
Setelah Silvia selesai berganti pakaian dengan kecepatan tinggi, mereka berempat pun langsung bergegas ke restoran yang sudah di pesan oleh resa tadi.
Sesampai nya mereka berempat di sana, mereka langsung di arahkan ke meja yang telah di pesan tadi. Karena meja pesanan mereka adalah yang paling beda, yaitu meja untuk tujuh orang.
Yaah, bukan cuma Raisa, silvia, Resa, dan Andro. Tapi ada Lisa, Dika, dan Erna yang sudah sampai lebih dulu.
Suasana hangat dan kocak pun terjadi, mereka makan dengan lahap, tertawa dengan sangat puas, dan menggoda Raisa dan Resa yang tiap hari kian romantis, sampai wajah resa dan raisa merah padam.
Setelah makan, mereka bertujuh pergi lagi ke sebuah tempat perbelanjaan dan dengan Raisa sebagai pohon uang nya. Hari ini Raisa benar benar tak peduli menghabiskan uang sebanyak apapun, karena dia ingin merayakan terlepasnya beban yang menjeratnya selama ini.
Setelah selesai berbelanja, lisa, erna, dan dika pulang duluan karena masih ada pekerjaan yang harus mereka lanjutkan. Sedangkan resa, raisa, dan silvia di antar ke apartemen yang menjadi tempat lukis raisa, karena resa dan raisa harus latihan beberapa lagu sebelum satu minggu menjelang acara reunian kampus.
Sedangkan andro kembali ke kantor, karena kehadiran nya saat ini tidak lagi di butuh kan.
"Uang kamu yang ke pakai berapa banyak sa ? " Tanya resa yang saat ini sudah memegang gitar nya.
"Hanya 500 juta aja kok. Emang kenapa res ? "
"Ini pertama kali nya kamu habisin uang sebanyak ini dalam sehari kan ? "
"Gak papa kali res, nama nya juga buat senang senang. Dan lagi, ini kan uang dari hasil kerja keras aku. Bukan dari hasil nyuri kan ? "
"Iya deh, sekarang mending kamu ambil gitar kamu deh. Minggu depan kan kita udah tampil, masa iya kita bawain lagu asal asalan. "
"Iyah.. Gak sabaran banget sih. " Jawab raisa dan berjalan ke lemari penyimpanan gitar ibu nya.
"Dan kamu silvia, jangan makan semua cemilan raisa dong. Kalo dia mau makan terus gak ada gimana ? " Tegur resa pada adik nya.
"Idihh.. Orang kak Raisa aja gak marah, kok kak resa yang panas ? Situ sehat ? "
"Dasar anak setan..! " Kata resa karena semua perkataan nya selalu berhasil di jawab oleh silvia.
Setelah itu resa dan raisa langsung latihan lima lagu yang sudah pernah mereka cover, dan silvia hanya menikmati suara mereka sambil membaca novel dan mengunyah cemilan.
...๐บ...
...๐บ...
__ADS_1
...๐บ...
...๐บ...
Setelah selesai latihan di pukul tiga sore, resa dan silvia pun pulang ke rumah mereka karena andro sudah ada di bawa.
Mereka tidak mengantar Raisa ? Yaah, karena Raisa tak ingin pulang ke rumah andre. Dia sudah tak mau lagi pulang ke sana, karena dia sudah tidak sudi lagi menginjakkan kaki di sana.
Tetapi, saat raisa sedang rebahan santuy sambil mendengar melodi musik hp nya, raisa pun baru tersadar sesuatu.
"Astaga, mobil aku kan masih ada di rumah andre. Masa iya aku tinggalin di sana ? Kan itu pemberian ayah. " Kata raisa dan langsung mengambil jaket dan keluar dari apartemen nya.
Raisa menaiki taxi dan beberapa saat kemudian raisa telah sampai di rumah andre.
"Padahal tadi udah gak mau datang ke sini lagi selain minta tanda tangan cerai, eh mala lupa mobil. Emang dasar, " gumam raisa dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Mumpung raisa masih di rumah andre, raisa langsung mengambil 10 tas belanja yang belum raisa taro di lemari pakaian waktu di belanjakan oleh resa, dan raisa langsung membawa 10 tas belanja itu ke dalam bagasi.
Dan syukurlah, tak ada seorang pun di rumah saat raisa mengambil barang barang yang kelupaan. Karena jika tidak, pasti ada perdebatan lagi.
Saat raisa mengemudi, dia berhenti di mini market untuk membeli beberapa minuman. Karena tadi silvia sudah meminum semua minuman di dalam kulkas.
...๐บ...
...๐บ...
...๐บ...
...๐บ...
...๐บ...
...(Di apartemen. )...
Setelah selesai menyusun semua minuman di dalam kulkas, dan mengatur semua cemilan di rak peyimpanan, raisa lanjut merebahkan badan nya di atas tempat tidur. Dan raisa pun memutuskan untuk menelfon seseorang...
"Drrrtt... Drrttt... "
__ADS_1
"Halo.. " Sapa seseorang dari seberang sana.
"Halo kak Ben, udah lama banget gak dengar suara kaka. Kaka apa kabar ? "
"Baik... Kamu gimana ? Sehat sehat aja kan ? "
"Sehat dong ! Oia kak Ben, ini soal perusahaan ayah, gimana perkembangan nya belakangan ini ? "
"Baik sa, gak ada masalah sedikitpun. "
"Oke, karena kak ben itu anak dari om herman yang merupakan teman sekaligus sekretarisnya ayah, pasti kak ben yang bakal jadi sekretaris selanjut nya kan ? "
"Sebenarnya memang seperti itu sa, tapi karena ayah aku terbaring sakit, jadi aku udah menjabat jadi sekretaris dari tahun lalu. "
"Makin bagus dong, kalo gitu raisa mau nanya. Berapa biaya yang di perlukan untuk mempertahan kan perusahaan ayah, kalau Andre membatalkan kerja sama nya ! "
"Hah ?? Emang andre mau membatalkan kerja sama nya dengan om surya ? "
"Gak... Eh, lebih tepat nya belum. "
"Kamu kasih tau yang benar dong sa. "
"Maka nya di jawab dulu, berapa biaya yang di perlukan untuk mempertahan kan perusahaan ayah, biar gak bangkrut sedikit pun. "
"Haiss.. Kalo menurut hasil analisa aku, yaah... Kurang lebih 10-11 M sa. Itu jumlah keseluruhan nya. Karena kerugian nya sangat besar, dan menurut isi kontak, bila terjadi pembatalan kerja sama, semua beban di berikan pada perusahaan om surya. "
"Hah.. Syukurlah... " Raisa menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah pala lo sinting ?! Kamu kira 11 M itu sedikit yaah, aiss sudah ku duga kamu belum dewasa. Cepatlah belajar tentang bisnis, biar bisa jadi Bos yang memimpin kak ben, oke ? "
"Astaga, emang kak ben gak malu apa kalo menjadi sekretaris dari pimpinan yang masih muda ? "
"malu buat apa coba ? Yang penting dapat gaji terus kan ? Hah, maka nya kalo ada waktu itu sering main ke sini. Biar kak ben ajarin cara jadi pemimpin. "
"Iya.. Iyaa.. Raisa bakal luangin waktu ke sana kok, udah jangan bawel mulu... Daahh kak Ben. "
Raisa pun memutuskan panggilan telepon di menit ken 15.
__ADS_1
"Astaga kak Ben, kaka ben pikir aku gak belajar tentang jadi pemimpin apa ? Orang ayah sama ibu ajarin tentang hal itu terus kok. Dan lagian , aku dapat mengumpulkan uang mencapai 11 M ini juga karena sudah menghitung dan memperkirakan, berapa total suntikan dana yang di butuhkan. Kak Ben pikir aku masih jadi gadis yang polos ? Gws aja deh.. "
Raisa pun cengar-cengir dan berdialog dengan diri nya sendiri. Sebelum terlelap dalam hitungan detik, karena saat ini sudah tak perlu lagi menderita.