
"Salma tolong tanya kan pada tante Mila, ada obat penurun panas apa tidak," ucap ibu lalu Salma langsung mencari Mila dan bertanya apa yang di perintah kan oleh neneknya.
Salma membawa segelas air putih dan obat penurun panas, Syam langsung meminum obat yang di bawa oleh Salma. 5 menit setelah meminum obat, Syam bersiap untuk berangkat ke rumah Ayu dengan badan yang masih panas.
Sebelum berangkat Syam mengukur suhu tubuhnya dengan termometer panas badannya masih 39,5°c dan kepala yang masih pusing.
"Kamu yakin akan menerus kan pernikahan ini nak? mungkin ini jawaban atas semua keraguan mu pada Ayu," ucap ibu.
"Aku ga tau bu, kalau di batal kan pihak keluarga Ayu akan malu. Mungkin ini sudah jalan takdir bu, biar lah ku jalani semuanya," ucap Syam.
"Udah siang, kita berangkat dek. Loh muka mu pucat gitu dek, kamu ga apa-apa dek?" tanya Doni cemas dan langsung meraba wajah Syam.
"Adik mu demam dan kepalanya pusing, tapi tadi udah minum obat penurun panas dari Mila," ucap ibu.
"Kamu yakin ga apa-apa dek, yakin kuat sampai acara selesai?" tanya Doni.
"Yakin kak, ayo kita pergi sekarang. Dari pada pihak perempuan malu gara-gara pernikahan ga jadi," ucap Syam.
Rombongan pengantin pria pun pergi ke rumah Ayu, sepanjang perjalanan Syam hanya diam dan menenggak kan kepalanya di jok mobil sambil memejam kan matanya.
"Syam kamu baik-baik aja?" tanya Doni.
"Aku hanya pusing aja kak," jawab Syam masih memejam kan matanya, Doni mengukur suhu tubuh Syam dengan termometer yang sengaja di bawa.
"Badan mu makin panas dek, 40,5°c. Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit dulu," ucap Doni merasa khawatir dengan kondisi Syam saat ini.
"Aku ga apa-apa kak, nanti minta di dampingi aja takut jatuh. Aku ga kuat nahan sakit kepala ku," ucap Syam terus memegang kepalanya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah pengantin wanita, Ayu sudah siap dengan rona bahagia di wajahnya. Tapi Syam berdiri dengan di dampingi Doni di sebelahnya dengan wajah yang pucat dan menahan rasa sakit kepalanya. Saat akad akan di mulai, Syam dan Ayu duduk di kursi di depan penghulu.
"Mempelai pria sudah siap? Wajahnya pucat sekali," tanya pak penghulu.
"Ga apa-apa pak, cuma sedikit agak pusing aja," ucap Syam.
"Kamu ga apa-apa Syam, muka mu pucat loh. Yakin cuma pusing aja," ucap Ayu mulai sadar dengan kondisi Syam.
Syam hanya menjawab dengan senyuman tipis di bibirnya, dengan pandangan sudah agak kabur.
"Bisa kita mulai acara akad nikahnya? Boleh di jabat tangan calon mertuanya," ucap pak penghulu.
Saat akad sedang berlangsung tiba-tiba Syam salah sebut nama, Syam sebut nama Sandra lalu pak penghulu meminta di ulang yang ke 2 kalinya.
"Saya nikah kan dan kawin kan engkau dengan putri saya Ayu Wandira binti Hasan dengan mas kawin satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat di bayar tunai," ucap pak Hasan.
Gubrak...
Syam belum menyelesai kan akad nikahnya, tapi Syam sudah jatuh pingsan membuat semua tamu undangan panik dengan pingsannya mempelai pria. Salma menghampiri Syam yang tergeletak di lantai lalu Doni dan Alam membawa Syam masuk ke dalam rumah dan membaring kan Syam di kursi ruang tamu.
"Dek, sadar dek," ucap Doni menepuk-nepuk pelan pipi Syam.
Alam memberi kan kayu putih pada Doni untuk di hirup di hidung Syam tapi Syam tetap belum sadar kan diri.
"Badannya panas banget mas," ucap Alam.
"Iya, dari semalam Syam demam. Saya juga baru tau tadi sebelum kita berangkat ke sini," ucap Doni.
__ADS_1
"Syam..." panggil Ayu masuk ke dalam ruang tamu dengan panik dan wajah cemasnya.
"Apa ga sebaiknya di bawa ke rumah sakit aja om, aku takut papa kenapa-kenapa om," ucap Salma menangisi Syam yang tidak sadar kan diri.
"Gimana Yu, mau di biar kan di sini atau di bawa ke rumah sakit aja tadi di jalan aja panasnya udah 40,5°c dan kepalanya memang pusing," ucap Doni.
"Ini kan pernikahan mu dan Syam, jadi semua terserah kamu. Kami pihak pria tidak mau membuat pihak perempuan malu dengan kejadian seperti ini. Syam sakit bukan kemauannya tapi mungkin kondisi badan Syam yang memang kurang fit dan kerjaan yang terlalu menyita tenaga," sambung Doni.
"Kita tunggu aja dulu sampai Syam sadar kan diri, setelah akadnya selesai kita bawa Syam ke rumah sakit," ucap Alam.
Salma membawa kan kompres instan dan termometer dari dalam mobil Doni lalu Doni menempel kan kompres di kening Syam dan mengukur panas tubuh Syam. Setelah termometer berbunyi di lihatnya suhu badan Syam masih 40,5°c, dengan sengaja Doni memperlihat kan hasil termometer pada Alam agar pihak keluarga Ayu mengerti dengan kondisi Syam saat ini tapi pihak keluarga Ayu tidak mengerti hal itu. Semua menginginkan akad berlangsung dengan lancar, karna akan membuat pihak keluarga malu.
Satu jam berlalu, Syam masih terbaring lemah di kursi ruang tamu dan pihak keluarga tetap menginginkan akad nikah tetap berlangsung.
Syam pun sadar dari pingsannya dengan keadaan muka yang semakin pucat dan badan yang lemas tapi pihak keluarga Ayu tetap memaksa agar akad tetap di ada kan.
"Memang egois keluarga ini, tidak bisa melihat kondisi ku seperti ini. Kayanya aku sekarat pun mereka ga akan perduli. Ternyata aku telah salah memilih calon istri, mungkin ini alasan suami Ayu memilih untuk mencerai kan Ayu dari pada bertahan dengan Ayu," batin Syam menyesal dengan keputusannya.
Akad pun berjalan kembali, Syam mencoba untuk kuat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Wandira binti Hasan dengan mas kawin satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat di bayar tunai,"
Sah.. sah..
Para saksi berdoa dan akad pun selesai, setelah akad berlangsung dari pihak keluarga Syam membawa Syam ke rumah sakit tanpa mau perduli kan pihak keluarga Ayu.
"Maaf kami tidak bisa tetap di sini, kami harus membawa Syam ke rumah sakit karna kami khawatir dengan keadaan Syam. Maaf jika kami sudah membuat malu keluarga anda semua, kami lebih mengutama kan kesehatan dan keselamatan dari pada rasa malu terhadap omongan tetangga," ucap Doni langsung memapah Syam masuk ke dalam mobil dan langsung membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Ayu tetap melanjut kan resepsi tanpa adanya Syam. Setiap tamu yang datang terus bertanya dimana mempelai pria membuat Ayu merasa malu karna tak banyak yang bilang Ayu menikah gaib, halu dan lain-lain, berbagai omongan tersebar di kalangan para tetangga karna setelah akad Syam pergi dari rumah Ayu.