
"Mau cari siapa ya dek," ucap bu panti.
"Boleh saya tanya sesuatu bu, saya mau cari informasi tentang siapa ibu ku," ucap Salma.
"Memangnya adik ini siapa?" tanya ibu panti.
Salma menunjuk kan surat tanda bukti adopsi dari panti 9 tahun yang lalu.
"Jadi kamu anak bayi yang di adopsi keluarga bapak Syam dan ibu Indri? Siapa nama mu nak?" tanya bu panti.
"Ayo masuk nak, kamu sudah besar ya nak. Apa kabar ayah dan ibu mu nak?" sambung ibu panti merangkul pundak Salma dan masuk ke dalam panti asuhan.
"Nama ku Salma bu, kabar papa sehat tapi mama sudah meninggal sewaktu aku masih bayi," jawab Salma dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu turut berduka ya nak atas meninggal kan ibu Indri, jadi setelah mama mu meninggal yang merawat mu siapa? Atau papa mu sudah menikah lagi?" tanya ibu panti mencari informasi dari Salma.
"Aku di rawat nenek sama pengasuh dan papa tidak menikah lagi, baru bulan depan mau menikah lagi," jawab Salma.
"Selama aku di rawat oleh papa tanpa ada mama tapi aku tidak pernah kekurangan apa pun, dari segi materi papa selalu kerja keras untuk mencukupi kebutuhan ku. Dan kasih sayang ga pernah kurang sedikit pun, papa selalu memprioritaskan segala sesuatu untuk ku," sambung Salma mencoba untuk tersenyum.
"Syukur lah kalau begitu, tapi kenapa tiba-tiba Salma datang kemari dan membawa surat ini?" tanya bu Indah yang di ketahui sebagai penanggung jawab panti asuhan.
"Tadi sewaktu aku mencari akte kelahiran di ruang kerja papa, aku menemukan surat itu dan aku baru mengetahui kalau aku bukan anak kandung dari papa Syam," ucap Salam mengusap air mata yang tak bisa di tahan lagi.
"Bu kalau aku boleh tau, siapa orang tua kandung ku dan dimana mereka sekarang?" sambung Salma.
"Salma sayang, dulu sewaktu papa dan mama mu mengadopsi mu dari panti ini. Pagi-pagi ibu menemukan mu di depan pintu panti ini, tidak ada identitas apa pun yang di tinggal kan dan ibu belum sempat memberi nama untuk mu," ucap bu Indah.
"Mama dan papa mu memang donatur tetap di panti asuhan ini, sampai saat ini pak Syam masih sering mengirim donasinya meski tidak datang langsung kemari. Setelah ibu menemukan mu, ibu langsung memberi kabar pada papa mu karna mama mu memang mau adopsi anak dari bayi. Saat itu memang mama mu sedang menjalani kemo terapi," sambung bu Indah bercerita masa lalu Salma.
Salma hanya mendengar kan cerita dari ibu Indah, tentang asal usulnya sampai bisa di adopsi oleh Syam dan Indri.
"Setelah kamu di bawa dari sini tidak pernah ada kabar lagi tentang kamu karna pak Syam tidak pernah membawa mu kemari, bahkan ibu tidak mendengar kabar mama mu lagi. Hanya donasi yang datang setiap bulan, pak Syam selalu mengirim banyak beras dan makanan lainnya. Serta mainan dan sejumlah uang untuk semua anak-anak di sini," ucap bu Indah.
__ADS_1
"Kamu beruntung nak, punya orang tua angkat sebaik pak Syam dan ibu Indri. Ngomong-ngomong sekarang kamu sekolah kelas berapa?" sambung bu Indah.
"Aku mau kelas 6 bu, baru selesai ujian kenaikan kelas," jawab Salma.
"Loh kan kamu baru 9 tahun, udah kelas 6 aja," ucap bu Indah.
"Aku loncat kelas bu, taun depan aku ikut ujian untuk masuk ke SMP," ucap Salma.
"Hebat kamu nak, ibu bangga sama kamu. kamu pintar, di umur yang baru 9 tahun tapi prestasi mu sudah bagus," ucap bu Indah memuji Salma.
Sementara di parkiran panti, pak Suryo mencoba menghubungi Syam untuk memberi tau tentang Salma.
"Sebaiknya aku kasih tau tuan Syam tentang ini," gerutu pak Suryo mengeluar kan ponsel dari saku celananya.
📱"Halo tuan, gawat tuan non Salma," ucap pak Suryo.
📱"Iya kenapa pak, ada apa dengan Salma," tanya Syam mulai panik.
📱"Terus sekarang Salma dimana?" tanya Syam.
📱"Non Salma masih di dalam, tadi saya liat bu Indah yang keluar saat non Salma mengetuk pintu," ucap pak Suryo.
📱"Ya sudah saya ke sana sekarang," ucap Syam segera menutup telponnya dan berdiri dari tempat duduknya lalu keluar dari ruang kerjanya.
"Ada yang bawa motor ga?" tanya Syam pada karyawannya.
"Saya bawa pak," ucap Dendi salah satu karyawannya yang baru datang karna masuk shift siang.
"Bisa antar saya sebentar?" tanya Syam.
"Bisa pak," jawab Dendi.
Syam segera berjalan cepat ke parkiran motor di ikuti oleh Dendi yang menyusul Syam.
__ADS_1
"Helmnya cuma 1 pak," ucap Dendi.
Syam mengambil satu helm di parkiran karyawan lalu memakainya dan menyuruh Dendi untuk segera melaju kan motornya.
"Pak satpam kalau ada yang cari helm, bilang aja saya yang pakai. Saya pinjem sebentar, ini urgent," ucap Syam.
"Ayo ngebut ya, kita ke panti asuhan kasih bunda. Nanti saya tunjuk kan jalannya," ucap Syam.
"Baik pak, pegangan ya pak," ucap Dendi segera melaju kan dengan cepat motornya dan Syam mengarah kan jalan.
15 menit waktu yang di tempuh oleh Syam untuk sampai di panti asuhan karna Dendi membawa motor di kecepatan maksimal.
Sesampainya di parkiran panti asuhan, Syam langsung masuk ke dalam panti.
"Terima kasih sudah mau mengantar kamu boleh kembali kerja," ucap Syam bergegas masuk ke dalam panti.
"Iya pak sama-sama," ucap Dendi lalu melaju kan motornya kembali ke tempatnya bekerja.
"Salma," panggil Syam lalu masuk ke dalam panti dan duduk di dekat Salma dan ibu Indah.
"Papa kenapa ga pernah bilang kalau aku bukan anak kandung papa," ucap Salma menangis meluap kan rasa sedihnya.
Syam pun memeluk erat tubuh Salma dan membelai rambut panjang Salma.
"Sayang, meski pun kamu bukan anak kandung papa tapi papa sayang sama kamu. Papa mohon jangan pernah tinggal kan papa ya nak," ucap Syam
"Kamu satu-satunya harta berharga yang mama Indri tinggal kan untuk papa dan kamu yang menjadi alasan papa tetap bertahan dengan semua ini," sambung Syam tenang kan hati Salma.
"Tapi pa, aku juga ingin tau siapa ibu kandung ku," ucap Salma terus menangis di pelukan Syam.
"Sayang apa pun yang terjadi kamu tetap anak papa, papa tetap sayang sama Salma," ucap Syam.
"Sudah ya jangan nangis lagi, anak papa kan kuat dan bukan anak cengeng. Maaf kan papa ya, ga jujur tentang ini semua sama kamu. Papa berniat memberi tau kamu soal ini kalau sudah waktunya nanti tapi ternyata kamu tau lebih dulu," sambung Syam.
__ADS_1