan ke depan nya dapat terus terjadi dengan hubungan yang setidaknya mengetahui nama masing masing.
__ADS_1
Resa yang selalu menghormati yang lebih tua langsung sedikit menunduk dan berniat memperkenalkan diri nya juga. " Ah, perkenalkan saya- "
*Klek* Pintu yang di buka dan otomatis menghentikan perkataan Resa yang baru akan memperkenalkan diri.
Dari celah pintu yang terbuka itu, tampak jelas wajah Sen yang adalah seorang asisten dari Lisa sangat khawatir.
"Dok... Kondisi pasien kejang kejang lagi ! Tolong periksalah kondisi Raisa ! " Sambil menyapu peluh yang muncul dari kening nya, Sen berusaha tampil tak tegang agar tidak membuat keluarga besar Raisa merasa ketakutan dan ikut terbebani.
"Baiklah ! " Raut wajah dokter Doni langsung berubah saat mendengar kabar terbaru soal Raisa, dan jangan di tanya lagi tentang keluarga nya. Apalagi Resa ! Raut wajah nya yang tidak istirahat, dan tidak tergolong fit lagi nampak semakin pucat saat mendengar kabar Raisa dari Sen.
Lima menit sudah Dokter Doni menangani Raisa di dalam, tak dapat di pungkiri kecemasan keluarga Raisa semakin menjadi. Risa selaku Ayah nya Resa hanya bisa memeluk pundak Selvi sang istri. Mereka berdua tampak sangat tulus menyayangi Raisa, sehingga tak mau kehilangan. Surya selaku Ayah kandung Raisa jangan di tanya lagi rasa cemas dan khawatir nya. Apalagi momen seperti ini mengingatkan nya pada Almarhumah sang Istri, sehingga Surya hanya bisa bersandar di dinding Rumah sakit.
Resa ? Jangan di tanya lagi ! Bukan nya berlebihan, tapi di antara mereka yang sedang di landa rasa cemas dan khawatir di koridor, Resa lah yang paling tersiksa. Semenjak bertemu dengan Raisa, perasaannya seakan terkunci dan hanya tertuju pada Raisa saja. Bukan nya tak ada niatan untuk mencari wanita lain, tapi Raisa seakan menjadi candu dan seakan narkotika yang membuat Resa tak bisa berpaling sekalipun sudah menjalani terapi.
Resa yang perasaan nya tak di balas oleh Raisa, membuat nya sempat down selama bertahun tahun. Cukup dengan hubungan persahabatan ? Tentu saja tidak ! Tak ada yang nama nya sahabat jika dua orang itu terdiri dari dua jenis kelamin yang berbeda. Pasti salah satu nya menyimpan rasa ! Tunggu, apa hanya salah satu pihak saja yang menyimpan rasa ? Tentu tidak, karena beberapa bulan yang lalu, Raisa sendiri yang mencium bibir Resa, Raisa sendiri yang menerima ciuman lembut yang terkesan menuntut dari Resa, Raisa sendiri lah yang berbicara tanpa di paksa sedikitpun untuk memberikan lampu hijau pada Resa.
Namun semua nya itu seperti tak ada arti nya lagi. Kenapa ? Karena dengan Raisa yang masuk rumah sakit karena kanker otak ini membuat Resa di landa banyak pertanyaan ! Apakah Raisa benar mencintai Resa ? Apakah dia mencium Resa karena tak pernah mendapatkan sentuhan khusus dari Andre ? Apakah Raisa menerima Resa karena tau bahwa dia akan mati, sehingga mau menghibur Resa di waktu yang tersisa ? Apa ini hanya belas kasihan dari Raisa ? Apa sikap Raisa yang mendadak berubah itu karena dia membutuhkan cinta dan kasih sayang pengganti dari Andre, karena dia tau bahwa dia akan meninggal dalam kurun waktu yang terhitung cepat ini ?
Entahlah.. Resa tak mau memikirkan jawaban nya, apalagi ingin mencari tahu jawaban nya, lebih tak mau lagi. Karena Resa takut terluka lagi untuk kesekian kali nya, karena diri nya benar benar sudah di buat bertekuk lutut di hadapan Raisa.
__ADS_1
Lalu, di tengah situasi yang sangat lelah tapi mata di paksa agar tetap melek, datang lah sesuatu yang seperti perusak suasana yang sudah tak baik sedari tadi. Si biang dari semua masalah.
Yah, Andre sedang berlari menyusuri lorong rumah sakit, dan mengarah ke ruangan yang di pakai Raisa saat ini. Mungkin dia sudah bertanya pada bagian resepsionis.
Melihat kedatangan Andre membuat Surya dan Risa langsung melangkah kan kaki agar jarak mereka semakin mengecil dari jangkauan Andre, dan...
...*BUUUKKK* Satu pukulan dari Risa berhasil mengenai Rahang kanan Andre, dan membuat Andre yang belum mengatur nafas karena berlari seakan bleng atau masih mencerna apa yang terjadi....
...*BUUUKKK* Tak memberi Andre waktu yang lama untuk mencerna situasi saat ini, Surya yang sudah tak bisa mengontrol emosi nya langsung melayangkan satu pukulan kuat dan mengenai rahang kiri Andre. Setidaknya dengan begini, sekalipun wajah Andre bengkak or something, wajah nya tetap simetris....
Andre masih bengong karena di pukul oleh dua orang sekaligus, dengan selang waktu dua detik. Andre menatap dua orang yang memberikan pukulan itu. Surya dan Risa menatap benci terhadap Andre, mereka berdua seakan ingin mencekik Andre hingga mati kehabisan nafas. Mereka ingin agar yang tersiksa saat ini bukan Raisa yang sudah menderita selama ini, melainkan Andre si bedebah tidak tau di untung ini.
Sedangkan Selvi ( Ibu nya Resa) hanya berdiri merangkul Silvia dan menatap tajam ke arah Andre. Mereka berdua jelas tidak menyukai Andre sejak dulu atau sampai kapan pun.
Sedangkan Erna sedang menahan Dika sekuat tenaga, agar Dika tidak membuat keributan yang dapat mengakibatkan dapat di usir dari pihak RS.
"Om.. Saya -"
"UNTUK APA KAMU DATANG KE SINI ? " Dengan tatapan dingin dan tajam ke arah Andre, Surya langsung memotong penjelasan Andre. Dia benar benar sudah tak peduli lagi pada apapun.
__ADS_1
"KEHADIRAN MU TIDAK DI TERIMA DI SINI ! " Sambung Risa dengan tatapan yang sama seperti Surya, yang seakan tak mau Andre mendapatkan kesempatan utuk berbicara.