
Seorang gadis cantik yang masih tergeletak lemas di ranjang rumah sakit, perlahan ia mulai membuka matanya setelah berhari hari koma.
Mendengar kabar baik tersebut, kekasih dan sahabatnya pun segera datang ke rumah sakit tempat gadis tersebut dirawat.
"Ra-raja mana?" tanya gadis tersebut yaitu Yara.
"Raja akan segera kemari sayang, papa sangat bersyukur kamu siuman, sebentar papa Panggilin dokter dulu" ucap papa Gibran.
Saat Gibran berjalan mencari dokter, disaat itu lah Raja dan Jessica datang ke rumah sakit, tepat nya di ruang rawat Yara berada.
Keduanya menangis terharu melihat Yara yang telah tersadar dari koma nya berhari hari bahkan sudah berminggu minggu.
"Ra elo yang kuat ya, kita slalu berdoa supaya elo bisa kembali sehat" ucap Jessica dengan terus menggenggam tangan Yara.
"Iya ra, gue mau elo bertahan demi gue ya, elo ga mau kan liat gue sedih? semangat ya lawan penyakit ini" ucap Raja menyemangati sang kekasih yang masih dalam keadaan baru saja tersadar.
"Gu-gue mohon elo ja-jangan nangisin gue, gu-gue ga mau ka-kalian sedih karena gu-gue" pinta Yara.
"Iya, gue ga akan nangis" jawab Raja dan Jessuca bersamaan.
Yara pun tersenyum lebar bahagia dengan kehadiran kedua orang ia sayangi.
"Ja gu-gue minta to-tolong elo ambilin ha-hasil tes DNA gue ya" pinta Yara.
"Iya gue bakal ambilin sekarang" ucap Raja yang langsung menuju laboratorium untuk mengambil hasil tes DNA milik Yara.
Saat raja mengambilkan tes tersebut, Gibran datang dengan mengajak suster dan dokter yang bertugas untuk merawat Yara.
Dokter pun mulai memeriksa keadaan Yara, dan dokter mengatakan kalau Yara sudah mulai membaik, setelah cukup lama dokter dan suster memeriksa Yara, mereka pun kembali ke ruangan mereka.
Gibran dan Jessica yang mendengar kabar tersebut, keduanya sangat bersyukur, sangat berterimakasih pada tuhan dengan terus meneteskan air mata bahagianya.
Hingga tiba Raja dengan membawa hasil tes DNA yang Yara maksud, ia masuk kedalam ruangan dan memberikan hasil tes tersebut pada Yara.
Yara membuka hasil tes tersebut dan tersenyum bahagia karena hasil dari tes tersebut adalah membuktikan kalau Yara memang benar anak kandung Yuri dan kakak kandung dari Lala.
__ADS_1
Ia tersenyum tanpa berkata apa apa, ia kembali memberikan hasil tes tersebut pada Raja.
"To-tolong ka-kasih ini ke Lala" pinta Yara dengan suara yang terbata bata.
Raja pun mengangguk paham.
"Gu-gue mau pulang" ucap Yara.
"Iya sayang, kalo kamu udah baikan kamu pasti pulang" jawab Gibran.
Yara pun mengangguk dan tiba tiba Yara menghela nafas panjang lalu tak kembali mengeluarkan suara, tiba tiba suasana hening ketiganya saling tatap.
Karena panik, mereka bertiga pun mengecek nafas, detak jantung, dan denyut nadi Yara, tetapi semua itu seketika semuanya telah berhenti.
Nafas Yara tak lagi ada begitu juga dengan detak jantung dan denyut nadi nya, merasa panik Gibran pun segera memanggil dokter.
Dokter dan suster kembali memeriksa keadaan Yara, namun Yara sudah lebih dulu meninggalkan kita semua dari dunia ini, membuat orang orang yang mencintainya menangis.
Dokter mengatakan kalau Yara sudah lagi tak bernyawa, seketika air mata Raja dan Jessica turun dengan deras, sedangkan Gibran ia tak bisa berkata apa apa bahkan air matanya pun tak bisa keluar.
Setelah Yara dipastikan benar benar tak bernyawa, proses pemakaman pun akan segera dilakukan.
"Om yang sabar ya, Yara sudah bahagia di surga, dia udah ga ngerasain sakit ini lagi hiks hiks" ucap Jessica menenangkan ayah sahabatnya tersebut.
Saat setelah Jessica menenangkan Gibran, seketika air mata Gibran turun dengan deras mengingat kenangannya bersama dengan anak gadisnya.
"Om yang sabar, Yara bilang ke saya kalau dia ga mau melihat orang yang dia sayangi menangis disaat kepergiannya, karena disana Yara sudah bahagia om, dia sudah tidak merasakan sakit yang ia rasakan di dunia" jelas Raja dengan air mata yang terus ia hapus, namun air mata tersebut terus saja keluar tanpa disuruh.
"Bagaimana om tidak sedih, Yara anak satu satu nya om, dia orang yang paling om sayangi, dia juga satu satu nya keluarga om, sekarang Yara pergi dan om menjadi sebatang kara" jawab Gibran dengan air mata yang tiba tiba keluar.
****
Setelah pemakaman Yara telah berakhir, bahkan orang orang sudah undur diri dari pemakaman tersebut, hanya tersisa Gibran dan Raja saja di pemakaman tersebut.
"Sayang, papa mau kamu pulang..... tapi bukan pulang pada rumah tuhanmu, papa mau kamu pulang kerumah papa, bukan ini yang papa mau hiks....hiks" tangis Gibran dengan terus memeluk batu nisan Yara.
__ADS_1
"Sudahlah om, jangan tangisi Yara terus.... tersenyumlah biarkan Yara pergi dengan melihat senyuman sang papa, bukan tangisan" terang Raja.
Menuruti ucapan Raja, Gibran pun tersenyum menahan tangisnya, setelah tersenyum ia menghapus air mata yang terus turun, lalu ia pun pulang dari pemakaman bersama Raja.
"Om maafkan Raja yang telah menutupi penyakit Yara selama ini, andai Raja bilang ke om dari awal mungkin Yara ga akan lebih dulu pergi" ucap Raja yang benar benar sangat menyesal.
Gibran pun menghentikan langkahnya, dan berbalik arah menatap Raja lalu memeluknya seraya menumpahkan kesedihannya yang amat mengganjal di dadanya.
"Itu semua bukan salah kamu, ini semua sudah takdir, maafkan om yang sudah menyalahkan kamu dulu" jawab Gibran dengan tangis yang terus deras.
"Iya om" balas Raja yang tiba tiba air matanya keluar kembali.
Setelah cukup lama menumpahkan kesedihannya di rangkulan Raja, keduanya pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing masing.
****
Entah secepat itu kabar tentang kematian Yara tersebar, semua guru guru bahkan teman teman Yara pun datang di rumah Yara, mereka semua menunggu dibukanya pintu rumah dan juga kedatangan Gibran.
setelah terlihat kedatangan Gibran, semuanya pun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Gibran yang berjalan sempoyongan dan mata sembab.
mereka semua mencoba untuk menyemangati Gibran yang terlihat tak mempunyai semangat untuk hidup lagi, ia terlihat sangat frustasi.
Setelah pintu rumah dibuka, mereka semua pun masuk kedalam rumah untuk melayat dan menyemangati Gibran.
beberapa menit kemudian, setelah kepergian tamu tamu, Gibran pun melarang semua art nya untuk membukakan pintu pada tamu, karena ia hanya ingin sendiri menenangkan dirinya yang baru saja ditinggalkan oleh satu satu nya orang yang ia cintai.
Didalam kamar Yara ~
Ia sendiri mengunci dirinya didalam kamar sang anak, seraya memeluk foto dan juga salah satu baju kesayangan Yara.
"Kenapa kamu tega ninggalin papa nak, papa sendirian, papa udah nurutin semua kemauan kamu tapi kenapa kamu tinggalin papa secepat ini" oceh Gibran.
"Papa masih ga menyangka hiks hiks" tangisnya pun semakin pecah setelah melihat foto Yara bersamanya yang terpajang di dinding kamar Yara.
"Maaf kan semua salah papa ya sayang, maafkan papa juga yang ga ngebolehin kamu bertemu sama mama kamu, seharusnya papa ga ngelarang kamu, kamu berhak tau siapa dia dan merasakan kasih sayangnya, papa sangat menyesal"
__ADS_1
~•~