
"Tidak usah menatap Aku dengan tatapan tegang begitu dong, tenang saja... Operasi pengangkatan sel kanker nya dapat berjalan dengan sangat lancar. " Ujar Noa yang kini menatap semua orang yang ada di koridor dengan senyum bangga karena berhasil melakukan semua nya tanpa gangguan. Namun kening nya langsung berkerut kembali, saat netra nya belum melihat kehadiran Silvia juga.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
Resa ingin menjawab perkataan Noa, namun saat mulut nya baru akan terbuka, Noa langsung menyela lagi. "Di mana Silvia ? Tiga jam operasi yang di jalankan, tak mungkin dia masih jalan kaki dan belum juga sampai di sini kan ? " Noa bertanya sambil memegang ke dua bahu Resa, tatapan mata nya tampak sangat mendesak jawaban dari Resa.
Tentu kelakuan Noa dan Resa menjadi pusat perhatian, Resa pun langsung mengerutkan dahi nya dan melontarkan perkataan nya sendiri. " Noa... Kamu dan Adik ku, ada masalah apa ? "
__ADS_1
"..... " Noa terdiam, dia langsung melepaskan pegangannya di bahu Resa, dan mundur dua langkah ke belakang.
"Aku ingin cari angin sebentar ! Tiga Profesor yang akan menjelaskan apa yang terjadi pada Raisa, dan hal apa yang harus di antisipasi. Saya minta maaf, tapi saya permisi sebentar.. " Noa langsung pamit, dan tak melihat mata Resa sama sekali. Dia tak mau terbaca, karena Resa itu sangat peka. Entah apa yang di rasakan oleh Noa, tapi dia tak sadar sama sekali bahwa Dia telah mempercepat langkah kaki nya.
Resa menatap lekat lekat punggung Noa yang semakin menghilang dan akhirnya tak terlihat sama sekali setelah masuk ke dalam lift.
Resa dan sekeluarga kembali fokus pada Tiga profesor yang mulai membahas tentang kondisi Raisa.
Kondisi Raisa setelah selesai operasi mulai kembali stabil, tidak sama seperti saat operasi yang mengalami pendarahan di berbagai organ. Kondisi mental dan ingatan Raisa dapat di vonis dan di pastikan setelah Raisa sadar, karena tak ada yang dapat mengetahui apa yang terjadi di dalam otak milik Raisa.
Saat sedang mengabari kondisi Raisa, ranjang milik Raisa di bawa ke ruang VVIP yang telah di urus Resa sebelum melakukan penerbangan dari Indonesia ke Belanda. Dan semua nya nampak sangat lega dan bersyukur karena sel kanker yang bersemayam di otak Raisa telah terangkat. Walaupun tubuh Raisa belum dapat lepas dari berbagai macam alat untuk menunjang kehidupan, tapi ini sudah lebih baik. Karena ginjal yang selama ini hanya tinggal satu, kini sudah terdapat sepasang di tubuh Raisa. Persoalan berikut nya yang membuat suasana semakin menjadi tegang, yaitu sel kanker stadium empat yang ada di otak Raisa, kini sudah melepaskan rengkuhan nya dari otak Raisa.
Karena Raisa yang harus tetap stay di Belanda, membuat Resa tak bisa pulang ke Indonesia untuk urusan kantor. Namun karena Resa juga punya cabang perusahaan yang cukup besar di Belanda, sehingga Resa akan bekerja daei kantor cabang nya itu, hitung hitung mengontrol perkembangan perusahaan cabang yang sebenar nya sudah sangat stabil di Belanda.
Meskipun Resa di perkirakan akan menetap di Belanda dalam jangka waktu yang panjang ( Sekitaran lima atau enam bulan), laporan laporan dari kantor pusat tetap akan di kirim secaa rutin oleh Andro. Andro juga sudah pasrah bahwa diri nya yang akan menghandle seluruh pekerjaan, sesuai dengan perintah Resa. Jika ada meeting penting yang benar benar harus di hadiri, barulah Resa terbang ke Indonesia dan memakan waktu kisaran 1-5 jam untuk meeting. Selebihnya, cukup di buat dalam bentuk Video Call dari laptop.
Lalu setelah mengobrol banyak dengan ke tiga profesor yang membantu melancarkan operasi, Resa dan sekeluarga langsung menuju ruang VVIP untuk melihat keadaan Raisa walaupun belum di izinkan masuk karena baru saja menjalankan operasi . Raisa yang terbaring di atas ranjang pasien, dengan kepala yang tidak terdapat sehelai rambut lagi, karena sebelum menjalankan operasi, semua rambut Raisa di cukur habis untuk mempermudah operasi berlangsung.
Melihat Raisa dari kaca besar yang mengelilingi ruang rawat itu, tidak membuat perasaan Resa pada Raisa luntur atau minggat sedikit pun. Yang ada, Resa malah merasa tak masalah jika Raisa kehilangan rambut yang nanti akan tumbuh kembali kan ? Dan lagi, Resa tau bahwa pertumbuhan rambut Raisa itu cepat, waktu dua bulan sudah dapat menumbuhkan rambut nya sebahu.
__ADS_1
Setelah melihat keadaan Raisa tidak menunjukkan reaksi kejang kejang atau reaksi lain nya, Risa, Selvi, Surya, Lisa, Erna, Dika, dan Resa memutuskan untuk kembali ke Vila keluarga Aditya yang jarak nya hanya 600 meter dari tempat Rumah sakit.
Cukup dekat memang, karena Risa baru membeli Vila itu setelah mengetahui lokasi rumah sakit, dan memilih membeli Vila yang cukup besar. Pelayan pelayan yang di kirim oleh asisten Risa dan Resa juga sudah membersihkan Vila yang baru di beli itu. Karena majikan mereka akan menggunakan Vila itu !
Tak ada yang mengkhawatirkan Silvia, karena tadi saat operasi baru berjalan selama dua jam, Silvia sudah menelfon Resa dan memberitahu bahwa dia sedang singgah di taman yang dia temui. Beragam alasan yang terdengar indah seperti anak lima tahun yang sedang menyatakan imajinasi nya, membuat tak ada yang merasa janggal sedikit pun. Hal ini lah yang ingin di beritahukan Resa saat Noa bertanya tadi, namun belum sempat Resa berucap, Noa malah menyela nya lagi.
Dan apapun alasan nya, Resa tak mau mencampuri urusan antara Noa dan Silvia adik nya. Karena menurut nya, ini cukup rumit. Tak biasa nya Silvia menjauh di saat Raisa sedang menjalani operasi, tak biasa nya Silvia mampir ke taman seorang diri. Karena dari dulu, Silvia akan memohon sebanyak yang dia bisa, agar Resa atau Raisa mau menemani nya. Karena Silvia tak dapat berkomunikasi dengan orang baru.
Walaupun Silvia mengetahui banyak bahasa asing seperti kaka nya, mental Silvia untuk bersosialisasi sangat amat kecil. Hal ini di karenakan sejak kecil, Silvia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sibuk nya orang tua dan kaka nya, membuat Silvia tak mau jauh jauh dari rumah. Karena tak ada yang menjaga nya walaupun banyak pelayan atau pengasuh.
Walaupun Risa dan Selvi selalu berusaha meluangkan waktu dan memberikan kasih sayang pada anak mereka, tetap tak dapat mengisi kekosongan yang telah mereka ciptakan selama jangka waktu yang panjang bagi Silvia.
Berbeda dengan Resa yang di sibukkan dengan banyak nya pelajaran yang harus dia serap, demi bisa menjadi penerus keluarga Aditya selanjut nya. Namun rasa sayang Resa pada Silvia selalu terasa cukup bagi Silvia, karena biarpun Resa sudah sangat amat mengantuk karena belajar, Resa selalu menyempatkan diri untuk datang ke kamar Silvia di penghujung hari ( Malam ), menyanyikan lagu pengantar tidur seperti nina bobo, atau membacakan dongeng sebelum tidur.
__________________________________________
[Note : Para pembaca ku yang sangat amat Aku sayangi, maaf hari ini cuma bisa up 1 episode aja.
Lagi sibuk di rumah, ada acara keluarga yang buat Author gak leluasa megang HP 😭. Padahal rencana nya mau maraton ngetik ! Jadi, besok baru Author up 5 episode yaah ! Ini beneran lo, entar malam Author bakal begadang demi kalian semua🥰❤ ]
__ADS_1
__________________________________________