
Setelah selesai menyajikan makan malam untuk semuanya, Mereka berempat tentu nya langsung menyantap hidangan yang sudah di panaskan sebelum nya oleh Resa, Raisa, dan juga Noa.
Entah karena terlalu capek atau merasakan rasa cemas yang sudah melanda mereka berempat sedari tadi siang, makan malam pun berlangsung dengan sangat tenang dan tanpa keributan dan kehebohan seperti biasa nya.
Entah itu Surya sendiri, Resa, Raisa, Noa dan juga Silvia. Mereka berempat makan di meja itu, benar benar hanya untuk mengahargai satu sama lain saja. Masing masing dari mereka tenggelam begitu saja ke dalam lamunan mereka, dengan tangan yang tidak berhenti bergerak saat memasukkan nasi dan teman temsn nya.
Mungkin situasi ini di bilang aneh, karena memang demikian. Tetapi hal itu wajar, lantaran saat ini mereka yang baru saja
menginginkan kebahagiaan malah harus di landa masalah yang tak kalah besar dari
sebelum nya.
Entah besok matahari terbit dari mana, tetapi besok Resa dan lain nya harus siap mengeluarkan seluruh kemampusn mereka untuk menyelesaikan masalah kali ini.
***
Keesokan pagi nya, pada pukul empat dini hari...
Surya sudah bangun dari tidur nya. Kebiasaan hidup nya untuk bangun pada dini hari agar dapat menyelesaikan pekerjaan rumah, membuat raga nya menjadi terbiasa, sehingga secapek apapun Surya, Dia tetap akan bangun.
“Air...” Monolog Surya, dan langsung menuju ke dapur.
Usai menuangkan air ke dalam gelas, dan meminum nya sampai habis, Surya beranjak kembali ke lantai dua. Karena seingat nya, semalam lampu teras yang ada di lantai dua sudah Dia matikan. Namun saat Dia menengok, lampu nya masih menyala.
Yang berarti ada seseorang yang menyalakan lampu itu bukan ?
Surya pun berjalan sepelan mungkin, takut akan membangunkan anak anak yang masih tidur di rumah nya hari ini.
Saat Surya semakin mendekat, Akhir nya Surya pun tau siapa yang berdiri di teras lantai dua, dengan pagar besi sebagai tempat untuk meletakkan kedua tangan nya.
Merasa ada orang yang mendekat, membuat orang yang berdiri membelakangi Surya seketika langsung memalingkan pandangan nya ke arah
Surya.
“Eh, Om Surya... Udah bangun yah ?” Sapa nya seakrap mungkin, lantaran tak mau memulai pertemuan yang cukup canggung.
Saat mendapaat sapaan, Surya hanya tersenyum kecil dengan mata yang menampakkan bahwa diri nya cukup kanget dengan yang Dia lihat.
__ADS_1
Namun secepat kilat, Surya menstabilkan ekspresi nya, dan mulai membuka percakapan.
“Kamu belum tidur sama sekali kan Sil ?” Tanya Surya to the point, sambil melihat pemndangan rumah rumah warga dari lantai dua, yang entah kenapa vibes nya membawakan ketenangan di jam empat dini hari ini.
“Emmm.. Sekuat apapun Silvia mencoba, Silvia tetap tak bisa memejamkan mata untuk beristirahat. Apa seharusnya Silvia membeli obat tidur ?”
Silvia tak mau bersandiwara sebagai anak yang polos di hadapan Surya lagi. Apalagi Surya sudah tau semuanya, sehingga jika Silvia lanjut memeranlkan peran anak polos, itu akan nampak sangat memalukan dan munafik bukan ?
“Apakah Kamu kira Resa dan yang lain nya akan mengijinkan Mu ? Apalagi dengan pernyataan Dokter yang menyuruh Mu untuk berhenti meminum obat tidur, karena Kamu sudah masuk ke dalam fase yang dapat membahayakan kesehatan, jadi Kamu kira Kamu dapat membeli obat tidur lagi ?”
“Begitu yaah...”
Silvia hanya menjawab singkat sambil tersenyum. Hal itu membuat Surya sadar, bahwa Silvia tak mau ngobrol panjang lagi. Dengan kata lain, ynag Silvia butuhkan saat ini adalah skeheningan, atau paling tidak obat tidur.
“Kamu tak pernah menyangka bahwa jalan hidup Mu akan seperti ini bukan ? Ada rasa menyesal, dan banyak kata *Seandainya*, *Kalau saja*, *Seharusnya*, dan sejenisnya yang terlintas di benak Mu kan ?”
Surya membuka pembicaraan yang terbilang serius. Atau menurut Surya, Dia akan masuk ke dalam fase menasehati. Karena bukan Surya nama nya, jika diri nya mengikuti kemauan Silvia, yang menginnginkan kesendirian, saat benak nya sedang di penuhi denganbanyak hal.
“......” Silvia hanya diam dan menatap Surya dengan tatapan lelah nya.
Surya tau betul bhwa Silvia tengah menantikan perkataan Surya selanjut nya.
“Jika Kamu berpikir demikian, maka tak ada yang salah pada diri Mu. Hal itu menandakan bahwa Kamu adalah manusia yang normal, manusia yang sama dengan orang orang yang biasa Kamu temui Silvia.”
“Lalu ? Apakah hanya dengan menyanggap diri Ku sama seperti orang lain, maka masalah Ku akan selesai ?”
Tanya Silvia dengan mata yang entah memerah karena kecapean atau karena sedang menahan tangis, inti nya Dia membutuh kan jawaban yang setidak nya dapat membuat Diri nya sadar dengan dunia yang penuh dengan skenario nya tersendiri.
“Tentu saja tidak. Bukan kah jawaban nya sudah jelas ? Om hanya menyuruh Kamu mengangap bahwa Kamu itu sama dengan orang orang di luar sana, yang membutuhkan istirahat, makan, menangis, marah, bingung, dan sebagai nya. Bukan menyuruh Kamu menganggap Diri paling hina, dan merasa bahwa memang Diri Mu yang hina ini, pantas untuk mendapatkan masalah yang ada ujung pohon nya.”
“.....” Lagi, tak ada jawaban dari Silvia. Dan hal itu membuat Surya tak ada niatan untuk menoleh dan melakukan contact eye dengan Silvia.
“Kamu hanya perlu meyakini, bahwa saat ini Kamu itu tak sendirian. Ada banyak orang yang benar benar tulus dan rela mengorbankan apa saja demi Kamu. Jika memang masalah ini sudah Kamu yakini melebihi kemampuan Mu, bukan kah seharusnya Kamu membagi masalah Mu pada yang lain, agar masalah Mu terasa sesuai dengan kemampuan Mu ?”
“.....” Silvia tak menjawab apapun lagi. Namun satu hal yang pasti, Surya melihat sendiri bahwa Silvia seakan baru tersadarkan. Hal ini di buktikan dengan netra Silvia yang membola.
“Jika kedepan nya, Kamu menjumpai masalah yang lebih besar dari saat ini, cukup yakini satu hal. Bahwa Kamu memang sekuat itu, sehingga masalah yang datang seakan tak bisa Kamu hadapi. Apakah Kamu lupa beberapa kata motivasi yang sering beredar di internet ? Semakin tinggi dan besar suatu pohon, maka semakin kencang angin yang menerpa nya. Untuk saat ini dan kedepan nya, Kamu memang akan merasa diri bahwa Kamu itu lemah...”
__ADS_1
Surya melirik sekilas ke arah Silvia, lalu kembali melihat pemandangan di hadapan nya, yang mulai menyaksikan pergangtian warna pada langit.
“...Tapi apa benar Kamu lemah ? Kamu memang tidak seberuntung orang lain, tetapi bukankah orang lain belum tentu sekuat Kamu ? Ayolah Silvia, jika Kamu memang lemah, saat ini Kamu sudah menyandang gelar Almarhumah. Bukti nya tidak kan ? Kamu hanya perlu bercerita lebih banyak, meminta bantuan saat Kamu tak bisa menyelesaikan sebuah masalah yang sudah Kamu atasi sebisa mungkin. Cukup itu saja kan ? Auwww.. Disini banyak nyamuk. Karena sayang kesehatan, Om masuk dulu yah. Jika sudah merasa mendingan, masuk dan
beristirahatlah. Om akan membangunkan Mu saat makan siang. “
Setelah mengatakan kalimat yang cukup panjang lebar itu, Surya pun meninggalkan Silvia.
“... Dasar... Apakah Aku memang tidak lemah ? Jika iya, kenapa Aku menangis hanya karena beberapa kata dari Om Surya ? Ugghh... Lagi lagi Aku kalah kuat jika di hadapkan pada Om Surya dan Kak Raisa... Benar benar buah jatuh tak jauh dari pohon nya.”
Walaupun air mata Silvia gugur begitu saja, tapi terbesit sebuah senyum tulus di wajah nya.
“Sepererti nya Aku akan bermimpi indah kali ini.” Ucap nya sambil berjalan dengan tungkai kaki yang tampak amat lemas.
Saat tiba di kamat yang sudah di gunakan Silvia saat diri nya pingsan kemarin, Silvia benar benar langsung tepar begitu saja. Di
perkirakan, bahwa perkataan Surya ada benar nya. Bahwa Silvia akan sadar pada
siang hari. Karena semua anggota tubuh nya sudah menjerit kelelahan.
***
Pukul 04:30 dini hari...
Surya tengah mencuci piring di temani dengan anak nya. Satu satu nya anak kesayanga, yang selalu di perlakukan seperti tuan Putri.
“Siapa yang mengajarkan Mu untuk menguping Sa ?” Tanya Surya dengan tangan nya yang tengah menggosok piring dengan spons.
“Gak... Gak ada tuh... “ Jawab Raisa dengan tangan yang cekatan mengeringkan piring yang baru saja Dia cepur.
“Lalu, apa yang Kamu lakukan barusan hah ?!” Surya mulai mengerut kan dahi nya. Jika sudah di hadapkan dengan Raisa, mau berapapun usia nya, Raisa akan terus berhasil membuat Ayah nya pusing karena ulah nya yang tak terpikirkan itu.
“Kamu Nanyea ? Ayah bertanyea tanyea ?”
“....”
Ah, Surya benar benar tak bisa berkata kata lagi jika di hadapkan dengan Sang Putri. Orang lain, semakin dewasa akan semakin baik, tetapi seperti nya hal itu tidak berlaku pada Raisa yang notabene nya tak mau kalah dalam perdebatan mulut.
__ADS_1