Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 120.


__ADS_3

"Akan Aku lakukan , tapi apa alasan Mu melakukan ini Silvia ? menyembunyikan fakta dari Lusi, apakah kamu takut jika Lusi akan memberitahuku siapa Ayah kandung dari Brayen jika Dia sadar nanti ? "


...❀...


...❀...


...❀...



...❀...


...❀...


...❀...


"Bukan seperti itu Nando ! Pikirkanlah dampak yang dapat terjadi jika Lusi mengetahui hal ini. Lusi adalah orang yang sudah menganggap Brayen sebagai anaknya sendiri, dan jika Dia tahu bahwa kita telah setuju untuk melakukan kemoterapi pada Brayen, sudah pasti mentalnya akan down. Dan hal itu tidak menguntungkan baginya yang sedang berbadan dua, jika Lusi terlalu banyak berpikir, merasa khawatir, dan membuatnya terus gelisah setiap saat, Dia dapat mengalami keram perut. Apabila usia kandungannya baru dua minggu , di tambah dengan badan Lusi yang lemah untuk masa awal kehamilan seperti ini, Lusi akan terancam keguguran. Apa Kamu mau mengalami hal itu ? " ujar Silvia dengan penjelasan yang cukup panjang. Hal itu menyadarkan Nando dan Nando pun merasa memang saat ini itulah jalan terbaik satu-satunya, dan setidak nya tidak akan merugikan banyak pihak.


...*Klek* pintu terbuka dan Noa pun masuk dengan rambutnya yang tampak masih lembab. ...


"Noa apa Kamu kepanasan sehingga memutuskan untuk mandi di toilet rumah sakit ? " Tanya Nando yang dapat membedakan Noa yang sudah mandi dan belum mandi. Entahlah dia bisa membedakan atau memang hanya tebakan nya saja yang kebetulan benar.


"Benarkah ? Padahal Aku sudah menghabiskan semua tisu yang ada di toilet, masa iya belum kering ?! " Karena kaget Noa reflek memegang rambutnya.


"Hah terserah kamu deh ! Oia, Silvia juga sudah setuju jika kamu melakukan kemoterapi pada Brayen ! " Kata Nando berpindah topik.

__ADS_1


"Benarkah ? Lalu apakah Lusi juga sudah bilang bahwa dia setuju jika melakukan kemoterapi pada si kecil Brayen ? " Tanya balik Noa sambil berjalan mendekat ke arah Nando.


"Aku rasa tanpa persetujuan Lusi juga Brayen tetap harus menjalankan kemoterapi. Karena sudah ada dua suara yang setuju, entah dia setuju atau tidak nanti, tidak akan mengubah keputusan apapun ! " Jawab Nando.


"Baiklah ! Jika seperti itu, Aku akan menelepon sekretaris sementara Aku di sini, untuk mengurus semuanya. Brayen akan menjalankan kemoterapi dalam 2 jam lagi ! " Kata Noa sambil mengambil ponsel nya dan menelepon Sekretaris sementara nya itu.


"Kalau begitu aku pamit dulu, Aku ingin melakukan beberapa hal ! " Izin Silvia pada Nando, setelah itu Silvia berjalan keluar dengan badan yang tegak bak model yang sedang berjalan memamerkan baju yang di pakai nya. Mata Silvia tak berpaling ke manapun selain pintu keluar, dan Noa melihat Silvia yang keluar itu dengan seksama. Walaupun memang dia masih tetap fokus pada sambungan telepon yang terhubung saat ini.


"Jangan terlalu dilihat juga Noa. Dia itu milik orang lain loh, dibuktikan dengan kehadiran Brayen yang terbaring di sana ! " Kata Nando sambil menunjuk Brayen.


Noah yang sudah mematikan sambungan teleponnya pun menatap Nando dan ikut angkat bicara " Dia milik orang lain ? Aku rasa tidak ! Karena saat ini ayah kandung Brayen tak ada di sini, dengan kata lain Silvia masih single. " Jawab Noa penuh keyakinan.


"Entahlah... Aku sudah menyuruhnya untuk menemui ayah dari Brayen Apapun yang terjadi, karena kita membutuhkan donor Tulang belakangnya. Karena Silvia memiliki Paras cantik dan perawakan yang bagus, Aku yakin Ayah Brian akan mengajukan syarat untuk menikah terlebih dahulu. Silva itu cantik, Aku yakin pria yang menghabiskan one night Stand dengan dirinya di sebuah bar, tak akan melepaskan wanita yang sudah datang pada dirinya beberapa tahun yang lalu ! " Jelas Nando.


"Hal itu tak akan terjadi, karena aku akan menghalangi nya dengan cara apa apa pun."


"Memangnya kenapa kalau aku menyukai Silvia sih ? Apakah ada masalah ? "


"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan, tapi semangat ! semoga Kamu bisa mendapatkannya. " Nando pun memberikan dukungan pada Noa, karena dengan reaksi Noa yang serius, berarti sudah dipastikan bahwa Noa tidak akan mempermasalahkan Silvia yang sudah punya anak atau yang sudah tidak Virgin lagi.


Dengan kenyataan itu Nando merasakan lebih baik jika Noa yang menjadi pendamping hidup Silvia nanti.


Setelah keluar dari ruangan rawat yang di tempati oleh Brayen, Silvia menelepon kenalannya yang juga adalah seorang dokter. Silvia berkonsultasi, Apakah selain sumsum tulang belakang dari sang ayah kandung, sumsum tulang belakang milik keluarga dari pihak ibu yaitu Ayah dan Kakak laki-laki juga dapat digunakan ? Sayang nya jawaban nya tidak bisa ! Jika pun nekat melakukan tes kecocokan Paling juga hanya satu sampai lima persen, terlalu kecil kemungkinannya.


Setelah mengetahui itu, Silvia mematikan sambungan telepon nya. Kemudian dia duduk di kursi panjang yang ada di korindo rumah sakit, lalu saat Silvia duduk, Dia tiba-tiba tersenyum dan bahkan tertawa kecil.

__ADS_1


"Sum sum tulang belakang milik Kak Resa dan Papa ? jika pun ada kemungkinan untuk cocok 100%, Apakah aku dapat dengan gagah berani memberitahukan pada mereka, bahwa aku sudah punya anak ? Untuk memberitahu pada Kak Resa dan kak Raisa saja aku masih enggan, juga harus menunggu 3 hari dari sekarang.. Uggh, kepalaku sakit ! Aku ingin minum alkohol saat ini ! " Monolog Silvia


"Tak boleh ! "


"APA ???! " Kaget Silvia dan sontak langsung membuka mata dan melihat Siapa yang menjawab perkataannya tadi.


"Dari mana kamu mulai mendengar perkataan ku ?" Tanya Silvia geram Karena orang yang ada di hadapannya saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Noa.


Dari Perkataan Mu yang bilang "kepalaku sakit dan aku ingin meminum alkohol ! " Jawab Noa sejujur-jujur nya .


"Hah... Syukurlah !" Gumam Silvia yang merasa lega.


"Syukurlah ? Memangnya Apa yang kau syukuri Silvia ? "


"Bukan apa-apa ! " Jawab Silvia


"Apakah Aku boleh duduk ? " Tanya Noa sopan.


"Silakan ! Ini bukan kursi pribadiku, jadi tak usah repot-repot minta izin pada diri Ku ! " Jawab Silvia


Noa menyedihkan bahunya, dia ingin tersenyum karena setidaknya respon Silvia tidak seekstrim biasanya. Padahal biasanya Silvia akan sangat sensi dan menjaga jarak dengan Noa.


Mumpung ada kesempatan, Noa langsung duduk tepat di samping Silvia, tanpa mengisahkan jarak. Benar-benar sangat berdekatan, mereka berdua tampak seperti dua orang asing yang baru mulai PDKT


"Apakah tidak ada kursi lain di sebelah kiri Mu ? Aku yakin masih ada tiga bagian yang kosong di sana. Jadi bergeser lah, Aku merasa sesak ! " Ujar Silvia yang memang sedang duduk di kursi bagian paling ujung, sehingga tak memungkinkan baginya untuk bergeser, kecuali jika Silvia berdiri dan pindah tempat duduk. Sayangnya, saat ini Silvia sedang benar-benar malas untuk bergerak.

__ADS_1


"Aku tak mau ! " Jawab Noa yang menolak dan mempertahan kan keras kepala nya.


"Whatever ! " Selain malas bergerak, Silvia juga sedang malas berdebat sehingga hanya memutar bola mata nya saat menjawab Noa yang tak mau pindah tempat duduk. Kepala nya terlalu sakit untuk berpikir kalimat apa yang akan dikeluarkannya, jika memulai perdebatan dengan Noa.


__ADS_2