Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 31.


__ADS_3

Lisa berlari sekuat tenaga lagi, karena tak mau membuat raisa menunggu. .


.... ...


.... ...


.... ...


"Brakkkk... " Pintu yang di buka dengan kencang.


"Lisa kamu kenapa ? Kan bisa pelan pelan buka nya, " Kata raisa sambil tersenyum dengan bibir nya yang masih tampak pucat.


"Haah... Hah... Hah... " Nafas lisa tak karuan.


Raisa pun langsung berlari ke hadapan raisa, dan memeluk raisa kuat kuat. Karena tubuh lisa lebih kecil dari raisa, sehingga raisa dapat memeluk lisa dalam dekapan nya.


Lisa yang di peluk balik oleh raisa pun, tak bisa menahan tangis lagi. Akhirnya, tangis lisa pun pecah begitu saja. Raisa tau, Raisa peka akan situasi, lisa bukan menangis karena sudah lama tidak berjumpa dengan nya, tapi pasti karena hasil diagnosis nya.


"Huwaaaaa... Hikss... Raisa... Waaaaa.... aaaaa... Raisa.... ARrgghhhhhh... " Tangis lisa terus turun, dan dalam kondisi ini raisa tak menyuruh nya untuk berhenti menangis... Karena percuma, lisa masih dalam mode meluapkan kekesalan dan kesedihan nya.


๐Ÿคง๐Ÿคง๐Ÿคง๐Ÿคง


Beberapa menit kemudian, lisa sudah berhenti dari tangisan nya. Karena raisa membujuknya dengan segala cara.


"Ini, aku punya yang rasa mint. Kebetulan, ini rasa favoritmu kan ?! " kata raisa sambil memberikan permen pada lisa.


Lisa menerima permen itu, dan langsung di masukan ke dalam saku nya. Karena dalam situasi seperti ini, lisa tak ada selera untuk makan permen.

__ADS_1


"Karena kamu udah tenang, sekarang kamu bisa kasih tau aku hasil diagnosis nya kan ? Aku udah penasaran dari tadi loh, " kata raisa berusaha agar dapat mencair kan situasi.


"...... " Lisa masih diam, dan mulai memandangi kertas diagnosis yang ada di tangan nya.


"Gak papa lisa, kasih tau aja. " Bujuk raisa.


"Iyah Raisa... Kamu... Kamu... Hiks... Kamu positif mengidap... Hiks... Penyakit kanker otak Raisa... Hiks... Dan kamu sudah memasuki stadium empat... Hiks... Dimana... Dimana sel kanker tumbuh dengan cepat dan sudah menyebar ke jaringan lain. Hiks... Hikss. Itulah hasil pemeriksaan nya raisa... Hiks... Maaf... Huwaaaaaaaaa.. " karena tak sanggup, tangis lisa pecah lagi. Air mata nya yang terus jatuh, mulai membasahi kertas diagnosis di tangan nya.


Lisa yang memegang kertas hasil diagnosis pun dengan tangan yang bergetar hebat. Lisa menangis sejadi jadi nya lagi.


Sedangkan Raisa ? Raisa hanya termangu, diam tanpa ekspresi, dan mematung seketika.


"Kenapa ? Lagi lagi kenapa harus aku ? belum cukupkah semua penderitaan yang aku dapat ? Apakah harus di tambah dengan satu penyakit lagi ? Hanya bertahan hidup dengan satu ginjal saja belum cukup kah ? Aku sudah bertahan selama bertahun tahun, mengumpulkan uang dari hasil lukisan, untuk memberikan suntikan dana pada perusahaan Ayah, saat aku ingin bercerai dengan Andre sedikit lagi. Aku yang bertahan sekuat tenaga agar dapat hidup dengan Resa, tapi... Tapi apa ini ? KANKER ? Di tambah stadium empat ? Jangan bercanda... JANGAN BERCANDA...... "


Teriak batin raisa penuh kekesalan, lalu sebutir air mata pun jatuh menghantam pipi indah nya yang berada tepat di bawah mata nya. Ke dua pipi raisa langsung basah, karena dibanjiri dengan air mata yang turun nya sangat deras.


"Mengapa harus Raisa ? Kenapa harus raisa yang memikul semua penderitaan ini ? Kenapa ?? Padahal untuk bertahan hidup saja sudah di penuhi dengan intrik dan semacamnya. Padahal Raisa baru mulai terlihat bahagia dengan resa belakangan ini... Tapi kebahagiaan nya di ambil begitu saja , dengan memberikan satu penyakit ini ? Padahal masih ada aku dan banyak orang lain nya, tetapi kenapa semua penderitaan itu seakan hanya mengarah, dan bermuara pada raisa seorang ? Apakah ini yang nama nya kehidupan ? Apakah masih ada ketidakadilan yang harus raisa rasakan lagi ? " Batin lisa.


Saat lisa mulai mengusap punggung raisa, tangis ke dua wanita di ruangan itu sungguh tak bisa di tahan lagi. Akhirnya, ruangan yang tadi nya sepi... Di penuhi dengan suara tangisan.


...๐Ÿ’...


...๐Ÿ’...


...๐Ÿ’...


...๐Ÿ’...

__ADS_1


Setelah melewati beberapa menit dengan tangisan, lisa kembali duduk di kursi nya, dan raisa kembali pada raut wajah nya yang tampak baik baik saja. Dalam hal ini, raisa sangat jago menyembunyikan perasaan nya.


"Aku rasa sudah cukup menangis nya, sekarang lanjut lah menyampaikan laporan yang belum sempat kamu katakan. Agar alu dapat mengetahui semua nya, " kata raisa dengan suara lemah dan serak.


"Karena kanker yang kamu derita sudah menginjak stadium empat, tak ada lagi usaha yang bisa di lakukan. Sekalipun ada, itupun kalau kondisi ginjal mu lengkap. Tapi kamu tau sendiri kan, kemana perginya satu ginjal mu. " Kata lisa.


"...... " Raisa hanya diam dan mendengar saja, karena raisa seakan sudah mencapai titik untuk pasrah.


"Sebenarnya kamu masih dapat bertahan kurang lebih enam atau tujuh bulan, tetapi... lagi lagi karena ginjal, dan karena kamu melakukan banyak sekali pekerjaan yang sangat berat belakangan ini, waktu kamu hanya kurang dari dua bulan dari sekarang. Itupun kalau kamu berhenti melakukan pekerjaan berat di rumah andre si manusia brengs*k dan sampah masyarakat itu mulai dari saat ini. Dan menjalani hari hari dengan perasaan gembira tanpa tekanan sedikit pun. Itulah hasil diagnosis nya Raisa... " Kata lisa sambil menyeka beberapa butiran air mata. Karena lisa tak mau menangis, dan membuat raisa merasa bersalah karena membuat nya khawatir.


"Cu... Cuma dua bulan ? " tanya raisa.


"Yaah, begitulah hasil diagnosis nya. Dan itu adalah hasil yang di dapat, dari hasil perundingan enam dokter yang sangat di percaya di rumah sakit ini, termasuk aku di dalam nya. " Jawab lisa dengan tatapan bersalah.


"Tak apa lis, aku tidak menyalahkan mu. Jangan memasang raut wajah seperti itu, oke ? " bujuk raisa sambil mengelus punggung tangan lisa.


"Oia raisa, kalo boleh tau.. Keluhan apa saja yang kamu rasakan belakangan ini ? Kalo kamu udah rasa dari kemarin kemarin, kenapa gak langsung periksa ke rumah sakit ? "


"Aki juga tak tau lis, tak ada apapun yang aku rasakan belakangan ini. Hanya tadi pagi, saat aku bangun dengan kepala pusing seperti gempa, hidung yang berdarah, area sekitaran ginjal yang berdenyut kesakitan, dan pingsan sekitar 10/20 menitan. Hanya itu, aku sungguh tak merasakan apapun belakang ini lis. " Jelas raisa.


"Ini memang bagian dari kanker jenis jaring yang berada di otak mu raisa, keunikan kanker ini berhasil membuat ratusan jiwa meninggal, dan seribu lain nya selamat. "


"Selamat ? Apakah aku masih dapat selamat ? "


"Tidak raisa, kanker ini hanya bisa di matikan saat kita melakukan tindakan pencegahan saat kanker nya masih berada di stadium satu atau dua. " Jawab lisa patah semangat.


"Ahhh, maaf membebani mu lagi. Aku yang terlalu berharap. Hahaha, "

__ADS_1


"Jangan tertawa raisa, aku paling tau suasana hati mu saat ini. Jadi, jangan memaksakan untuk tertawa. Itu menyiksaku, kau tau ? Lebih baik kamu menangis saat ini, karena itu lebih baik untuk melepas semua rasa yang terganjal di hati mu selama ini. " Kata lisa yang saat ini menatap raisa dalam dalam.


__ADS_2