Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
#152.


__ADS_3

Setelah kepergian Resa, Raisa, Noa, dan Silvia,


Ruang tamu di kediaman Aditya seketika langsung menjadi tenang. Lisa yang


merasa tidak ada keperluan lagi, langsung berjalan meninggalkan Kediaman itu


seolah tidak ada yang terjadi.


Tak ada ekspresi kecewa, sedih, cemburu, atau takut.


Wajah Lisa seakan datar begitu saja. Sehingga terlihat mengherankan jika Dia


yang menciptakan situasi runyam barusan.


***


Selvi terduduk lemas di atas sofa nya. Dia yang


sedari tadi hanya diam dan melihat Anak nya itu, langsung berderai air mata,


dengan berbagai penyesalan.


Risa ? Dia hanya bisa duduk di samping istri nya,


dan membuat kehadiran nya dapat menjadi sandaran dan penguatan bagi istri nya,


walaupun diri nya sendiri tidak sedang kuat saat ini.


“Seperti nya... Kita sudah salah sejak awal. Dan


yang lebih membuat Kita tampak egois, saat Kita sudah menghancurkan mental anak


Kita, dan Kita malah menganggap Kita lah yang benar. Sudah begitu, Kita malah


lebih percaya dengan orang lain, yang belum tentu informasih yang di bawa nya


sudah benar. Kita... Benar benar sudah salah. “


Setelah mengatakan hal itu, Selvi malah lebih


menangis sekencang kencang nya. Entahlah dengan apa yang Dia rasakan, inti nya


saat ini Dia hanya ingin menangis untuk melampiaskan rasa sedih nya dulu.


***


Beberapa saat kemudian...


Langit yang sudah tampak gelap, membuat suasana


menjadi lebih dingin. Kemudian membuat rasa kantuk menyerang siapa saja yang

__ADS_1


sudah bekerja sejak pagi hari, kecuali beberapa orang yang saat ini masih duduk


berhadap hadapan di meja makan.


“Bagaimana kondisi nya ?” Tanya Resa yang langsung


berdiri, kala melihat Raisa dan Noa turun dari tangga lantai dua.


“Dia sudah di suntikkan obat penenang. Kata Dokter


yang baru saja pulang, jika saat bangun nanti Silvia menunjukkan tanda tanda


menggila, maka Kita harus membawanya ke Dokter Psikiater. Untuk selebih nya Dia


tak tau, karena saat ini Dia belum bisa melakukan pemeriksaan secara


menyeluruh.” Jawab Noa sedetail mungkin.


Mendengar penjelasan dari Noa, sontak langsung


membuat Resa dan Om Surya sama sama memumculkan perempatan di kening mereka.


Tampak mereka khawatir jika yang di duga oleh Dokter malah beneran terjadi.


“Noa, kenapa Kamu memberitahu secara setengah


setengah?” Tanya Raisa, menyela di saat yang lain tersirat rasa khwatir yang


Resa dan  Surya langsung menatap Raisa penuh harap, karena merasa bahwa seperti


nya Noa hanya memberitahuan imformasih secara setengah setengah, sehingga saat


sampai kepada orang yang tidak tau apa apa, segampang itu langsung di percaya ,


dan di ikuti dengan rasa cemas yang langsung datang.


“Haah... Memang yang dikatakan oleh Noa tidak di


rekayasa sama sekali...” Ucap Raisa akhir nya, yang langsung mematahkan harapan


Resa dan Surya yang ingin mendengarkan kabar baik.


‘... Namun yang di sampaikan nya adalah kemungkinan


terburuk yang memiliki presentase 2% saja. Karena kata Dokter, Silvia hanya


butuh istirahat dan suasana yang tidak membuat mental nya kembali melemah


seperti hari ini. Selebihnya tak ada masalah, karena Silvia memiliki mental


yang lemah.”

__ADS_1


Saat Surya dan Resa sudah tak mau berharap, di saat


itulah Raisa memberikan kabar baik. Seketika, hanya dalam hitungan detik saja,


senyuman lebar tercetak jelas di wajah Surya dan Resa.


Kemudian, Resa dan yang lain nya duduk kembali di


meja makan, guna mendiskusikan masalah kali ini. Masalah yang sudah serunyam


ini, benar bena rmembutuhkan pengalama hidup yang sudah banya, seperti Ayah


Raisa saat ini.


Lalu, di saat Surya tengah mengamati cerita lanjutan


dari  Raisa, di sis lain terdapat


seseorang yang tengah menunggu panggilan telepon nya terhubung.


***


“*Halo?!*” Sapa seseorang dari seberang telepon.


“Aku sudah melakukan yang Kamu suruh, maka dari itu,


lakukan apa yang sudah di sepakati.” Kata sang penelepon, sambil menggertakkan


gigi nya, karena menahan emosi.


“Hahaha.. Jangan langsung emosian seperti itu


Sayang. Kamu sudah melakukan yang terbaik, karena Aku mendengar semua hal yang


terjadi dari menyabotase hp Mu. Maka dari itu, dalam kurun waktu lima menit,


Kamu akan mendapatkan kabar yang Kamu inginkan.”


“Pecundang!” Kata sang penelepon penuh emosi, dan


langsung mematikan telepon nya.


“Imut nya... Saking gemas nya, Aku ingin mengikat


Mu dan menyiksa Mu denngan cara yang paling Aku sukai. Tapi Aku tak mau, karena


bukan Kamu yang menjadi incaran Ku.” Ucap seseorang sambil menatap layar


telepon nya dengan senyum yang tak bisa di arti kan.


***

__ADS_1


__ADS_2