Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 144.


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Silvia sudah berada di dalam ruangan kerja milik Noa. Ralat sedikit, ruang kerja sementara saat Noa berada di indonesia.


Silvia sedang membantu Noa memakai jas kedokteran nya, karena akan menjalan kan operasi pendonoran sumsum tulang belakang untuk baby Brayen.


Berhubung selama seminggu itu Noa benar-benar butuh waktu dalam pemilihan, sehingga operasi baby Brayen baru dapat dilakukan hari ini.


*Tok..Tok .Tok..*


Bunyi daun pintu dapat didengar oleh Noa dan Silvia, yang dalam ancang ancang ingin memberikan semangat kepada satu sama lain (berciuman ?)


"Tch, Aku tau itu Kau Resa. Jika mau masuk tak usah Kau pakai ketuk segala. Tumben sekali kau mengetuk ! Bukan kah belakangan ini Kamu sering terobos masuk saja ?" Celetuk Noa dengan raut kesal nya, di barengi dengan daun pintu yang di buka.


"Tett.. Tot... Sayang nya jawaban Kamu salah. Yang mengetuk pintu adalah Aku." Ujar Raisa dengan sangat bangga. Entah apa yang terasa di banggakan di sini.


"Tch. Sama saja !" Noa mendengus kesal sambil mendecakkan lidah nya. Tampak jelas bahwa saat ini Dia sedang kesal.


Sedangkan Silvia ? Dia hanya mengatur nafas agar wajah nya tampak normal dan tidak penampakan semburat merah sedikit pun.


"Bukan kah mengetuk pintu sebelum masuk ke sebuah ruangan, adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan setiap manusia yang memiliki otak ?" Tanya Raisa dengan kepala nya yang sengaja di miring kan.


"Jangan membahas hal itu untuk saat ini Raisa. Bukan kah seminggu belakangan ini, kamu dan pacar Mu itu selalu mengganggu Ku dan Silvia ?" Cetus Noa dengan lirikan mata nya, yang saat ini berdiri bersandar di tiang jendela.


"Jika kamu tak mau waktu Mu diganggu oleh siapa pun, kan tinggal kunci pintu. Beres kan ?" Jawab Raisa yang tak terbesit niatan untuk mengibarkan bendera putih.

__ADS_1


"Mengunci pintu ?" Perjelas Noa yang sudah terdapat pertigaan di kening nya.


"Emmm.." Jawab Raisa mengangguk antusias.


"Lalu apa yang Kau lakukan tiga hari yang lalu, saat Aku sudah menguci pintu nya ?"


"Emm ???" Wajah Raisa nampak bigung dan tidak menunjukkan wajah yang paham. Atau mungkin Raisa saat ini sedang berakting menjadi gadia polos ? Berhubung sekarang bagian akting menjadi tenar di mana-mana.


"Jangan pura pura tak tau Raisa. Bukankah tiga hari yang lalu, Kamu membuka pintu dengan kunci cadangan ?" Cetus Noa yang sedang memaparkan pernyataan yang sungguh terjadi.


"Benarkah ?? Apakah Aku sungguh melakukan itu Noa ? Aiss, jangan fitnah Noa. Nggak baik buat kesehatan." Ujar Raisa yang seperti nya tak mau mengakui apa yang telah diperbuat.


Noa pun gantian menetap Resa yang sedari tadi berdiri sejajar dengan Raisa. Namun Resa malah tidak merasa bersalah dan pura pura tak tahu, lalu hanya menyendik kan bahu nya. Tanda bahwan Dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Padahal 3 hari yang lalu, Resa juga termasuk dalam jajaran pelaku bersama Raisa. Sungguh mereka berdua adalah pasangan yang klop.


Noa, Silvia, Resa, dan Raisa berjalan bersama sama ke ruang operasi. Di sana sudah ada Baby Brayen yang terlelap dalam tidur nya, dan juga karena sudah di beri obat bius, Brayen tak akan merasa sakit.


"Lakukan yang terbaik." Kata Silvia sambil mengelus ke dua tangan Noa dengan sangat lembut.


"Jika ada yang salah, Kamu akan berurusan dengan Ku." Ancam Resa, yang saat ini tidak memancarkan aura pertemanan sedikit pun.


"Hahaha, jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan oleh Resa Noa. Karena manusia itu belajar dari kesalahan. Tapi dalam tanda kutip, kesalahan yang lain. Bukan kesalahan karena gagal dalam menjalankan operasi. Karena ada nyawa yang di pertruhkan saat ini. Ada nyawa yang tidak bersalah dan tidak berdosa sedikit pun. Jadi lakukanlah sekuat kemampuan. Jika terjadi sesuatu pada keponakan Ku, Kamu akan benar-benar dibuat mati oleh Ku."


Di pikir akan membela Noa, nyata nya malah memberikan ancaman yang sama dengan Resa. Benar benar tak bisa menilai buku dari sampul nya yaah. Karena Raisa yang saat ini, bukan lagi Raisa yang dulu.


Jika Raisa yang dulu adalah Raisa dengan muka dan hati malaikat, maka sekarang waja Raisa adalah malaikat dan hati nya adalah iblis.

__ADS_1


Entah merasa bersemangat atau takut, Noa hanya bisa tersenyum kaku. Dan di saat Noa sedang mengontrol rasa gugup nya, terdengar lah beberapa suara dari tempat lain.


"Walau pun Brayen bukan darah daging Ku, tapi ku mohon lakukan lah yang terbaik untuk Dia. Dia adalah anak yang sangat aktif. Terlalu banyak kenangan yang sudah di toreh kan berkat dirinya, jadi lakukanlah semaksimal mungkin, sahabat Ku." Cetus Nando dengan aura dewasa nya. Dia tak mau mengancam, karena memang dia tak mau mencampuri urusan keluarga Aditya dan Noa Gazoya.


"Walaupun mereka berdua terdengar mengancam, jangan terlalu di masukan ke hati. Kamu tau sendiri kan, apa penyebab mereka jadi seperti itu ? Jadi, berusahalah semaksimal mungkin. Karena jika Kamu berusaha, pasti nya kamu akan menuai hasil yang tidak pernah menghianati usaha. Percayalah hal itu, karena tak ada yang tak mungkin di dunia ini." Sambung Lusi yang berdiri menggandeng tangan Nando.


Noa tampak tersenyum mendengar perkataan Nando dan Lusi. Setidak nya, kata kata seperti ini lah yang harus di dengar kan oleh Noa, sebelum menjalankan operasi. Ya, tapi Noa juga sadar dan tahu betul penyebab dari perubahan sikap Resa dan Raisa. Tenang saja, semua nya masih dapat diperbaiki, begitu lah pikiran Noa.


Lalu, saat Noa baru berjalan beberapa langkah, Silvia menyamakan langkah, dan mengecup bibir Noa. "Semangat." Kata Silvia, dan Noa pun masuk dengan energi yang bertambah berkali kali lebih banyak.


"Seharus nya, tadi Silvia berdiri di antara kita berdua Sa." Ucap Resa dengan dahi yang tampak berkerut.


"Yah, seharus nya tadi aku harus mengantisipasi hal itu. Ini salah Ku karena tidak berpikir sejauh itu Res." Sambung Raisa dengan dahi yang tak kalah mengerut.


Nando, Lusi bersama Silvia hanya bisa menggeleng geleng kan kepala mereka, kelakuan Resa dan Raisa seperti nya akan sangat sulit untuk dirombak ulang. Seperti nya Noa akan berusaha lebih keras lagi dari sebelum nya.


***


Lima jam kemudian...


Operasi selesai di lakukan. Semua nya berjalan dengan sangat baik, dan Noa pun keluar dari ruang operasi dengan mata yang berair. Dia langsung memeluk Silvia yang juga ikut berdecak haru, dan menangis bersama dalam satu perlukaan yang hangat.


Nando dan Lusi sama sama berpelukan, karena Brayen tidak akan merasa kesakitan lagi. Sedangkan Resa dan Raisa tidak merasa sinis lagi pada Noa. Setidak nya, kali ini Resa dan Raisa mengijinkan Noa untuk memeluk Silvia. Karena tak dapat di pungkiri, bahwa mereka berdua adalah orang tua dari Brayen kan ?


Sehingga Resa dan Raisa juga turut merasa bahagia, atas berhasil nya operasi yang dijalankan oleh Noa, dan kesehatan Brayen yang akan membaik mulai dari sekarang.

__ADS_1


__ADS_2