Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 73.


__ADS_3

"Tapi... " Dokter Doni menggantung perkataan nya, tampak dia sedikit ragu menyampaikan kabar lain.


..."TAPI ?? " Tanya Risa, Surya, Selvi, Resa, dan tiga gadis lain nya....


"Seperti nya karena sel kanker yang ada di otak nya, membuat Nak Raisa kesulitan berjuang agar tetap sadar. Sehingga, untuk waktu yang tak bisa di perkirakan... Nak Raisa akan mengalami Koma atau tidur yang panjang.. "


...❀...


...❀...


...❀...



...❀...


...❀...


...❀...


"Tidur... Yang Panjang ?? Apa maksud Anda Dokter Doni ?? " Tanya Silvia dengan mata yang tak berkedip sama sekali.


"........ " Dokter Doni hanya diam dan memandang setiap wajah yang lagi lagi putus asa di hadapan nya. Dokter Doni tao menjawab apapun, karena dia tau semua orang yang ada di sana mengerti apa yang dia katakan tadi.


Surya, Resa, Risa, Selvi, Silvia, Erna, dan Dika untuk ke sekian kali nya merasakan bleng lagi. Harus berpikir seperti apa lagi ? Apakah harus memandang sisi positif nya bahwa Raisa setidak nya tidak mati ? Lalu jika sudah di pandang dari sisi positif, selanjutnya apa ? Seperti jalan buntu, tak ada sambungan nya sama sekali.


Wajah wajah yang tadi bersyukur dan merasa lega saat tau jantung Raisa kembali berdetak, kini tampak suram kembali.


"Apakah.. Apakah tak bisa mengetahui kapan Raisa akan sadar Dok ? " Tanya Resa dengan sangat berharap, Dia seakan akan percaya besok Raisa akan sadar jika Dokter Doni mengatakan kebohongan seperti itu sekalipun.


"Nak Resa... Seperti yang saya katakan di awal, untuk waktu yang tak bisa di perkirakan... Nak Raisa akan mengalami Koma atau tidur dalam jangka waktu yang panjang.. " Jawab Dokter Doni dengan menekan beberapa bagian yang menurut nya penting.

__ADS_1


"Uugghhh... " Resa menggigit ujung bibir nya, pundak nya gemetaran. Resa langsung terduduk dan menenggelamkan wajah nya di antara kaki yang dia tekuk.


Suasana kembali mencekam ! Hening, seperti tak berpenghuni sama sekali. Dan di tengah keheningan itu, Dokter Doni angkat bicara.


"Ini.. Ini hanya spekulasi saya saja ! Tak ada jaminan bahwa ini dapat berguna atau tidak, tapi seperti nya ada cara menyelamatkan Nak Raisa.. "


"Tidak... Berhenti berkata kata... Jangan membuat Aku berharap lagi.. Jangan katakan apapun, Aku akan bertambah semangat jika mendengar sebuah omong kosong yang presentase keberhasilan nya sekecil apapun. " Batin Resa.


"... Seperti yang kita semua tau, Ginjal Nak Raisa sudah berfungsi sebagai mana mesti nya ! Jadi persoalan kita saat ini tinggal satu. Yaitu sel Kanker otak nya ! " Lanjut Dokter Doni.


"KU BILANG BERHENTI !!! JANGAN MENGATAKAN APAPUN ! ITU AKAN SEMAKIN MEMBUAT KU BERHARAP ! KUMOHON.. CUKUP SAMPAI DI SINI, JANGAN LANJUTKAN LAGI... " Pinta Resa dengan suara batin yang semakin menyedihkan.


Resa masih membenamkan wajah nya, dia tak mau memperlihatkan wajah menyedihkan nya pada seluruh keluarga dan kenalan yang berada di koridor.


"... Jadi, jika kita dapat mengumpulkan beberapa dokter dengan gelar genius, membayar mereka untuk meneliti Sel Kanker, Saya yakin walaupun hanya 40% tapi setidaknya kita memiliki secercah harapan untuk kesembuhan Nak Raisa. Jadi, bagaimana ? Apakah ada respon positif dari- "


"MAAF SAYA MENYELA DOKTER DONI ! TAPI SAYA RASA, BERI KAMI SEMUA WAKTU UNTUK MENJERNIHKAN PIKIRAN. PALING LAMA BEBERAPA JAM SAJA, KARENA KAMI SEMUA SUDAH SAMPAI DI TAHAP TAK BISA BERPIKIR LAGI. " Resa langsung menyela perkataan Dokter Doni, dan menampakkan wajah nya yang sembab, dan warna netra mata yang biasa nya putih bersih, kini menjadi memerah.


Setelah berkata seperti itu, Dokter Doni langsung berjalan menuju ruang kerja nya. Kepergian Dokter Doni membuat keheningan kembai bersemayam di koridor tempat Resa dan yang lain nya berkumpul.


"Resa.. " Panggil Selvi, dia tau betul bagaimana perasaan Resa saat ini. Walau sering tampil kuat, Resa itu berhati lembut. Apalagi jika berhubungan dengan Raisa, sungguh tak bisa du gambarkan lagi.


"Ma.. Resa mau pergi sebentar. Jangan khawatir, Resa baik baik aja kok ! " Jawab Resa sambil menampakkan senyum di wajah sembab nya. Semua nya langsung menyerngitkan dahi mereka, mereka semua dapat merasa apa yang Resa rasakan, atau bahkan tidak sama sekali.


Resa langsung berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan beberapa langkah. Lalu langkah nya terhenti karena seseorang memanggil nama nya. "Kak Res...You don't alone ! Trust me ! " Ujar Silvia sambil menatap netra milik kaka nya dengan penuh keyakinan dan dukungan.


"Emm... I know ... " Dengan senyum yang terukir sempurna di wajah nya yang suram, Resa menampakkan bahwa dia sama kuat dengan Raisa. Bahkan dia akan lebih kuat untuk situasi saat ini.. Tapi Resa juga manusia, dia membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiran seorang diri.


* * *


...[ Di dalam mobil ]...

__ADS_1


Resa tak mau pergi ke jalanan yang sepi, atau ke jurang yang tinggi. Karena dia tak mau jauh jauh dari posisi dimana Raisa berada. Di garasi rumah sakit ? Tak masalah, asalkan tak ada yang mengganggu nya.


Resa tak berteriak, tak menangis, atau bahkan protes. Resa hanya meletakkan wajah nya di tempat mengemudi. Tatapan mata nya seakan redup, wajah nya tak berekspresi. Benar benar keheningan seorang diri.


...*Drrrtttt... Drrrrttt* Ponsel Resa berbunyi. Sungguh bukan di timing yang tepat....


Ingin rasa nya Resa tak mengangkat HP nya yang berdering, tapi karena saat ini kondisi Raisa tidak stabil, takut nya setiap panggilan sangat penting saat ini.


"Halo.. " Sapa Resa tanpa melihat nama pemanggil dengan suara datar.


"Aku Noa.. " Dari seberang sana, Noa seperti tau bahwa saat ini pasti suasana hati Resa sedang tidak baik. Karena sapaan dari Resa merupakan sapaan saat lagi bad mood.


"Ada apa ? Katakan inti nya saja ! " Saat mengetahui yang menelfon nya adalah Noa, semakin membuat Resa tidak mood untuk berbicara.


"Pasti keadaan Raisa menurun kan ? Bisakah kamu jelaskan bagaimana keadaan nya saat ini ? Aku sedang meneliti tentang seluk beluk sel kanker otak Res, akan lebih baik kalau mendapatkan info penting dari si penderita. "


"Baiklah.. Dengarkan baik baik, aku tak mau mengulang penjelasan yang sama "


Setelah itu Resa menjelaskan kondisi Raisa mulai dari semenjak menjalankan operasi pendonoran ginjal, dan hingga detik ini. Noa yang ada di negara lain di seberang sana merasa sock dan mulai tak tenang.


"Huuhh... Aku tak tau kalau situasi di sana semakin memburuk. Res, percayakan masalah kanker otak pada ku ! Aku janji, tidak akan memakan waktu setahun. "


"Aku... Percayakan hal ini pada mu Noa, Aku mohon... Tolong buat Raisa bisa bangun lagi ! "


"Saat kamu butuh saja baru nada mu memelas. Hal lain aja dulu, di skip gitu aja .. "


"Sok tau kamu ! "


"Udah udah.. Aku tutup - "


...*Tuuuttttt*...

__ADS_1


Sebelum Noa belum menyelesaikan perkataan nya, Resa langsung mematikan sambungan telepon nya. Walaupun sedang bad mood, sikap Resa yang menjengkelkan tetap berjalan seperti biasa nya.


__ADS_2