
Keesokan pagi nya, tepat pukul 8 pagi, Raja telah berada di rumah Lala tepatnya duduk diruang tamu menunggu Lala yang masih mengganti baju.
Selesai berganti baju, ia turun ke lantai bawah untuk menemui sang kekasih.
"Ayo" Lala tersenyum tipis.
Raja mengangguk, dan keduanya masuk kedalam mobil, dan perjalanan segera dimulai, entah Raja akan membawanya kemana, Lala pun tak tau dan tak akan bertanya.
Hingga akhirnya, mereka berdua berhenti disebuah restoran bintang 5
Mereka memesan 2 Chicken Cordon Bleu, 1 Americano, dan 1 Sakura Milk Tea, lalu mereka duduk di meja makan kosong yang berada diposisi tengah tepat didepan panggung musik.
Tanpa percakapan, mereka masih asik melihat acara musik dipanggung tersebut, sang vocalis terlihat sangat tampan dengan suara yang lembut nyaman didengar didampingi oleh pianis dan juga gitaris disampingnya.
Hingga akhirnya pesanan telah tiba, mereka pun mulai menyantapnya dengan perlahan sembari pandangan masih terus melihat panggung kecil tersebut.
Setelah selesai makan, mereka masih berada diposisi yang sama, mencoba mengobrol.
"Gue mau ajak elo ke suatu tempat"
"Kemana?"
Tanpa menjawab, Raja pun membawa Lala ke sebuah gedung apartemen, dan tiba di sebuah 1 unit apartemen, Lala dan Raja masuk kedalamnya sebuah apartemen mewah yang sangat luas.
"Ini buat elo, hadiah ulang tahun" Raja tersenyum sangat manis.
"Beneran?, se royal ini?"
Raja mengangguk, Lala tersenyum manis dan memeluk Raja berbisik mengucapkan terimakasih.
"Ada hal penting yang mau gue omongin ke elo" ekspresi Raja mulai serius, melepas pelukannya.
"Apa?"
'meskipun gue ga cinta, gue harus bisa mencoba nya, ga hanya permintaan Yara, tapi ini juga permintaan mama papa dan juga kedua orang tua Lala yang jodohin gue sama Lala tanpa sepengetahuannya' batin Raja berkali kali menghela nafas berat.
__ADS_1
"Gue mau, hubungan kita lebih serius lagi"
"Maksudnya?"
"Gue mau ngelamar elo, elo mau kan jadi i-istri gue" Raja mulai gugup, kini ia menunduk tak berani menatap wajah Lala.
Lala pun terpaku, apa yang harus ia jawab, sungguh berat menerima lamaran Raja, tapi ini adalah amanah dari kakak perempuannya.
Ingin rasanya menolak, tapi kata kata tersebut takkan bisa keluar dari mulut Lala.
"Ehm.... ma-maaf ja, ki-kita baru beberapa hari pacaran, to-tolong kasih waktu 1 bulan lagi ya, gu-gue masih belum siap nikah muda" jawab Lala dengan terbata bata.
"Iya gapapa" Raja mengangguk cepat.
Raja merasa sangat lega, karena Raja sendiri masih belum siap, namun kedua orang tuanya dan kedua orang tua Lala terus mendesaknya untuk segera menikah.
Beruntung Lala menolaknya, Raja sengaja merekam pembicaraan tersebut dan akan diberikan pada mama dan papa nya sebagai bukti, dan dia juga akan menjelaskan kalau sebenarnya dia masih belum siap untuk menikah muda.
Tiba tiba suasana hening, tak ada lagi percakapan diantara mereka, suasana sangat canggung tak ada topik lagi yang harus mereka bahas.
"I-ini apartemen buat kita tinggal berdua nanti" Raja mulai bersuara.
"Ehmm.... yaudah kita pulang" ajak Raja yang berjalan mendahului.
Lala mengangguk dan mengekori Raja, dan mereka kembali ke rumah Lala, selama perjalanan pulang tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka.
Lala masih terus kepikiran dengan lamaran Raja, ia terus melamun sepanjang diperjalanan.
'apa gue harus minta saran mama sama papa?' batin Lala.
Sesampainya di rumah Lala, tak ada kata kata sedikitpun yang keluar dari mulut Lala, ia langsung berlari masuk kedalam kamarnya, tak peduli dengan Raja yang masih berdiri didepan pintu.
Saat akan kembali kedalam mobilnya, tiba tiba ia dipanggil oleh Willy yang menyuruhnya masuk kedalam rumah.
Setelah berada didalam rumah Lala, tepatnya diruang tamu, disana sudah ada Iris dan Yuri yang duduk bersanding menunggu kabar.
__ADS_1
Sekarang Willy sudah tau kalau Lala dan Raja telah dijodohkan, tak ada kesempatan lagi baginya, hatinya sungguh sakit, tapi ia mencoba untuk menahannya.
Raja menjelaskan semuanya dan ia juga menyetel hasil rekaman suara tadi saat berada didalam apartemen, Yuri dan Iris sedikit kecewa, tetapi ia akan terus berusaha meyakinkan anaknya untuk mau menerima lamaran Raja.
Daripada hatinya semakin panas, Willy memutuskan untuk pergi ke kamar tamu yang ia tempati, ia membereskan baju baju nya dan bertujuan akan pulang ke Jakarta nanti malam pukul 7
****
Tepat pukul setengah 7 malam, Willy berpamitan untuk pulang ke Jakarta menaiki kereta.
"Tante, om makasih ya, Willy pamit pulang semoga perjodohannya lancar" Willy tersenyum getir menahan air matanya.
"iya sama sama, hati hati di jalan ya"
"jangan kapok main kesini, sering sering main ke Surabaya ya"
"iya om, tante"
Kini ia mendengar langsung tentang perjodohan wanita yang ia cintai 3 tahun lamanya dengan lelaki lain dan bukan dirinya.
Tangisnya akan segera turun, namun ia berhasil mencegahnya, hingga tiba Lala turun dari lantai 2 menghampirinya.
"Bang kok cepet banget sih, kan liburnya masih lama, disini aja ya yang lama nemenin gue" Lala sedikit kecewa.
"Kapan kapan gue kesini lagi" Willy tersenyum sangat tipis.
Willy merentangkan tangannya tanda ia ingin dipeluk oleh Lala, Lala yang mengerti maksud Willy, ia dengan cepat memeluk Willy.
Air matanya dengan cepat lolos turun membasahi area matanya.
"Jangan lupa bahagia ya la, jangan terlalu banyak beban pikiran" bisik Willy yang masih diposisi berpelukan. Suaranya bergetar mengusap air matanya yang sebagian jatuh dan kembali menahannya.
"Gue sayang sama elo"
"Iya bang sama, hati hati dijalan ya" Lala melepas pelukannya.
__ADS_1
Setelah selesai berpelukan, Willy pun mencium punggung tangan Iris dan Yuri, lalu segera berangkat menuju ke stasiun diantarkan oleh pak Slamet.
~•~