
Beberapa saat kemudian...
"Ehem.."
Suara batuk dari belakang bangku Resa dan Silvia pun, membuat antesi mereka teralihkan ke arah asal suara.
"Raisa ?" Kata Resa.
"Kak Raisa ?" Ujar Silvia bersamaan dengan Kakak nya.
"Apakah Kamu sudah merindukan Ku Calon Istri ?" Ujar Resa kepedean.
"Silvia, Noa sudah sadar dari operasi pengangkatan sumsum tulang belakang. Kata nya Dia ingin bertemu dengan Mu, bukan dengan Ku. Jadi, pergilah. Kata nya, Dia gak mau semangat kalau gak di semangatin sama ayang." Ujar Raisa mengabaikan Resa yang sedang memasang pupy eyes nya.
"Benar kah ? Kalau gitu Silvia pergi dulu yaah. Bye..." kata Nya sambil berjalan cepat menuju ruangan yang di tempati oleh Noa.
Pergi nya Silvia menyisahkan Resa yang masih duduk dan Raisa yang tengah berdiri dengan ke dua tangan yang di lipat di dada nya.
Mata Raisa di sipit kan pada wajah Resa. Bagaimana pun, Raisa dapat merasakan ada yang berbeda dari raut wajah kekasih nya. Ralat sedikit, calon suami nya.
"Ikut dengan Ku." Kata Raisa sambil menarik tangan Resa.
Resa pun hanya mengikuti ke mana Raisa membawa nya. Wajah nya yang sudah ceria saat bercanda ria dengan Silvia tadi, seakan langsung sirna saat Silvia meninggalkan nya. Dan Raisa menyadari hal itu, bahwa Resa masih merasakan sesuatu, yang tak bisa Dia ungkapkan pada Adik nya tadi.
***
__ADS_1
Di dalam mobil...
Resa dan Raisa sudah duduk di dalam mobil bagian belakang. Mereka duduk bersebelahan tentu nya, dan di dalam sana sempat di landa oleh keheningan beberapa detik.
"Apa yang masih mengganjal perasaan Mu ?" Kata Raisa yang kini nerusaha membuat Resa menatap nya. Tapi sayang, Resa masih menatap paha nya saja.
"Res.." panggil Raisa sambil menangkup dagu Resa.
Kini sepasang mata saling beradu pandang satu sama lain. Di antara nya, tatapan mata Raisa menajam, seolah sedang mencari sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Resa. Sedangkan Resa, saat di tatap tajam oleh Raisa, Dia sempat menoleh ke lain tempat. Namun karena Raisa menguatkan cengkraman tangan nya, kini Resa mencoba menatap mata Raisa.
Mata yang awal nya sayu sayu, yang seolah memberikan beberapa tatapan kuat, perlahan berubah menjadi kalem dan kian memolos. Netra dalam nya mulai berketar, dan...
"Hiksss..." Resa pun menangis di hadapan Raisa.
Raisa pun secara spontan langsung memeluk Resa, dan benar benar memberikan pergerakan yang mengartikan bahwa dia ada bersama Resa, dan tak ada niatan meninggalkan.
"Hiks.. Sa, Aku benar benar Kakak yang buruk. Karena Aku, Silvia harus menjalani skenario hidup yang lebih berat dari pada Kakak nya ini. Hikss, karena Aku, Dia seakan mendapat satu trauma baru di dalam hidup nya..Walaupun tadi Dia sudah memaafkan Ku, tapi.. Tapi Sa, Aku belum bisa menerima ini Sa. Hiks.. Kenapa harus Silvia ? Kenapa bukan Aku ? Kenapa Sa ? Kenapa ???"
Ujar Resa seolah menuntut Raisa harus memberikan nya suatu jawaban, apapun itu. Karena otak Resa seakan sudah berasab, karena belum juga mendapatkan satu pernyataan yang membuat rasa bersalah nya berkurang.
Walaupun tadi Resa sudah mengatakan beberapa fakta pada Silvia, tentu tak mungkin kan jika Resa harus memberi tahukan semua hal yang Dia rasakan.
"...." Raisa masih terdiam. Dia mengelus punggung Resa dengan penuh perasaan, lalu angkat bicara.
"Jika Silvia tidak menjalani skenario yang seperti ini, apakah Kamu siap jika Kamu yang akan akan menjalani skenario naas ?"
__ADS_1
"Tentu saja Aku siap Sa, sangat siap malah." Seru Resa yang sedikit meninggikan suara nya.
"Misal, Skenario Mu adalah menghamili seorang wanita yang mirip dengan Ku, karena merasa frustasi tak kunjung mendapatkan Aku. Lalu, wanita itu meminta pertanggung jawaban Mu, Kamu tak mau, terus berputar putar pada pemikiran di mana Kamu harus di temani oleh Raisa Putri, bukan wanita yang mirip dengan Ku. Setelah itu, karena Wanita itu memohon pada Ku, akhir nya Aku membujuk Mu dan akhir nya kalian berdua menikah. Setelah itu, kehidupan pernikahan kalian benar benar hancur karena Kamu yang seakan tak mau menerima kehadiran wanita itu, dan membawakan dampak buruk pada anak yang dia lahir kan. Broken Home, itulah yang dapat di sajikan bagi anak Mu di ujung kesadaran nya. Kamu akan menyesal karena di tinggalkan oleh wanita itu dan anak Mu, lalu Kamu juga akan menyesal karena kehilangan Aku yang mati karena Kanker otak. Alhasil, tak ada yang dapat Kamu perjuangkan, entah itu Wanita yang menjadi Ibu dari anak Mu, atau Aku yang tak kunjung keluar dari labirin dunia Andre dan Fitri. Jika Akhir nya seperti itu, apa Kamu sanggup Res ?"
"TIDAK.. AKU TAK MAU.. AKU TAK MAU MENDAPATKAN AKHIR SEPERTI ITU." Kata Resa yang melepaskan pelukan nya, dan menatap Raisa dengan wajah sembab.
"Maka terimalah kenyataan yang sudah terjadi dari skenario milik Silvia. Seenggak nya, dengan ada nya kejadian ini, Silvia tidak akan menjadi anak polos yang tak pernah keluar dari ruang lingkup bernama rumah. Seenggak, semua nya sekarang menjadi teratasi dan tidak menjadi masalah yang belum terselesaikan."
"Tapi..." Resa seakan belum menerima kenyataan. Padahal Dia sudah paham betul dengan yang di sampaikan oleh Raisa, tapi entah apa pemicu nya, masih saja ada kerikil kecil yang mengganjal perasaan Resa.
"Lalu, kenapa kamu tidak mengatakan hal ini pada Silvia tadi Res?"
"Tentu saja tak boleh Sa... Ada beberapa hal yang tak boleh di lakukan oleh seorang Kakak di hadapan Adik nya. Tak boleh tampil lemah, tak boleh menangis dan seolah tak ada kekurangan sedikit pun di hadapan Adik nya. Bukan kah seperti itu ?"
"Jika menurut Mu seperti itu, maka lakukan lah Res. Jika ingin menangis, maka menangis lah. Ada Aku, ada Sahabat Mu, dan ada beberapa orang selain Silvia yang dapat Kamu jadikan sebagai tempat menangis. Dan lakukan lah apa yang Kamu yakini Res, jika lelah, berhentilah dan berkonsultasi pada Ku. Siapa tau Aku dapat menjadi sandaran yang tepat, seperti diri Mu yang selalu menjadi sandaran sempurna untuk Ku selama ini."
Ucap Raisa sambil menyeka wajah Resa yang berada di hadapan nya. Kemudian Resa pun mengangguk patuh seperti seorang anak kecil berumur lima tahun, yang baru selesai di nasehati oleh orang tua nya.
Kemudian, saat wajah Resa sudah agak mendingan, dengan perasaan yang seolah baru tertata rapi, tiba tiba Resa mendapat kan sesuatu yang yang membuat nya membelalakkan mata nya.
"Humpt..."
Ternyata Raisa mencium nya secara tiba tiba. Netra yang awal nya membola, kian tertutup dan mulai menikmati ciuman yang sedang terjadi. Ciuman yang awal nya terkesan lembut, kian menuntut dan seolah menyedot seluruh udara di paru paru Raisa.
Padahal Raisa lah yang memulai nya terlebih dahulu, tapi Resa selalu saja menjadi yang mendominasi hal yang terjadi berikut nya.
__ADS_1
Resa semakin menguatkan tangan nya yang berada di tengkuk Raisa, sehingga walaupun Raisa mendorong dada Resa, tak ada perubahan yang terjadi. Resa semakin menjadi kian membrutal, dan entah apapun rasa nya, mereka berdua menikmati hal itu.
Tapi kembali lagi. Apakah tadi mereka sungguh sedang membahas masalah penting di dalam mobil ? Kenapa berujung seperti ini ? Dahlah, jangan terlalu di pikirkan ๐๐ฆ