Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 148.


__ADS_3

"Resa Tak tahu Papa kenapa, tetapi Resa akan selalu melindungi Silvia. Sudah cukup satu kali, Aku hanya menjadi pendengar saat masalah nya sudah terselesaikan. Kali ini, hal itu tak akan terulang lagi." Cetus Resa dengan tatapan serius nya, yang tidak mempedulikan cairan merah yang tengah mengalir saat ini.


...●...


...●...


...●...


"Sialan ! Apakah Kamu tak tau sifat wanita yang Kau panggil Adik itu ? Sadarlah Res ! Dia bukan lagi Adik Mu. Dia hanya wanita murah yang setara dengan wanita penghibur yang ada di luar sana."


Risa terus saja mengatakan umpatan umpatan kasar, dan ini merupakan kali pertama, bagi Resa dan yang lain nya, karena melihat sisi lain dari Risa. Tak ada lagi sosok Papa yang selalu berpikir dingin, tak ada lagi perkataan yang di dasari pada kewibawaan yang selama ini di saksikan oleh anak anak..


*Apa ini benar Risa Aditya yang mereka kenal selama ini ?*


Begitulah pemikiran yang terlintas di benak Resa dan yang lain nya, di tempo yang sama. Mereka masih mendengarkan perkataan Risa, dengan harapan mereka dapat mengetahui inti dari kesalahpahaman ini. Setidak nya, semoga saja ada titik terang nya. Walaupun unpatan nya terdengar terlalu kasar dan menyakit kan, tapi mau bagaikana lagi ? Karena Resa bersama yang lain nya tak bisa keluar dari rana ini, sekalipun di paksa oleh orang lain.


"Dasar manusia manusia gagal ! Kalau saja Lisa tidak mengatakan hal ini pada Ku, sampai tubuh Ku menjadi abu pun, Aku tak akan mengetahui kenyataan ini. Hah, benar benar mengecewakan." Cetus Risa sambil menyapu kasar permukaan rambut nya.


Mendengar nama *Lisa*, membuar Resa, Raisa, Noa, dan Silvia secara kompan membelalakkan mata mereka. Bukan orang lain, tapi Lisa. Silvia bahkan sampai menggelengkan kepala nya, karena tak menyangka bahwa feeling nya tidak salah tadi.


"Lisa ? Kamu ?" Ujar Resa yang benar benar enggan untuk menutup mata nya saat diri nya menatap netra Lisa.


"Lis ? Kenapa ?? Apa alasan nya ?" Ujar Raisa, yang seakan enggan menaikkan intonasi untuk Lisa. Beruhubung kenyataan bahwa Raisa dapat hidup hingga detik ini karena campur tangan Lisa, membuat Raisa di beratkan dengan segala pertimbangan yang ada.

__ADS_1


"Kamu ? Wanita baik baik yang Ku temui itu ? Kenapa seketika berubah ?" Ucap Noa tak menyangka, penilaian nya pada seseorang kali ini salah besar.


"Kak Lisa ? Dendam apa yang Dia punya ? Aku bahkan tak pernah membuat kesalahan saat bersama nya, lalu apa yang terjadi saat ini ? Apakah.. Dia menyukai Noa.?" Batin Silvia sambil menggit ujung bibir nya dengan kuat. Kenapa kejadian yang teramat rumit lagi lagi terjadi ? Apakah Dia di takdirkan untuk tidak boleh menerima masalah yang biasa biasa saja ?


Lisa menunduk dengan raut wajah seolah saat ini diri nya sedang di tindas. Dan benar saja, dari sudut pandang Risa, Dia menganggap bahwa Lisa saat ini tengah di tekan oleh Resa dan yang lain nya.


"Berhentilah memberikan tatapan seperti itu pada Lisa. Karena yang salah saat ini adalah kalian, yang dengan bangga nya malah membela wanita yang salah. Haah, Oh Dewa.. Apa salah Ku sampai mengirimkan anak seperti ini ?"


DEG


Hentakan jantung Silvia seolah membuat nafas nya tercekat untuk beberapa saat. Entah apa yang Lisa katakan, tetapi perasana Silvia bagai di sabet oleh sebila belati. Apakah selama ini Dia sudah banyak mengecewakan ke dua orang tua nya ? Sehingga di provokasi begitu saja, Papa dan Mama nya langsung memberikan tatapan benci bahkan jijik. Apakah mereka pikir mental Silvia terlalu sekuat baja, sehingga mengatakan hal yang tak perlu di saring lagi ?


"Pa.. Kontrol bahasa nya. Emang apasih yang Lisa katakan, sehingga membuat Papa kaya gini ? Sejak dulu Resa selalu jadikan Papa sebagai panutan di segala hal, dan itu yang membentuk Resa sampai detik ini. Tapi melihat hari ini, Papa kaya lagi kerasukan tau gak ?!"


Apakah pilihan Resa kali ini salah ? Apakah pendapat Silvia tadi lebih masuk akal ? Di mana Silvia mengusulkan untuk mengundur masalah kali ini, dan memikirkan nya matang matang terlebih dahulu ?


Di saat Resa tengah tenggelam dalam pikiran nya, yang mengira dia salah mengambil jalan, di sisi lain Raisa tengah menatap Lisa dengan tatapan sendu nya


Pikiran Raisa terlalu campuran aduk, dan membuat diri nya enggan untuk berpikir positif. Bukan kah kelakuan Lisa kali ini sudah kelewatan ? Apapun alasan nya, tindakan Lisa kali ini sangat amat tidak bermoral sedikit pun.


"Lis.." Panggil Raisa yang tidak sanggup meneruskan perkataan nya. Lidah nya tiba tiba seakan menjadi berat.


"Maaf Sa.. Tapi kenyataan ini harus diketahui oleh Om Risa dan Tante Selvi. Kita nggak boleh nutupin masalah ini, mereka juga perlu tahu. Dan tindakan Aku kali ini, sudah aku pikirkan matang matang. Aku akan menerima apapun konsekuensi nya, asalkan Om Risa dan Tante Selvi mengetahui kejadian yang sebenar nya."

__ADS_1


Bukan nya menjelaskan hal yang dia perbuat, Lisa malah mengatakan kalimat ambigu, yang membuat diri nya nampak bijak hari ini. Sungguh kaget bukan kepalang, Raisa seakan tengah menghadapi Fitri yang sedang menjalankan akting nya.


"Lihat ?! Lisa lebih baik dari kalian semua, yang selama ini beranda di sisi Ku. Sungguh ironis dan tidak masuk akal, Aku malah mengetahui kebenaran ini dari orang lain. Cuih, Aku bahkan merasa bersalah, karena telah menilai tinggi kalian semua."


Binggo ! Perkataan Risa, perkataan Lisa, dan keadaan saat ini, bukan cuman membuat dada Silvia sesak. Ada orang lain juga yang lebih merasa sesak di dada nya. Yah, orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Raisa.


Capek capek Dia keluar dari lingkungan toxic itu, sekarang malah sahabat nya sendiri yang seakan tengah merekaulang adengan. Memang Raisa berpikir tak masalah jika Lisa mencari masalah dengan mengkambinghitamkan diri nya seperti Fitri dulu. Tapi, kenapa harus Silvia ? Apakah Lisa belum tau, cerita hidup yang telah di lalui oleh si kecil Silvia ?


"Munafik.. Cih.. Aku sungguh ingin menampar Mu Lis. Sungguh ! Kenapa Kamu sampai kelewatan seperti ini ?" Batin Raisa yang tengah berusaha memendam emosi nya saja. Karena diri nya bisa di salahkan, jika menampar Lisa di hadapan Risa.


"Sil.. udahlah.. Ngaku aja.. Masalah kali ini akan selesai kalau Kamu mau mengaku dan minta maaf kok. Om Risa itu Ayah Kamu, jadi Dia pasti maafin Kamu kok." Ujar Lisa lagi.


"Mengaku apa ? Akar masalah nya aja Aku gak tau ! Jan gila deh ! Emang Kamu ngomong apa sih sama Papa ? Udah Gila apa ?" Silvia pun ngegas. Jelas, siapa juga yang akan tahan jika sedang di permainkan seperti ini.


"Em.." Cicit Lisa nampak ketakutan mendapat bentakan dari Silvia.


Risa geram. Dia maju beberapa langkah dan berniat menampar Silvia.


Noa pun seketika langsung membawa badan Silvia ke dalam pelukan nya, sehingga pukulan dari Risa tidak mengenai Silvia sedikit pun.


"SUNGGUH KAU SANGAT MUNAFIK !" PLAAAKK*


Teriak Raisa dan di susul dengan mendaratkan telapak tangan nya di pipi Lisa. Benar benar hal yang tidak pernah Lisa bayangkan sebelum nya.

__ADS_1


__ADS_2