
"Maaf karena hanya ini yang bisa saya kasih Nek ! " Sambil menunduk dan berusaha menyembunyikan wajah nya yang sembab.
"Tak apa Nak.. Inti nya itu Niat kamu ! " Jawab si Nenek sambil mengusap kepala Silvia yang menunduk itu.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
Ada kehangatan yang tersalurkan saat Si Nenek mengusap kepala Silvia, dan itu membuat Silvia merasa nyaman dan merasa ingin sekali menangis dalam pelukan si Nenek itu. Tapi karena Silvia tak mau si Nenek merasa terbebani atau sebagai nya, Silvia langsung membalik badan nya dan berniat menangis sambil berlari saja.
Namun saat Silvia baru saja mengambil satu langkah, pergerakan nya terhenti karena perkataan Nenek yang terdengar jelas di pendengaran nya.
"Menangis boleh sayang.. Sangat manusiawi bahkan. Tak ada larangan nya ! "
Silvia masih berdiri layak nya patung dengan posisi yang masih membelakangi Si Nenek.
"Kalau ada masalah di hadapi dan di selesaikan.. Bukan lari dari masalah dan kenyataan. Hidup itu di jalani, bukan di hindari... " Nasehat Sang Nenek.
".... Makasih Nek... " Ucap Silvia dan lanjut berlari. Tampak jelas bahwa perkataan Si Nenek berhasil membuat Silvia tersadar akan perbuatan nya yang selalu berlari sekuat tenaga dari masalah nya.
Silvia yang sudah berada di pinggir jalan dengan nafas yang ngos ngosan langsung mengambil ponsel nya dan menyuruh supir yang ada di Belanda menjemput nya. Selang 10 menit, mobil jemputan Silvia telah datang dan Silvia pun dapat masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Silvia berusaha mengatur nafas nya, dia mengambil tisu basa dalam tas dan menyeka wajah nya. Silvia mulai menata ulang wajah nya yang sempat berantakan !
__ADS_1
Di poles kembali bibir nya yang kehilangan warna karena meminum bir, dan memakai bedak untuk menutupi kelopak mata yang tampak sangat memerah.
"Apa Anda baik baik saja Nona ? " Tanya sang Supir.
"Silvia baik baik aja kok. Silvia nangis karena udah kangen banget sama Kak Raisa, jangan kasih tau yang lain yaah ! Silvia gak mau di kata cengeng.. " Mohon Silvia dengan mata nya yang berbinar binar.
"Hahaha... Baik Nona ! Tak akan saya beritahu ke siapa siapa. Agar mereka tak ada yang meledek Nona lagi.. "
"Makasih... " Jawab Silvia dengan senyum lebar.
Silvia cukup akrap dengan si supir yang sudah berumur kepala empat ? Yaah, karena Silvia yang tak biasa dan tak mau bersosialisasi dengan orang baru, setiap pergi keluar kota atau luar negeri, pasti supir, pelayan, dan orang orang yang sama yang akan melayani nya. Tak ada riwayat pemecatan atau penerimaan pekerja baru ! Itu bagaikan keajaiban dunia jika terjadi. Risa dan Selvi tidak mempersalahkan hal itu, karena mereka tak akan bertanya banyak dan akan mengikuti kemauan anak anak mereka.
Dan saat si supir kembali fokus pada jalan, Silvia menyandarkan kepala nya di kaca mobil, sambil menatap ke luar dengan tatapan yang kosong dan entah sedang memikirkan apa.
* * *
...[ Di pantai ]...
"Apakah Anda pengunjung yang baru datang Nak ? " Tanya Sang Nenek yang membantu memungut botol bir satu persatu dan bungkusan makanan yang lain.
"Eh ? Bukan Nek.! Udah datang dari tadi, hanya ngebersihin sampah milik teman kok ! " Jawab Noa yang selalu ramah pada orang baru, apalagi orang yang sedang berbicara dengan dia lebih tua dalam hal umur.
"Teman ? Apakah seorang gadis cantik dengan baju kemeja biru ? "
"Loh ? Nenek tau dari mana ? "
"Tadi si Gadis kecil itu yang membayar Nenek untuk membersihkan sampah sampah nya ! Kata nya Dia tidak sempat karena suatu alasan. "
"....... " Noa terdiam. Karena dia tau yang di maksud si Nenek tidak lain dan tidak bukan adalah Silvia.
"Kekasih Mu ? " Tanya sang Nenek.
__ADS_1
"Ti.. Tidak Nek. "
"Lalu ada masalah apa antara kalian berdua ? Ah, maaf kan Nenek karena ikut campur ! Hanya saja, Nenek merasa kepo.. Maklum Nak, sudah tua. " Tanya si Nenek di iringi tawa nya. Sungguh tampak tentram saat mendengar tawa renyah dari Si Nenek, yang merasa bahagia karena hal kecil di umur nya yang sudah jauh dari kata muda.
"Gadis yang tadi adalah gadis yang baik Nek. Dulu, dia itu periang, imut, pokok nya hal hak yang mengelilingi nya itu seperti hal hal baik saja. Dan Aku merasa yakin akan hal itu, namun yang Aku lihat hari ini tampak sangat berbeda Nek. Dia menatapku seperti sedang menatap musuh ! Dia berbicara dengan sangat kasar dan penuh akan ketegasan pada ku. Tak ada lagi senyum sumringah saat berbicara dengan ku... Dia bilang... Dia yang dulu itu sudah mati dan tak akan pernah berlaku lagi bagi Ku. Itu semua karena salah ku kata nya. Tapi Aku sungguh tak tau apa salah ku pada nya Nek... "
Jelas Noa dengan sangat terperinci ! Entah apa yang merasuki nya, Noa merasa tak apa jika menceritakan hal ini pada Si Nenek. Karena Mereka tak saling mengenal, dan dengan kemungkinan tertinggi tidak akan bertemu lagi jika berpisah di tempat ini.
"Hem.... " Si Nenek terdiam sejenak, memaksa otak nya yang sudah tua untuk berpikir dan setidak nya menganalisa kejadian Noa ini.
"Apa yang berharga bagi gadis itu ? " Tanya Si Nenek akhir nya, setelah hanya diam beberapa menit.
"Maksud Nenek ? "
"Mungkin tanpa sadar Kamu telah mengambil barang atau benda atau sesuatu yang berharga bagi gadis itu Nak. Apakah tak ada gambaran sama sekali dalam benak Mu ? "
"Barang atau sesuatu yang berharga ? Aku rasa tidak ada Nek, karena setau Ku.. Aku tak pernah mengambil apapun dari nya. " Jawab No yang ikut menggali memori di dalam benak nya.
"Hahaha Anak muda.. Jangan langsung di jawab ! Mari pikirkan dengan saksama.! Karena tak akan ada asap jika tak ada api, pulang dan pikirkan perbuatan mu semenjak perubahan sikap gadis itu.. Nenek yakin kamu akan menemukan jawaban nya ! " Ucap sang Nenek yang kini sedang mengikat kresek sampah hitam sedang yang sudah penuh akan botol botol bir dan plastik sampah di sekitar tempat nya berada.
"Maksud Nenek ? "
"Pekerjaan Nenek sudah selesai, jadi Nenek pamit dulu ! Nenek tau, kalian anak jaman sekarang pasti pintar pintar kan ? Tak mungkin pengetahuan kalian berada di bawah kami ! Ingat, pikirkan baik baik... Dadaaahh... " Pesan sang Nenek yang mulai berjalan sambil menenteng kresek sampah yang sudah penuh.
Si Nenek meninggalkan Noa dengan senyum yang tak pernah luntur sedikit pun dari wajah nya. Walaupun si Nenek itu belum sampai ke tahap bongkok, sehingga masih kuat memikul barang barang berat dengan posisi tubuh yang tegak.
Lagi lagi Noa menyaksikan kepergian pundak seseorang dari pantai ini, untuk yang ke dua kali nya sambil berdiri di atas bebatuan dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana nya.
Ada rasa penasaran dari diri nya, yang di picu oleh perkataan Si Nenek. Ingin rasa nya Noa cepat cepat pulang dan berendam di bak mandi nya, dengan lilin aroma yang dapat menenangkan pikiran, agar memperlancar otak nya mengingat masa lalu yang sudah lewat bertahun tahun. Cukup lama memang, tapi Noa akan berusaha.
__ADS_1