
"Syam jangan begitu, aku sayang sama kamu," ucap Ayu memeluk tangan Syam.
"Bahkan kamu ga sadar kalau kamu punya anak sekecil Natasya, meninggal kan dia sendiri di rumah. Sejak awal aku tidak menemu kan hal baik dalam diri kamu Yu, gimana aku bisa jatuh cinta sama kamu kalau kamu terus seperti ini. Mana sisi baik mu yang bisa membuat aku jatuh cinta sama kamu," ucap Syam melepas kan tangannya dari pelukan Ayu.
"Aku bisa membuat mu jatuh cinta sama aku, tapi kasih aku kesempatan untuk semua itu," ucap Ayu mulai menangis.
"Dengar ya Ayu, hanya ada 2 pilihan. Kita jalan masing-masing atau kita cerai, silah kan pilih apa mau mu," ucap Syam yang memang sudah hilang rasa pada Ayu.
"Syam buat apa kita menikah kalau untuk hidup masing-masing, kamu yang menginginkan pernikahan ini dengan cepat dan sekarang kamu ingin kita berpisah dan jalan masing-masing. Aku atau kamu yang egois hah," Ayu terus menangis sampai anak-anak keluar kamar.
"Yu pelan kan suara mu, jangan sampai anak-anak tau masalah ini," ucap Syam membujuk Ayu.
"Kenapa kamu ga mau sampai anak-anak tau, apa lagi kamu menikahi ku hanya karna si anak pungut itu. Dia yang menjadi alasan mu untuk menikahi ku dan sekarang kamu ingin pergi jauh dari ku," ucap Ayu dengan emosi yang tak terkontrol.
"Cukup Yu, baru sampai sini rumah tangga kita tapi kamu udah tunjuk kan sifat asli kamu. Kamu bilang Salma anak pungut, harus kamu tau meski pun Salma anak pungut tapi Salma lebih berharga dari pada kamu. Mulai saat ini aku talak kamu Ayu wandira binti Hasan, aku akan mengurus semua surat cerai kita," ucap Syam berdiri dari tempat duduknya dengan emosi karna tak terima atas penghinaan Ayu terhadap Salma.
"Syam kamu ga bisa cerai kan aku gitu aja hanya karna Salma, Syam aku sayang sama kamu aku ga mau cerai dari kamu," ucap Ayu memohon pada Syam dengan menggenggam tangan Syam.
"Salma... Salman.." teriak Syam menepis tangan Ayu.
Mendengar teriakan Syam memanggil namanya tidak seperti biasanya membuat Salma heran dengan papanya saat ini.
"Ada apa ya dek, kok papa teriak-teriak panggil nama kakak,"
__ADS_1
"Ga tau juga kak,"
"Kakak ke depan dulu ya, kamu tunggu di sini,"
Salma melangkah pergi menghampiri Syam, dengan penuh pertanyaan di benaknya Salma terus berjalan.
"Ga biasanya papa panggil aku sampai teriak-teriak gitu, papa kenapa ya? Apa ada masalah dengan mama Ayu," batin Salma.
"Iya pa," ucap Salma saat sampai di ruang tamu.
"Kita pulang sekarang, urusan kita di sini sudah selesai. Mulai saat ini dia bukan mama mu lagi, mama yang selalu kamu anggap baik," ucap Syam menunjuk ke arah Ayu.
"Maksud papa selesai?" tanya Salma bingung dengan perkataan Syam.
Salma membalik kan badannya lalu berjalan menuju kamar Natasya untuk mengambil tas dan ponselnya yang di simpan di kamar Natasya.
"Papa kenapa kak?" tanya Natasya pemasaran.
"Ga tau juga dek, tadi papa cuma bilang urusan kita di sini udah selesai. Kakak juga di ajak pulang, ga biasanya papa sampai teriak-teriak gini dek. Papa selalu lembut setiap panggil kakak," jawab Salma masuk ke dalam kamar Natasya lalu mengambil tas dan ponselnya.
"Kakak pulang dulu ya dek, besok kita ketemu lagi. Cemilannya buat kamu semua aja, besok kakak bawa lagi cemilan untuk kita makan bersama," sambung Salma memeluk tubuh mungil adik tirinya.
"Janji ya besok kakak datang lagi ke sini," ucap Natasya seakan tidak rela dengan kepulangan Salma dari rumahnya.
__ADS_1
"Iya kakak janji, kakak pulang dulu ya," ucap Salma pamit pulang pada Natasya.
Salma melangkah pergi meninggal kan Natasya sendiri di depan kamarnya karna Natasya ga berani ikut pergi dengan Salma. Sedang kan Ayu terus memohon pada Syam agar Syam tidak pergi darinya dan tidak menceraikannya.
"Syam, aku mohon Syam jangan tinggal kan aku. Aku ga mau pisah dari kamu, aku sayang sama kamu," ucap Ayu menangis memeluk erat tubuh Syam.
"Lepas Yu, aku ga mau bersikap kasar pada mu. Dari awal niat ku menemui mu untuk memperbaiki hubungan kita tapi semua sudah jelas saat kamu menghina Salma dengan sebutan anak pungut," ucap Syam mencoba melepas kan pelukan Ayu, Salma menyaksikan apa yang terjadi di antara papa dan mama barunya.
"Anak yang kamu sebut anak pungut itu dia segalanya untuk ku, lebih berharga dari pada kamu yang baru ku nikahi beberapa hari ini. Bukan pernikahan seperti ini yang ku mau Yu, aku juga ingin bahagia dengan istri dan anak ku tapi ternyata aku salah telah memilih mu untuk jadi mama yang baik untuk Salma. Mama yang baik seperti almarhum Indri," sambung Syam.
"Maaf kan aku Syam, aku janji akan berubah jadi seperti apa yang kamu mau asal kan kamu tidak menceraikan aku. Maaf kan aku Syam, aku mohon jangan tinggal kan aku," ucap Ayu terus memohon pada Syam.
"Papa, kenapa papa mau pisah sama mama Ayu? Aku punya mama hanya sebentar pa, aku masih belum merasa kan kasih sayang dari mama Ayu pa," ucap Salma ikut menangis melihat apa yang terjadi di antara Syam dan Ayu.
"Salma tolong bujuk papa mu agar papa tidak meninggal kan mama," ucap Ayu meminta bantuan pada Salma.
"Ayo sayang kita pulang, tidak ada gunanya kita tetap di sini," ucap Syam menarik tangan Salma keluar dari rumah Ayu.
"Tapi pa," ucap Salma hanya bisa mengikuti langkah kaki Syam menuju mobil yang terparkir di depan rumah Ayu sedang kan Ayu terus memanggil nama Syam dan mengikuti Syam sampai di depan pintu mobil.
Seakan tidak menganggap Ayu ada di dekatnya, Syam meminta pak Suryo untuk menjalan kan mobilnya dengan cepat. Pak Suryo hanya mengikuti perintah dari Syam, pak Suryo menjalan kan mobilnya menjauh dari rumah Ayu. Sementara Ayu terus menangis melihat Syam pergi jauh darinya.
"Syam jangan tinggal kan aku, aku sayang sama kamu," gerutu Ayu dalam tangisannya.
__ADS_1
"Kamu tega Syam, kamu membuat ku jadi janda yang ke dua kalinya dalam waktu yang singkat. 5 hari lalu kita resmi jadi suami istri dan sekarang kamu talak aku hanya karna aku tidak bisa jadi apa yang kamu mau, semua ini karna anak pungut itu. Aku benci sama kamu Salma, gara-gara kamu hidup ku jadi berantakan," batin Ayu terus menyalah kan Salma atas apa yang terjadi padanya dan Syam.