Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 145.


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan pandonoran sumsum tulang belakang, bukan berarti sekarang semua masalah nya sudah selesai. Karena ini baru awal dari masalah yang harus diatasi satu persatu.


Di cafe yang berada di depan rumah sakit...


Resa, Raisa bersama Noa dan Silvia sudah duduk di kursi masing masing, dengan saling berhadapan. Noa duduk berhadapan dengan Resa, sedangkan Raisa duduk berhadapan dengan Silvia.


"Brayen sudah selamat, mulai saat ini Dia tidak akan menderita lagi. Tapi bukan berarti masalah nya sudah berakhir. Melain kan baru masalah awal yang sudah kalian atasi. Sekarang mari kita sama sama berpikir soal masalah kedua, yaitu secara terbuka menyampaikan hal yang telah terjadi antara kalian berdua kepada Papa dan Mama."


Kata Resa yang sudah tak mau berbelit belit lagi, dia langsung to the point. Karena masalah tak akan cepat di bereskan, jika Risa dan Selfi mengetahui hal ini dengan sendiri nya, atau yang lebih parah mengetahui hal ini dari orang lain.


Tak ada perubahan reaksi yang berarti dari wajah Noa, berbanding terbalik dengan Silvia yang langsung membantu dengan beragam pemikiran yang tiba tiba muncul di otak nya. Beribu-ribu rasa ketakutan, seolah menerjang lubuk hati nya, dan membuat Silvia nampak sangat keberatan dengan keputusan yang Resa sampaikan saat ini.


"Kak.. Silvia mohon, jangan saat ini. Mari kita tunggu sampai Brayen dewasa, dan sampai Silvia benar-benar siap." Pinta Silvia dengan segenap jiwa nya.


Resa dan Raisa sama sama menggeleng  kompak, karena masalah kali ini sudah tak bisa di pending lagi. Dan menurut Resa dan Raisa, agak kurang etis jika menggantung masalah terlalu berlama lama.


"Silvia..." Panggil Resa dengan lembut. Resa benar benar tak mau meninggikan suara nya saat ini.


"Kakak tahu, Kamu masih merasa takut dengan terbuka sejarah terang terangan kepada Papa dan Mama. Tapi kakak minta maaf, karena masalah kali ini tidak bisa berlarut-larut lagi. Takut nya ada banyak variabel yang akan merusak semua nya, dan menjadikan masalah ini yang awal nya dapat terselesaikan dengan berkata jujur, malah semakin merembet ke segala sudut, dan menjadi sulit untuk di selesaikan. Jangan kan orang lain, Kakak sendiri saja akan merasa sangat keberatan. Jadi lebih baik dipangkas saat tunas nya baru muncul."


Resa pun berusaha sekuat tenaga memberikan pengertian kepada Silvia. Dan memang sudah seharus nya, untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin bukan ?


"Yah, yang disampaikan oleh Resa benar Sil. Apapun perasaan yang Kamu rasakan saat ini, sebaik nya di singkirkan. Dahulu kan logika, Silvia. Aku tahu betul sifat Om Risa dan Tante Selfi, walaupun mereka akan merasa kecewa, sedikit atau pun lebih, ujung-ujung nya mereka akan memaafkan Mu." Sambung Raisa pada Silvia. Raisa berusaha memberikan pikiran lain, yang hitung hitung sebagai bahan pertimbangan bagi Silvia.

__ADS_1


"Sil, Kamu adalah anak mereka. Sekalipun mereka marah besar saat mengetahui masalah ini, mereka tidak akan setega itu untuk menghakimi Mu. Kamu ingat ? senjahat jahat nya singa, Dia tidak akan pernah menerkam anak nya. Binatang saja seperti itu, apalagi orang tua Kamu yang dalam hal ini manusia yang memiliki pikiran dan akhlak."


Raisa juga ikut menimpali lagi. Seperti nya kali ini Resa dan Raisa benar-benar serius, karena ada hal lain harus mereka lakukan. Ada hal lain yang belum mereka lakukan juga. Seperti menikah, punya anak, jalan-jalan bersama, membuat suatu kebahagiaan bersama, dan lain sebagai nya. Karena hidup mereka tidak melulu kepada Adik mereka, dalam hal ini Silvia. Mereka juga punya kehidupan masing-masing, yang harus di urus oleh mereka sendiri.


"Aku tak masalah dengan respon apapun yang akan diberikan oleh Om Risa dan Tante Selfi. Asalkan Aku mau bertanggung jawab 100% pada Silvia. Apapun tantangan nya Aku akan menghadapi nya bersama Silvia dan Brayen, tak ada lagi kata mundur, aku akan bertanggung jawab sebagai seorang pria dan sebagai seorang ayah." Ujar Noa yang sedikit membuat Silvia tersisihikan


Silvia yang memiliki pendapat berbeda di pertemuan kali ini, merasa diri nya yang paling tidak memiliki logika.


Tapi mau diperjuangkan bagaimanapun, Silvia tetap merasa enggan dan tak enak hati. Silvia merasa sangat berat, berat sekali jika harus menyampaikan hal ini kepada Papa dan Mama nya.


Sudah cukup dengan diri nya yang mengecewakan ke dua Kakak nya, yaitu Resa dan Raisa. Silvia tak mau mengecewakan kedua orang tua nya.


Dan Silvia juga tak mau mengecewakan orang lain, tapi bagaimana pun, dalam hal ini, Silvia sudah melakukan kesalahan. Yang dimana, mau tidak mau atau suka tidak suka, benar benar harus menyelesaikan nya.


"Silvia tak mau.. Sungguh.. Mau diperjuangkan bagaimanapun, Silvia tetap merasa keberatan. Silvia butuh waktu. Kak Res, Kak Raisa, Kak Noa, Aku butuh waktu. Waktu untuk menyampaikan kepada Kak Resa dan Kak Raisa saja memerlukan waktu bertahun-tahun lamanya, jadi menurut Silvia, Kita pending dulu saja masalah kali ini. Silvia janji, Silflvia yang akan menyelesaikan masalah ini, walaupun bukan sekarang tapi nanti, itu sudah pasti.


Noa, Resa, dan Raisa merasa sangat keberatan. Bagaimana tidak, dengan semua pernyataan yang telah dipaparkan untuk Silvia, dia masih kokoh pada pendirian nya. Jangankan mereka bertiga, Author sendiri saja merasa sedikit emosi pada sikap Silvia.


"Apa perbedaan nya saat Kamu menyampaikan masalah ini pada Papa dan Mama, saat ini ataupun bertahu tahun akan datang Sil ?" Tanya Resa.


"Sil, Sudah kakak sampaikan bukan ? Sebaik nya diselesaikan saat ini juga, karena Aku dan Resa tidak melulu, hanya berurusan dengan kehidupan Mu. Kami juga punya kehidupan kami sendiri yang harus di urus." Sambung Raisa


"Silvia.. Apapun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab penuh. Bukan secara terpaksa, tetapi Aku tulus dari dalam hati Ku. " Ujar Noa sambil memegang tangan Silvia.

__ADS_1


Silvia mengerutkan dahi nya, dia merasa di sini dia sedang di sudutkan. Dia mulai merasa bahwa saat ini, tak ada yang berada di pihak nya dan tak ada yang mendukung nya.


"Kalian kok malah menyurutkan Aku sih ? Bukankah ini masalah ku dan Kak Noa ? Kenapa kalian berdua yang sok peduli pada masalah kali ini ? Sudah aku katakan bukan, Aku akan menjelaskan masalah ini pada Papa dan Mama. Pasti, tapi bukan saat ini, melainkan nanti.


Silvia pun mulai keras kepala, dia mulai meninggikan ego nya. Perasaan di sudutkan mulai menyulut emosi Silvia sedikit demi sedikit


Dan bukannya marah, Noa, Resa dan Raisa memilih untuk mengerti perasaan Silvia. Mereka bertiga pun merasa bersalah, karena mereka terlalu menyudutkan Silvia, hingga Silvia mengucapkan perkataan yang terdengar mementingkan ego nya sendiri.


"Maaf Sil.. Bukan nya kami bertiga tidak berada di pihak Mu, tapi Kami berusaha memberikan yang terbaik dan solusi yang dapat menyelesaikan semua masalah kali ini. Menyelesaikan nya dengan tuntas, setuntas tuntas nya." Ujar Resa.


"Aku juga minta maaf, padahal Aku ingin mengerti diri Mu, tetapi aku malah menyudutkan Mu dengan beberapa kalimat so bijak Ku." Ucap Raisa tulus.


"Its okey Sil. Semua nya akan baik-baik saja. Maafkan Aku, karena tidak memikirkan perasaan Mu. Kita akan menjalani nya bersama-sama." Sambung Noa


Tiga perkataan yang dilontarkan oleh 3 orang yang berbeda, mulai menggoyahkan Silvia. Silvia yang mulai merasa ragu dengan keputusannya sendiri mulai terdiam.


Resa, Raisa dan Noa tau betul, bahwa saat ini Silvia sedang bergulat dengan pemikirannya. Sehingga mereka pun memberikan dorongan yang lebih mendominasi lagi. Dimulai dari Noa...


"Silvia, ada Aku yang akan selalu bersama Mu, dalam memulihkan kepercayaan orang tua Mu. Jangan lari dari masalah ya.. Kita selesaikan bersam sama.. Anggap saja ini hujan yang sangat dahsyat, sebelum datang nya pelangi.


"Tenang saja Sil," sambung Resa."kakak akan melindungi Mu apapun yang terjadi nanti."


"Silvia kalau misalnya kamu diusir,nmasih ada ayahku bukan ? Orang yang selalu kamu panggil Om Surya itu pasti akan mengerti. Jadi jangan khawatir, sudah ada plan B yang dibuat untuk mengantisipasi dampak negatif." Sambung Raisa lagi

__ADS_1


Dan yap, ketiga dorongan itu berhasil merobohkan sesuatu. Entah apa yang berhasil di roboh kan.


__ADS_2