
Saat Tukang kebun sedang memperbaiki cermin yang rusak, di saat yang sama Fatia sudah sampai di kebun belakang rumah nya.
Kebun nya tidak begitu luas namun tidak bisa juga di bilang kebun yang kecil. Di sana ada beberapa pohon dan juga tanaman tanaman yang jika di lihat dapat di gunakan sebagai perawatan mata.
Lalu di tengah tengah kebun itu, terdapat satu meja bundar berwarna putih, dengan tiga kursi yang mengapiti nya.
Terlihat dari kejauhan, bahwa pada dua kursi itu telah di duduki oleh dua orang yang usia nya sudah masuk usia empat dan lima puluhan tahun. Rambut yang mulai memutih telah menjadi sebagai bukti nyata bahwa mereka sudah tidak muda lagi.
“Hai Ayah dan Ibu. Bagaimana kabar kalian hari ini ? Apakah ada yang mengganggu suasana hati kalian ?” Tanya Fatia yang ekspresi nya benar benar sangat ceria.
Entah saat ini Dia sedang berpura pura, atau memang ini kemauan nya untuk bersikap seperti ini di hadapan orang tua nya. Jawaban nya benar benar tidak di ketahui, dan kemungkinan kedua hal itu dapat terjadi secara bersamaan juga bisa jadi.
“Fatia.. Kamu sudah pulang kerja kan ? Hari ini Kamu tidak pulang larut malam lagi, pasti Kamu sudah punya waktu senggang kan ?”
Dengan suara nya yang terdengar sangat halus, membuat Fatia mengukirkan senyum kecil di wajah nya.
Tak bisa Fatia sembunyikan, bahwa hal inilah yang Diri nya inginkan. Perhatian ke dua orang tua nya, yang benar benar hanya tertuku untuk diri nya seorang.
“Iya Bu.. Fatia sengaja, biar bisa abisin waktu sama Ayah dan juga Ibu.” Jawab Fatia sambil memeluk Ibu nya.
“Jika Kamu sudah tidak sibuk lagi, bukan kah sekarang Kamu sudah bisa membawa Kami untuk menemui Fitri ? Jika kami berdua terlalu menghabiskan uang Mu secara berlebihan, maka Kamu saja yang membawa Fitri ke rumah ini. Kamu bisa kan sayang ?”
Deg.
“Ya. Kali ini perkataan Ibu Mu benar Fatia. Dan sebagai masukkan, kursi di taman ini harus di tambah satu lagi. Karena jika hanya tiga, Fitri akan duduk di mana ?” Sambung Ayah Fatia, sebelum Fatia bersuara untuk merespon perkataan Ibu nya barusan.
Deg.
Lagi, detak jantung Fatia nampak berdetak dengan sangat tidak beraturan, sehingga menciptakan rasa sakit pada Fatia. Entah itu rasa sakit karena detak jantung yang tidak normal, atau karena sesuatu yang berhubungan dengan perasaan nya.
“Apakah hal itu masih perlu untuk di pertanyakan , Mas ?”
“Apa Ibu akan membela Ku kali ini ?” Dengan suara batin nya yang amat kecil, Fatia berharap Ibu nya berpihak pada diri nya kali ini. Benar benar kali ini saja.
“Sudah pasti Fitri akan duduk di sini. Fatia tinggal mengambil satu kursi dari dalam rumah nya yang besar itu kan ?”
Deg.
__ADS_1
Bukan berada di pihak nya, Ibu Fatia seolah olah tengah berdiri di seberang jalan yang menuju ke tempat yang berbeda dari Fatia.
“Ibu-“
“Ah, jika tak ada kursi yang sama seperti ini di dalam rumah Fatia, Fitri bisa duduk di pangkuan Ku bukan?”
Deg Deg.
“Tidak perlu. Pangkuan Ku lebih kuat dari Mu sayang. Jadi biarkan Fitri di pangkuan Ku saja. Jika Dia duduk di pangkuan Mu, bagaimana jika Kalian berdua jatuh dan mengeluh sakit hah ?”
Deg Deg Deg.
Belum sempat Fatia bersuara, perkataan kedua orang tua nya ini kembali mendominasi dan menghancurkan mood Fatia yang sejak awal sudah rusak.
“Kenapa selalu seperti ini ? Kenapa ujung ujung nya hanya Fitri yang ada di seputaran percakapan mereka ? Kenapa sejak dulu Aku selalu tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama dengan Fitri ? Kenapa ?!”
Usai berbatin seperti itu, tanpa sadar Fatia menggenggam erat tangan nya yang di perban tadi.
Secara langsung tangan nya otomatis mengerluarkan darah lagi.
Drrtt.. Drrtt..
Ponsel Fatia pun bergetar. Dan Fatia merasakan itu, karena hp nya tepat berada di saku celana bagian belakang.
“Nice timing...” Batin nya dengan senyum kecut.
“Ada apa ?” Kata Fatia yang kini sudah berdiri tegak.
“Kami sudah mendapatkan pendonor ginjal yang cocok untuk Kakak Anda Fatia. Sekarang bagaimana ? Apakah langsung menjalankan operasi pendonoran nya ?”
“Kamu sahabat Ku kan ? Seharus nya Kamu sudah tau jawaban apa yang akan Aku berikan.”
“Aku tidak akan mengabaikan keberadaan Mu. Semua usaha ini di dapati dari uang Mu yang keluar dalam jumlah banyak, masa iya Aku langsung mengambil keputusan seperti itu ? Aku memang sudah tidak waras, tetapi Aku masih memiliki logika Kau tau ?”
“Andai bukan Cuma Kamu yang memakai logika...”
“Maksud nya ? Apa orang tua Mu tidak memperhitungkan perkataan mereka, saat Kamu ada di situ ?”
__ADS_1
“Memang nya apa lagi ? “
“Haiss.. Masalah Mu sejak kapan menjadi masalah Ku sih ? “
“Mana Aku tau ? Tapi untuk yang Kamu tanyakan di awal... Jangan mengambil tindakan apapun. Aku akan segera ke sana.”
“Siap laksanakan.”
Tut...
“Ada apa Fatia ? Apakah ini tentang urusan pekerjaan lagi ?” Tanya Ibu nya dengan tatapan kecewa, lantaran masih banyak hal tentang Fitri yang ingin mereka bicarakan.
“Maaf.. Tetapi untuk membuat Kak Fitri sembuh total, Aku harus mendapat kan banyak uang. Jadi saat ini, Aku harus keluar lagi. Jaga diri kalain di rumah ini yah.” Kata Fatia sambil menggaruk pipi nya yang tidak gatal, dengan tangan yang di perban.
“Baiklah. Jika ini demi Fitri, Kamu boleh pergi. Jangan lupa untuk memberitahu perkembangan apa saja tentang Kakak Mu yah.”
“....Iya.”
Jawab Fatia yang sudah membelakangi ke dua orang tua nya, dengan wajah yang tidak tersenyum sedikit pun.
Saat Fatia sudah masuk ke dalam rumah, Dia mengangkat tangan nya yang di perban, dan di lihat nya lamat lamat.
“Ku rasa warna darah nya kentara sekali.. Tapi jangan kan mengkhawatirkan Ku, Mereka bahkan hanya membicarakan Fitri.. Di kepala mereka seolah hanya ada Fitri saja...Fitri terantuk saja, bisa jadi mereka bawa ke rumah sakit. Tch ! “ Geram Fatia tat kala Diri nya sudah tiba di garasi mobil.
Saat Fatia baru membuka pintu, suara saru pelayan menghentikan nya.
“Makan malam seperti apa yang akan-“
“Aku tidak makan di rumah. Dan seperti nya, seminggu ke depan Aku tidak akan pulang ke rumah. Paham ?” Dengan atmosfer yang mencekam, Fatia memberikan jawaban yang memebuat pelayan wanita itu terdiam saat perkataan nya di sela.
“Tak perlu mengkhawatirkan Ku. Karena Aku tidak butuh di khawatirkan siapapun. Mengerti kan ?”
“....” Tak kuat menjawab, Pelayan itu hanya menganggukkan kepala berkali kali.
“Bagus..” Kata Fatia dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi menggunakan mobil nya.
[Maaf baru Up Pembaca setia Cinta dan Ajalku😭.. Janji deh, bulan ini udah Otor tamatin😭.. Kalian yang selalu setia dan selalu komentar, love sekebon sumpah 😭❤❤❤❤]
__ADS_1