Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 77.


__ADS_3

Karena Noa tau, di situasi seperti ini.. Resa tidak dapat memikirkan semua nya secara terperinci seperti biasa nya.


...❀...


...❀...


...❀...



...❀...


...❀...


...❀...


...[ Di depan ruangan rawat Raisa ]...


"Kenapa tidak langsung menjalan kan operasi nya ? Apakah ada sesuatu yang terjadi ? " Tanya Resa cukup cemas.


"Tenang saja Res. Saat pengiriman dari jet pribadi ke ruangan ini, tubuh Raisa di lepaskan sementara dari peralatan medis, karena barang barang medis tak bisa di dorong. Saat ini hanya menstabilkan susunan tubuh nya, masih tersisa sepuluh menit sebelum Operasi di jalan kan ! " Jelas Noa.


Lisa juga ikut mengangguk agar Resa dan yang lain nya tampak tenang.


"Apakah aku boleh berbicara dengan Raisa ? "


"Berbicara ? Raisa belum sadar Res... " Jawab Noa pada Resa.


"Bukan... Aku ingin berbicara saja pada nya ! Menurut Dokter Doni, Raisa memang tak sadar, tapi alam sadar nya dapat menyampaikan apa yang kita bicarakan. "


"Haaah.. Terserah kamu Res... Jangan lupa, sisa waktu nya hanya 10 menit, pergunakan itu dengan baik.! "


"Em... " Resa mengangguk dan langsung masuk, Silvia sebenar nya juga ingin masuk, tapi dia tak mau menghancurkan suasana sedih yang akan di luapkan oleh Resa di dalam. Sehingga Silvia hanya memandang Raisa Dari kaca berukuran persegi panjang di depan pintu.


"Kamu tak masuk ? " Tanya Noa pada Silvia.

__ADS_1


"Tidak ! Memang kalo itu kamu, kamu mau masuk kak Noa ? " Tanya balik Silvia.


"Tentu saja tidak ! Walaupun keadaan nya sedang melow seperti ini, keromantisan dari mereka berdua tetap terpancar, dan Aku akan menjadi nyamuk di antara mereka.! " Jelas Noa dengan wajah kesal nya.


"Yaah, aku juga tak mau menggangu Kak Res. Oia Kak Noa, Kamu mengatakan sesuatu pada Kak Resa kan ? "


"Maksud kamu mengatakan apa ? "


"Tentang Kak Raisa yang di perkirakan akan kehilangan ingatan ! "


"Bentar.. Jelaskan lebih detail, apa maksud mu ! "


"Pasti kamu mengatakan akan membuat kak Raisa menjadi milik Mu saat dia sadar nanti, jika kehilangan ingatan bukan ? "


"U.. Um... Apakah Resa melapor secara rinci pada Mu ? "


"Tidak ! Gerak gerik kak Resa sangat aneh saat mengatakan Kak Raisa akan kehilangan ingatan, dan lagi.. Walaupun wajah nya tidak sembab sama sekali, nampak jelas bahwa bola mata nya di kucek berkali kali.. "


"Jadi.. Jadi apakah kamu marah pada ku karena telah membuat kaka mu menangis ? "


"Tidak.. Aku hanya akan sebagai penonton saja, yang akan menyaksikan dengan siapa Kak Raisa menuju ke pelaminan. Entah itu Kak Resa, atau Kak Noa... " Jawab Silvia dengan tatapan mata yang menyiratkan arti lain, dan itu membebankan Noa.


"Silvia pamit dulu ya kak Noa ! Ada sedikit urusan ! " Silvia langsung menyela, ekspresi wajah nya tidak seperti Silvia gadis polos selama ini. Noa bahkan kaget karena Silvia yang dia tau itu bukan yang seperti ini.


"Tunggu dulu, Sil- "


"Papa .. Mama... Silvia pamit ke mini market dulu yaah.. " Suara dan wajah Silvia kembali cerah seperti biasa nya, berbanding terbalik dengan saat dia berbicara dengan Noa tadi. Dan hal itu semakin membuat Noa bingung dan merasa heran.


"Mau di temani gak Sil ? " Tanya Erna dan Dika.


"Gak usah ! Silvia udah gede, bukan anak kecil lagi . Jadi gak usah di temani tauu.. " Silvia mulai bersikap seperti biasa nya, dan yang menyadari kejanggalan itu hanya Noa.


"Ya udah.. Hati hati ya Sil.. Kalo Mama gak salah liat, tadi ada minimarket yang jaraknya hanya 300 meter aja deh dari sini.. "


"Oke Ma.. " Jawab Silvia.

__ADS_1


"Hati hati yaah Sil. Kamu bisa pakai kartu Papa sepuasnya, kamu gak ada masalah sama komunikasi di sini kan ? "


"Gak ada Pa.. Cara berbicara Silvia dalam bahasa Belanda itu udah fasih banget loh ! "


"Yaudah.. Hati hati ! Jangan terlalu makan banyak snack, nanti lambung kamu keram lagi kaya waktu itu. Kamu gak mau di rawat di rumah sakit, dan memakan makanan yang bahkan gak ada garam itu kan ? " Ledek sang Papa.


"Big No Papa.. Itu masa masa paling menderita yang pernah Silvia alami ! " Dengan lebai nya, Silvia menyeka air mata yang bahkan enggan untuk keluar dari bola mata.


Silvia langsung menuju lift, dia tidak menengok ke belakang lagi. Bahkan Noa sudah yakin bahwa Silvia pasti sudah merubah raut wajah nya. Ingin sekali Noa mengikuti Silvia dan bertanya, tapi tak bisa. Karena kelurga nya akan merasa heran, dan karena sedikit lagi dia akan menjalan kan Operasi untuk Raisa.


* * *


...[ Di sisi lain, di dalam ruangan yang di tempati oleh Raisa. ]...


Resa berjalan mendekat ke arah ranjang pasien, di tatap nya lekat lekat wajah orang yang sedang terbaring lemah dengan kelopak mata yang tak menunjukkan tanda tanda akan terbuka.


Resa langsung menggenggam tangan kanan Raisa yang tidak terdapat selang infus dengan cukup erat, lalu di kecup nya berkali kali. Lalu Resa kembali mengecup kening Raisa, kecupan yang di berikan di kening Raisa cukup lama. Seolah Resa tak mau melepaskan kecupan nya, entah apa alasan nya.


"... Saa... " Panggil Resa yang sudah yakin tak akan mendapatkan jawaban dari mulut Raisa, yang sangat cerewet seperti biasa nya.


"Maaf Aku berlaku tak sopan seperti ini ! Aku bahkan mengecup Mu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Maaf... Tapi, biarkan aku merasa bahwa kamu milik ku untuk sepuluh menit ini.. " Mata Resa kembali memerah, tapi sebisa mungkin dia tak mau menangis karena di sini yang harus tampil kuat bukan cuma Raisa atau Orang lain, Resa juga harus ambil bagian di dalam nya.


"....Karena Aku tak tau saat kamu sadar nanti, kamu akan menjadi milik siapa. Menjadi milik Ku dengan ingatan yang tak terhapus sedikit pun, atau menjadi milik Noa dengan ingatan yang di buat buat. Sepuluh menit... Biarkan Kamu menjadi milik ku selama sepuluh menit.. "


Kemudian Resa terus mengatakan apa yang ada di isi kepala nya, dan saat melihat jam... Sudah lewat enam menit, Resa langsung menyerngitkan kening nya, seakan tak percaya jika jarum jam berjalan dengan tempo yang sangat cepat di situasi saat ini.


Tersisa empat menit, Resa memutuskan untuk memeluk Raisa. Resa mengangkat kepala Raisa perlahan lahan, lalu memasukan Raisa ke dalam rengkuhan nya yang hangat. Cukup lama Resa menghirup bau badan Raisa yang penuh akan bau obat obatan, namun itu tidak menjadi alasan untuk Resa melepaskan pelukan nya.


"Aku percaya pada mu Sa ! Aku yakin, kamu akan sadar setelah melakukan operasi ini. Dan aku juga yakin, bahwa Kamu akan mempertahan kan ingatan Kita selama ini.. Aku akan menunggu Mu sa, tak ada ketentuan waktu nya. Jika bisa, Aku akan menunggu Mu selama ribuan tahun, ataupun ribuan abad ke depan nya... "


...*Kleekk* Pintu yang di buka. ...


"Time's up Res... " Kata Noa yang sudah siap menjalankan operasi, karena sudah memakai seluruh perlengkapan di tubuh nya.


Resa pun melepaskan pelukan nya, dan meletakkan kepala Raisa kembali ke atas bantal dengan sangat pelan dan lembut.

__ADS_1


"Aku percayakan keselamatan Raisa pada Mu, Noa... "


"Em... " Jawab Noa lalu memberi kode pada kelima suster yang ada di depan pintu untuk masuk dan melepaskan alat alat medis yang ada pada tubuh Raisa.


__ADS_2