
Setelah menghabiskan makan malam bersama, resa mengantar raisa pulang.
...•...
...•...
...•...
...•...
...(Saat tiba di rumah) ...
"Makasih yaah res udah mau ngantar aku, makasih juga udah traktir nasi uduk tadi. Hati hati di jalan yaah. " Kata raisa sambil sibuk membuka sabuk pengaman.
"Oia sa, ada yang mau aku kasih tau ke kamu ! "
"Em ? Emangnya apa res ? Kaya penting banget. " Kata raisa yang saat ini fokus menatap resa.
"Kalo nanti kamu mau nyium bibir seseorang, apalagi mau nyium bibir aku, jangan nyium pas aku lagi tidur yaah. Soalnya gak baik untuk kesehatan jantung, apalagi jantung aku bakal berdetak kenceng banget, itu menyakitkan tau... Jadi lain kali jangan kaya gitu yaah, lakuin aja pas aku lagi sadar, biar bisa di respon. " Kata resa dengan smirk jahil nya.
"......... " Raisa hanya bisa diam dengan mata terbelalak, dan satu tangan yang menutup mulut nya. Wajah nya memerah dan detak jantung nya tak karuan.
Raisa tanpa berbicara sepatah kata pun, langsung keluar dari mobil dengan buru buru. Bahkan menutup pintu mobil resa dengan sangat kencang, tak tau lagi mau di taruh di mana wajah nya, karena saat ini raisa benar benar sangat malu.
Raisa langsung berlari dan membuka gerbang, lalu masuk ke dalam rumah tanpa menengok ke belakang. Hal itu membuat resa tertawa sejadi nya, bahkan sampai puas. Karena tingkah raisa yang seperti ini sangat jarang di tampakkan, jadi kalo sudah terjadi, sebaiknya di nikmati seperti momen langkah.
Setelah resa tak melihat punggung raisa lagi, resa memutuskan untuk balik ke rumah nya. Karena bersama raisa sepanjang hari ini sudah, merupakan tambahan energi dan semangat baru untuk resa ke depan nya.
...•...
...•...
...•...
...(Raisa yang masuk ke dalam rumah) ...
__ADS_1
Saat raisa baru masuk ke dalam rumah, ternyata suasana ramai seperti di pasar malam yang di dapati nya. Ini juga merupakan prediksi raisa tadi pagi saat fitri mual, tapi tidak ada pemikiran bahwa akan seramai ini.
Hampir seluruh keluarga besar andre ada di ruang tamu, para wanita yang sudah berumur seperti mama nya andre berkumpul di satu sudut, tertawa dan berbincang dengan asik nya.
Sedangkan para suami mereka duduk di setiap sofa yang panjang, bulat, persegi, dan berbagai bentuk lain nya untuk membicarakan urusan kantor, padahal seharusnya mereka menikmati momen kumpul keluarga, tapi mungkin sudah menjadi kebiasaan para pria untuk membicarakan bisnis di mana pun tempat mereka berada.
Para wanita yang baru menikah beberapa tahun dan seumuran dengan fitri, kini sedang duduk di dekat fitri untuk memberikan arahan apa saja yang harus di lakukan saat hamil. Apalagi ini adalah hamil pertama dan di tambah kandungan fitri adalah kandungan rawan gugur atau lemah.
Sedangkan anak anak mereka entah itu laki laki atau perempuan, berkumpul di berbagai tempat, menjahili sesama kawan yang baru mereka temui setelah sekian lama, berlari ke sana kemari, berebut mainan sampai menciptakan tangisan dan suara tawa anak kecil yang terdengar di segala sudut ruangan.
Benar benar bising, raisa memang suka dengan anak kecil. Tapi bukan dengan anak kecil yang nakal, tak tau aturan, tak tau cara menghormati, tak tau cara menghormati lawan bicara, dan anak kecil yang tak bisa di tegur. Raisa paling anti dengan hal hal seperti itu, ingin sekali rasa nya untuk pergi dan menjitak kepala setiap anak laki laki yang bermain tanpa aturan, bahkan sampai memukul kawan perempuan yang seumuran dengan mereka.
"Selamat malam. " Sapa raisa sebagai sopan santun.
Otomatis semua pergerakan, tawa, dan berbagai kegiatan di ruangan itu terhenti seketika dan semua pandangan mengarah pada raisa.
Setelah melihat yang masuk adalah raisa, semua orang langsung memutar mata mereka, mendecak kan lidah, dan menggelengkan kepala. Karena sedari tadi yang mereka tunggu adalah andre, bukan raisa yang bahkan taj di anggap di keluarga Aditia.
Raisa pun tak ambil pusing dengan respon yang di dapati nya itu, karena raisa sudah terbiasa. Raisa pun langsung berjalan menuju kamar nya, dan tiba tiba terhenti saat ada seorang anak perempuan yang wajah nya sangat imut menghalangi langkah kaki raisa.
"Ada apa dek ? Apakah kamu ingin minum segelas air ? " Tanya raisa karena tak bisa mengabaikan anak perempuan ini begitu saja.
"Mau pipis ? Atau mau pup ? " Tanya raisa lagi.
"..... " Anak itu menggeleng lagi.
Lalu akhirnya Raisa pun duduk jongkok agar leher anak itu tidak sakit, karena menengok ke atas.
"Lalu, apa yang kamu butuhkan ? "
"Aku mau kamu jadi mama aku.! " Kata anak perempuan itu, dengan muka imut dan suara yang enak di pendengaran.
"Kok gitu sih ? Emang kamu gak punya mama ? " Tanya raisa mengusap poni anak perempuan itu.
"Monik punya mama kok, tapi mama nya monik gak pernah sayang sama monik. Mama lebih milih main hp, cerita sama teman teman nya, bahkan mama suka bawa laki laki lain selain papa masuk ke dalam rumah. Mama bilang monik gak boleh ngasi tau siapa siapa, kalo engga nanti monik bakal di masukin ke panti asuhan. Monik gak mau, kamu mau yaah jadi mama nya monik... " Pinta monik dengan mata yang mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Dari sekian banyak perempuan yang ada di rumah ini, kenapa monik mau nya sama kak Raisa ? Kan monik sama kak raisa gak pernah ketemu sama sekali. " Kata raisa dengan tatapan iba pada monik, tak menyangka anak sekecil monik harus menjalani hidup yang sulit, padahal ini adalah masa untuk dia tumbuh dengan kasih sayang.
"Soalnya semua teman teman nya mama gak suka sama kak raisa, mereka sering ngomongin hal buruk soal kak raisa. Bahkan bibi di rumah juga kasian sama kak Raisa. Bibi kasih tau ke monik, kalo nanti kak Raisa jadi seorang ibu, pasti kak raisa bakal jadi ibu yang di dambakan semua anak anak. Jadi monik mau kak Raisa yang jadi mama nya monik.! " Jelas monik dengan polos nya.
"Untuk sekarang, kak raisa gak bisa ngelakuin apa apa untuk monik. Karena untuk melindungi ayah kak raisa aja, kak raisa harus nahan malu bertahun tahun. Tapi udah mulai ada titik terang sih, jadi dikit lagi kak raisa bakal bebas. " Kata raisa.
"...... " Monik hanya diam dan menunggu keputusan raisa, dan raisa peka akan maksud yang terpancar dari bola mata monik yang polos.
"Monik... Keputusan nya itu, kak raisa gak bisa jadi ibu buat monik.! " Kata raisa.
Mendengar hal itu, monik langsung menampakkan wajah lesu, lemah, dan sedikit lagi linangan air mata yang dia tahan sedari tadi akan tumpah.
"Tapi, kak raisa punya satu saran buat monik. Saran yang bakal bermanfaat buat monik ke depan nya..." kata raisa yang berhasil menyingkirkan air di bola mata monik, menjadi berbinar dan menanti perkataan raisa selanjutnya.
"... Setau kak raisa, Kakek dan Nenek dari pihak ayah kamu itu sayang banget sama monik kan ? " kata raisa menyambung perkataan sebelum nya.
"..... " Monik hanya diam dan mengangguk dengan cepat.
"Monik mau gak, kak raisa bantu Monik buat pindah dan tinggal di rumah nya kakek nenek ? " tanya raisa.
"Monik mau... Monik mau kak raisa... " Seru monik kegirangan.
"Kalo gitu, sekarang monik balik gih main sama kawan kawan. Nanti pas monik pulang, pasti kakek nenek nya monik udah nunggu buat jemput. "
"Beneran ? " Tanya monik antusias, sampai menampakkan senyum simpul yang sempurna di wajah nya.
"Iyah beneran...! Kalo kak raisa bohong, monik bisa datang lagi ke sini untuk marah marah sama kak raisa. Gimana ? "
"Em... Em... " Kata monik mengangguk bahagia.
Monik pun langsung berbalik dan ingin berlari ke kawan kawan nya, namun setelah dua langkah, monik berhenti dan berbalik lagi ke arah raisa yang masih jongkok.
"Umach.. " Monik mencium pipi kanan raisa, dan hal itu membuat raisa menampakkan senyum lebar.
"Makasih yaah kak raisa. " Kata monik dan langsung berlari, karena malu dan sedikit gugup. Takut raisa akan marah jika di cium di pipi.
__ADS_1
Namun raisa menyukai hal itu, raisa langsung berdiri dan beranjak pergi ke kamar nya yang ada di dekat dapur. Karena masing masing orang hanya sibuk dengan urusan masing masing, tak ada yang melihat saat monik dan raisa bercakap cakap sekitar 20 menitan.
Saat raisa masuk ke kamar nya, ternyata di dalam kamar mama nya andre sudah stand by dan langsung melayangkan tangan ke arah pipi raisa.