
Sebelum Noa belum menyelesaikan perkataan nya, Resa langsung mematikan sambungan telepon nya. Walaupun sedang bad mood, sikap Resa yang menjengkelkan tetap berjalan seperti biasa nya.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
Setelah selesai bertelepon dengan Noa, Resa langsung menyunggingkan senyum di ujung bibir nya.? Membayangkan Reaksi Noa yang akan sangat kesal, mulai membuat mood Resa membaik.
Setelah itu Resa langsung meletakkan ponsel nya, Resa menyandarkan kepala nya di kursi dan merilekskan leher nya yang sedari tadi tegang.
"Apakah aku harus istirahat ? Sudah berapa lama aku tidak tidur sejak Raisa masuk rumah sakit ? " Monolog Resa sambil meletakkan punggung tangan kanan nya di atas kening, bola mata nya mulai memberat. Resa juga sadar, dalam beberapa detik lagi pasti dia akan tertidur.
...*Drrtttt.... Drrrrttt... *...
Namun, dering dari ponsel HP milik Resa membuat Resa tak bisa memejamkan mata nya untuk istirahat.
"Halo.. " Sapa Resa dengan Suara serak nya.
"Apa benar ini dengan saudara Resa Aditya, yang bertanggung jawab atas administrasi Pasien bernama Raisa Putri ? "
"Yaah benar, ada apa sus ? "
"Saya yakin tadi Dokter Doni sudah menjelaskan bagaimana keadaan Pasien Raisa Putri, maka dari itu.. Apakah Anda bersedia datang dan melengkapi administrasi yang di perlukan ? Karena di butuhkan pelunasan administrasi sebelum memasang semua alat untuk menunjang kehidupan Pasien Raisa Putri. "
"Ah baik, saya akan segera ke sana sekarang. "
__ADS_1
"Baik ! Di tunggu "
...*Tuuutt*...
"Haaahh... " Resa menghembuskan nafas panjang, dia sasar bahwa selelah apapun dia, jika berhubungan dengan Raisa, pasti Dia tak bisa menunda nunda apalagi menolak.
Setelah itu Resa dengan mata panda nya keluar dari mobil, berjalan ke arah resepsionis untuk melengkapi administrasi. Tak butuh waktu lama, semua prosedur selesai di lakukan, sehingga Ruangan yang di tempati Raisa sudah di penuhi dengan berbagai macam alat untuk menu jang kehidupan nya.
Koma, seperti tidur dalam jangka waktu panjang. Apalagi jika waktu sadar nya tak bisa di perkirakan, maka harus mengeluarkan uang banyak untuk memenuhi alat alat yang terbilang mahal dan jarang di gunakan. Tapi kalau masalah uang tak usah di khawatirkan, karena Resa memiliki banyak uang. Walaupun sudah beberapa hari tidak pergi ke kantor, Resa sudah menyuruh Andro asisten nya, untuk menghandle semua pekerjaan di kantor.
* * *
...[ Di depan Ruangan Raisa ]...
Resa melihat Raisa yang terbaring lemah dengan segala macam benda yang terpasang di tubuh nya, lewat kaca transparan yang ada di depan pintu.
Setelah melihat cukup lama, akhirnya Resa memalingkan pandangan nya ke arah Silvia yang saat ini duduk si apit oleh Erna dan Dika yang sudah tidur sambil menyenderkan kepala ke sandaran kursi.
"Mama di mana Sil ? "
"Ah, jadi mama pingsan yaah.. Setidaknya, dengan begini Mama bisa istirahat.. "
"Emm... "
"Terus Om Surya ? "
"Om Surya kata nya mau ke kamar mandi, rencana nya akan melihat kondisi Mama, setelah itu kata nya mau istirahat sebentar.. "
"Kalau begitu kamu juga Sil ! Kamu masih sakit, jadi pergi istirahat di ruangan kamu sana. Ajakin Erna sama Dika juga, biar bisa tidur di sofa yang ada di ruangan kamu. "
"....... " Silvia masih diam, dia memandang Resa beberapa detik, lalu kembali melihat Raisa dari balik Kaca.
"Tenang aja, ada Kakak yang jagain. Sekarang kamu udah boleh pergi. "
__ADS_1
".... "Silvia tak menjawab dengan satu katapun, dia hanya mengangguk patuh dan langsung membangunkan Erna beserta Dika untuk pindah ruangan. Akhirnya, Resa sendiri lagi duduk di kursi panjang, dan pandangan mata nya hanya tertuju ke arah Raisa.
"Aku memang tak menginginkan Kamu terbaring dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan Sa, tapi... Setidaknya, kamu gak mati ! Kamu gak pergi dari dunia ini ke dunia lain... " Monolog Resa dan mulai memejamkan mata nya.
Otak dan Otot nya tak bisa di paksakan lagi untuk berpikir dan bertindak, Resa hanya manusia seperti pada umum nya yang di lengkapi dengan segala kekurangan.
* * *
Dan tak terasa, kehidupan yang di jalani Resa dan yang lain nya, yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, melesat seperti laju anak panah..
...[ Tiga bulan kemudian ]...
Tiga bulan bukan waktu yang cepat untuk Keluarga Resa dan Surya selaku Ayah kandung dari Raisa. Keadaan Raisa memang di vonis koma dalam jangka waktu yang lama, tapi selama berlangsungnya dari hari ke hari, terkadang Kondisi tubuh Raisa turun drastis.
Detak jantung yang seketika melemah, badan yang sesekali kejang kejang, bahkan sampai mulut mengeluarkan busa, terkadang semua nya terjadi dalam satu waktu, membuat kepanikan di mana mana. Seakan akan, kepanikan sedang meraja lela ke segala sisi.
Selama tiga bulan ini, walaupun Fokus Resa hanya pada Raisa, namun Resa tidak meninggalkan tanggung jawab nya sedikit pun. Urusan kantor tetap dia jalan kan, dan karena tak mau Resa kelelahan dan kewalahan seorang diri, Risa juga turut membantu sang putra, walaupun Risa sudah menyerahkan kepemilikan perusahan nya pada Resa.
Sedangkan Surya, dia menitipkan perusahaan nya yang sudah stabil dan semakin di kenal di dunia bisnis ke tangan Ben. Dia percaya, Beni tidak akan mengecewakan nya. Walaupun banyak gosip yang beredar di kantor, hingga sampai ke telinga Surya, tentang Ben akan menguasai Perusahaan dan suatu hari akan membuat perusahaan menjadi milik nya, tidak membuat Surya bergeming sedikit pun.
Surya sudah punya banyak simpanan, sekalipun Ben ingin mengambil perusahaan nya, Surya sudah tak peduli lagi. Kondisi Raisa yang saat ini lebih penting, Apalagi semenjak dua bulan yang lalu, di beri izin untuk menjenguk Raisa walaupun tidak boleh lebih daei tiga orang, dengan tetap menjaga tingkat Steril dan bersih. Karena kondisi pasien akan sangat menurun jika terkena virus lain nya.
Sama hal nya dengan hari ini, Resa dan yang lain nya sedang di penuhi oleh rasa tegang yang luar biasa. Karena sudah satu jam lebih, Dokter Doni dan Lisa menangani Raisa Di dalam ruangan nya.
...*Drrttt.. Drrrtt.. *...
Ponsel Resa berdering, Resa terpaksa mengangkat nya.
"Ada apa ? "
"Bos.. Kerja sama dengan perusahan yang baru kita diskusikan tadi di batalkan. Mereka tak terima jika Anda langsung meninggalkan Rapat satu jam yang lalu.. " Lapor Andro.
"Terserah dengan perusahaan Sampah seperti itu. Buat perusahaan itu bangkrut, dan beli perusahaan mereka dengan harga terendah. Setelah itu naikan harga saham dan jual kembali. Mengerti ? "
"Baik."
__ADS_1
...*Tuuutt... *...
Sambungan telepon berakhir, dan Resa yang saat ini sedang panik dan gelisah langsung meluapkan kekesalan nya pada perusahaan yang membatalkan kerja sama.