
Setelah kepergian Resa, Raisa, Noa, dan Silvia,
Ruang tamu di kediaman Aditya seketika langsung menjadi tenang. Lisa yang
merasa tidak ada keperluan lagi, langsung berjalan meninggalkan Kediaman itu
seolah tidak ada yang terjadi.
Tak ada ekspresi kecewa, sedih, cemburu, atau takut.
Wajah Lisa seakan datar begitu saja. Sehingga terlihat mengherankan jika Dia
yang menciptakan situasi runyam barusan.
***
Selvi terduduk lemas di atas sofa nya. Dia yang
sedari tadi hanya diam dan melihat Anak nya itu, langsung berderai air mata,
dengan berbagai penyesalan.
Risa ? Dia hanya bisa duduk di samping istri nya,
dan membuat kehadiran nya dapat menjadi sandaran dan penguatan bagi istri nya,
walaupun diri nya sendiri tidak sedang kuat saat ini.
“Seperti nya... Kita sudah salah sejak awal. Dan
yang lebih membuat Kita tampak egois, saat Kita sudah menghancurkan mental anak
Kita, dan Kita malah menganggap Kita lah yang benar. Sudah begitu, Kita malah
lebih percaya dengan orang lain, yang belum tentu informasih yang di bawa nya
sudah benar. Kita... Benar benar sudah salah. “
Setelah mengatakan hal itu, Selvi malah lebih
menangis sekencang kencang nya. Entahlah dengan apa yang Dia rasakan, inti nya
saat ini Dia hanya ingin menangis untuk melampiaskan rasa sedih nya dulu.
***
Beberapa saat kemudian...
Langit yang sudah tampak gelap, membuat suasana
menjadi lebih dingin. Kemudian membuat rasa kantuk menyerang siapa saja yang
__ADS_1
sudah bekerja sejak pagi hari, kecuali beberapa orang yang saat ini masih duduk
berhadap hadapan di meja makan.
“Bagaimana kondisi nya ?” Tanya Resa yang langsung
berdiri, kala melihat Raisa dan Noa turun dari tangga lantai dua.
“Dia sudah di suntikkan obat penenang. Kata Dokter
yang baru saja pulang, jika saat bangun nanti Silvia menunjukkan tanda tanda
menggila, maka Kita harus membawanya ke Dokter Psikiater. Untuk selebih nya Dia
tak tau, karena saat ini Dia belum bisa melakukan pemeriksaan secara
menyeluruh.” Jawab Noa sedetail mungkin.
Mendengar penjelasan dari Noa, sontak langsung
membuat Resa dan Om Surya sama sama memumculkan perempatan di kening mereka.
Tampak mereka khawatir jika yang di duga oleh Dokter malah beneran terjadi.
“Noa, kenapa Kamu memberitahu secara setengah
setengah?” Tanya Raisa, menyela di saat yang lain tersirat rasa khwatir yang
Resa dan Surya langsung menatap Raisa penuh harap, karena merasa bahwa seperti
nya Noa hanya memberitahuan imformasih secara setengah setengah, sehingga saat
sampai kepada orang yang tidak tau apa apa, segampang itu langsung di percaya ,
dan di ikuti dengan rasa cemas yang langsung datang.
“Haah... Memang yang dikatakan oleh Noa tidak di
rekayasa sama sekali...” Ucap Raisa akhir nya, yang langsung mematahkan harapan
Resa dan Surya yang ingin mendengarkan kabar baik.
‘... Namun yang di sampaikan nya adalah kemungkinan
terburuk yang memiliki presentase 2% saja. Karena kata Dokter, Silvia hanya
butuh istirahat dan suasana yang tidak membuat mental nya kembali melemah
seperti hari ini. Selebihnya tak ada masalah, karena Silvia memiliki mental
yang lemah.”
__ADS_1
Saat Surya dan Resa sudah tak mau berharap, di saat
itulah Raisa memberikan kabar baik. Seketika, hanya dalam hitungan detik saja,
senyuman lebar tercetak jelas di wajah Surya dan Resa.
Kemudian, Resa dan yang lain nya duduk kembali di
meja makan, guna mendiskusikan masalah kali ini. Masalah yang sudah serunyam
ini, benar bena rmembutuhkan pengalama hidup yang sudah banya, seperti Ayah
Raisa saat ini.
Lalu, di saat Surya tengah mengamati cerita lanjutan
dari Raisa, di sis lain terdapat
seseorang yang tengah menunggu panggilan telepon nya terhubung.
***
“*Halo?!*” Sapa seseorang dari seberang telepon.
“Aku sudah melakukan yang Kamu suruh, maka dari itu,
lakukan apa yang sudah di sepakati.” Kata sang penelepon, sambil menggertakkan
gigi nya, karena menahan emosi.
“Hahaha.. Jangan langsung emosian seperti itu
Sayang. Kamu sudah melakukan yang terbaik, karena Aku mendengar semua hal yang
terjadi dari menyabotase hp Mu. Maka dari itu, dalam kurun waktu lima menit,
Kamu akan mendapatkan kabar yang Kamu inginkan.”
“Pecundang!” Kata sang penelepon penuh emosi, dan
langsung mematikan telepon nya.
“Imut nya... Saking gemas nya, Aku ingin mengikat
Mu dan menyiksa Mu denngan cara yang paling Aku sukai. Tapi Aku tak mau, karena
bukan Kamu yang menjadi incaran Ku.” Ucap seseorang sambil menatap layar
telepon nya dengan senyum yang tak bisa di arti kan.
***
__ADS_1