
Sepulang sekolah, Yara memutuskan untuk berkunjung ke rumah Lala terlebih dulu, ia kesana diantar oleh Raja.
"Bener ini rumahnya Lala?" Tanya Raja.
"Iya bener" jawab Yara.
"Oke, gue langsung pulang ya"
"Jangan" rengek Yara. "Pulangnya gue sama siapa terus?" Tanya Yara.
"Gue mau ke bengkel dulu benerin nih motor, gini aja... Kalo elo udah puas main sama Lala ntar gue jemput kalo motor udah selesai dibenerin" jawab Raja panjang lebar.
"Kalo motor Lo belum selesai gimana?"
"Ntar gue suruh Dion jemput elo"
Yara menghela nafas dan langsung menuju ke dalam rumah Lala, tapi sebelum masuk, Yara memencet bel terlebih dahulu.
Tak lama sang pemilik rumah pun membukakan pintu.
"Ehh Yara" ucap Yuri.
"Apa kabar Tante?" Tanya Yara.
"Baik sayang, yuk masuk, Lala nya masih mandi" ucap Yuri seraya berjalan masuk kedalam rumah, mempersilahkan Yara duduk di sofa Ruang tamu.
"iya tante, Yara tunggu disini" jawab Yara dengan membenarkan posisi duduknya di sofa ruang tamu.
"Sering sering kesini ya, biar Lala ada temennya, kalo boleh sama papa kamu, kamu sering sering nginep disini ya" ucap Yuri dengan tersenyum manis.
"Iya Tante, papa juga sibuk banget slalu pulang malem"
"Ya ampun, kalo kamu kesepian bisa datang ke rumah Tante, kita disini bertiga ngobrol bareng, bercanda bareng"
"Hehe iya Tante"
'Yara juga maunya begitu, tapi mana mungkin gue sering sering kesini, ntar papa marah karena gue sering ga dirumah' batin Yara.
"Kamu udah makan?" Tanya Yuri.
"U-udah Tante" jawab Yara berbohong, Karena ia tak ingin merepotkan sang pemilik rumah.
"Ohh yasudah, kamu kesini sama siapa?"
"Dianter temen Tante"
"Loh mana temennya? Ga diajak masuk juga?"
"Dia ke bengkel buat benerin motornya dulu, baru kalo udah selesai dia kesini"
Yuri membalasnya dengan anggukan.
'waktu yang tepat buat aku ambil rambut Yara nih' batin Yuri.
"Tante boleh peluk kamu?" Pinta Yuri.
'wah kebeneran' batin Yara dengan smirk nya. Tanpa pikir panjang Yara pun mengizinkannya karena tujuan mereka berdua sama untuk mengambil rambut.
__ADS_1
Keduanya pun berpelukan cukup lama, sampai akhirnya keduanya melepaskan pelukan tersebut saat sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Yara menyimpan rambut Yuri di saku roknya, sedangkan Yuri menyimpan rambut Yara di tangannya.
"Maaaa Lala mau buat greentea ada kan?" Tanya Lala yang menuruni tangga tanpa melihat kedepan, ia hanya fokus dengan jalannya.
"Ada" jawab Yuri.
"Yara? Kok ga bilang kalo kesini" ucap Lala yang terkejut melihat Yara berada diruang tamu bersama mamanya. "Trus mama juga kenapa ga panggil aku kalo ada Yara"
"Hehe mama lupa sayang maaf ya"
"Heh iya, Yara mau greentea juga?" Tawar Lala. "Kalo mau gue buatin"
"Ga u-" jawab Yara terpotong ucapannya.
"buatin aja sayang, masa kamu buat Yara ga dibuatin" saut Yuri.
"Oke tunggu bentar ya" ucap Lala seraya berjalan menuju dapur.
Tak lama, Lala telah selesai membuat 2 gelas greentea hangat untuk Yara dan dirinya.
"Eh lupa mama ga dibuatin" ucap Lala dengan cengir kudanya.
"Gapapa, mama bisa buat sendiri" Jawab Yuri.
Lala pun ikut duduk di ruang tamu tersebut, bertiga bersama mengobrol dan bercanda tawa bagai sebuah keluarga kecil.
Tetapi tiba tiba hidung Yara mengeluarkan darah kembali, yaps hidungnya kembali mimisan.
'yah kenapa mimisan lagi' batin Yara dengan segera mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengelap darah yang keluar dari hidungnya.
"Ra hidungmu"
"I-iya jangan khawatir, ini udah biasa kok" ucap Yara dengan tersenyum.
"Beneran? Kamu ga lagi sakit kan?" Tanya Yuri, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Yara.
'kenapa ngeliat Yara mimisan, perasaanku ga enak gini, ada apa dengan Yara, semoga dia baik baik saja' batin Yuri.
"Tapi.... Maaf loh ya Tante mau bicara jujur, kalo kamu keliatan lebih kurus dan pucet"
"I-iya Ra, gue juga mau bilang gitu tapi gue ga enak sama elo nya, lebih baik elo periksa ke dokter deh" saran Lala.
"Iya la makasih sarannya, pulang ini gue ke rumah sakit" jawab Yara.
'iya bener juga sih, akhir akhir ini gue sering mimisan, muka gue pucet banget, BB gue turun drastis, lebih gampang capek, and pusing plus demam menggigil' batin Yara.
"Ra kenapa? Kok bengong?" Tanya Lala seraya menggoyangkan goyangkan tubuh Yara.
"Ehh engga" jawab Yara seraya menggelengkan kepalanya.
Obrolan pun kembali berlanjut, sampai akhirnya hari sudah mulai sore, Yara memutuskan untuk pulang.
"Pulang sama siapa Ra?" Tanya Lala.
"Naik ojol la" jawab Yara "ahh ini udah dateng, gue pulang ya makasih byee" ucap Yara yang langsung naik ke atas jok motor Abang ojol.
__ADS_1
Sebelum pulang ke rumah, Yara memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dulu untuk tes DNA dan untuk periksa.
Sesampai di rumah sakit, Yara segera meminta catatan surat keterangan tes DNA pada dokter.
Hingga akhirnya Yara telah mendapatkan surat keterangan tersebut, lalu ia menyerahkan rambutnya, rambut Lala, dan rambut Yuri.
Tes DNA akan keluar setelah 2-4 Minggu lamanya, jadi Yara akan tetap sabar menunggunya.
Setelah dari laboratorium, ia menuju ke ruang UGD untuk periksa tentang apa yang ia rasakan akhir akhir ini.
Setelah cukup lama pemeriksaan, ternyata terungkap bahwa Yara menderita penyakit Leukimia yang disebabkan oleh seringnya terkena paparan radiasi.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, betapa terkejutnya dia, dan ia sangat tak menyangkan kalau dia menderita penyakit Leukimia.
"Dokter ga salah periksa kan?" Tanya Yara yang mulai panik.
"Ngga dek, adek bisa melakukan kemoterapi teratur selama 3 Minggu untuk melanjutkan kemoterapi ke sesi selanjutnya, kemoterapi ada 3-12 siklus, itu tergantung dari diagnosa pasien" terang dokter.
"A-apapun itu yang bisa buat saya sembuh lakukan saja dokter"
"Apakah orang tua adek sudah tau tentang ini?"
"Be-belum, sa-saya ga mau orangtua saya tau" jawab Yara dengan menggelengkan kepalanya berkali kali.
"Kemoterapi membutuhkan biaya banyak sekitar 24-26 juta"
"Gapapa dokter, saya punya banyak uang, apapun itu yang bisa membuat saya kembali sehat lakukan" ucap Yara.
'dia memang terlihat seperti anak orang kaya, tapi kasian sekali masih remaja sudah terkena leukimia' batin dokter merasa iba.
"Baik" jawab dokter. "Adek masih sekolah kan?"
"I-iya"
"Pulangnya jam berapa?"
"Sekitar jam 3 sore an"
"Baik, kemoterapi dilakukan setiap jam setengah 4 sepulang sekolah kamu bisa ke rumah sakit"
"Baik dokter"
"Sekarang bisa pulang, istirahat yang cukup, jangan lupa obatnya diminum secara rutin sesuai aturan"
"Iya dok, terimakasih"
Keluar dari ruangan, pikiran Yara bercampur aduk, ia sangat bingung dan takut dengan hal ini.
"Pokoknya ga boleh ada yang tau tentang ini" gumam Yara dengan air mata yang mulai menetes dipipi mulusnya.
"Kalau aku mati, setidaknya aku harus tau apakah Tante Yuri mamaku apa bukan"
Selama diperjalanan Yara terus menangis, Sampai akhirnya ia sampai dirumahnya.
Sementara ia menahan air mata tersebut untuk keluar, karena ia tak ingin sang art melihatnya menangis.
Saat telah sampai di kamarnya, ia menangis sejadi jadinya, ia harus menyembunyikan penyakitnya dari siapapun, pikirannya bercampur aduk.
__ADS_1
mungkin stres lah yang ia rasakan sekarang ini, hingga rasa lelah kembali mulai disertai dengan mimisan.
~•~