Cinta Dan Ajalku

Cinta Dan Ajalku
Part 112.


__ADS_3

Nando pun menyimak dengan seksama apa yang di sampaikan oleh sahabat Lusi itu. Tanpa memperhatikan ada Noa yang kini sedang diam dan membatu di tempat.


...❀...


...❀...


...❀...



...❀...


...❀...


...❀...


"Oke Kalau kaya gitu Aku titip Brayen sama Kamu yah Sil. Tolong jaga Dia, Aku akan segera kembali saat Lusi sudah di nyatakan baik baik saja. " Kata Nando dan langsung menggendong Lusi dan berjalan ke arah lift.


Saat Nando baru saja melangkah, kini dia berbalik lagi dan menatap sahabat Lusi itu sambil berkata " Kamu tak usah khawatir Silvia. Karena kenalan yang Aku katakan pada Mu sudah datang, Brayen akan selamat. Jadi, berhentilah memasang wajah gelisah itu. " Ujar Nando, dan Silvia pun menampakkan senyum paksa di wajah nya, karena sebelum Brayen sembuh total, Dia tak bisa jika tak khawatir.



"Em... " Jawab Silvia.

__ADS_1


"Noa, jaga Silvia yaah selagi Aku dan Nando gak ada. Awas aja kalau Kamu buat dia nangis, Aku bakal bikin perhitungan sama Kamu. " Kata Lusi dengan suara nya yang tampak sangat jelas bahwa sedang lemah.


"Apa ?! " Kaget Silvia lalu memalingkan wajah pada Noa yang memakai jas putih panjang, seperti para dokter pada umum nya. Dari tadi Wajah Dokter yang ada di sebelah Nando tampak buram di mata Silvia karena Silvia sedang pusing memberi penjelasan dan khawatir pula pada Lusi.


"Silvia Aditya ? Itu Kamu kan ? Kamu adik kandung nya Resa kan ? "Kata Noa yang tidak percaya di hadapkan dengan wanita yang entah memiliki masalah apa pada Diri nya.


"....... " Silvi masih diam. Dia tak dapat menyangka bahwa kenalan yang di katakan oleh Nando tadi adalah Noa.


"Jika tau bahwa Dia yang adalah kenalan Nando, Aku akan mecari dokter lain seorang diri. Kenapa dari banyak nya dokter di dunia ini, harus diri nya yang menjadi penyelamat Brayen ? Cih, apakah takdir sedang mempermainkan Ku ? " Batin Silvia karena merasa cukup kesal.


"Hei Aku sedang bertanya pada Mu ! " Ujar Noa, karena tidak mendapat jawaban sama sekali dari Silvia.


"Apakah jika Aku berkata Aku bukan Adik dari Resa Aditya Kamu akan percaya ? " Tanya Silvia balik dengan wajah datar dan suara tegas.


"Pintu di belakang Mu adalah pintu untuk bisa masuk dan melihat Brayen. Jika Kamu memang perlu di antar, tunggulah sebentar lagi. Karena tiga puluh menit lagi akan ada suter yang datang untuk mengganti infus. " Jawab Silvia yang memang enggan mengantar Noa. Memang Noa harus sekali di antar ? Itulah yang ada di pikiran Silvia.


"Tak usah. Aku bisa masuk sendiri tanpa di antar. Kamu sungguh tak peduli pada Brayen yaah ! Padahal tadi Nando sangat amat membanggakan diri Mu yang tak kalah khawatir dari Lusi, ternyata hanya wacana saja yaah. Mengecewakan" Jawab Noa akhirnya sambil melirik Silvia dengan mata ekor.


Silvia terkejut mendengar perkataan dari Noa itu. Bahkan Noa sadar bahwa Silvia sangat amat terkejut. Apakah kata tak peduli dan sangat mengecewakan menjadi pemicu nya ? Seperti nya tidak, karena ada pemicu dan alasan lain nya.


"Aku rasa Kamu tak pantas mengatakan hal itu pada Ku Noa Gazoya ! Yang mengecewakan di sini adalah Diri Mu sendiri. Yang tak peduli sama sekali di sini, adalah diri Mu. Bukan orang lain, apalagi diri Ku. Camkan itu ! " Cetus Silvia dengan tatapan yang sangat tajam, dan sangat jelas bahwa Silvia seperti punya dendam kesumat yang tidak bisa di selesaikan dengan bicara baik baik atau sebagai nya.


Noa merasa tak tau apa yang di maksud dengan perkataan Silvia, namun aneh nya Noa juga merasa bersalah akan sesuatu yang seperti di awal tadi, tidak tau apa salah nya.

__ADS_1


Noa masuk ke dalam ruang rawat, dia memeriksa denyut nadi, suhu tubuh, dan netra daei si kecil Brayen. Tampak jelas bahwa saat ini tubuh Brayen sedang demam tinggi. Karena Brayen menunjukkan reaksi tak nyaman, dan terus menggeliat menahan sakit.


Noa langsung keluar dan menemui Silvia yang sedang menunggu di luar sambil menatap ke luar kaca dari lantai empat. Padahal bagi beberapa orang yang takut ketinggian, menatap ke bawah dari lantai empat merupakan suatu siksaan tersendiri bagi mata, otak, dan mental mereka.



"Seberapa sering Kamu berada di sisi Brayen ? " Tanya Noa to do point.


Melihat reaksi Noa yang tak biasa, Silvia langsung paham dan maju beberapa langkah ke depan untuk berbicara, karena tak lucu jika mereka berdua berbicara sambil berteriak.


"Sejak satu minggu yang lalu. Aku selalu berada di sisi Brayen bersama Lusi dan Nando, hanya saat menjemput Kak Raisa kemarin saja baru Aku tak ada di sisi nya. Apakah ada hal lain yang ingin di tanyakan ? Aku akan menjawab nya, karena Aku juga selalu ada di sisi Anak Ku. " Jawab Silvia dengan raut wajah yang tampak sangat khawatir.


"Anak Ku ? " Batin Noa yang merasa bahwa Silvia sangat natural dalam mengatakan hal itu. Tapi dia singkirkan dulu pikiran yang satu ini, karena ada hal lain yang ingin dia dengar.


"Sungguh ? Kalau begitu katakan perubahan atau reaksi apa saja yang terjadi selama satu minggu ini pada Ku ! "


"Ah, Awal nya tubuh Brayen hany demam. Dan demam nya sudah agak mereda saat diberi sirup sesuai yang di katakan Dokter. Namun beberapa saat kemudian, dari hidung brayen mengeluarkan darah, dengan kata lain mimisan. Aku, Lusi, dan Nando langsung membawa Brayen ke rumah sakit. Butuh tiga hari tiga malam selama pemeriksaan keseluruhan, karena Brayen masih bayi. " Jelas Silvia, lalu berhenti sejenak karena sedang menarik nafas. Pandangan Noa juga terfokus kan pada Silvia, dan mendengar secara saksama apa yang di katakan oleh Silvia.


"Lalu selama tiga hari itu, gusi Brayen mulai berdarah saat sedang di beri makan dalam bentuk dot bayi. "


"Dot bayi ? Apakah Lusi tidak memberikan ASI nya ? " Tanya Noa menyela.


"Yaah.. Aku... A.. Aku juga tak tau alasan jelas nya. Tapi sejak Brayen lahir dia tidak mendapat ASI. Seperti nya ada yang bermasalah pada Lusi sehingga dia tak bisa memberikan ASI nya. " Jelas Silvia sebisa mungkin, karena Noa sedang melihat sangat tajam ke arah Silvia. Dan Noa pun mulai merasa ada yang aneh di sini.

__ADS_1


__ADS_2