
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
Resa termangu mendengar penjelasan dari Silvia adik nya, saking shock nya Resa tak tau harus berbuat apa. Reaksi apa yang harus Dia lakukan ? Apakah marah ? Menangis ? Kecewa ? Menyalahkan diri sendiri ? Mengumpat untuk Andre ? Entahlah... Semua nya bercampur aduk menjadi satu... Sehingga, yang dapat dia lakukan hanya,
..."AARRRRGGHHHHHH !!!!!!!!!! " Berteriak sekuat tenaga sambil mengacak rambut nya....
* * *
"AAARRRGGHHHHH..... " Teriak Resa yang langsung bangun dari tidur nya ! Wajah nya tampak pucat pasih, keringat bercucuran seperti di siram air sebaskom. Nafas Resa sungguh tak beraturan, tangan nya bahkan gemetaran..
Resa langsung masuk ke dalam kamar mandi, mandi sekilat mungkin, dan langsung mengambil kunci mobil. Saat Resa yang rambut nya belum di keringkan sepenuh nya tak menjadi halangan atau masalah, yang dia mau saat ini adalah melihat dan memastikan sendiri bahwa Raisa masih hidup sampai saat ini.
...*Klek* Pintu yang di buka....
"Aaahhhh ?!!!! "
^^^"Aaahhhhhh ?!!!!!"^^^
Resa dan Silvia kaget berjamaah. Mereka berdua refleks mundur selangkah ke belakang.
"Kamu kenapa ada depan pintu sih ? " Tanya Resa yang nafas nya masih nampak menderu tak terelakkan.
"Kaka kenapa berteriak tadi ? Ada yang mau bersetubuh dengan Kaka yaah ? Konti di sudut ruangan, atau nenek gayung yang ada di kolam lele ? " Tanpa rasa bersalah, Silvia bertanya sambil memakan roti selai kacang lapis empat ! Si ratu makan telah kembali !
__ADS_1
"Kaka gak ada waktu buat becanda Dek ! Nanti kaka cerita kalo ada waktu yaah, byyy.. "
Resa pun langsung pamit, namun sebelum itu dia mengecup kening Silvia secara sekilas. Silvia tak merasa ada yang aneh, dia masih berpikiran positif bahwa mungkin ada masalah pada urusan kantor Resa atau sebagai nya.
Resa yang sudah menaiki mobil mengisi daya ponsel nya dengan power bang milik nya. Saat sudah di pertengahan jalan, Resa menghidupkan ponsel nya dan melihat kotak panggilan masuk. Tak ada rentetan panggilan dari Noa atau siapa pun. Rasa panik yang meraja lela di benak Resa kini hilang setengah !
Namun karena mimpi itu yang terasa sangat nyata, membuat Resa beranggapan bahwa mungkin ini pertanda atau sesuatu. Tapi sebisa mungkin, Resa berharap bukan hal yang dia takutkan yang terjadi.
* * *
Sungguh dalam beberapa menit saja Resa sudah berada di garasi rumah sakit dan tanpa membawa seikat bunga mawar. Karena saking khawatir nya, Resa seakan tak mau menyia nyiakan walau sedetik pun.
Resa langsung berlari menyusuri lorong demi lorong dan menaiki lift untuk sampai di lantai enam ruang VVIP. Namun saat pintu lift baru akan tertutup, masuk seseorang. Lalu saat pintu lift mau tertutup lagi datang seorang lagi. Hal yang sama terjadi sebanyak enam kali. Resa sudah tak sabaran, dan memilih untuk keluar dari lift dan menggunakan tangga manual saja. Karena Resa sudah tak bisa menunggu lagi.
Nafas Resa sudah tak beraturan, keringat bercucuran ulang dari wajah dan seluruh pori pori yang ada di tubuh nya. Resa seperti sedang mandi ulang. Lalu setelah berlari cukup panjang dan entah kenapa perjalan menuju ruang VVIP milik Raisa terasa sangat panjang.
Resa mulai memelankan langkah kaki nya, mengamati di sekitar pintu ruangan Raisa. Tak ada siapa pun di sana, tak ada Lisa, Erna, atau Dika yang sedang menangis terisak di bangku panjang di koridor depan pintu ruang rawat Raisa.
Resa membuka pintu dengan sangat perlahan, berjalan mendekat ke arah ranjang Raisa. Di tatap nya wajah Raisa yang masih segar, tak tampak pucat seperti yang ada di dalam mimpi, masih ada selang infus di tangan nya, layar monitor masih setia menampakkan grafik naik turun sesuai detak jantung Raisa.
"Syukurlah Sa.. Kamu masih hidup... Aku benar benar akan bunuh diri jika kehilangan kamu Sa.. Jangan suka becanda di dalam mimpi dong, jantung Aku.... Haah... Sa.... Cepat sadar yaah ! " Sambil mengatur nafas dan rasa lega yang kembali di rasakan, Resa berusaha berbicara pada Raisa.. Siapa tau di dengar kan ?
...*Klek... * Pintu yang di buka....
"ASTAGA NAGA !!!! " Kaget Noa yang langsung memegang dada nya.
"Lo ngapain di sini Res ? Kesambet apa jam enam pagi udah ada di sini ? Biasa nya juga tidur nya makin molor kalau di Vila.. " Komentar Noa sambil berjalan mendekat ke arah Raisa.
"Raisa mati... " Jawab Resa kurang lengkap.
"APAAAA ??? " Noa pun shock mendengar perkataan dari Resa. Dia langsung mengecek detak jantung Raisa dengan alat yang selalu dia. gantung di leher nya. Masih kurang yakin, Noa mengecek denyut nadi di pergelangan tangan dan leher Raisa. Semua nya masih berdenyut.
".... Dalam mimpi Ku semalam... " Lanjut Resa pada perkataan nya yang belum di selesaikan tadi.
"JAAANNNCOOOOKKKK !!!!! " Umpat Noa sambil melempar alat pendengar detak jantung yang dia pakai tadi pada kepala Resa.
__ADS_1
"Sakit Bangs*t !!!! " Balas umpat Resa pada Noa sambil memegang kepala nya, dan mulai berdiri. Saat dia sudah berdiri, Resa langsung menendang alat yang di lempar pada kepala nya tadi ke sudut ruangan.
"Bodoh Amatttt 💢💢💢 !!! " Jawab Noa yang mulai mengganti infus Raisa yang tinggal beberapa tetes lagi akan habis.
"Aku akan ke Indonesia.. " Resa pun membuka percakapan baru, dan itu membuat pergerakan Noa terhenti.
"Serius Lo Res ? Mau ngapain emang ?? " Dengan kuping yang selalu stay untuk mendengar kan, Noa tetap fokus pada pekerjaan nya. Dia menyuntikkan cairan apa ke dalam tubuh Raisa. Hal itu sudah biasa Noa lakukan, sehingga Resa tidak bertanya lagi.
" Aku harus mengurus Sampah yang lupa aku urus lima bulan belakangan ini. " Jawab Resa sambil mengeratkan genggaman tangan nya.
"Apakah Raisa sudah memberi ijin ? Ingat, Raisa sangat mencintai manusia sampah itu loh ! " Nasehat Noa.
"Sangat mencintai Dia ? Aku rasa itu dulu, tidak dengan sekarang ! " Jawab Resa sambil menyunggingkan senyum di ujung bibir nya.
"Maksud nya ? "
"Entahlah... Apapun perkataan orang orang sekarang, Aku sudah sangat amat yakin bahwa Aku ada untuk Raisa, dan Raisa ada untuk Aku ! "
"Najiss Angsat ! " Olok Noa sambil menyipitkan ke dua mata nya.
"Biarin aja jomblo ! " Sambung Resa yang tak pernah mau ngalah.
"Serah Lo mau ngomong apa ! " Ujar Noa yang sudah jelas kalah debat dengan Resa.
"Dan lagi... Aku tak perlu Izin dari Raisa Noa.. " Jelas Resa dengan smirk antusiasnya.
"Karena ? "
"Karena Raisa sendiri yang membisikkan ide gila di kuping ku saat sebelum jantung nya berhenti berdetak untuk beberapa saat di Indonesia dulu. "
"Apakah kamu mau memberitahu ku apa yang Raisa bisikan ? "
"Tentu saja tidak ! Karena aku tak mau kamu bergidik ngeri, dan citra lemah lembut dan bak malaikat milik Raisa akan luntur di hadapan Mu "
"Cih pelitttt.... "
__ADS_1
"Aku adalah laki laki yang menjaga dan menepati janji loh Noa... " Cetus Resa dengan penuh kebanggaan dan percaya diri.