
"Kamu ingin membunuh Ku Noa ? Ah, aku tahu sekarang.. Kamu tak mau memukul Ku, karena kamu ingin membunuhku dengan caramu tersendiri kan ? Kamu mencium Ku hingga Aku hampir saja kehabisan nafas, jadi kamu ingin membunuh Ku dengan cara yang sangat amat menggerogoti hasrat ? "
"Dari semua pukulan yang pernah Ku dengar di muka bumi ini, inilah pukulan pertama yang sangat amat baru dan berbeda dari teori yang Aku ketahui ! " Ujar Silvia dengan wajah memerah nya, dan pemandangan itu terlihat sangat imut bagi Noa.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
__ADS_1
...❀...
...❀...
"Silvia, Aku tak bisa membunuh Mu !" kata Noa sambil menyisipkan rambut pada kuping Silvia, "Bukan kah Kamu juga merasakan nya? Aku tidak main-main sama sekali Silvia, perkataan Ku sungguh serius. Jika dengan ini kamu masih menganggap Aku sedang melucu, maka biarkan diri Ku menggendong Mu masuk ke dalam mobil milik Ku, dan Kita akan sama-sama masuk ke dalam apartemen yang telah Aku sewa satu hari sebelum aku datang ke indonesia. "
"Kamu gila ? Kamu ingin menculik Ku ? Apa kah Kamu tahu bahwa itu adalah tindakan kriminal? Aku akan melapor kan Kamu kepada polisi. Aku akan melaporkan perbuatan Mu pada Kak Resa, pada Kak Raisa, pada Papa dan Mama. Aku akan melaporkan nya pada Kak Lisa, Kak Dika dan juga Kak Erna. Coba saja Kamu lakukan sesuatu yang buruk pada Ku lagi, Aku benar-benar akan melaporkan Mu kepada mereka dan Aku juga akan memberitahukan pada Lusi dan Nando, mari Kita lihat, siapa yang akan menjadi pemenang di akhir ! "
"Bicara soal pemenang, sudah pasti Aku yang akan menjadi pemenang nya. Sekarang Aku tanya pada Mu, Silvia di mana handphone dan tas Mu ? Apakah kau sedang melingkarkan tas di pundak Mu ? "
"Kamu mengambil tas Ku saat Aku tidak melihatnya ? " Tanya Silvia yang mulai merasa curiga pada Noa, berhubung yang menyuruh Nya untuk mengecek ada tidak nya tas pada tubuh nya, menjadi kan Noa satu alasan kuat Silvia dapat curiga pada Nya.
"Tidak... Tidak.. Aku tidak mengambil sesuatu sama sekali ! Apakah kamu lupa bahwa Kamu meninggalkan tas Mu di dalam ruang rawat milik Brayen ? Aku sudah memastikan itu saat sebelum Aku keluar, Aku melihat tas Mu sudah ada di atas sofa. Jangan menuduh Ku seperti ini Silvia, yang ada Kamu hanya akan mendapatkan pukulan yang aku berikan tadi, dan mungkin saja kali ini lebih dari satu jam. Kita lihat nafas siapa yang habis lebih dahulu ! Nafas Ku atau nafas Mu. "
__ADS_1
"Apa Kamu punya kelainan mental ? Kamu seorang dokter, bukan aku rasa sebaiknya kamu memeriksa kan diri Mu sendiri. Karena Aku yakin pasti ada yang tidak beres pada diri Mu. Pergilah, mumpung kita sedang berada di rumah sakit. Segeralah memeriksa kesehatan mental Mu. Aku yakin pasti ada yang bermasalah ! Ah, bisa jadi Kamu berubah seperti ini karena yang Kamu katakan tadi. Kamu terlalu banyak membentur kan kepala Mu di dinding rumah Mu, sehingga cara kerja dan cara berpikir otak Mu makin kesini makin ngawur."
"Semakin banyak Kamu berkata-kata, itu akan semakin membuat Ku yakin bahwa saat ini Kamu sedang khawatir. Kamu sedang gelisah, karena Kamu tidak punya handphone untuk menghubungi siapa pun agar dapat memberi kan Mu bantuan. Kamu baru sadar bahwa Kamu yang menentang Aku adalah sebuah kesalahan besar. Dan saat Kamu sudah sadar, semua nya sudah terlambat. Kali ini takdir berpihak kepada Ku, jadi Aku saran kan ikut lah Aku ke apartemen milik Ku. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama, bukankah ini yang kamu mau Silvia ? Kamu adalah orang yang cinta damai bukan ? "
"Noa, Aku mohon hentikan ini ! Aku akan memberitahu Mu semua nya, tentang apa yang terjadi empat hari dari sekarang. "
"Kenapa harus empat hari dari sekarang ? Aku mau saat ini juga, apakah Kamu sedang di sibuk kan dengan urusan desainer pakaian Mu ? Aku rasa tidak, karena Kamu pasti sudah mengambil cuti. Jika kamu belum mengambil cuti, bagaimana bisa kamu selalu berada di samping Brayen setiap hari nya ? "
"Bukan.. Bukan... Bukan seperti itu, Aku telah menjanjikan pada Kak Resa dan Kak Raisa, bahwa akan menceritakan dan menjelaskan pada mereka, masalah apa yang sedang menimpa Ku. Mereka berdua sudah sadar dan mereka berdua sudah mengatakan pada Ku, untuk menceritakan semua yang Aku alami selama beberapa tahun ini. Tadi nya Aku ingin menyelesaikan hal ini seorang diri, dan berhubung Aku sudah berada di ujung kesanggupan Ku, Aku mengiyakan nya dan Kak Raisa berjanji dalam tiga hari lagi, Dia dan Kak Resa akan pulang dari Paris. Dan kami akan bertemu di cafe xxx. "
"Disaat itu, Aku akan menceritakan kepada mereka, dan kepada diri Mu, Aku akan menceritakan semuanya pada Mu setelah Aku memberitahukan pada mereka berdua terlebih dahulu. Karena bagaimana pun, mereka yang selama ini selalu care, mereka yang peduli padaku terlebih dahulu. Jadi Aku mohon pada Mu, bersabarlah hanya Empat hari ini. Aku yakin kamu bisa kok. Kamu sudah meminta cuti di Belanda bukan ? Kamu akan berada di Indonesia hingga Brayen sembuh bukan ? selama Kamu dan Aku memiliki waktu untuk saling berbincang lebih dalam lagi, Aku rasa empat hari tak jadi masalah. Maka untuk saat ini, lepaskan Aku. Aku mohon jangan bawa Aku ke apartemen milik Mu, jangan mencium aku di rumah sakit seperti ini, jangan membuat Aku hampir kehabisan nafas seperti tadi. Sungguh saat jantungku berdetak tanpa nafas, itu akan menyakiti dada Ku, apakah Kamu paham ? "
"Jadi posisi Resa dan Raisa lebih tinggi dari Ku ? Silvia, Aku adalah orang yang akan menjadi Suami Mu. Setidak nya penting kan Aku dari pada Resa dan Raisa, mereka berdua akan tetap menjadi kakak Mu tanpa perlu harus mengurus banyak surat dan banyak cobaan, tapi Aku yang akan menjadi suami Mu. Setidak nya buat Diri Ku menjadi nomor satu, apakah sulit ? "
__ADS_1
"Jika kita berdua tetap mempertahan kan Ego kita masing-masing, aku yakin kita akan duduk disini hingga satu abad ke depan. Aku dengan ego Ku, dan Kamu dengan ego Mu. Jika ego dan ego saling bertemu, yang ada kita hanya akan menyakiti hati satu sama lain ! Jadi aku rasa, saat ini pengertian Mu yang harus diutamakan. Kamu harus mengerti posisi Aku dulu, Aku bukan cuman terantuk dan jatuh sehingga marah pada Mu. Di masa lalu Ku, terlalu sangat berat untuk Aku, jika menceritakan terlebih dulu hal ini pada Mu, sang Pelaku nya " Ujar Silvia dengan tatapan letih nya, Dia seakan sudah lelah memberikan penjelasan.