
Di pagi pagi sekali, mereka berlima telah berada dipantai menyaksikan terbitnya matahari dari arah timur.
"Indah banget, apalagi kalo ngelihat bareng sama kalian" gumam Sinta yang slalu tersenyum.
Willy yang duduk disebelah Sinta, ia masih terus menatap Sinta dengan senyum yang sangat simpul.
'indah kayak kamu' batin Willy.
Sungguh indah pemandangan tersebut, dinginnya pagi menyelimuti tubuh mereka, setelah matahari sudah lebih tinggi, mereka pun memutuskan untuk menyudahinya dan kembali pada tujuan awal yaitu joging bersama.
Berlari menyusuri sepanjang pantai tak membuat mereka lelah, suasana kebersamaan dengan diiringi dengan canda tawa takkan bisa membuat lelah.
"La" panggil Raja disela sela candaan.
"Apa?"
"Lo inget ga dulu, waktu pas olahraga kaki lo keseleo trus gue yang gendong?"
"Ehmm iya inget kenapa?"
"Sekarang lo udah kuat ya lari segini jauhnya, ga lembek kayak dulu" Raja tertawa renyah.
Lala mengingatnya, ia pun ikut tertawa, meskipun kenangan saat SMA membuatnya sakit, namun jika diingat ingat kembali semuanya sangat lucu.
Kenangan saat dirinya bersama Yara dan Jessica, kenangan saat bersama Raja, dan juga kenangan awal mula persahabatan dimulai antara Dion dan Lala yang bagai anjing dan kucing jika bertemu, tak pernah akur sedikit pun.
Lala tertawa kecil sedari tadi mengingat kenangan dulu, tentang dirinya bersama Dion yang slalu bertengkar, ia sering mengatainya cowok aneh dulu membuat Dion marah.
"Cowok aneh" gumam Lala.
***
__ADS_1
Satu jam setengah telah berlalu, mereka telah selesai joging bersama dipagi hari ini, kini mereka telah kembali berada di vila, beristirahat dan akan kembali berlibur ke Transmart Denpasar, milik orangtua Dion.
Ingat, Dion adalah anak pemilik Transmart, dan dia berasal dari Bali, blasteran Korea Selatan Indonesia.
Lala masih sendiri beristirahat dipinggir kolam, ia berniat akan mandi setelah keringatnya hilang.
Saat masih dalam kesendiriannya, tiba tiba Dion datang menghampirinya.
"Lala" panggil Dion dengan ceria.
"Eum?" Ia menoleh kebelakang.
"Ngelamun mulu, mikirin apa sih?"
"Gue keinget kenangan dulu Dio, pas waktu SMA awal awal kita ketemu, dulu kita kaya anjing sama kucing ya, tengkar mulu ga ada akurnya kalo ketemu"
"Iya la, lo masih inget aja ahaha, tapi kalo kita ga tengkar rasanya kayak hambar, tapi dari pertengkaran itu kita bisa jadi sahabat"
"Jangan sampe lo sangking sayangnya bisa berubah jadi cinta"
"Ah... enggak lah" Lala mulai tersipu malu, ia menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya, tak berani menatap Dion.
"Ehhem ehhem bahas apa sih" timpal Willy yang tiba tiba datang.
"Udah yuk bubar" Dion membawa Lala pergi meninggalkan Willy sendiri.
Sedangkan Lala hanya tertawa terbahak bahak melihat wajah Willy yang amat marah.
"Woii gue abangnya!!" teriak Willy, alisnya mulai meruncing.
Willy menghembuskan nafas kasar, ia pun berbalik badan dan melihat Sinta yang berdiri tepat dibelakangnya.
__ADS_1
Sinta pun mulai salah tingkah saat keduanya saling tatap dengan jarak begitu dekat.
"Sinta" "bang Willy"
Ucap keduanya secara bersamaan.
"Ah... Ehmm... i-itu cuma mau bilang, bang Willy di-dipanggil Lala" ucap Sinta terbata bata, ia buru buru berbalik badan dan akan melangkahkan kakinya, namun dengan cepat Willy menarik tangan Sinta hingga keduanya berpelukan.
"Aku suka sama kamu" bisik Willy.
Sontak, Sinta mendorong tubuh Willy, ia hanya terdiam tanpa bisa berkata apa apa.
"Kamu mau jadi pacarku?" tanya Willy dengan menggenggam erat kedua tangan Sinta.
Sinta diam sejenak, berfikir lalu mengangguk sebagai jawaban nya.
"Makasih" Willy memeluk erat Sinta.
"Ehhem ehhem, yang udah jadian" Lala, Raja dan Dion bertepuk tangan melihat saat saat Willy meminta Sinta menjadi kekasihnya.
"Kayaknya ada yang mau jadi kakak ipar lo deh la" sindir Dion, melirik sekilas Sinta yang masih cekikan.
"Gapapa sih, asalkan orangnya baik" jawab Lala dengan tawa kecil, lalu berjalan memeluk Sinta.
"Yuhuuu akhirnya abang gue yang selama ini jomblo punya pacar juga" Lala bersorak riang menjatuhkan Willy kedalam kolam.
Lalu semua tertawa melihat Willy yang basah kuyup tenggelam dalam air.
Willy juga ikut tertawa, ia menyiprati mereka berempat yang masih berdiri dipinggir kolam.
Tanpa pikir panjang, mereka berempat pun ikut menceburkan diri kedalam kolam, bersuka cita, berenang bersama bercanda tawa dan juga bermain truth or dare.
__ADS_1
~•~