Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
CTHM 12


__ADS_3

Happy Reading ✨😊


Sesampai di rumah, Lala buru buru menaiki tangga dan masuk kedalam kamar, mengunci dirinya didalam kamar.


"Gue kenapa se galau ini sih" ucapnya sembari menumpahkan amarahnya membuang bantal ke segala arah.


"Gue siapa, gue harus sadar diri bege!!" Teriaknya seraya menjambak Jambak rambutnya.


"Apa gue segila ini, gue baru mengenal raja daripada Yara, kenapa gue bisa sesakit ini liat Raja jalan mesra sama Yara" tambah nya dengan mulai meneteskan air matanya.


Ia menangis sejadi jadinya, biasanya jika ia menangis orang tuanya lah yang menenangkannya, tapi sekarang ia hanya bisa menangis sendiri tanpa ada yang menenangkannya.


Saat ia sedang berada dikesedihannya yang mendalam, tiba tiba suara dering telefon mengehentikan air matanya untuk turun, ia segera mengambil handphone nya diatas kasur, dan langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelefonnya.


'siapa sih ganggu aja heh' batinnya merasa kesal.


📞 Ya hallo


📞 Lala sayang, ini papa nak


Lala terdiam saat tau yang menelefon adalah papanya.


📞 Terus?


📞 Kamu ga kangen papa sayang? Papa kangen banget sama kamu


📞 Kangen, tapi Lala kangen papa yang dulu


📞 Apa bedanya sayang?


📞 Papa yang dulu lebih mementingkan keluarga dari pada perusahaan


📞 ....


Tak ada balasan dari sang papa, karena Lala malas untuk berdebat, ia langsung mematikan telfonnya, dan merebahkan badannya diatas ranjang, menutupi seluruh badannya dengan selimut.


Matanya sembab, pandangan kosong, ia merindukan kedua orangtuanya, ia juga sakit dengan kisah cintanya yang pertama kali, dan tugas yang slalu datang tanpa henti, membuatnya seperti orang stress.

__ADS_1


Tetapi ia menutupi itu semua, ia menampilkan senyuman didepan orang orang yang ia sayangi, karena ia tak ingin membuat orang yang ia sayangi khawatir dengannya.


Disisi lain, Willy juga merenung akan perubahan sikap Lala tadi saat hendak memasuki bisokop.


"Lala kenapa ya?" ucapnya sambil menatap langit langit kamarnya.


"Masa sih Lala denger percakapan gue sama Zendy tadi"


"Ga biasanya dia begitu"


Pikirannya dipenuhi dengan perubahan sikap Lala tadi, karena tak biasanya Lala seperti itu badmood tiba tiba.


"Au ah bodo, mending nge game aja lah" ucapnya, lalu segera menyalakan komputernya dan mulai bermain game kesukaannya.


****


Beberapa jam kemudian, Lala terbangun dari tidurnya, ternyata ia menangis tanpa bersuara dan lama kelamaan ia tertidur.


Ia mencuci mukanya dan keluar dari kamar, berjalan menuju balkon, melihat kebawah dengan pandangan kosong.


Sebuah tangan yang menyentuh pundaknya mengagetkannya, sontak ia langsung menoleh ke belakang.


"Ngga bang, lagi cari udara segar aja" ucapnya sembari tersenyum menatap Willy.


Willy tau kalau Lala habis menangis, karena terlihat dari matanya yang sembab, tetapi ia tak akan menanyakan hal yang telah membuatnya menangis.


"Ohh, lo udah kerjain tugas la?" Tanya Willy.


"Belum bang, tinggal tugas Kimia, gue ga bisa" jawabnya dengan suara lembut.


"Kimia?, Sini gue bantuin Lo kerjain tugas kimia" balas Willy dengan tersenyum.


"Emang Lo bisa?" Tanya Lala meyakinkan.


"Bisa lah, Willy mah bisa semua mapel" ucapnya menyombongkan diri.


"Sombong amat!" Saut Lala dengan memutar bola matanya.

__ADS_1


Lalu, Lala mengambil bukunya dan mulai mengerjakan tugasnya bersama Willy dikamar Willy.


Willy mengajari Lala dari cara cara awal mengerjakan tugasnya, ia mengajari Lala dengan sabar, meskipun Lala selama diajari slalu bikin orang emosi.


"Ya pusing gue bang, langsung kasih jawabannya ah, capek kalo harus ngitung ngitung kek gini" keluhnya seraya memijit pelipis kepalanya.


Willy menghela nafas berat, karena merasa kasihan, ia pun yang mengerjakan tugas Lala, sementara Lala ia merebahkan badannya diatas ranjang Willy dengan melamun menatap ke luar jendela.


Beberapa menit kemudian ~


"Dah nih selesai" ucap Willy setelah menyelesaikan tugas kimia milik Lala.


"Beneran?" Tanya Lala seketika saat Willy mengatakan kalau tugasnya telah selesai.


"Coba aja cek" jawab Willy dengan memberikan bukunya.


Lala pun mengecek tugas tugasnya dengan teliti dari nomer 1 sampai 25.


"Ini bener apa salah?, Takutnya salah lagi" ucap Lala.


"Ya ga tau gue la kalo bener salahnya, gue kan bukan guru, kalo menurut rumus rumus yang gue ketahui, ya itu dah bener sih" jawab Willy dengan menatap malas ke arah Lala.


Lala menghela nafas, lalu ia turun dari ranjang Willy dan menghampiri Willy yang duduk dilantai beralaskan karpet.


Ia langsung memeluk erat Willy dengan tersenyum.


"Makasih bang" ucapnya dengan tersenyum senang.


Willy membalas pelukan Lala "iya sama sama" jawabnya dengan tulus.


'makasih bang, elo slalu ada disaat gue lagi sedih, elo yang slalu bikin gue seneng pas gue lagi galau' batin Lala, ia merasa sangat beruntung disaat dirinya merasa sedih, Willy yang slalu membuatnya tersenyum senang kembali.


'gue sayang banget sama elo la, gue udah Nganggep Lo kek adek kandung gue sendiri, gue ga akan ngebiarin ada yang nyakitin elo, gue ga mau Lo sedih' batin Willy dengan mengelus rambut panjang Lala.


"Makasih ya bang, gue ke kamar dulu" ucap Lala melepas pelukannya dan beranjak keluar dari kamar Willy menuju ke kamarnya.


Willy hanya mengangguk dan menatap kepergian Lala.

__ADS_1


"Padahal kita baru akrab la, kenapa gue bisa se sayang itu sama elo, padahal dulu gue benci punya sepupu kek elo" gumam Willy dengan tersenyum miring.


~•~


__ADS_2