
Ada rasa penasaran dari diri nya, yang di picu oleh perkataan Si Nenek. Ingin rasa nya Noa cepat cepat pulang dan berendam di bak mandi nya, dengan lilin aroma yang dapat menenangkan pikiran, agar memperlancar otak nya mengingat masa lalu yang sudah lewat bertahun tahun. Cukup lama memang, tapi Noa akan berusaha.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...[ Silvia tiba di Vila ]...
Silvia langsung masuk ke dalam Vila. Tampak banyak pelayan yang menunduk memberi hormat lalu melanjutkan pekerjaan mereka saat Silvia balas memberikan senyum. Silvia pun langsung masuk ke dalam kamar nya, setelah bertanya pada para pekerja ada di mana letak kamar nya.
Seperti biasa, Silvia langsung mandi dan membersihkan badan nya karena tau pasti bahwa bau alkohol yang dia minum hari ini pasti akan tercium jika dia tidak mandi dan memberikan wangi lain yang lebih mendominasi pada tubuh nya.
Saat Silvia habis mandi, dia langsung menuju kasur nya yang empuk. Sudah jarang istirahat, kepikiran tentang Raisa terus, makan yang tidak teratur, lalu tadi meminum alkohol membuat Silvia saat ini hanya ingin tidur karena merasa sedikit pusing dan mual. Apalagi mengingat percakapan dan tindakan Noa yang katanya terjadi di luar alam sadar nya, semakin membuat wajah Silvia kusut seperti pakaian yang baru habis di remas.
Saat Silvia sudah duduk di atas kasur, dia menumpuk bantal dan meletakkan bantal bantal itu pada beberapa tempat seperti kebiasaan nya. Lalu...
"Kamu abis dari mana Sil ? "Tanya seseorang yang arah suara nya datang dari belakang Silvia. Silvia tampak sedikit terkejut, namun berusaha sekuat tenaga untuk tetap tampil biasa biasa saja, lalu menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Kak Resa kapan masuk nya sih ? Kenapa Gak ngetuk pintu ? Kenapa gak ijin dulu sama Silvia sih ? Main nyelonong aja, ini kan bukan kamar Kaka. Seenggak nya bersikap layaknya manusia donggg " Protes Silvia yang saat ini melihat Resa sudah duduk dengan posisi ternyaman di atas sofa panjang dan empuk.
"Gak mau bersikap kata manusia aah.. Maunya kaya gini aja.. " Jawab Resa dengan jahil nya.
"Kalo kaka masih punya tenaga buat jahilin Silvia, mending Kaka pergi ke rumah sakit buat jagain Kak Raisa deh.. Silvia rasa itu lebih bermanfaat ! " Sambil memutar bola mata nya, Silvia menyarankan saran pada Resa. Bukan nya tak mau ikutan menjahili kaka nya, tapi Silvia benar benar sedang malas berdebat.
"Itu gak penting sama sekali Sil ! kamu beluk jawab pertanyaan kaka loh ! Kamu dari kana ? "
"Dari pantai kak ! " Jawab Silvia sambil masuk ke dalam selimut nya.
"Emang tadi kamu ijin sama kaka mau ke mana coba ? Kata nya ke taman, tiba tiba udah di pantai ! Ngadi ngadi kamu Sil.. "
"Gak ! Ada yang mau kaka tanyain lagi ! "
"Silvia mau bobo kak~ " Pinta Silvia dengan mata memelas nya.
"Tumben banget kamu ke pantai seorang diri ! Ini bukan kebiasaan kamu dek ! Kamu itu gak bisa ke tempat lain kalo gak ada yang nemenin kamu ! Ada apa gerangan hari ini kamu bisa pergi ke pantai seorang diri ? "
"Silvia gak tau kak. Intinya Silvia butuh refreshing dikit buat otak Silvia.. Udah jenuh banget khawatir dan gelisah sama kak Raisaa.."
"Beneran ? "
"Beneran ! Bahkan Silvia salut sama Kak Resa dan yang lain nya ! Kok bisa gak menjernihkan otak padahal udah hampir empat bulan kalian mikirin Kak Raisa, khawatir pula, penuh ketegangan di setiap detik nya. Silvia benar benar gak sanggup waktu jalanin operasi pembelahan otak tadi.. Benar benar gak kuat Silvia nya. Kalo di paksain dikit aja, pasti Silvia bakal pingsan deh.. " Jelas Silvia yang tak ragu sedikit pun, karena alasan sebenar nya Silvia pergi ke pantai karena tak kuat lagi di hadapkan dengan situasi menegangkan ! Walaupun ada beberapa unsur tambahan sih. Seperti Noa dan sebagai nya.
__ADS_1
"Kalo gitu okelah ! Alasan kamu Kaka terima ! Tapi lain kali ajak Kaka juga yaah.. Kaka sering kepikiran karena udah biasa nemenin kamu, paham ? " Kata Resa yang berjalan mendekat ke arah Silvia, dan mengecup kening adik nya.
"Emm... " Jawab Silvia sambil tersenyum lebar.
"Istirahat gih.. Kaka juga ke kamar dulu yaah, by... "
Kamar Silvia kembali hening, dan hal itu tentu saja yang Silvia ingin kan. Karena jika Resa lebih lama lagi berada di dekat nya, Silvia takut akting nya akan ketahuan karena mengeluarkan jawaban yang ragu ragu di hadapan kaka nya yang ekstra peka itu.
Lalu Silvia tak mau banyak pikir lagi, dia langsung menjatuhkan tubuh nya di atas kasur yang super empuk, lalu dalam hitungan beberapa detik, Silvia terlelap dalam tidur nya.
* * *
...[ Di sisi lain, kamar Resa ]...
Resa yang baru masuk ke kamar nya setelah berbincang dangan Adik nya yang memunculkan gerak gerik mencurigakan tadi, langsung mengarah ke kasur empuk nya juga. Dia membaringkan tubuh nya dan menatap langit langit kamar sambil mulai berpikir hal apa saja yang dapat membuat nya lelah dan terlelap tidur.
Namun selang beberapa menit, kelopak mata Reda belum tertutup juga, seakan enggan untuk menutup mata atau justru tak mau kehilangan kesadaran.
"Ya Allah.. Tidur aja kek susah banget.. " Keluh Resa yang bagun kembali dan langsung berada di posisi duduk. Dia menggaruk kepala nya karena frustasi, lalu terlintas beberapa hal di benak nya yang membuat dia berpikir.
Resa di ingatkan akan sesuatu yang dia bawa dari Indonesia. Dia membuka laci meja yang yang terletak di samping ranjang nya, dan mengambil buku kecil dengan sampul bunga matahari yang tampak sangat indah di penglihatan para wanita, entah lah dengan penglihatan laki laki.
Yaah, buku kecil itu adalah Diary milik Raisa ! Diary yang pernah Raisa suruh untuk di baca Resa, namun belum Resa baca hingga detik ini. Buku itu selalu berada di dekat Resa. Entah kenapa, Resa merasa jika dia harus mendengar sendiri penjelasan dari Raisa.
Tapi jika melihat situasi saat ini, Resa harus membaca nya. Siapa tau dengan membaca buku Diary ini, beberapa atau bahkan banyak nya pertanyaan yang terlintas di benak Resa selama ini dapat terjawab kan. Karena jujur saja, sampai detik ini, Resa masih bimbang akan perasaan Raisa pada diri nya itu seperti apa.
Apakah terpaksa ? Atau karena unsur lain ? Unsur bahwa Raisa benar benar tulus mencintai nya ! Tapi, Resa takut memikirkan hal itu karena jika kenyataan nya berbeda sedikit saja, yang akan terluka di sini adalah Resa. Bukan orang lain, tapi Resa Aditya.
__ADS_1