
Monolog Noa pada diri nya sendiri, karena kalau boleh jujur.. Noa hampir di buat gila dengan situasi antara sikap Silvia yang berbeda pada Keluarga nya dan pada Diri nya.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
Setelah bertemu dan berpelukan di bandara, Resa dan semua nya pergi makan siang bersama lalu semua nya kembali ada aktifitas mereka masing masing. Dan mereka juga tau, ada Resa yang harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama Raisa.
...[ Resa dan Raisa berada di Vila Resa yang ada di Indonesia ]...
"Sa... Besok kita ke Paris yaah.. " Ujar Resa yang kini tengah duduk di atas ranjang bersebelahan dengan Raisa yang sedang sibuk merapikan rambut nya.
Raisa yang sedang menyisir rambut pun langsung menghentikan pergerakan nya, dan menatap Resa dengan tatapan bingung.
"Paris ? Itu pun besok ? Yakin Res ? "
"Yakin banget Sa.. Kamu kira Aku lagi becanda gitu ? "
"Enggak.. Maksud Aku, dari seminggu yang lalu si kembar Andro Andra desak Aku terus loh. Kata nya kalau Aku gak segera sembuh, Mereka berdua akan mengadakan rapat besar besaran, dan ingin memindahkan kendali pusat dari Belanda saja. Karena mereka sangat kesulitan dan di buat pusing karena sudah hampir enam bulan lebih Kamu gak masuk dan bekerja di kantor Mu sama sekali. Mereka berdua sampai lupa, bahwa yang CEO di sini adalah Kamu, bukan mereka berdua ! " Jelas Raisa sambil meletakkan sisirnya di atas meja samping ranjang nya.
"Beneran mereka desak Kamu kaya gitu ? Masa sih ? Wah, apa Aku sudah harus mencari asisten yang baru dan lebih kompeten ? " Kata Resa dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Ih jangan pecat mereka dong ! Mereka itu udah berjasa banget sama Kamu loh Res, gak baik kalau buang mereka gitu aja.. "
"Hahaha.. Aku hanya becanda Sa.. "
"Mana ada yang percaya kalau Kamu bilang itu hanya becanda, sedangkan Kamu ucapin kata kata itu dengan wajah serius. " Sambil menyipitkan mata nya, Raisa mengomentari perkataan Resa yang tidak sesuai dengan ekspresi itu.
"Adalah.. Bukti nya Kamu percaya kan ? "
"Idih... Siapa yang percaya coba ? Udah deh, jan berisik. Aku mau tidur, kalau mau ikut tidur silahkan. Aku gak bakal larang, tapi Kamu gak boleh lakuin hal yang aneh aneh yah Res ! " Ujar Raisa yang akhir nya sudah merebahkan badan nya di atas kasur.
Tampak betul Raisa sangat kelelahan hari ini. Di mulai dari bangun pagi untuk make up, duduk di dalam pesawat selama satu jam, lalu di terus kan dengan kumpul bersama keluarga dan makan siang bersama.
Mungkin karena baru pulih dari sakit sehingga Raisa cepat sekali merasa lelah. Padahal dulu saat bekerja sebagai pembantu di rumah Andre saja, Raisa belum merasa lelah jika baru melakukan kegiatan nya hari hari.
"Aku boleh tidur di sebelah Mu Sa ? " Tanya Resa meminta persetujuan.
"Eeemm... " Jawab Raisa yang sudah menutup mata, Dia benar benar hanya butuh istirahat saat ini.
Tanpa berbicara lagi, Resa ikut memejamkan mata dengan senyum yang terpasang sempurna di wajah nya. Senyum nya seolah oleh tak mau luntur begitu saja, karena tidur bersama Raisa walaupun TIDAK MELAKUKAN SESUATU tetap terasa kebahagiaan nya.
Mereka berdua pun benar benar masuk ke dalam alam mimpi masing masing, dengan melodi lembut yang di putar dari handphone Resa.
* * *
Keesokan hari nya, pukul lima pagi...
Noa sudah tiba di Indonesia, dan baru saja keluar dari bandara menggunakan taxi. Rencana nya, Noa akan meminjam mobil Resa selama tinggal di Indonesia. Karena Dia merasa tak perlu membeli mobil baru, jika berteman dengan seorang pengusaha sukses seperti Resa ini. Apalagi jika di lihat dari sisi baik, Resa memang harus membayar Noa dalam jumlah besar. Karena penyembuhan sel kanker adalah hal yang cukup sulit dilakukan.
Tanpa menunggu lama lagi, Noa langsung menuju ke Rumah Sakit Moonlight sesuai yang Nando katakan kemarin.
* * *
__ADS_1
...*Drrrrttt.... Drrrttt.... * Ponsel Nando yang bergetar. ...
"Halo Noa. Ada apa ? " Tanya Nando.
"Aku sudah ada di depan rumah sakit moonlight. Apakah Kamu tidak ingin menjemput Ku ? Paling tidak beri tahu ruangan Anak Mu di rawat, agar Aku tidak perlu bertanya pada bagian resepsionis. " Ujar Noa, karena akan sangat melelahkan jika bertanya. Sudah memakan waktu, dan lagi pasti akan semakin ribet jika yang bertugas di meja resepsionis adalah seorang wanita.
Mengingat wajah Noa merupakan suatu mahakarya tersendiri, membuat Noa merasa tak mau mendapatkan tatapan yang sama seperti di Belanda. Padahal Noa ingin sekali memiliki banyak kenalan, tapi karena dia tampak sangat good looking membuat diri nya ragu apakah orang yang berteman dengan diri nya ini tulus atau semata mata karena rupa yang dimiliki oleh diri nya.
"Ah Kamu sudah sampai yaah ! Tunggu sebentar, Aku akan turun dan menjemput Mu . "
Nando pun langsung mematikan sambungan telepon, dan langsung berlari menuju pintu rumah sakit. Berhubung mereka ada di lantai empat, membuat diri nya tidak sepenuh nya berlari dari tangga darurat, melain kan menaiki lift.
* * *
Nando sudah sampai di pintu masuk Rumah Sakit. Dari kejauhan, postur tubuh Noa yang tampak sangat ideal membuat Nando sangat yakin bahwa yang sedang berdiri di depan pintu kaca dengan memakai masker berwarna hitam itu adalah Noa.
"Hai Noa, apakah Kamu menunggu cukup lama ? " Tanya Nando sambil melangkah setelah pintu secara otomatis itu terbuka.
Noa yang merasa tak asing dengan suara Nando pun langsung berbalik dan menatap wajah Nando yang tampak sangat kelelahan. Di buktikan dengan tebal nya kantung mata berwarna hitam di area mata.
"Astaga... Lihat lah prince kampus kita ini.. Wajah nya tampak sangat berantakan, apakah Kamu sungguh Nando yang ku kenal ? "
"Berhentilah mengecek Noa. Haih, jika tak ada Resa Kamu itu bagaikan pengganti nya saja sih. Mending sekarang Kamu masuk dan lihat keadaan Anak Ku, Aku takut kesehatan nya semakin menurun jika tidak segera di obati.. " Ujar Nando yang tampak sangat khawatir.
"Tunggu dulu.. Aku tak bisa langsung mengobati anak Mu semau Ku saja ! Pertama tama, mari kita bahas mengenai beberapa hal sambil minum sesuatu. Aku butuh tendangan kafein, dan Aku rasa Kamu lebih membutuh kan Nya ! " Kata Noa.
"Baiklah, Kalau begitu Kita bicara di Cafe yang ada di seberang jalan saja. Cafe itu buka selama 24 jam jadi tak masalah. Ayo.. " Ajak Nando yang sudah berjalan duluan.
"Tunggu, jika Kamu jalan begitu saja bagaimana dengan Lusi ? Apakah Kamu tega membiarkan Dia seorang diri ? "
__ADS_1
" Hem ? Tak apa ! Di atas Lusi sudah di temani oleh sahabat nya. Dan sahabat nya ini sudah menemani Lusi sejak Anak Ku masuk rumah sakit, tak pernah sekali pun Dia pergi jauh dari sisi Lusi . Dan lagi, Anak Ku juga sangat akrap dengan diri nya. "