
"TAK AKAN.. SAMPAI KAPAN PUN.. AKU TAK AKAN MEMAAFKAN MU ! ENTAH ITU DENGAN KESALAHAN MU DI MASA LALU ATAU PUN SAAT INI. AKU BENAR BENAR TAK AKAN MEMAAFKAN MU BAJ*NGAN !! " Jawab Silvia dan langsung berlari keluar dari ruang rawat itu.
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
...❀...
Keheningan melanda ruang rawat dari Baby Brayen. Dan si suster yang membawa infus baru pun ikut merasa canggung, karena Nando dan Noa hanya bertatapan dengan ekspresi wajah mereka yang tak bersahabat.
"Ja.. Jadi... Permisi, saya ingin mengganti infus Baby Brayen yang seperti nya sudah habis. " Cetus sang suster, karena jika dia juga ikut diam, entah sampai kapan kebisuan melanda tempat itu.
__ADS_1
Nando hanya mengangguk dan membiarkan si suster masuk dan menggantikan infus baru. Memberikan obat penenang pada Brayen yang menangis sedari tadi, dan setelah itu sang suster langsung buru buru pamit dan keluar dari ruang itu. Sungguh sangat menyesakkan jika berada di ruangan yang kita sendiri menjadi orang asing, dan tak tau apa yang terjadi.
* * *
"Apa yang Kamu lakukan pada Silvia Noa ? Bukan kah Aku sudah menyuruh Mu untuk menjaga Nya ? Dan lagi, Lusi sudah bilang jangan macam macam pada Silvia kan ? Jadi, kenapa Kamu sampai membuat Nya menangis sejadi jadi nya tadi ? " Kata Nando yang seperti nya tak mau mengatasi masalah, tanpa mencari tahu dulu kebenaran nya. Lantaran, jika memutuskan untuk menyalahkan Noa saat ini, bisa jadi yang ada masalah tambah ribet karena Nando ikut campur tanpa tau apa akar masalah nya.
"Haaahh.. Aku hanya memberikan beberpa perkataan untuk membuktikan dugaan Ku, tapi seperti Nya dugaan Ku terlalu tepat sehingga Dia langsung naik pitam ! " Jelas Noa sambil sesekali menatap Brayen yang sudah terlelap dalam tidur karena obat penenang tadi.
"Dugaan ? Dugaan apa yang Kamu maksud ? " Tanya Nando yang mulai menyipitkan mata nya. Tampak nya Dia sudah bisa mengetahui apa yang ingin Nao katakan.
"Brayen adalah Anak Silvia. Itulah dugaan Ku, maaf Aku bukan nya bermaksud mencurigai Mu selingkuh dari Lusi, tapi kelakuan Silvia lebih alami dan rasa khawatirnya pada Brayen sudah melebihi kalian berdua. Apa dugaan Ku salah ? "
Noa mulai merasa puas karena dugaan nya tepat sasaran, walaupun perkiraan nya bahwa Nando lah Ayah dari Brayen salah, setidak nya Dia sudah tau beberapa hal di sini. Lalu Nando berjalan ke arah sofa yang ada di dalam ruang rawat itu, karena ini akan menjadi cerita yang panjang jika harus menjelaskan kenapa Brayen yang merupakan anak Silvia bisa berada di tangan Nando dan Lusi. Noa yang tau bahwa Nando akan memberikan cerita lanjutan pun mengikuti Nando untuk duduk di sofa.
"Jadi, bagaimana Brayen bisa sampai di besarkan oleh Diri Mu dan Lusi ? " Tanya Noa.
"Kamu masih ingat saat Aku membawa Lusi ke rumah orang tua Ku ? "
"Ah... Kata nya ke dua orang tua Mu tak merestui hubungan kalian berdua karena mengira Lusi adalah gadis kampung yang matre kan ? " Jawab Noa yang ingat persis waktu Nando menceritakan masalah hidup nya dulu.
__ADS_1
"Yah tepat sekali ! Karena Aku tak mau melirik wanita lain lagi, Aku dan Lusi berencana kawin lari dan hidup di luar negeri. Namun bukan Lusi nama nya jika Dia tidak menceritakan hal ini pada Silvia sahabat Nya. Silvia saat itu Sedang mengandung entah anak siapa, Aku dan Lusi juga kaget karena mengingat Silvia baru berusia 17 tahun pada waktu itu, dan Dia masih duduk di bangku SMA kelas satu. Entah mengapa, tapi seperti nya Silvia juga masih duduk di bangku kelas satu SMA dengan usia 17 tahun terasa sangat aneh, karena pada umum nya siswa SMA baru itu berusia 16 tahun. " Jelas Nando.
Noa menyimak dengan seksama apa yang do ceritakan oleh Nando, karena semakin di dengar, cerita ini pasti ada hubungan dengan diri nya.
"Tunggu.. Tunggu... Tunggu.. Tunggu... Jika Silvia baru SMA kelas satu, lalu bagaimana Dia dan Lusi bisa menjadi sahabat ? Bukan kah Silvia lebih cocok menjadi adik Nya, dari pada menjadi sahabat Lusi ? " Tanya Noa yang merasa kurang mengerti pada bagian ini.
"Yaah.. Penjelasan nya sederhana.. Lusi adalah gadis cantik yang memang datang dari desa, namun Lusi dan Silvia di pertemukan di taman mini yang ada di kota. Silvia adalah anak yang kesulitan dalam berbicara dengan orang baru, tapi kelembutan dari Lusi membuat Silvia merasa nyaman dan semakin akrap dengan Lusi dalam satu hari. Lalu setelah itu, Lusi di pertemukan lagi dengan Silvia di beberapa tempat."
Singkat cerita, mereka berdua semakin mengenal dengan saling memberikan nomor telepon, dan berteman di sosial media. Untuk seterusnya, Lusi dan Silvia resmi menjadi sahabat yang ada di saat senang maupun sedih. Sehingga perbedaan umur bukan menjadi satu alasan mereka tak bisa menjadi sahabat. Dan lagi, Silvia tak mau Lusi memperlakukan nya sebagai adik. Dengan alasan dia sudah bosan di jadikan adik oleh Kaka dan kenalan Kaka nya. Sampai sini Kamu udah paham kan ? "
"Hem.. Hem.. Masuk akal, karena Aku, Resa, Raisa, dann yang lain nya sering memperlakukan Silvia dengan sangat berlebihan, bahkan Kami memanjakan nya seperti seorang putri kerajaan. " Jawab Noa yang mempertimbangkan segala situasi saat ini.
"Resa ? Raisa ? Maksud Kamu apa Noa ? " Tanya Nando yang merasa aneh, karena Resa dan Raisa tiba tiba masuk dalam obrolan mereka saat ini.
"Eh ? Kamu tak tau nama belakang dari Silvia yaah ? "
"Gak tau ! Lusi gak pernah manggil Silvia degan nama lengkap nya ! "
"Astaga.Ternyata di sini yang bersahabat cukup baik dengan Resa cuma Aku saja yaah.. Nama lengkap Silvia itu *Silvia Aditya*. Dia adalah Adik kandung dari Resa, Sehingga Raisa juga masuk dalam obrolan Kita saat ini, karena selama ini Raisa sangat sering main ke rumah Resa dan memperlakukan Silvia layak nya adik perempuan nya sendiri. Ngerti sekarang ? "
__ADS_1
"Astaga.. Kenapa Aku memiliki perasaan bahwa masalah Silvia kali ini sangat rumit ? Dia merupakan Adik kandung dari Resa, tapi kenapa dia meminta tolong pada Lusi dan Aku di saat dia hamil dulu ? Apakah ada masalah yang lain Noa ? " Tanya Nando yang merasa bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi pada Silvia.